Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Sementara itu, di dalam kemewahan Istana Utama Valdoria yang diselimuti suasana duka palsu, suasana yang amat bertolak belakang tengah terjadi di kamar peraduan megah milik Ratu Seraphina dan Raja Aurelius ayah kandung Lucien.
Cahaya sore yang kemerahan menerobos tirai sutra emas, menyirami kamar tidur berukuran raksasa yang dihiasi ukiran kemewahan tak terhingga. Di atas ranjang bertiang empat yang dilapisi sprei beludru merah maroon, Seraphina sedang menyandarkan kepalanya di dada Raja Aurelius. Dengan gaun sutra tipis bertabur mutiara, jemari Seraphina yang lentur mengelus pelan dada sang Raja, memasang raut wajah penuh kesedihan yang dibuat-buat namun penuh godaan manja.
"Aurelius, Sayang..." bisik Seraphina dengan suara yang amat lembut dan mendayu-dayu, mendongak menatap wajah suaminya yang tampak lelah. "Setiap kali melihat kamar ini sepi, hatiku terasa sangat hancur... Sangat sayang sekali putra tunggalmu, Lucien, harus meninggal tragis di usia semuda itu..."
Raja Aurelius menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mulai bergaris keriput. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. "Yah... Lucien adalah satu-satunya penerus sah yang kupunya, Seraphina. Sekarang tahta ini memicu kekosongan besar di mata para bangsawan."
Seraphina menyunggingkan senyum tipis yang amat tersembunyi di balik pundak Aurelius. Ia merapatkan tubuhnya lebih dekat, mengusap rahang tegas sang Raja dengan tatapan mata yang berpura-pura cemas namun sarat akan manipulasi.
"Sebab itulah aku memikirkan masa depan kerajaanmu, Sayang," tutur Seraphina halus, menyuntikkan racun pemikirannya secara perlahan. "Daripada tahta Valdoria jatuh ke tangan kerabat jauh yang tidak jelas asal-usulnya... bagaimana kalau kita membawa anak kita ke istana?"
Raja Aurelius seketika menghentikan usapan tangannya di bahu Seraphina. Matanya membelalak menatap istrinya. "Maksudmu... Valerius?"
"Benar, Sayang. Putra kita, Valerius," panggil Seraphina penuh penekanan manis.
Valerius adalah anak laki-laki hasil hubungan gelap antara Seraphina dan Perdana Menteri Oberon rahasia kelam yang sengaja disembunyikan rapat-rapat dengan memanipulasi Raja Aurelius agar percaya bahwa Valerius adalah anak kandungnya sendiri dari perselingkuhan rahasia mereka di masa lalu, tatkala Mendiang Ratu masih hidup.
"Valerius sudah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, cerdas, dan berbakat," bujuk Seraphina lagi, membelai dada Aurelius dengan ketelitian seorang pemangsa. "Dia darah dagingmu sendiri, Aurelius. Dia pantas mendapatkan tempat yang seharusnya di istana ini sebagai Pangeran Mahkota yang baru menggantikan Lucien."
Raja Aurelius terdiam cukup lama, mempertimbangkan tawaran itu. Namun, raut kecemasan jelas terbayang di wajah sang Raja.
"Tapi Seraphina..." ujar Raja Aurelius ragu, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Valerius lahir saat aku masih terikat pernikahan sah dengan mendiang Ratu. Jika tiba-tiba aku mengangkat anak haramku ke dalam jajaran bangsawan utama dan memberikannya tahta... reputasiku sebagai raja dan nama baikku di hadapan masyarakat serta Dewan Kerajaan akan hancur total! Mereka akan menganggapku raja yang tidak bermoral dan tukang selingkuh!"
Seraphina menegakkan tubuhnya pelan, menatap lurus ke dalam iris mata Aurelius dengan tatapan penuh keyakinan yang mampu menyihir logika sang Raja.
"Siapa yang berani menyebutmu demikian, Yang Mulia?" desis Seraphina manis, jemarinya kini mengelus pipi Aurelius. "Kau adalah Raja tertinggi Valdoria! Di bawah kepemimpinan saudaraku, Perdana Menteri Oberon, seluruh dewan dan media kerajaan berada di bawah kendali kita."
Seraphina membungkuk, berbisik tepat di depan bibir Raja Aurelius dengan nada amat persuasif.
"Kita bisa merekayasa cerita bahwa Valerius adalah anak dari pernikahan rahasia yang sah, atau memunculkannya sebagai pahlawan penyelamat kerajaan di Pesta Dansa Musim Panas nanti," lanjut Seraphina tersenyum penuh kemenangan saat melihat ragu di mata Aurelius perlahan memudar. "Rakyat hanya butuh sosok pangeran baru yang tampan dan berwibawa. Serahkan semuanya padaku dan Oberon. Reputasimu akan tetap suci, dan tahtamu akan aman di tangan darah dagingmu sendiri."
Raja Aurelius akhirnya menghela napas lega, menyunggingkan senyum tipis sambil menarik tubuh Seraphina ke dalam pelukannya sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja menyetujui penyerahan tahtanya kepada anak kandung musuh besarnya sendiri.
