NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Lapangan latihan di belakang asrama berlantai tanah padat yang masih lembap oleh embun pagi. Sembilan murid baru duduk bersila membentuk lingkaran kecil, dan di tengahnya seorang lelaki bertubuh pendek berjubah cokelat berjalan pelan sambil mengetukkan tongkat bambu ke telapak tangannya. Kumis tipisnya bergerak setiap kali ia bicara, dan suaranya lebih lantang daripada ukuran tubuhnya.

"Aku Instruktur Mo. Selama tiga bulan ke depan, kalian hanya akan belajar satu hal, yaitu Teknik Napas Awan. Tarik napas dalam-dalam sampai dada penuh, tahan empat hitungan, lalu embuskan pelan lewat mulut. Ulangi sampai kalian merasakan hawa dingin di perut." Tongkatnya menunjuk ke barisan depan. "Mulai."

Yu Tian memejamkan mata dan mengikuti hitungan itu, dan baru pada tarikan ketiga keningnya berkerut.

'Salah. Menarik napas sampai dada penuh membuat Qi menumpuk di paru, bukan turun ke bawah pusar. Menahan empat hitungan membuat sisanya mengendap di meridian bahu. Dan embusan lewat mulut membuang sepertiga hawa yang baru terkumpul.' Ia membuka satu mata dan melirik ke samping. Fang Ming duduk dengan wajah merah dan bahu terangkat tinggi, napasnya tersendat-sendat.

Satu jam kemudian, Instruktur Mo membubarkan kelas dan para murid berdiri sambil mengerang. Fang Ming memijat bahunya dengan wajah meringis. "Pundakku nyeri sekali, Yu Tian. Apa aku salah duduk?"

"Hitungan keempat." Yu Tian menepuk debu dari jubahnya tanpa menoleh. "Jangan tahan napasmu. Biarkan turun ke perut sebelum kau embuskan."

Fang Ming melongo, lalu menatap punggung Yu Tian yang sudah berjalan menjauh. Dari kejauhan, Instruktur Mo masih menatap barisan itu dengan alis berkerut, tetapi Instruktur Mo tidak mengkoreksi murid-muridnya, dan Yu Tian pun tidak berniat melakukannya.

'Mengoreksi orang yang tidak minta dikoreksi hanya membuang tenaga. Biar mereka belajar dari bahu yang sakit.'

...------...

Malam itu bulan menggantung rendah di atas bukit belakang asrama. Yu Tian berdiri di sebuah tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar, dengan sebatang ranting pohon pinus sepanjang lengan di tangan kanan. Angin dingin meniup ujung jubahnya, dan jangkrik berhenti berbunyi satu per satu saat ia menurunkan kuda-kuda.

Ia ingat teknik itu dengan sempurna. Jurus pertama dari Tarian Seribu Bilah, sebuah tebasan melingkar yang pernah membelah pegunungan di zaman yang tidak lagi punya nama. Ia menarik Qi dari perut, mengalirkannya ke bahu, siku, lalu pergelangan, dan mengayunkan ranting itu dalam satu busur penuh.

Ranting itu hanya mengeluarkan desis tipis. Qi di tubuhnya terkuras habis dalam satu kedipan, dan seluruh lengan kanannya mendadak dingin dan mati rasa. Kulit telapak tangannya robek memanjang dari pangkal jari sampai pergelangan, darah menetes ke rumput, dan ranting di tangannya patah menjadi dua dengan bunyi kering.

Tuk.

Lengannya gemetar tanpa bisa ia tahan. Yu Tian menatap telapak tangannya yang terbuka, daging merahnya berdenyut di bawah cahaya bulan, dan untuk beberapa tarikan napas ia tidak bergerak sama sekali. Tidak ada kemarahan di wajahnya, dan tidak ada tawa.

'Aku tahu setiap sudut gerakan itu. Aku tahu di mana pergelangan harus berputar dan kapan pinggang harus menarik. Tapi tubuh ini belum tahu, dan pengetahuan tanpa tubuh hanya gambar di kepala.'

Ia berjongkok, memungut separuh ranting yang patah, dan menggoreskan ujungnya di tanah. Garis demi garis muncul di bawah bulan, dan jadwal itu lebih lambat dari apa pun yang pernah ia buat: dua jam menempa otot dan tulang di pagi hari, satu jam mengatur napas di siang hari, hanya sepersepuluh Qi yang boleh dipakai untuk latihan jurus.

'Sabar. Kata yang paling kubenci, dan sekarang aku harus menuliskannya sendiri.' Ia mendengus pelan, tetapi tangannya tetap menggambar sampai garis terakhir selesai.

"Ranting itu tidak akan patah kalau kau tidak memaksanya."

Yu Tian tidak terkejut. Ia sudah mendengar langkah itu sejak sepuluh tarikan napas yang lalu, dan ia hanya menoleh perlahan. Gu Chen berdiri di bawah pohon di tepi tanah kosong itu, tangan di belakang punggung, jubah birunya berkibar tipis oleh angin malam. Entah sudah berapa lama ia berada di sana.

"Murid luar dilarang keluar asrama setelah bel malam," lanjut Gu Chen datar. "Aku seharusnya mengurangi nilai disiplinmu lagi."

"Kalau begitu kurangi." Yu Tian mengangkat tangannya yang berdarah dan memutarnya pelan di depan wajah. "Kau sudah melihat semuanya, kan?"

"Gerakanmu bagus." Gu Chen menatap ranting yang patah, lalu menatap tangan Yu Tian, dan ucapannya pendek dan jujur. "Tubuhmu belum cukup. Itu bukan penghinaan, hanya pengamatan." Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban, dan langkahnya menghilang di antara batang-batang pohon.

Yu Tian menatap punggung itu sebentar, lalu duduk bersila di atas rumput dan menarik napas, kali ini dengan cara yang ia ajarkan pada Fang Ming siang tadi.

Udara malam mengalir masuk ke perutnya, dan Qi di sekitarnya menyambut dengan cepat, jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan. Dalam sepuluh tarikan napas, ruang kecil di bawah pusarnya terisi penuh sampai terasa hangat. Orang biasa membutuhkan satu jam untuk mengumpulkan sebanyak itu.

Ia mengalirkan seutas Qi ke ujung jari untuk mengujinya. Seutas itu habis sebelum ia sempat menghitung sampai tiga, dan perutnya kosong lagi.

Yu Tian membuka mata, dan sudut bibirnya naik sedikit. 'Cepat masuk, cepat habis. Tubuh ini rakus, dan dasarnya belum kutambal.'

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!