NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Tatapan di Antara Dua Malam

Pintu kamar tertutup di belakang mereka, menyisakan keheningan yang berat dan napas Elona yang masih memburu, tak menentu. Ruangan itu sama seperti biasanya — tempat yang telah berkali-kali mereka kunjungi — namun bagi Vano, kini terasa seperti penjara yang dingin dan pengap. Langkah kakinya terasa berat, seakan ada rantai tak kasat mata yang menariknya ke bawah, mengikatnya tanpa jalan keluar.

Elona merangkul lengannya erat, tubuhnya masih goyah, kesadarannya samar namun keinginannya begitu tegas. Dengan lembut namun tak terbantahkan, ia menuntun Vano menuju tempat tidur yang lebar itu.

"Ke sini…" bisiknya serak, bibirnya menyentuh pelipis Vano, turun ke pipi, lalu ke sudut bibirnya.

"Tetaplah bersamaku malam ini… kumohon…"

Kata-kata itu terdengar bagai rintihan yang memburu, namun setiap sentuhan yang ia berikan justru membakar dada Vano dengan amarah yang tertahan. Bayangan wajah Ina Marlina kembali melintas tajam, menusuk di benaknya:

Pilih, Vano… atau aku akan bicara pada Damian… pada semua orang…

Frustrasi meledak seketika. Ia melepaskan rangkulan Elona dengan kasar, napasnya memburu, matanya menyala menahan amarah yang tak bisa dilampiaskan kepada siapa pun selain dirinya sendiri.

"Sudahlah!" bentaknya pelan, namun penuh getaran kemarahan.

"Kau tidak tahu… kau sama sekali tidak tahu apa yang membebani pikiranku!"

Elona terdiam, menatapnya bingung, setengah sadar. Ia hanya mengerjap, lalu meraih lengan Vano kembali, lemah dan memohon. Vano menghela napas kasar, akhirnya pasrah — membiarkan dirinya ditarik, dibaringkan, dipeluk rapat oleh wanita yang ada di hadapannya ini. Ia tak lagi menolak, tak lagi berusaha melepaskan diri. Biarlah. Biarlah semuanya berlalu begitu saja. Tak ada gunanya melawan.

Namun saat tubuh Elona menempel rapat padanya, saat tangan wanita itu merambat di dadanya, Vano memejamkan matanya rapat-rapat dan mulai membayangkan sesuatu yang lain — seseorang yang lain.

Di kegelapan di balik kelopak matanya, wajah Elona perlahan memudar, digantikan oleh sosok yang selalu ia rindukan:

Laudys.

Ia membayangkan gadis itu berbaring di sampingnya, bukan orang lain. Ia membayangkan tangan kanannya — yang penuh tato, yang selama ini disembunyikan rapat di balik lengan panjang dan lapisan alas bedak — kini terbuka, terlihat jelas, menyentuh wajahnya dengan lembut. Tangan yang sama yang memetik senar gitar dengan keindahan yang memukau, kini mengusap keningnya, menenangkan kekacauan di kepalanya.

Setiap sentuhan yang ia terima dari Elona, ia ubah dalam benaknya menjadi sentuhan tangan itu — tangan yang berbekas tato, tangan milik Laudys. Setiap bisikan yang terdengar, ia ganti menjadi nama itu, diucapkan pelan di dalam hatinya berkali-kali. Ia membayangkan tubuh Laudys yang berdekatan dengannya, hangat dan nyata, di mana tidak ada paksaan, tidak ada ancaman, tidak ada rasa takut akan kehancuran siapa pun.

Dan begitu saja, ia membiarkan khayalan itu menuntunnya sepanjang malam. Tubuhnya bersama Elona, namun hatinya berada jauh — di sisi Laudys, di pelukan bayangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa utuh. Ia memejamkan mata erat, membiarkan jemarinya sendiri bergerak perlahan, seakan menyentuh kulit yang tertutup tato itu, membayangkan ia sedang memeluknya, menahannya, tak ingin melepaskan.

Ketika semuanya berlalu, Elona akhirnya tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya tenang seakan baru saja mendapatkan segala yang ia inginkan. Vano tetap berbaring diam, menatap langit-langit ruangan yang remang. Ia tidak beranjak, tidak berusaha pergi. Hanya diam, membiarkan bayangan Laudys — dengan tato di tangan kanannya yang indah — tetap ada di sana, di sampingnya, satu-satunya hal yang nyata di tengah malam yang hampa ini.

Selang beberapa menit kemudian.

