Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Berbahaya
Alya menatap Bram dengan waspada, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Syarat seperti apa yang Anda maksud, Pak Bram?"
Bram menyandarkan tubuhnya ke kursi, tampak menikmati ketegangan yang ia ciptakan di ruangan itu. "Sederhana saja. Perusahaan Anda sedang berencana mengembangkan divisi strategi digital yang baru, kan? Saya dengar timnya cukup solid, dengan beberapa inovasi menarik yang bisa jadi ancaman bagi bisnis kami ke depannya."
"Dan?" desak Raka, tidak sabar dengan basa-basi yang terasa penuh perhitungan.
"Dan saya ingin Anda berdua mempertimbangkan untuk membagikan beberapa strategi kunci divisi itu kepada kami," lanjut Bram, senyumnya semakin licik. "Sebagai gantinya, saya akan memastikan bahwa 'gangguan-gangguan' yang belakangan ini terjadi—pesan-pesan misterius, orang-orang yang bertanya-tanya soal Anda—akan berhenti sepenuhnya."
Alya merasakan amarah yang mulai membakar di dadanya, menyadari bahwa dugaan mereka benar—Bram memang dalang di balik semua intimidasi yang selama ini mengganggu ketenangannya. "Jadi Anda mengakui bahwa Anda yang mengirim ancaman-ancaman itu?"
Bram tertawa kecil, tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Saya tidak mengakui apa pun secara resmi, Bu Alya. Saya hanya menawarkan solusi untuk masalah yang mungkin, secara kebetulan, berhenti begitu kita mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan."
"Ini pemerasan," kata Raka tegas, berdiri dari kursinya, kemarahan jelas terlihat di wajahnya. "Dan kami tidak akan tunduk pada ancaman semacam ini."
Bram mengangkat bahunya, tampak tidak terpengaruh dengan reaksi keras itu. "Terserah Anda berdua. Tapi ingat, saya punya banyak cara untuk membuat hidup profesional—dan personal—Anda berdua menjadi jauh lebih sulit dari yang Anda bayangkan sekarang."
Ia berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan tenang yang justru terasa lebih mengintimidasi dibanding kemarahan terbuka. "Saya akan beri Anda waktu seminggu untuk mempertimbangkan tawaran saya. Setelah itu, saya tidak bisa menjamin apa yang mungkin terjadi selanjutnya."
Bram melangkah keluar ruangan dengan santai, meninggalkan Alya dan Raka dalam keheningan yang dipenuhi kemarahan dan kekhawatiran yang mendalam.
---
Begitu Bram benar-benar pergi, Pak Joko segera masuk ke ruangan, wajahnya serius. "Saya dengar sebagian percakapan tadi. Ini jelas-jelas ancaman pemerasan. Kita harus segera laporkan ini ke pihak berwajib dengan bukti percakapan tadi."
"Apa percakapan tadi terekam?" tanya Raka cepat.
"Untungnya, ya," jawab Pak Joko. "Sistem keamanan ruang rapat ini otomatis merekam audio untuk keperluan dokumentasi rapat resmi. Kita punya bukti kuat sekarang."
Alya merasakan sedikit kelegaan mendengar itu, meski kekhawatiran masih menggelayuti pikirannya. "Ini berarti dia bisa langsung ditangkap?"
"Kita perlu koordinasi dengan tim legal dan polisi dulu," jawab Pak Joko. "Tapi dengan bukti rekaman ini, kasusnya jadi jauh lebih kuat."
---
Malam itu, setelah melaporkan rekaman percakapan tersebut kepada Pak Bayu dan Pak Anwar, Alya dan Raka duduk berdua di apartemen Alya, mencoba mencerna semua yang telah terjadi sepanjang hari yang melelahkan itu.
"Aku nggak nyangka semua ini ternyata cuma soal persaingan bisnis," kata Alya, menyandarkan kepalanya ke bahu Raka yang duduk di sampingnya di sofa. "Aku pikir ini ada hubungannya sama masa lalu aku, atau mungkin sama Dimas."
"Kadang dunia bisnis emang sekejam itu," jawab Raka, merangkul Alya lebih erat. "Tapi setidaknya sekarang kita tau siapa dalangnya, dan kita punya bukti kuat untuk melawan."