Hari-hari berlalu dalam ritme yang begitu rapat dan menegangkan di dalam penthouse. Mengandalkan informasi dari chip memori, pergerakan siluman Kenneth di lapangan, serta petunjuk-petunjuk penting dari ingatan novel yang dibocorkan Eliana, bertumpuk-tumpuk dokumen kejahatan berhasil mereka amankan.
Mulai dari salinan transaksi keuangan gelap antara Oberon dan para pemberontak, bukti manipulasi silsilah kelahiran Valerius, hingga rekaman komunikasi rahasia mengenai sabotase pasukan garda depan semua kepingan teka-teki itu kini telah tersusun rapi, tinggal menunggu momen eksekusi.
H-2 menjelang Pesta Dansa Musim Panas, ketegangan di dalam apartemen mencapai puncaknya.
Malam itu, di depan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota, Eliana berdiri di samping Lucien yang mengenakan setelan kemeja hitam gulung lengan. Pangeran Mahkota itu menatap lurus ke kegelapan luar dengan rahang yang mengeras rapat.
"Pangeran," panggil Eliana pelan, menepuk lengan tegap Lucien demi menarik perhatian sang Pangeran. "Ingat pesan saya... Apa pun yang terjadi nanti di aula pesta, Pangeran harus tetap tenang. Jangan biarkan emosi mengambil alih."
Lucien menoleh perlahan, manik mata birunya menatap Eliana dalam-dalam. "Kemarahanku sudah kutahan belasan tahun, Eliana. Kau minta aku tetap tenang saat berdiri beberapa meter dari pembunuh ibuku?"
Eliana menghela napas panjang, menatap mata Lucien dengan binar keseriusan yang amat dingin dan terukur.
"Justru karena itu Pangeran harus dengar penjelasan saya," tegas Eliana, mengetuk meja kayu di dekat mereka. "Tujuan utama kita di malam Pesta Dansa nanti bukan untuk langsung menghancurkan Oberon dan Seraphina secara bersamaan."
Lucien menaikkan sebelah alisnya, aura dingin memancar kuat. "Maksudmu?"
"Fokus utama dan target pertama kita cuma satu: menyingkirkan Oberon terlebih dahulu," lanjut Eliana menjelaskan strategi yang sudah mereka susun bersama. "Kalau kita membongkar kebusukan Oberon dan Seraphina sekaligus dalam satu malam, mereka yang tersudut bakal nekat menyatukan seluruh sisa kekuatan politik dan pasukan gelap mereka. Kalau mereka bekerja sama dalam kondisi panik dan terdesak, perlawanan mereka bakal membabi buta... dan itu bakal sangat membahayakan keselamatan Pangeran!"
Eliana menatap Lucien lurus-lurus, memastikan setiap kata-katanya meresap sempurna.
"Kita potong dulu tangan kanan dan fondasi utamanya, yaitu Perdana Menteri Oberon," papar Eliana dengan nada menyusun taktik yang mantap. "Begitu Oberon jatuh dan ditangkap atas tuduhan pengkhianatan serta korupsi militer, Seraphina bakal kehilangan taring dan pelindung terbesarnya. Dia bakal sendirian, panik, dan mudah kita seret jatuh berikutnya tanpa perlu memicu perang terbuka di istana."
Lucien diam menyimak. Di dalam kepalanya, suara batin Eliana bergema tajam, memetakan setiap detail analisis politik yang teramat masuk akal.
"Tahan diri, Lucien..." batin Eliana memohon dengan sangat tulus. "Gue tahu lo dendam setengah mati sama Seraphina, tapi kalau gegabah, lo bisa kena serangan balik yang mematikan. Satu per satu... kita hancurkan mereka satu per satu."
Lucien menghembuskan napas berat dari dadanya. Ketegangan di bahunya perlahan melunak tipis. "Baik. Kita habisi Oberon lebih dulu."
Eliana menyunggingkan senyum tipis, lalu menatap Lucien dengan kilatan jenaka bercampur penekanan khusus.
"Dan satu hal lagi yang sangat penting, Pangeran..." tambah Eliana, merapikan kerah kemeja Lucien dengan gerakan santai. "Di pesta nanti, Pangeran juga harus tetap tampil mesra dan berada di sisi kekasih Pangeran... Lady Rosalie."
Mendengar nama itu disebut, alis Lucien seketika bertaut tajam, memancarkan rasa jijik yang tak tertutupi. "Harus berpura-pura di depan perempuan ular itu lagi?"
"Tentu saja!" sahut Eliana terkekeh pelan. "Rosalie itu umpan terbaik kita buat bikin Oberon merasa berada di atas angin. Pangeran harus tetap bersikap sebagai tunangan yang penurut dan tak tahu apa-apa di depannya, sampai perangkap balas dendam kita benar-benar tertutup rapat dan menjepit mereka semua."
Lucien menatap wajah Eliana yang tampak begitu percaya diri di bawah pendar lampu ruangan. Senyum tipis yang amat misteri terukir di bibir sang Pangeran Mahkota.
"Kau menyuruhku mendekati wanita lain dengan begitu bersemangat, Eliana?" gumam Lucien dengan suara rendah yang amat dalam.
"Ya iyalah, demi kelancaran rencana!" balas Eliana polos tanpa curiga, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kepatuhan Lucien atas strateginya, sang Pangeran Mahkota telah mengunci takdir gadis itu agar tidak akan pernah bisa melangkah pergi dari sisinya setelah pertunjukan berdarah ini usai.