Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Pernikahan Edwin.
Ani menyapu pandangannya ke sekeliling tempat parkir minimarket. Ia mencari Ardi, tapi orang yang dicari tidak terlihat. ‘Ini mobil Pak Ardi, bukan?’ tanya Ani kepada dirinya sendiri. Ia meragukan mobil itu mobil Ardi karena ia tidak hafal nomor plat mobil Ardi.
Ani memutuskan untuk menunggu Ardi di teras minimarket. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, ia melihat Ardi hendak keluar dari minimarket. Ardi membuka pintu minimarket kemudian ia dan Malika keluar dari minimarket. Tri mengikuti mereka dari belakang.
Ardi memakai baju batik lengan panjang dengan warna dasar biru gelap, sedangkan Malika memakai gaun berwarna biru muda. Rambut Malika dibiarkan terurai, di atas kepala dihiasi dengan bando dengan warna biru muda. Tangan mungil Malika memegang kantong plastik yang bertuliskan nama minimarket tersebut.
Ardi menuntun Malika menghampiri Ani. “Salam dulu sama Tante Ani!” Ardi melepas tangan Malika. Malika berjalan mendekati Ani lalu mencium tangan Ani.
Ani membungkukan badan agar bisa sejajar dengan Malika. “Malika beli apa?”
“Beli ice cream,” jawab Malika dengan mimik wajah yang menggemaskan.
Malika memberikan plastik kepada Ardi. “Papa, bukain.”
“Nanti makannya di mobil! Baju Malika harus ditutupi kain flannel biar nggak kotor,” ujar Ardi. Malika mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.
Ardi membuka kunci mobil dengan pengendali jarak jauh. “Malika duduk di belakang sama Mbak Tri. Tante Ani duduk di depan,” ujar Ardi sambil membuka pintu bagian supir, lalu ia menyalakan mesin mobil agar bisa menyalakan pendingin udara..
Setelah itu Ardi membuka pintu penumpang bagian belakang, Malika langsung masuk ke dalam mobil bersama Tri. Ani membuka pintu penumpang bagian depan lalu masuk ke mobil. Tidak lama kemudian mobil Ardi melaju meninggalkan halaman minimarket.
Selama di perjalanan tidak terdengar suara Malika, gadis kecil itu sedang menikmati ice cream. Beberapa menit kemudian ice cream Malika sudah habis, gadis kecil itu berdiri di tengah-tengah antara Ani dan Ardi. Wajah dan tangannya sudah bersih dari noda ice cream. “Papa, Malika mau ke kebun binatang.”
Ardi melihat ke Malika melalui kaca spion yang berada di tengah. “Kebun binatang di Bandung tutup. Kita harus ke kebun binatang di Jakarta,” ujar Ardi.
“Kenapa ditutup?” tanya Malika dengan wajah yang polos.
“Ada perbaikan di kebun binatang,” jawab Ardi. Pandangannya fokus ke jalan.
“Malika mau ke kebun binatang di Jakarta,” kata Malika dengan wajah yang polos.
“Besok kita ke kebun binatang di Jakarta,” jawab Ardi. “Ajak Tante Ani juga.” Ardi menoleh sebentar ke Ani.
Malika menoleh ke Ani. “Tante, kita ke kebun binatang, yuk,” kata Malika dengan gayanya yang manja. “Nanti kita lihat harimau, monyet, gajah, beruang, panda, jerapah,” lanjut Malika dengan wajah yang serius. Ani tersenyum simpul melihat mimik wajah Malika yang lucu.
“Tante nggak bisa ikut. Tante harus menjaga suami Tante yang sedang sakit,” jawab Ani.
“Mama Malika juga sakit. Tapi Malika nggak boleh lihat Mama,” kata Malika dengan wajah yang polos.
“Doakan saja Mama supaya Mama cepat sembuh. Doa anak yang sholeha pasti dikabulkan Allah,” ujar Ani.
Malika mengangkat kedua telapak tangan. “Ya Allah, semoga mama Malika cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah. Biar bisa main lagi dengan Malika,” ucap Malika. “Aamiin.” Malika mengusap wajahnya dengan dua telapak tangan.
Ani sedih mendengar doa Malika, seorang gadis kecil yang mengharapkan mamanya cepat sembuh. Namun, di dalam hati Ani yang paling dalam, ia tidak ingin Nadira sembuh dan sadar dari koma. Ia kesal kepada Nadira yang sudah menggoda suaminya. Keadaan Nadira sekarang sudah merupakan hukuman atas perbuatannya.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di gedung tempat resepsi pernikahan Edwin. Ardi memarkirkan mobil di halaman gedung. “Ayo kita turun,” kata Ardi lalu membuka sabuk pengaman. Mereka semua keluar dari mobil. Di tempat parkir terdengar suara seorang penyanyi yang sedang bernyanyi diiringin dengan musik dari dalam gedung. Mereka bersama-sama berjalan menuju ke gedung.
Ardi berjalan sambil menuntun tangan Malika. Ia masih menjaga dan memperlakukan Malika dengan baik, walaupun ia tahu Malika bukanlah anak kandung. Ani memuji ketulusan hati Ardi.
Ketka mereka masuk ke gedung, hembusan pendingin ruangan menyambut kedatangan mereka. Bagian dalam gedung dihias dengan hiasan cantik, sehingga di dalam gedung tersebut terkesan mewah. Ani mengikuti Ardi yang berjalan menuju ke tempat pengantin. Ia berjalan di belakang Ardi bersama dengan Tri.
Namun, setiap mereka berjalan beberapa langkah selalu ada saja orang yang menyapa Ardi. Mereka menyapa Ardi dengan sebutan ‘Bang’, ‘Komandan’ dan ada juga yang memanggil nama saja. Mereka juga menyapa Malika yang berjalan di samping Ardi.
Akhirnya mereka sampai ke depan pengantin. Ani bersalaman dengan Edwin dan istri Edwin. “Selamat, ya, Pak Edwin. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah,” ucap Ani.
“Aamiin. Terima kasih, Bu Ani,” jawab Edwin.
Setelah bertemu dengan pengantin, mereka menuju ke tempat makanan. Ardi masih memegang tangan Malika. Ani mendekati Malika. “Malika sama Tante dan Mbak, ya. Papa mau ngobrol sama teman-temannya.”
Ardi menoleh ke Ani. “Nggak apa-apa, Bu Ani. Malika sama saya saja,” ujar Ardi.
Mereka lanjut berjalan. Baru saja mereka jalan beberapa langkah ada seorang pria seusia dengan Ardi mendekati Ardi. “Ardi.” Pria itu memanggil Ardi.