Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Kunci yang Tidak Pernah Ia Minta
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Alya selalu menyempatkan diri menyiram pot mint kecil di jendela kamarnya. Kebiasaan sederhana yang entah sejak kapan berubah menjadi semacam ritual wajib, seolah harinya belum benar-benar dimulai sebelum daun-daun kecil itu basah oleh air. Kos tempat dia tinggal sederhana, dua lantai dengan cat krem yang mulai mengelupas di beberapa sudut, dihuni delapan kamar yang masing-masing penghuninya sudah saling kenal cukup dekat untuk sekadar bertukar lauk saat masak berlebih atau meminjam payung ketika hujan datang tiba-tiba.
Meskipun tempatnya terbilang kecil dan jauh dari kata mewah, selama dua tahun terakhir sudah cukup terasa seperti rumah baginya. Jauh lebih nyaman daripada rumah masa kecilnya yang penuh keributan enam bersaudara. Dan yang terpenting, sepenuhnya miliknya sendiri, satu-satunya ruang kecil di kota ini yang keputusan di dalamnya murni miliknya sendiri.
Ponselnya bergetar di atas kasur, dan suara Bayu di ujung telepon terdengar lebih hati-hati dari biasanya, seperti seseorang yang sudah menyiapkan kalimatnya sejak semalam sebelum berani mengucapkannya.
"Aku lihat fotomu," katanya, tanpa basa-basi pembuka yang biasa dia pakai. "Yang di media sosial yayasan itu. Kamu lagi dansa sama dokter itu."
Alya menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengikat tali sepatu, jantungnya berdebar dengan alasan yang berbeda dari biasanya. "Itu... bagian dari acara, Sayang. Semua tim inti diminta hadir, terus dia yang jadi tuan rumah, jadi—"
"Aku nggak marah," potongnya cepat, meski nada suaranya sendiri mengkhianati kalimat itu sedikit. "Cuma, aku nggak suka aja lihat tangan orang lain di punggung kamu, sementara aku di kota lain, nggak bisa apa-apa." Dia menghela napas panjang di ujung telepon. Alya bisa membayangkan, dia sedang menggosok tengkuknya sendiri. Kebiasaan yang selalu muncul setiap kali dia gelisah tapi berusaha tidak terdengar seperti sedang gelisah. "Aku percaya kamu. Cuma nggak yakin percaya sama keadaannya."
"Aku juga nggak nyaman, kalau itu yang mau kamu dengar," Alya berkata pelan, duduk di tepi kasurnya sendiri, menekan ponsel lebih dekat ke telinganya seolah dengan begitu jarak di antara mereka bisa sedikit menyusut. "Tapi aku janji, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku cuma kerja, sayang."
Mereka diam sebentar, jeda yang biasanya tidak canggung di antara mereka tapi malam itu terasa berbeda. Sampai akhirnya Bayu berkata, suaranya melunak kembali seperti dirinya yang biasa, "Minggu depan aku pulang. Aku mau anter kamu kerja, biar semua orang di sana tahu, kamu udah ada yang punya."
Dia tertawa kecil di ujung kalimat, mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang, dan Alya ikut tertawa, meski di dalam dadanya masih menyisakan rasa bersalah yang tidak sepenuhnya bisa dia jelaskan. Bersalah karena menyembunyikan detail-detail kecil yang sebenarnya tidak perlu disembunyikan, atau bersalah karena bagian dari dirinya, sekecil apa pun itu, mulai menikmati perhatian yang seharusnya tidak dia inginkan sama sekali.
"Aku kangen kamu," Bayu berkata lagi, lebih pelan, seperti mengucapkan sesuatu yang sudah lama dia tahan sejak awal telepon. "Bukan cuma karena foto itu. Aku kangen peluk kamu beneran, bukan cuma lewat layar."
"Aku juga," Alya berbisik, memejamkan mata sebentar, membayangkan pelukan hangat yang biasa dia rasakan setiap kali Bayu datang, dan untuk sesaat, bayangan itu cukup untuk mengalahkan semua kegelisahan kecil yang sejak tadi mengendap di dadanya. "Minggu depan. Aku tunggu."
