“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melakukan Lagi
Lama Hulya menunggu di sofa. Ia menanti suaminya pulang dengan membawa makanan yang dipesannya tadi. Tak lama kemudian, terdengar suara mobil dari luar.
Hulya tersenyum. Akhirnya Affandy kembali. Ia semakin bahagia ketika melihat suaminya perlahan melangkah mendekatinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, suamiku." Hulya menatap tangan Affandy yang memegang kantong plastik berisi makanan.
"Kamu tunggu, ya. Biar aku siapin."
"Nggak usah. Udah dibeliin aja aku senang banget."
"Nggak apa-apa. Kamu duduk."
"Nggak usah, Affan. Biar aku."
Hulya langsung berdiri.
"Mau aku marah lagi?" tanya Affandy.
Hulya langsung kembali duduk. Ia tahu, itu bukan pilihan yang bisa diperdebatkan. Pria itu pasti akan melakukan sesuatu yang membuatnya takut jika sedang marah besar.
Tak butuh waktu lama. Affandy kembali datang membawa semangkuk bakso yang sudah ia siapkan untuk wanita itu.
"Baksonya datang."
Hulya tersenyum bahagia karena Affandy mulai berperilaku baik lagi kepadanya.
Affandy mengambil posisi tepat di samping istrinya. "Makan, ya."
"Kok cuma satu? Kamu nggak makan?" tanya Hulya.
Affandy menggeleng. "Nggak."
"Satu dibagi dua. Mau nggak?" tawar Hulya.
"Nggak usah. Kamu makan aja. Aku nggak suka bakso."
Hulya mengangguk pelan. "Aku makan, ya."
"Iya."
Hulya mulai menyantap makanan itu. Namun, ia malah salah tingkah ketika menyadari Affandy terus memandanginya.
"Kok gitu banget lihatinnya?"
Sejenak Affandy mengerjapkan mata.
"Masih sakit?"
Hulya meletakkan sendoknya. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat. "Affan ... Aku sama sekali nggak apa-apa kalau kamu marahin aku. Tapi jangan sampai kamu main tangan. Hatiku sakit."
"Maafin, ya."
"Aku nggak mungkin bisa marah sama kamu. Kamu itu suamiku. Walaupun kamu nggak menganggap aku sebagai istrimu."
"Makan lagi, dong."
Hulya kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Di balik sikap tenangnya, Affandy mulai gelisah. Ia menunggu sesuatu yang telah direncanakannya.
"Obatnya kok belum bereaksi? Aku udah nggak tahan."
Perlahan mata Hulya mulai terasa berat. Ia meneguk segelas air putih.
"Kenapa?" tanya Affandy. "Kok nggak dihabisin?"
"Masih pengen, Affan. Tapi aku ngantuk."
"Yes. Obatnya sudah bekerja."
Hulya menguap. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Aku tidur di sini aja. Ngantuk banget."
Tak lama kemudian, Hulya tertidur. Affandy tersenyum tipis. Usahanya membuahkan hasil.
Sebelumnya, Affandy sengaja memberikan obat tidur kepada wanita itu. Ada keinginan dalam dirinya yang sulit dikendalikan. Namun, ia juga sadar bahwa dirinya telah berjanji untuk tidak menyentuh Hulya.
Kini ia hanya bisa menatap wanita yang tertidur di hadapannya.
Laki-laki itu seharusnya memahami bahwa Hulya adalah istrinya. Namun, cara Affandy menghadapi keinginannya justru membuat semuanya menjadi semakin rumit.
Affandy kemudian membawa Hulya ke dalam kamar. Ia membaringkan tubuh wanita itu di atas ranjang.
"Maaf, Hulya."
[] [] []
Seperti hari sebelumnya, Hulya terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pria yang sedang duduk di atas sajadah dengan posisi membelakanginya.
Affandy baru saja selesai melaksanakan salat Subuh. Setelah itu, ia merasa bersalah karena telah mengambil keputusan sepihak tanpa sepengetahuan wanita tersebut.
"Affan."
Suara Hulya terdengar serak, khas orang yang baru bangun tidur. Laki-laki itu menoleh ke belakang. Hanya sekilas. Setelah itu, Affandy kembali membuang muka seolah mengabaikan Hulya.
"Affan."
"Apa, Hulya?" tanyanya dengan nada kesal. "Masih pagi sudah bikin pusing."
"Badanku sakit."
Affandy berdecak kesal. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri wanita itu.
"Nggak usah manja."
"Kenapa rasanya seperti kemarin? Apa Affan melakukan itu lagi?"
"Aku mau pergi."
"Jangan tinggalin aku."
"Nggak usah memohon begitu. Aku sama sekali nggak peduli."