Vano bangkit perlahan, berusaha tak menimbulkan suara. Ia hanya melilitkan selembar handuk di pinggangnya, menutupi tubuhnya yang terasa dingin dan hampa. Tanpa menoleh kembali ke arah tempat tidur, ia melangkah menuju meja samping, mengambil sebungkus rokok dan pemantik, lalu berjalan menuju pintu kaca yang terbuka lebar ke arah balkon.

Angin malam segera menyambutnya, sejuk dan menyegarkan, menerpa kulitnya yang terbuka. Ia berdiri di tepi pembatas, menyalakan sebatang rokok, menghisapnya perlahan — membiarkan asap itu mengisi rongga dadanya yang terasa kosong. Di belakangnya, di balik jendela kaca, Elona masih tertidur lelap. Di sini, di udara terbuka, sendirian, ia merasa sedikit lebih mampu bernapas. Ia berdiri diam, membiarkan waktu berjalan, menenangkan diri sejenak sebelum akhirnya harus masuk kembali, membersihkan diri, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Di kamar sebelah, suasana begitu berbeda — hangat, penuh tawa, penuh keakraban.

Meloudy melangkah masuk dengan napas yang masih tertahan. Ruangan begitu luas, beraroma bunga segar dan kemewahan yang tak biasa ia temui. Di sekelilingnya, wajah-wajah yang dikenalnya sejak masa sekolah menyambut dengan riang.

"Meloudy! Kau benar-benar datang!" seru Gita berlari mendekat, memeluknya erat.

"Aku sungguh tak menyangka! Aku pikir urusan di rumah sakit akan menahanmu lagi."

Meloudy tersenyum, menepuk punggung sahabatnya pelan.

"Aku berjanji, kan? Bagaimana bisa aku melewatkan ulang tahunmu sekaligus reuni kita?"

Ia duduk di sudut ruangan, ikut tertawa, bercerita sejenak tentang hal-hal sederhana — masa lalu, cita-cita yang dulu diimpikan, dan keseharian yang kini berbeda-beda. Namun sesekali, saat percakapan reda, pandangannya melayang ke arah pintu kaca besar yang terbuka lebar menuju balkon. Dengan alasan ingin menghirup udara sejenak, ia melangkah keluar, berdiri di tempat yang agak tersembunyi, dan matanya tak sengaja menangkap sosok di sisi seberang.

Jantungnya seketika berhenti berdetak sejenak.

Di balkon kamar sebelah, berdiri Vano. Hanya dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan perawakan tegap yang tak pernah ia lihat sebelumnya — bahu lebar, lengan kokoh, lekuk tubuh yang terlihat jelas di bawah cahaya remang. Meloudy menahan napas, pipinya memerah seketika, tak sanggup mengalihkan pandangan namun tak berani menatap lebih lama. Dan di balik jendela kaca yang sedikit terbuka, ia melihatnya — sesosok wanita berambut panjang terbaring di atas tempat tidur, tertidur pulas, tersenyum damai.

Meloudy menarik napas pelan, dadanya terasa sesak. Ia mengerti. Ia tak seharusnya ada di sini. Tak seharusnya melihat semua ini. Ia ingin berbalik, pergi, menyembunyikan diri agar tak mengganggu —

Namun saat ia hendak melangkah mundur, siku kanannya tak sengaja menyenggol 1 tanaman hias yang tergeletak di tepi pembatas.

BRAK!

Suara benturan itu memecah keheningan malam seketika.

Mereka saling menatap — satu terkejut tak menyangka akan ditemukan dalam keadaan demikian, satu lagi terperangah tak sanggup menyembunyikan keberadaannya.

^^^Bersambung...^^^

1
Miranda.
terus kalo lu awalnya ga suka sama elona, kenapa berhubungan sama dia jir?😡😡
Miranda.
Vano brengsekk. mentang² kaya aja mempermainkan wanita kau jingan!!😡😡😡
Miranda.
yep. sadar juga nih orang/Smug/
Miranda.
gajelas jir si Vano. aku kalo jadi elona kek eughh
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tak ada yang bisa mengalihkan pikiran Vano dari sosok gitaris yang terus membayangi pikirannya. Ya, meskipun disekelilingnya penuh dengan suara musik, tapi pikirannya tetap tertuju pada Laudys
Xlyzy
Alhamdulillah semoga ibu lekas membaik dan puluh supaya melody ga sedih lagi
Xlyzy
dengarkan ibu mu mel pasti itu pertanda baik
Isma Iis
gak sekalian aja orangnya langsung bawa pulang suruh main gitar di depan anda Tuan Vano
Isma Iis
gak bisa Tuan, meloudy harus menyembunyikan lengannya terutama dari anda Tuan Vano
Isma Iis
pas tau ternyata meloudy itu Laudy, nyesal tau rasa
Isma Iis
galak amat
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!