Pagi itu, seperti biasa, Alya berangkat lebih awal dari jadwal shift yang sebenarnya. Kebiasaan yang sudah melekat sejak dia masih koas dan tidak pernah benar-benar hilang meski posisinya sekarang jauh lebih mapan. Dia menyapa Pak Handoko sebentar di lorong, yang sudah diizinkan pulang minggu lalu dan kini datang kontrol rutin dengan cucunya, lalu bergegas ke ruang persiapan untuk menyiapkan peralatan sebelum visite pagi dimulai. Pikirannya masih melayang pada percakapan semalam dengan Bayu. Nada suaranya yang berusaha terdengar baik-baik saja padahal jelas tidak sepenuhnya begitu.
Hari itu, di ruang persiapan sebelum jadwal visite pagi, Alya tergesa membuka kemasan jarum suntik baru dan tanpa sengaja menggores telapak tangannya sendiri dengan ujung tutup jarum yang belum sempurna terlepas. Luka kecil yang tidak seberapa tapi cukup dalam untuk mengeluarkan darah yang menetes ke lantai keramik putih. Dia baru saja hendak mengambil kotak P3K di rak sebelah ketika suara di belakangnya membuatnya berhenti bergerak sama sekali.
"Biar aku."
Dr. Raze berdiri di ambang pintu, entah sudah berapa lama, matanya sudah terpaku pada luka kecil di telapak tangan Alya dengan perhatian yang terasa jauh lebih besar daripada yang pantas diberikan untuk sebuah goresan sekecil itu. Dia melangkah masuk, mengambil kotak P3K sendiri sebelum Alya sempat meraihnya, lalu menarik kursi terdekat dan duduk di depannya, cukup dekat hingga lutut mereka nyaris bersentuhan.
"Nggak perlu repot, Dokter, ini cuma—"
"Duduk," katanya, bukan perintah yang keras, tapi cukup tegas untuk membuat Alya menurut tanpa melanjutkan protesnya. Dia mengambil tangan Alya dengan kedua tangannya sendiri, memutarnya perlahan di bawah cahaya lampu untuk melihat luka itu lebih jelas. Sentuhannya, meski profesional dalam gerakan, terasa jauh lebih lambat dari yang dibutuhkan sekadar untuk memeriksa luka sedangkal itu.
"Ini bukan luka pertama di tangan ini," katanya, ibu jarinya menelusuri bekas luka kecil lain di pangkal jari telunjuk Alya, tanda putih tipis yang sudah lama memudar hingga hampir tidak terlihat lagi oleh mata biasa. "Dari mana ini?"
Alya terkesiap sedikit, karena bekas luka itu bahkan sudah lama dia lupakan sendiri. "Waktu SMP. Jatuh dari sepeda, kena pecahan kaca," jawabnya, heran kenapa dia begitu mudah menjawab pertanyaan sekecil itu, seolah tangannya sendiri lebih jujur daripada dirinya.
"Sepeda warna biru," katanya, bukan bertanya, dan begitu kalimat itu keluar, dia seperti tersadar sudah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui, karena jarinya berhenti sejenak di atas kulit Alya. Untuk sepersekian detik, wajah yang biasanya begitu terkendali itu menampakkan sesuatu yang mendekati panik.
"Bagaimana Dokter tahu warnanya?" Alya bertanya pelan, suaranya nyaris berbisik, jantungnya berdegup jauh lebih keras dibanding rasa sakit di telapak tangannya sendiri.
Dia tidak menjawab, hanya menunduk lebih dalam ke arah tangan Alya, seolah dengan begitu dia bisa menghindari tatapan yang menuntut jawaban. Jarinya kemudian bergerak lagi, kali ini membersihkan sisa darah kecil di sekitar luka dengan kapas beralkohol.
Gerakannya begitu lembut hingga Alya nyaris tidak merasakan sengatan yang biasanya menyertai antiseptik semacam itu, seolah dia sudah menghitung tepat seberapa banyak tekanan yang bisa ditahan kulit ini tanpa menimbulkan rasa sakit tambahan.
"Kamu selalu terburu-buru membuka kemasan," katanya akhirnya, mengalihkan topik dengan nada yang kembali mendekati datar, meski masih ada jejak sesuatu yang belum sepenuhnya reda di baliknya. "Lain kali, robek dari sisi yang bertanda perforasi, bukan dari ujung. Lebih aman."
