Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Hujan mengguyur mulai pagi buta hingga siang, melambatkan mobilitas para pencari ilmu. Lumpur yang memenuhi lubang-lubang jalanan memercik menghambat langkah para mahasiswa.
Dengan kondisi yang seperti ini, tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk berada di kamar nyamannya, meminum secangkir kopi dan menyenyakkan diri di balik selimut hangat. Namun bagi sebagian yang harus berburu waktu bertemu dengan Dosen Pembimbing, hujan badai bahkan tornado bukanlah suatu yang bisa menghentikan aktivitasnya.
Lalu, bagaimana dengan Liam Dominic?
Teman masa kecil Dania yang sekarang mengajar di tempat yang sama dengan Dania.
Mempunyai karakter yang hampir sama dengan Dania, pasti ia tidak akan melewatkan jadwal mengajarnya meski di tengah banjir sekalipun.
Tubuh tinggi dengan postur yang tegap, ia berjalan dengan senyum mengembang, membuat para wanita yang sedang meletakkan payungnya di depan kelas melongo terpana.
Wajah kebarat-baratannya hampir setipe dengan Dania menjadi tanda kalau memang meraka berasal dari kota yang sama meski akhirnya harus berpisah.
Tutur kata yang tertata rapi, ramah, dan tidak merendahkan semakin membuat para mahasiswi kegilaan. Mereka saling melempar pandangan seolah melakukan voting kalau Liam memang pria tertampan di Kampusnya.
Namun semua perhatian itu tidak membuat Liam tergoda, ia masih bisa melakukan tugasnya dengan sangat profesional, tanpa ada celah.
Sebenarnya kuliahnya tidak terlalu mengasyikkan. Bahkan sebagian mahasiswa dibuatnya terkantuk, apalagi diserang oleh udara dingin yang semakin menina bobokan. Ketampanan dan visualnya lah yang menyelamatkan suasana kelas.
"Perkuliahan kita sampai sini, sampai jumpa semuanya."
Kelas langsung menjadi riuh dengan suara kursi yang digeser, buku yang ditutup kasar, dan derang langkah ingin segera keluar dari kelas.
Tapi bukan Bella. Ia masih duduk di tengah para dayangnya yang melingkarinya seperti ratu lebah.
"Ganteng banget sumpah! Kemarin dia senyum ke aku loh," ucapnya membuat cewek lainnya iri.
"Halah, paling kamu cuma kege-eran."
"Bilang aja kalau iri!" Bella menyunggingkan senyum angkuhnya dengan mengangkat sedikit kepalanya.
"Terus Jax kamu kemanain? Nanti kalau diambil Putri loh."
"Ck, biarin aja! Cowok playboy itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama Pak Liam," matanya berbinar menatap lurus pada papan tulis seolah Liam sedang berada disana.
"Iya juga sih.... Haaaah..."
Teman-teman yang lain mengikuti pose ala cherry bell dan saling membayangkan masa depan bersama Liam dengan konyolnya.
.
.
Sementara itu, Liam yang kini terduduk di ruang Dosen menatap lekat jam tangannya. Kakinya sangat resah dengan mengetuk-ngetuk lantai berulang seolah sedang menunggu seseorang.
"Apa dania nggak masuk lagi hari ini? Padahal aku semangat banget bisa pindah ke sini. Apa aku telpon saja ya?" Gumamnya.
"...ah tidak, biar jadi kejutan."
Meski resah, itu tidak menyurutkan semangatnya untuk bertemu Dania.
Dari kecil lebih tepatnya mulai SMP, Liam dan Dania selalu bersama.
Mereka tidak pernah terpisahkan sebelumnya, bahkan Liam memilih untuk menjadi Dosen untuk mengikuti Dania. Sampai enam bulan yang lalu, tiba-tiba Dania resign dan menjauh darinya. Walaupun nomornya masih bisa dihubungi, tapi ia selalu menolak memberi tahu dimana dirinya sekarang berada.
Hingga Liam mendapat informasi dari salah satu temannya yang mengajar di Kampus ini. Ia bercerita tentang Dosen muda yang cantiknya di atas rata-rata, dan ketika Liam menunjukkan foto Dania, teman itu mengiyakan.
"Semoga dia benar-benar Dania," pintanya, di tengah sepinya ruangan begitupun hatinya.
.
.
"Sebentar, pelan-pelan. Pegang pundakku, Dan."