"Aku cuma capek, Raka," aku Alya, suaranya lirih. "Capek terus-terusan diuji dengan masalah baru setiap kali aku pikir semuanya udah mulai tenang."
Raka mengecup puncak kepala Alya lembut, mencoba memberikan kenyamanan sebisanya. "Aku tau ini berat. Tapi kamu udah nunjukkin, berkali-kali, betapa kuatnya kamu ngadepin semua ini. Dan aku akan selalu ada di sini, mendampingi kamu, apa pun yang terjadi."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat, menikmati kehangatan satu sama lain di tengah badai yang terus menerpa kehidupan mereka belakangan ini.
---
Keesokan harinya, dengan bukti rekaman yang kuat, tim legal perusahaan bersama dengan pihak kepolisian mulai bergerak cepat untuk menindaklanjuti kasus pemerasan yang dilakukan oleh Bram Wicaksono. Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa Bram sebelumnya juga pernah terlibat dalam beberapa kasus serupa dengan perusahaan-perusahaan lain, meski selalu berhasil lolos dari jerat hukum karena kurangnya bukti kuat.
"Kali ini berbeda," kata Pak Anwar dalam pertemuan update kasus dengan Alya dan Raka seminggu kemudian. "Dengan rekaman audio yang jelas, ditambah kesaksian dari beberapa korban lain yang akhirnya berani angkat bicara setelah mendengar kasus Anda, kami berhasil mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk menjerat Bram Wicaksono dengan pasal pemerasan dan intimidasi."
"Jadi dia akan ditangkap?" tanya Alya, masih tidak sepenuhnya percaya bahwa mimpi buruk ini akhirnya akan segera berakhir.
"Prosesnya sedang berjalan," jawab Pak Anwar. "Kami sudah mengajukan surat perintah penangkapan, dan tim kami sedang melacak keberadaannya saat ini."
Beberapa hari kemudian, kabar penangkapan Bram Wicaksono akhirnya sampai ke telinga Alya dan Raka, membawa kelegaan besar yang telah lama mereka nantikan. Grup Cahaya Nusantara, perusahaan yang dipimpinnya, juga mulai menghadapi investigasi lebih lanjut terkait praktik bisnis mereka yang mencurigakan selama bertahun-tahun terakhir.
---
Dengan berakhirnya ancaman dari Bram, Alya akhirnya bisa bernapas lega untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Ia dan Raka mulai bisa fokus sepenuhnya pada pekerjaan mereka tanpa bayang-bayang ketakutan yang terus menghantui, sekaligus mulai menikmati hubungan mereka yang semakin kokoh setelah melewati begitu banyak ujian bersama.
Suatu malam, saat mereka makan malam romantis di sebuah restoran yang sama tempat Raka pertama kali mengungkapkan perasaannya kembali kepada Alya beberapa bulan lalu, suasana terasa jauh lebih ringan dan penuh kebahagiaan dibanding pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya yang selalu dibayangi masalah.
"Kita udah lewatin banyak banget," kata Raka, menggenggam tangan Alya lembut di atas meja, lilin kecil menerangi wajah mereka berdua dengan cahaya hangat. "Dari rahasia perjodohan, Dimas, Pak Surya, sampai Bram. Rasanya kayak kita udah ngelewatin ujian yang nggak ada habisnya."
"Tapi kita berhasil lewatin semuanya bareng-bareng," jawab Alya, tersenyum tulus, matanya berkilau di bawah cahaya lilin. "Dan itu yang paling penting buat aku."
Raka menatap Alya lama, matanya penuh dengan sesuatu yang berbeda dari biasanya—sebuah keteguhan dan kesungguhan yang membuat jantung Alya berdebar dengan cara yang berbeda dari kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini mereka rasakan.
"Alya," kata Raka pelan, tangannya mulai meraih sesuatu dari saku jasnya. "Aku udah mikirin ini lama banget, bahkan sebelum semua kekacauan ini terjadi. Dan aku pikir, setelah semua yang kita lewatin bersama, aku nggak mau nunggu lebih lama lagi untuk—"
Sebelum Raka sempat menyelesaikan kalimatnya, ponsel Alya tiba-tiba bergetar keras di atas meja, menampilkan nama yang membuat suasana romantis itu seketika berubah tegang: **Rumah Sakit St. Carolus.