"Baik, Dokter," Alya menjawab, meski separuh pikirannya masih terjebak pada pertanyaan yang belum terjawab, bukan pada nasihat tentang cara membuka kemasan jarum suntik.
Dia membalut luka itu dengan gerakan yang tiba-tiba jauh lebih cepat dari sebelumnya. Jarinya bergerak rapi membungkus perban di sekeliling telapak tangan Alya, dan ketika selesai, dia tidak langsung melepaskan genggamannya. Sebaliknya, dia mengangkat tangan itu, menempelkan bibirnya sebentar ke atas perban yang baru saja dia pasang sendiri. Gestur yang begitu singkat hingga hampir terasa seperti ilusi, tapi cukup nyata untuk membuat seluruh tubuh Alya membeku di tempat, tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap sentuhan sesederhana itu yang terasa jauh lebih intim daripada seharusnya.
"Hati-hati," katanya, suaranya lebih rendah dari biasa, lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. Meninggalkan Alya sendirian dengan perban baru di tangannya dan satu lagi kepingan teka-teki yang menolak untuk menyusun dirinya menjadi gambar yang masuk akal.
Wulan menemukannya beberapa menit kemudian, masih terpaku memandangi perban di tangannya sendiri seperti sedang membaca ramalan yang tertulis di sana. "Kamu kenapa?" tanyanya, lalu matanya menangkap balutan rapi di telapak tangan Alya. Terlalu rapi untuk ukuran perban yang biasa dipasang tergesa di sela jadwal padat. "Siapa yang balutin ini? Rapi banget, kayak bukan kerjaan orang buru-buru."
"dr. Raze," Alya menjawab pelan, dan Wulan mengangkat alis, ekspresinya berubah dari heran menjadi sesuatu yang lebih sulit dia sembunyikan.
"Dia yang balutin sendiri?" Wulan mengulang, suaranya menurun jadi bisikan, matanya melirik ke pintu seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Tiga tahun aku di sini, Al. Nggak pernah sekali pun aku lihat dia sentuh luka siapa pun kalau bukan pasien di meja operasi."
Dia menggeleng pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Alya, sebelum akhirnya menepuk bahunya dan berlalu, meninggalkan satu lagi bukti kecil yang menambah berat timbangan kecurigaan yang sudah lama bergeser dari sisi "kebetulan" ke sisi yang jauh lebih sulit dia terima.
Sepulang kerja, Alya mendapati gembok pintu kamarnya sudah berganti jadi yang baru dan mengilap. Jauh berbeda dari gembok lama yang biasa berkarat setiap kali hujan turun. Terselip di sela gagang pintu, sebuah amplop putih tanpa nama pengirim, dan di dalamnya secarik kertas berkop resmi "Program Apresiasi Karyawan Yayasan Prawira Sejahtera", menjelaskan singkat bahwa unit tempat tinggalnya terpilih menerima pembaruan fasilitas sebagai bentuk penghargaan atas kinerja luar biasa di tempat kerja, mencakup penggantian kunci, servis pendingin ruangan, dan tirai kamar. Lengkap dengan kunci cadangan yang sudah tersemat rapi di balik lipatan kertas.
Alya membaca surat itu dua kali, mencoba mencari satu nama yang bisa dia hubungi untuk bertanya lebih lanjut, tapi yang tertulis hanya nomor departemen umum rumah sakit, tanpa nama, tanpa tanda tangan siapa pun yang bisa dia mintai penjelasan secara langsung.
Alya melipat surat itu pelan, lalu melangkah masuk ke kamarnya sendiri dengan kunci baru yang terasa jauh lebih berat di tangannya daripada seharusnya. Di dalam, semuanya tampak sama seperti biasa. Kasurnya masih di tempat yang sama, meja belajarnya masih berantakan dengan cara yang sama, tapi begitu matanya jatuh ke jendela, dia berhenti bergerak sama sekali. Pot mint kecil yang selalu dia siram setiap pagi, yang mulai layu minggu lalu karena dia lupa menyiraminya dua hari berturut-turut saat sibuk dengan jadwal baru, sudah diganti dengan pot yang sama persis, tanaman yang sama jenisnya, tapi jauh lebih segar. Daun-daunnya hijau mengilap seperti baru saja dipetik dari kebun yang terawat sempurna.
