NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"Y-yang terhormat..." Santoso memulai, suaranya terdengar serak dan tidak yakin. "Berdasarkan... eh... laporan yang kami terima mengenai perilaku Nona Reyna yang..."

"Cukup," potong Reyna. Suaranya tidak keras, namun memiliki nada otoritas yang membuat Santoso langsung menutup mulutnya.

Reyna mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap ketiga komisaris itu satu per satu. "Tuan Santoso, sebelum kau membacakan surat keterangan psikiater yang bahkan tidak pernah menemuiku karena dokter yang menandatangani surat itu, Dr. Herman, sedang cuti di luar negeri selama dua minggu terakhir, aku punya beberapa hal yang ingin kutunjukkan."

Reyna mengangguk pada Maya. Wanita tangguh itu segera menekan tombol di remote, dan layar proyektor raksasa di dinding menyala.

Bukan laporan medis yang muncul di layar. Melainkan sebuah tangkapan layar mutasi rekening bank dari sebuah pulau kecil di Kepulauan Cayman.

Wajah Santoso seketika berubah menjadi abu-abu. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Rekening nomor 884-992-11A atas nama PT Nusa Indah," ucap Reyna tenang, seolah sedang membacakan menu restoran. "Rekening ini menerima transfer rutin sebesar dua miliar rupiah setiap bulannya dari vendor konstruksi Arland Group. Dan tebak siapa penandatangan persetujuan pembayaran vendor tersebut? Tuan Santoso."

"K-kau... ini fitnah!" Santoso berdiri, kursinya terjatuh ke belakang dengan suara keras. "Richard! Katakan padanya untuk mematikan layar itu! Ini tidak ada hubungannya dengan rapat!"

Richard menatap layar itu, lalu menatap Santoso dengan tatapan membunuh. "Santoso... apa maksudnya ini? Kau memeras vendor kita?"

"Aku tidak memeras, Pa. Mereka yang 'bersedia' membayar," jawab Reyna dingin, menggantikan pertanyaan Richard. "Totalnya selama lima tahun terakhir mencapai seratus dua puluh miliar rupiah. Jika aku mengirim file ini ke KPK hari ini, Tuan Santoso tidak akan pensiun dengan tenang di villa-nya di Bali. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi."

Santoso jatuh terduduk kembali di kursinya, napasnya memburu. Ia menatap Reyna dengan mata yang memohon, tangan-tangannya bertaut erat di atas meja.

Reyna tidak memberinya waktu untuk bernapas. Ia menekan tombol remote lagi. Layar berganti.

"Dan untuk Tuan Hendra," Reyna menoleh pada komisaris kedua, pria kurus dengan kacamata tebal. "Hendra, kau punya utang judi di Makau sebesar lima belas miliar. Krediturmu sudah mulai mengancam akan memotong jari-jarimu minggu depan. Tapi tenang, aku sudah melunasi utang itu pagi ini atas nama perusahaan sebagai 'pinjaman darurat'. Jadi, kau sekarang berutang nyawamu padaku."

Hendra menelan ludah, wajahnya pucat pasi. Ia mengangguk cepat, hampir menangis. "T-terima kasih, Nona Reyna. Saya... saya akan mengikuti arahan Nona."

Layar berganti sekali lagi. Kali ini menampilkan ijazah palsu dan bukti plagiarisme tesis doktoral.

"Tuan Wijaya," Reyna menatap komisaris terakhir. "Aku tidak akan mempermalukanmu di depan forum ini dengan ijazah palsu dari universitas palsu di Filipina. Tapi jika kau tidak mendukungku hari ini, aku akan mengirimkannya ke media besok pagi."

Wijaya langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam. "Saya mendukung Nona Reyna seratus persen! Apapun perintah Nona!"

Hening.

Richard menatap ketiga orang yang baru saja ia suap dengan jutaan dolar semalam sebelumnya. Dalam waktu kurang dari tiga menit, Reyna telah menghancurkan mereka, membeli mereka, dan menjadikannya boneka-boneka yang menari sesuai iramanya.

"Kalian..." Richard menggeram, suaranya bergetar oleh kemarahan dan ketidakpercayaan. Ia menatap Reyna dengan mata merah. "Kau... kau monster! Kau mengancam komisaris independen perusahaan ini!"

"Aku sedang membersihkan sampah, Pa," balas Reyna, suaranya sedingin es. Ia berdiri, menatap ayahnya dari atas ke bawah. "Sesuai dengan anggaran dasar perusahaan, pemegang saham mayoritas memiliki hak untuk meminta RUPSLB mengevaluasi kinerja direksi. Karena Papa gagal mengawasi penggelapan dana oleh Julian, gagal mengawasi korupsi oleh Komisaris Santoso, dan gagal mencegah krisis arus kas yang Papa sendiri picu..."

Reyna meletakkan sebuah dokumen di tengah meja.

"Aku, Reyna Arland, sebagai pemegang hak veto dan pengendali operasional, secara resmi mencopot Tuan Richard Arland dari jabatan CEO dan Direktur Utama Arland Group. Papa akan tetap menjadi pemegang saham minoritas dan menerima dividen bulanan yang cukup untuk membiayai gaya hidup Papa. Tapi Papa tidak akan pernah lagi menyentuh satu sen pun dari uang perusahaan, dan Papa tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di gedung ini."

"Kau tidak bisa melakukan ini!" Richard meraung, mencoba meraih dokumen itu, namun Maya dengan cepat melangkah maju dan menahannya.

"Aku sudah melakukannya," ucap Reyna. "Tanda tangani surat pengunduran diri ini, Pa. Atau aku akan menambahkan daftar aset Papa yang Papa sembunyikan atas nama mantan istri mudamu di Jakarta ke dalam laporan audit yang akan kuserahkan ke polisi sore ini."

Richard terpaku. Napasnya tersengal-sengal. Ia menatap Reyna, mencari-cari sedikit saja rasa kasihan atau keraguan di mata putrinya. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang mengerikan. Gadis yang ia kenal telah mati, dan wanita di hadapannya adalah orang asing yang kejam.

Dengan tangan gemetar dan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua, Richard mengambil pulpen dan menandatangani surat itu.

Reyna mengambil kembali dokumen itu, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam tasnya.

"Rapat selesai," ucap Reyna. "Vincent, antar Tuan Richard ke pintu keluar. Pastikan dia tidak membawa satu pun dokumen perusahaan bersamanya."

Tanpa menoleh lagi pada pria yang dulu ia panggil 'Ayah', Reyna berjalan keluar dari ruang rapat. Langkahnya ringan, namun setiap pijakannya menggetarkan fondasi kerajaan yang baru saja ia rebut.

Langkah kedua selesai. Arland Group kini sepenuhnya miliknya. Namun, Reyna tahu, Richard tidak akan menyerah semudah ini. Dan Julian... Julian pasti sedang merencanakan sesuatu di luar sana.

Permainan baru saja dimulai, dan Reyna belum puas.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!