Jax memapah Dania turun dari mobil, meletakkan salah satu tangan Dania di pundaknya. Sedangkan tangan Jax satunya memegang pinggang Dania kencang.
"Apa perlu aku memelukmu seperti ini? Aku bisa jalan sendiri," protes Dania yang masih belum terbiasa dengan kontak fisik dari Jax.
"Ssst... Jangan membangkang! Nanti kalau jatuh gimana? Kamu habis operasi."
"Tapi Jax.."
"Ssst... Atau kamu mau aku gendong? Nggak masalah sih, malah seneng aku. Nanti tinggal aku bawa ke kamar."
Pipi Dania seketika merona merah hampir mengeluarkan asap dari kepalanya. Sementara Jax tidak memikirkan hal lain selain membuat Dania nyaman ketika menginjakkan kakinya di Rumah.
Begitu sampai di ruang tengah, Jax melepaskan tangannya agar Dania bisa duduk dengan nyaman. Tatapannya masih terfokus pada Dania. Setelah ini apa yang akan ia lakukan? Meskipun sudah mengenalnya selama tiga bulan, namun baru kali ini Jax merasa sedekat ini.
"Haah..."
Jax duduk di lantai hingga membuat Dania menurunkan kepalanya untuk menatap suaminya. Tangannya memeluk kaki Dania dan menyandarkan kepalanya di pangkuannya.
"Akhirnya kita pulang juga," ucap Jax.
"Kamu pasti lelah, aku buatkan makanan ya. Semoga masih ada bahan makanan di kulkas." Dania sedikit mengangkat pantatnya b, bersiap untuk berdiri.
Namun Jax menahannya. Pelukannya sangat kuat hingga membuat Dania tidak bisa bergerak.
"Aku nggak lapar. Lagian kamu masih sakit, masa udah mau masak aja. Nanti pesan gofood juga bisa."
Mau tidak mau Dania kembali ke posisinya dengan membiarkan Jax memeluk kakinya dan bermanja-manja.
Tapi kenapa Dania gemetar?
Badan Jax yang menempel di kaki Dania, bisa merasakan dengan jelas bahwa istrinya gemetaran.
Ada apa?
Apa Dania masih tidak nyaman dengannya?
"Dan..."
"Hmm.." Dania berusaha menjawab sesantai mungkin.
"Apa aku menakutkan?" Tanya Jax.
"Menakutkan? Tidak...."
"Apa aku membuatmu tidak nyaman?"
"Tidak juga, aku biasa aja."
"Apa kamu masih tidak bisa memaafkanku?"
"Mmm... Itu masih aku usahakan, tapi it's okay."
Jax mengangguk, membenamkan kepalanya di lutut Dania.
Akan tetapi Jax masih saja merasakan istrinya gemetaran seperti sedang menahan ketakutan yang mendalam.
Jadi, Jax melepaskan pelukannya dan mengamati istrinya. Tubuhnya normal, tampak sangat luwes tak tegang sama sekali. Lalu Jax kembali memeluknya, saat itu lah Jax merasakan ketakutan itu lagi. Tubuh Dania kaku, tegang, dan gemetar.
"Ada apa Dan?" Jax bertanya dengan suara yang sangat lirih sampai hampir tidak terdengar.
"Hm? Ada apa? Tidak ada apa-apa."
Jax berhenti menerka-nerka tentang apa yang terjadi pada istrinya. Ia melepaskan pelukannya dan memilih duduk di samping Dania dengan sedikit jarak.
"Dan... Seperti kamu ke aku, aku juga mau melakukan semuanya untukmu. Seperti aku yang bersandar padamu, aku juga ingin kamu bersandar padaku."
Dania menatap wajah kecil suaminya.
Semua fitur wajah yang tegas itu sama sekali tak menggambarkan mental Jax yang lemah.
Bagaimana Dania bisa menceritakan semua trauma dan masa lalu yang kelam itu, sedangkan Jax sendiri juga masih punya luka yang belum sembuh? Bagaiamana Dania bisa bersandar kepadanya jika Dania sendirilah yang menyebabkan semua Luka Jax?
Hanya satu permintaan Dania yang selalu ia panjatkan dalam setiap doanya.
Semoga Jax tidak pernah mengingatnya, jadi dosa itu akan selalu terkubur.
.
.
lu sama aja kayak mas Aris, main perempuan di rumah yang ada istrinya
sabar jax 🤭
buang2 waktu doang sama si jax. masih labil dia.
kalo gak ada suamimu bisa2 udah digrepe kamu dan 😖