Dia tidak pernah membeli pot pengganti. Dia bahkan belum sempat memikirkan untuk membelinya.
Dia meletakkan kunci baru itu di atas meja, lalu duduk perlahan di tepi kasurnya. Matanya masih tidak lepas dari pot mint yang berdiri hijau segar di jendela seolah tidak pernah ada yang layu di sana sama sekali. Tirai yang baru, seperti tertulis di surat itu, memang lebih tebal dan lebih adem, warnanya krem lembut yang jauh lebih rapi dibanding tirai lama yang sudah bertahun-tahun menemaninya, dan justru kerapian itulah yang membuat dadanya semakin sesak. Karena tirai lama yang bolong itu tidak pernah dia keluhkan kepada siapa pun, tidak kepada siapa pun di kos, tidak kepada Bayu, bahkan mungkin tidak sepenuhnya dia sadari sendiri sampai sekarang tirai itu sudah lenyap diganti tanpa jejak.
Alya berdiri lama di depan jendela itu, tangannya masih menggenggam kunci baru yang mengilap di bawah cahaya lampu kamarnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini semua wajar. Program kesejahteraan karyawan memang bisa sedetail itu, bahwa dunia masih cukup baik untuk memberi perhatian sekecil pot tanaman tanpa maksud tersembunyi di baliknya.
Tapi semakin dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin jelas dia menyadari satu hal yang tidak bisa lagi dia sangkal. Seseorang tahu persis apa yang layu di kamarnya, seseorang tahu persis kapan dia berhenti punya waktu untuk merawatnya sendiri, dan seseorang itu memutuskan untuk menggantinya tanpa pernah bertanya apakah dia menginginkannya.
Dia melangkah keluar sebentar untuk mengambil angin. Berdiri di ujung lorong kos yang biasa dia lewati setiap hari tanpa pernah benar-benar memperhatikannya, dan di sanalah matanya menangkap sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Sebuah kotak kecil berwarna putih terpasang rapi di sudut langit-langit. Ukurannya tidak lebih besar dari kotak korek api, tersembunyi di antara bayangan lampu neon yang sudah lama menyala di sana.
Dia tidak yakin sepenuhnya apa fungsi benda itu, tapi bentuknya terlalu rapi, terlalu baru, dan terlalu sengaja diletakkan di sudut yang tepat menghadap ke arah pintu kamarnya sendiri, untuk bisa dia anggap sebagai bagian dari renovasi kos yang biasa.
Dia berdiri mematung beberapa detik, lalu buru-buru masuk kembali ke kamarnya dan mengunci pintu dengan gembok baru yang mengilap itu, punggungnya bersandar ke daun pintu sambil mengatur napas yang tiba-tiba terasa berat. Di satu sisi dadanya, ada bagian yang masih hangat oleh sentuhan bibir di atas perbannya siang tadi.Sesuatu yang, jika dia jujur pada dirinya sendiri, tidak sepenuhnya ingin dia lupakan.
Tapi di sisi lain, ada rasa dingin yang menjalar pelan setiap kali dia mengingat kotak kecil di langit-langit lorong itu. Dua perasaan yang seharusnya tidak mungkin berdiri berdampingan namun entah bagaimana keduanya terus bertahan bersamaan di dalam dirinya malam itu, saling menarik ke arah yang berlawanan tanpa satu pun yang mau mengalah.
Dia meraih ponselnya, hendak mengetik pesan untuk Bayu seperti janjinya. Tapi jarinya berhenti di atas layar cukup lama sebelum akhirnya dia hanya mengetik bahwa harinya baik-baik saja, tanpa menyebutkan luka di telapak tangannya, tanpa menyebutkan bibir yang sempat menyentuh perban itu, dan tanpa menyebutkan pot mint yang kini berdiri di jendelanya seperti pengingat diam bahwa hidupnya. Sekecil apa pun bagiannya, mungkin sudah lama berhenti sepenuhnya menjadi miliknya sendiri.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Ada kebaikan yang datang seperti hujan yang memang dibutuhkan, dan ada kebaikan yang datang seperti seseorang yang sudah lama tahu ke mana arah kita akan berjalan. Yang paling menakutkan bukanlah kebaikan itu sendiri, melainkan betapa mudah kita berterima kasih sebelum sempat bertanya kenapa.