Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Agam Yang Mengejutkan
Beberapa menit berlalu, namun Alea masih berdiri di depan cermin wastafel yang ada di area toilet.
Berulang kali ia menghela nafas panjang demi bisa mengendalikan detak jantungnya yang sejak tadi, berdetak dengan sangat cepat.
Setelah merasa tenang dan yakin, Alea pun mulai melangkah, meninggalkan ruangan toilet.
Namun, baru saja kakinya melangkah, keluar dari area toilet, tiba-tiba Alea dibuat kaget setengah mati ketika sebuah tangan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
“Eh.”
Tubuh Alea tersentak. Belum sempat mencerna apa yang terjadi, seseorang sudah menariknya menjauh dari pintu toilet.
“Kak Agam?!” ucapnya dengan nada kaget.
Alea semakin dibuat kaget saat mengenali sosok yang saat ini tengah mencengkram pergelangan tangannya. Erat. Sangat erat.
Pria itu tidak mengatakan apa pun. Wajahnya terlihat serius. Tatapannya lurus ke depan, sementara langkahnya begitu cepat membuat Alea harus setengah berlari kecil untuk mengimbanginya.
“Kak. Lepasin aku!” protes Alea panik. Berusaha melepaskan cengkraman tangan Agam. Namun, pria itu bergeming. Seolah tidak mendengar ucapan Alea.
“Kak Agam!”
Alea kembali mencoba menarik tangannya. Namun tidak berhasil.
Cengkeraman pria itu justru malah semakin erat.
“Kak Agam, lepas. Kamu mau bawa aku ke mana?”
Alea kembali berusaha melepaskan diri. Namun tidak berhasil. Tidak ada respon ataupun jawaban dari pria itu. Ia tetap fokus berjalan, menjauh dari area toilet.
Dahi Alea langsung mengkerut saat mereka melewati pintu yang menuju ke area ballroom.
Jantungnya kembali berdebar cepat saat Agam membawanya semakin menjauh dari tempat yang seharusnya mereka berada.
“Kita mau ke mana, Kak? Ini… bukan arah ke ballroom.” tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan.
Akhirnya, Agam pun menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah lift. Ia menekan tombolnya.
Alea masih berdiri beberapa langkah di belakang pria itu. Masih berusaha juga untuk melepaskan cengkraman tangan Agam di tangannya.
“Kak, aku bilang lepas.”
Agam menoleh. Namun, Agam tetap bergeming. Jangankan melepaskan, sekedar mengendurkan cengkramannya pun tidak.
Dalam diam, Agam menatap tajam Alea. Tatapan pria itu pun akhirnya berhasil membuat Alea terdiam.
Dari sorot mata tajam itu, ada sesuatu di yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Seperti ada sebuah kekhawatiran dan juga kemarahan. Mungkin… ada juga rasa lelah karena terus-menerus dihindari.
Ting.
Bahkan, sampai pintu lift terbuka.
Agam masih diam membisu. Dan setelah pintu lift itu terbuka sempurna, Agam kembali menarik Alea untuk ikut masuk ke dalam lift bersama dengannya.
“Kak…” lirih Alea, namun lagi-lagi tidak digubris oleh Agam.
Pintu lift kembali tertutup. Meninggalkan keduanya dalam sunyi. Hanya suara mesin lift yang terdengar samar ketika angka pada panel perlahan berubah.
Alea menatap angka tersebut dengan perasaan tidak nyaman.
“Lantai dua puluh lima?” gumamnya dalam hati.
Alea pun menoleh ke arah Agam. Menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya. Sementara Agam, masih setia dengan diamnya.
Alea kembali mencoba menarik tangannya. Dan itu berhasil membuat Agam menoleh.
Ting.
Baru saja Alea akan buka mulut, pintu lift sudah kembali terbuka.
Agam kembali menarik tangannya keluar dari dalam lift.
