NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SARAPAN

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai, menyinari wajah Arya yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Aku menatapnya lama, masih sulit percaya bahwa pria dingin dan tak tersentuh itu sekarang bernapas teratur di sampingku, lengannya melingkar longgar di pinggangku.

****

Perlahan, aku bangkit dari tempat tidur, mengambil jubah mandi sutra, dan berjalan ke dapur terbuka. Aroma kopi sudah tercium samar. Ternyata, Arya lebih cepat bangun dariku.

Dia berdiri di depan mesin espresso, mengenakan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan dada bidang yang berotot. Ia menoleh saat mendengar langkahku.

"Pagi," ucapnya, suaranya berat karena baru bangun tidur. Ada senyum malas di bibirnya.

"Pagi," balasku, mendekat dan memeluknya dari belakang, menempelkan pipi di punggungnya yang hangat.

"Kamu curang. Bangun lebih dulu tanpa membangunkanku."

Arya tertawa kecil, membalikkan tubuh sehingga kami berhadapan. Ia mengecup keningku sekilas.

"Kamu butuh istirahat. semalam... intens," godanya, alisnya terangkat nakal.

Wajahku memanas. "Jangan mulai hari ini dengan godaan murahan, Tuan Wijaya. Kita punya jadwal padat."

"Jadwal apa?" tanya Arya sambil menuangkan kopi ke dua cangkir keramik.

"Rapat dengan tim legal untuk finalisasi gugatan cerai resmi Fadli," jawabku, mengambil cangkir kopiku.

"Dan siang nanti, aku harus menemui calon investor untuk proyek mandiri pertamaku."

Arya menyeruput kopinya, matanya menatapku serius. "Proyek mandiri? Maksudmu, keluar dari bayang-bayang Wijaya Group?"

"Bukan keluar," koreksiku tegas.

"Tapi berdiri sejajar. Aku ingin membuktikan bahwa aku bukan hanya 'mantan istri korban' atau 'pasangan Arya Wijaya'. Aku ingin Siren dikenal sebagai pengusaha sukses karena kemampuannya sendiri."

Arya mengangguk pelan, ekspresinya bangga. "Saya suka ambisi itu. Tapi ingat, investor akan skeptis. Mereka akan melihatmu sebagai wanita yang baru saja terlibat skandal besar. Bagaimana kamu berencana meyakinkan mereka?"

"Aku tidak akan meyakinkan mereka dengan kata-kata," jawabku, tersenyum tipis.

"Aku akan meyakinkan mereka dengan data. Aku sudah menyiapkan proposal akuisisi lahan kosong di kawasan BSD. Lahan itu milik perusahaan shell yang ternyata dikuasai oleh kakak iparku, Dimas."

Mata Arya membelalak sedikit. "Dimas? Pria yang selalu menghina kamu di setiap acara keluarga?"

"Tepat," konfirmasi saya.

"Dia butuh uang tunai cepat karena judi onlinenya ketahuan istrinya. Dia akan menjual lahan itu jauh di bawah harga pasar. Dan aku akan membelinya. Dengan uang hasil pembagian aset dari Fadli."

Arya tertawa renyah, tawa yang jarang kudengar.

"Kamu licin, Siren. Sangat licin. Kamu menggunakan uang mantan suami untuk membeli aset dari saudara ipar yang membencimu, lalu membangun imperiummu di atas tanah mereka sendiri. Itu... puitis."

"Itu strategi," balasku santai.

"Dan bagian terbaiknya? Setelah aku beli, nilai tanah itu akan naik tiga kali lipat dalam setahun karena rencana pembangunan MRT baru. Dimas akan menyesal seumur hidup."

"Apakah kamu butuh bantuan modal?" tawar Arya, meski ia tahu jawabannya.

"Tidak," tolakku tegas. "Aku ingin ini murni usahaku. Tapi... aku butuh koneksimu untuk mengurus perizinan. Birokrasi di sana lambat dan penuh suap. Kamu punya orang di dalamnya?"

Arya mengangguk. "Saya akan hubungi Kepala BPN besok. Izin akan keluar dalam tiga hari kerja. Tanpa suap. Hanya karena nama Wijaya membuka pintu."

"Terima kasih," ucapku tulus. "Ini berarti banyak bagiku."

"Siren," panggil Arya tiba-tiba, suaranya melunak. Ia meletakkan cangkirnya, lalu memegang kedua tanganku.

"Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa padaku. Saya sudah tahu kemampuanmu. Tapi jika melakukan ini membuatmu merasa utuh... maka lakukanlah. Saya akan mendukungmu dari belakang layar. Tidak akan ada intervensi. Tidak akan ada campur tangan. Kecuali kamu minta."

Aku menatap matanya dalam-dalam. "Janji?"

"Janji," jawab Arya serius.

"Ini panggungmu. Aku hanya penonton yang paling setia."

Tiba-tiba, ponselku berdering. Nama Pengacara Fadli muncul lagi.

Aku menghela napas kesal. "Dia tidak pernah kapok."

"Angkat saja," saran Arya tenang. "Mari kita dengar apa drama barunya."

Aku menekan tombol speaker. "Halo, Pak Hendra."

"Nyonya Siren," suara pengacara itu terdengar lelah dan putus asa.

"Klien saya... Fadli... dia mencoba bunuh diri tadi pagi."

Hening. Jantungku berhenti berdetak sesaat. Bukan karena sedih. Tapi karena syok.

"Apa maksud Anda?" tanyaku datar, meski tanganku mulai gemetar.

"Dia minum obat tidur berlebihan. Sekarang dirawat di ICU RS Pondok Indah. Kondisinya stabil, tapi kritis secara mental. Dia meninggalkan surat wasiat. Isinya... semua sisa asetnya, termasuk mobil dan jam tangan mewahnya, diwariskan kepada Anda."

Aku tertawa. Tawa yang dingin dan sinis.

"Dia pikir dengan mati, dia bisa membuatku merasa bersalah?" gumamku. "Dia salah besar."

"Nyonya," desak Pak Hendra. "Mohon pertimbangkan untuk membatalkan gugatan cerai. Atau setidaknya, jangan sita aset terakhirnya. Biarkan dia punya sesuatu untuk bertahan hidup jika dia sembuh."

Arya mengambil alih pembicaraan, suaranya tajam seperti pisau bedah.

"Pak Hendra, dengarkan baik-baik. Upaya bunuh diri Fadli adalah manipulasi emosional tingkat rendah. Kami tidak tertarik. Gugatan cerai tetap berjalan. Aset tetap disita. Jika Fadli ingin bertahan hidup, biarkan dia bekerja seperti rakyat biasa. Jangan manjakan dia dengan belas kasihan palsu."

"Tapi—"

Klik.

Arya menutup telepon. Ia menatapku, wajahnya keras.

"Jangan biarkan rasa bersalah masuk, Siren," perintahnya.

"Itu senjata terakhirnya. Jika kamu luluh sekarang, lima tahun penderitaanmu menjadi sia-sia."

Aku menatap Arya, lalu mengangguk pelan. Mataku kering. Hatiku dingin.

"Kamu benar," bisikku. "Fadli memilih jalannya. Sekarang, biarkan dia menanggung konsekuensinya. Sendirian."

Arya menarik aku ke dalam pelukannya erat. "Kita lanjutkan sarapan. Lalu, kita hancurkan Dimas. Dan bangun kerajaanmu."

Aku tersenyum, merasakan kekuatan mengalir kembali ke tubuhku. Ya. Kerajaan itu akan kubangun. Dan fondasinya adalah keadilan yang akhirnya tegak lurus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!