Hulya menatapnya dengan ragu. "Aku boleh minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Kamu datang ke kafe tempat aku kerja. Bilang sama karyawan di sana kalau aku sedang sakit. Aku nggak enak badan."
"Kamu benar-benar sakit?"
"Mana mungkin aku bohong sama kamu."
Hulya berusaha bangkit dari atas ranjang. Dengan cepat Affandy membantu wanita itu berdiri.
"Mau ke mana?"
"Ke toilet."
"Ayo."
Affandy membantu istrinya berjalan perlahan menuju toilet. Setelah sampai, ia membiarkan Hulya masuk sendirian.
Affandy menunggu dari luar. Ia mulai merasa waswas melihat kondisi istrinya yang begitu lemas.
Affandy Frazendra sadar, apa yang terjadi pada Hulya adalah akibat dari kesalahannya. Namun, ia tetap egois dan tidak berani mengatakan hal tersebut kepada wanita itu.
[] [] []
Kini Hulya dan Affandy berada di rumah sakit. Wanita itu akhirnya menyerah pada rasa sakit yang dirasakannya. Hulya tertidur di atas brankar, sementara Affandy duduk di sampingnya.
Laki-laki itu menatap wajah Hulya yang tengah berbaring. Ia sedang menunggu kedatangan orang tuanya.
Tak lama kemudian, Hulya terbangun dari tidurnya. Untuk berbicara pun rasanya ia tidak ingin. Ia hanya terus memandangi Affandy sambil memikirkan sesuatu yang telah dilakukan suaminya kepadanya.
"Ngapain kamu lihat aku?" tanya Affandy.
Hulya mengembuskan napas perlahan. "Apa kamu nggak mau jujur tentang sesuatu sama aku?"
"Jujur?" Affandy mengerutkan kening. "Memangnya aku harus jujur tentang apa?"
Ceklek!
Pintu terbuka. Lagi-lagi perempuan itu datang. Tiffany masuk tanpa permisi. Affandy langsung berdiri ketika wanita itu sudah berada di hadapan mereka.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Dari tadi aku nungguin di parkiran. Kamu malah mesra-mesraan sama dia."
"Kamu keluar."
"Kamu ngusir aku?" tanya Tiffany.
"Aku nggak ngusir kamu, sayang. Mami aku mau datang. Nanti dia marah."
"Kamu pura-pura sakit, kan? Supaya Andy terus sama kamu?" Tiffany langsung menyerang Hulya.
"Tiffany ... Aku mohon jangan bikin keributan di sini. Kamu pulang, ya."
"Apa hak kamu ngusir dia? Jangan cari ribut!"
Tiffany tersenyum lebar ketika Affandy membela dirinya. Hulya kembali bingung melihat sikap suaminya yang sebentar-sebentar berubah.
"Aku nggak ngusir dia, Affan. Mami dan Papi mau datang. Kalau mereka lihat Tiffany ada di sini, bagaimana? Aku nggak mau kamu dimarahi."
Mendengar ucapan Hulya, Affandy justru berbalik membela istrinya. Ia menarik tangan Tiffany dan membawanya keluar dari ruangan.
"Kamu pulang. Nanti malam kita ketemu."
"Tapi, Andy—"
"Pulang atau aku marah."
Dengan kesal Tiffany mengembuskan napas. "Iya, deh. Tapi janji, ya."
"Iya."
Akhirnya Tiffany pergi dari rumah sakit. Affandy kembali masuk ke ruangan Hulya. Saat ini Hulya sudah membelakanginya.
Affandy mendekat dan membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita itu. Namun, tiba-tiba Hulya berbalik.
Pertemuan bibir mereka pun terjadi selama beberapa detik. Hulya langsung menutup mulutnya. Untuk kedua kalinya, ia mengalami ciuman yang tidak sengaja dengan suaminya.
"Kenapa?" tanya Affandy.
"Maaf, aku nggak bermaksud—"
"Kan sudah pernah waktu malam itu."
Affandy kemudian duduk di kursi samping tempat Hulya berbaring.
"Kamu nggak marah?"
"Ngapain marah? Tadi kan nggak sengaja."
Hulya terdiam. Ia menatap lekat wajah suaminya. "Aku bisa minta sesuatu nggak?"
"Apa?"
Hulya meraih telapak tangan Affandy. "Aku mau tidur. Aku capek. Temenin aku."
Satu tangan Affandy terulur ke arah kepala wanita itu. Ia mengusapnya dengan sangat lembut.
"Tidur aja. Aku tahu kamu capek karena perbuatanku."
Hulya langsung membuka matanya. "Ha? Maksud kamu?"
"Eh... Maksudku..." Affandy terlihat gugup. "Kemarin aku kasar sama kamu. Kamu capek karena ulahku."
"Masih saja... Kenapa kamu belum mengakuinya, Affan?"