Kali ini Alea tidak lagi melawan. Yih oercuma saja, karena sekuat apapun Alea mencoba melepaskan diri, ia tetap kalah tenaga dari pria itu.
Hingga akhirnya, Alea pun hanya bisa pasrah saat Agam kembali menariknya. Keduanya berjalan menyusuri lorong panjang yang jauh lebih sepi dibandingkan lantai ballroom.
Sesekali Alea menoleh ke belakang. Dan tidak ada siapapun di sana.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin kuat rasa gugup memenuhi dadanya.
Sampai akhirnya Agam berhenti di depan salah satu pintu kamar hotel. Membuat dahi Alea mengerut.
“Kak… ke-kenapa kita kemari?” tanyanya terbata karena gugup dan juga takut.
Agam masih tidak menjawab. Dengan tangan yang masih menggenggam pergelangan Alea, tangan satunya meraih kartu akses dari saku jasnya.
Bip.
Kunci pintu berbunyi dan pintu itu pun terbuka. Alea langsung menahan langkah saat Agam akan membawanya masuk kedalam kamar itu.
“Kak, tunggu.”
Namun pria itu tetap bergeming. Lalu kembali menarik Alea masuk kedalam kamar bersamanya.
Klik.
Setelah keduanya masuk. Pintu kamar itu pun kembali tertutup rapat.
Baru saja Alea mengangkat wajahnya untuk menatap Agam. Tiba-tiba pria itu menarik tubuhnya mendekat. Lalu…
Cup.
Seketika, tubuh Alea langsung membeku. Matanya membulat sempurna. Seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak, Alea hanya bisa berdiam diri saat bibir dilahap oleh Agam.
Bahkan selama beberapa saat, Alea sempat lupa bagaimana caranya bernafas. Ia benar-benar tidak menyangka jika Agam akan melakukan hal itu.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya, kesadaran Alea pun kembali. Spontan, tangannya langsung terangkat, lalu mendorong dada Agam.
“Kak Agam!” lirih Alea. Masih sangat kaget dengan tindakan Agam.
Agam pun akhirnya melepaskan ciumannya. Membuat Alea langsung mundur beberapa langkah.
Punggungnya hampir menyentuh pintu. Nafasnya memburu. Tangannya refleks menyentuh bibirnya sendiri, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Agam.
“Apa yang Kakak lakukan?” tanyanya dengan suara yang bergetar.
Agam hanya diam. Rahang pria itu terlihat mengeras. Dadanya naik turun dengan nafas yang juga tidak beraturan.
“Aku tanya, Kak. Apa yang Kak Agam lakukan?” tanyanya lagi, dengan suara yang mulai meninggi.
Namun, masih tidak ada jawaban. Agam terlihat mengangkat wajahnya menatap Alea dengan ekspresi yang sedikit berubah.
“Aku juga tidak tahu, Al.” jawab Agam membuat Alea kebingungan.
“Apa? Tidak tahu?”
Agam mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian membuang pandangan ke arah lain.
“Iya, Al. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.”
Alea menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Jawaban Agam benar-benar membuatnya bingung.
“Kak…”
“Maafkan aku, Al. Aku minta maaf.” sela Agam membuat Alea tidak melanjutkan ucapannya.
Agam kembali menoleh, menatap Alea dengan tatapan penuh penyesalan. Lalu kembali berkata…
“Aku hanya merasa sangat marah dan tidak terima.”
“Marah? Tidak terima? Tentang apa?”
“Aku marah karena setelah kejadian di kantin tempo hari, kamu jadi semakin sulit di hubungi. Tidak pernah mau angkat telponku. Bahkan, pesanku tidak ada satupun yang kamu balas.” jelasan Agam membuat Alea tertegun.
“Lalu sekarang. Kamu terlihat senang, bahkan tertawa ringan bersama pria lain.”
Deg.
Ucapan itu, benar-benar membuat Alea tertegun. Bahkan, Alea sampai tidak bisa berkata apa-apa untuk merespon ucapan Agam.