Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Malam itu.
William dan banyak timnya masih ada di Perusahaan termasuk Akila juga.
Hanya saja saat ini Akila tertidur di sofa karena sedari tadi ia diminta untuk diam membuat kantuk mulai menyerang Akila.
William masih sibuk duduk di kursi kebesarannya. Sampai detik itu belum ia temukan siapa sosok yang berani mengusik Perusahaan miliknya.
Helaan nafas William terdengar, laptop yang ada di hadapannya ia tutup karena ia sendiri mulai muak.
"Aku akan membunuhnya jika aku dapatkan siapa pelaku yang sedang mengusikku. Sungguh memang sialan." Gumam William mengumpat.
Mata William mengedar ke arah dimana Akila terlelap.
Wajah yang selalu membenci William kini lelap dalam tidurnya.
Posisi duduk William mulai berubah, langkah kaki itu membawa William sampai di hadapan Akila.
"Apa kau ada dibalik semua ini? Kenapa kau sangat abu-abu untuk bisa dipercaya Akila?" Tanya William menatap wajah Akila.
Posisi William sedikit menunduk, tangannya terulur merapikan beberapa helaian rambut Akila.
Senyum kecil milik William terbit hampir tak terlihat.
'Kau cantik,' ucap William membatin.
Ucapan itu tak bohong karena faktanya Akila memang cantik.
Detik itu juga William menggendong tubuh Akila.
"Tetap selesaikan semua urusan yang kacau ini. Setidaknya stabilkan kembali saham penjualan yang turun drastis. Besok aku akan kembali memeriksa segalanya." Ucap William.
"Baik Tuan." Balas semua yang ada di ruangan itu.
Setelah mengucapkan kata itu, tampaklah William pergi dari Perusahaannya.
William pulang ke Mansion nya membawa Akila.
---
Langkah milik William terhenti saat menatap Hanum ada di Mansion miliknya.
Hanum langsung bangkit berdiri saat melihat William menggendong seorang perempuan yang saat ini wajahnya bersembunyi di dada William.
Selama ini mana pernah William dekat dengan wanita apalagi mau bersentuhan dengan wanita setelah Amel mengkhianatinya.
"William, siapa dia?" tanya Hanum.
William menghela nafasnya.
"Jangan ikut campur urusanku. Kedepannya Grandma tak bisa datang semaunya ke kediamanku." Ucap William dengan raut wajah yang dingin.
Hanum mulai melangkah, ia hendak mendekati William tapi William meninggalkannya begitu saja.
"William, apa dia wanita yang bernama Akila? Apa dia adalah wanita yang..."
Tiba-tiba Akila menggerakkan tubuhnya membuat langkah kaki William terhenti.
Kepala Akila yang tadinya ada di dada William kini mulai mundur.
Dada William saja kena pukul oleh Akila saat Akila benar-benar sadar dari tidurnya.
"Apa-apaan kau?! Turunkan aku!" Sentak Akila baru sadar dari tidurnya, ia tak terima kalau ia sempat nyaman dalam gendongan William.
William menunduk menemukan Akila berontak bahkan memberikan tatapan kebencian pada William seperti semula.
"Tidur kembali." Ucap William.
"Tidak mau! Turunkan aku, aku lebih baik tidur di sofa alih-alih di kamarmu. Cepat turunkan aku!" Sentak Akila berontak bahkan kakinya bergoyang agar William mau menurunkannya dari gendongan itu.
Akhirnya mau tak mau William menurunkan Akila dari gendongan itu, ia hendak mundur tapi ditahan oleh William.
"William, apa yang membuatmu membawa wanita ini ke kediamanmu? Jika dia memang Akila, bukankah dia..."
Akila menjauhkan sedikit tubuh William hingga tatapannya bertemu dengan Hanum.
Hanum terdiam sejenak menatap betapa cantiknya mata indah milik Akila, wajah itu sungguh sangat cantik. Rambutnya tak begitu panjang dan Akila punya kulit yang putih. Sangat cocok jika bersanding dengan William yang juga tampan.
"Aku memang Akila, lalu aku kenapa?" Tanya Akila pada Hanum.
Hanum mulai melangkah, ia mendekati Akila tapi William langsung menarik Akila ke sisinya hingga tubuh Akila terkunci saat tangan William ada di pinggang Akila.
"Apa kau adalah wanita yang pernah ada dalam kecelakaan tujuh tahun lebih itu?" Tanya Hanum penasaran.
Tatapan mata mereka saling terikat, tanpa ragu Akila mengangguk.
"Hm, aku memang ada disana. Sekarang katakanlah mau kalian, aku akan menjawabnya. Ayo katakan saja, dengan imbalan bebaskan aku." Ucap Akila bersemangat.
Akila langsung meringis saat William malah mencengkram pinggang Akila cukup kuat.
William yang sedari tadi melihat Akila kini jadi bertatapan saat Akila mendongak ke arah William.
"Tak ada yang berubah jika kau mengatakan segalanya, karena kau akan tetap jadi istriku." Ucap William yang paham maksud Akila.
William tahu bahwa Akila ingin dibebaskan darinya.
Hanum terkejut mendengar penuturan yang keluar dari mulut William.
Menikah? Apa artinya William sudah menikah dengan Akila? Itulah yang saat ini ada dalam pikiran Hanum.
"Jauhkan tanganmu. Sakit." Ucap Akila meringis pelan.
William berhenti mencengkram karena emosinya.
"Aku sudah katakan dengan jelas bahwa aku tidak pernah membunuh Mommy mu. Aku juga bukan penyebab dari kecelakaan itu dan terlebih aku ada disana dan aku melihat Mommy mu masih hidup. Kami bicara, dia bahkan menyebut namamu sebagai Putranya!" Ucap Akila beremosi.
Akhirnya Akila mengatakan segalanya. Dadanya sesak karena terus dituduh sebagai pembunuh, tatapan Hanum seakan yakin kalau Akila adalah penyebab segalanya terjadi.
"Terjadi ataupun tidak kecelakaan malam itu, aku yakin bahwa Mommy mu masih hidup." Ucap Akila lagi.
Detik itu juga William mencengkram rahang Akila, tatapan William benar-benar sangat emosi.
"Jadi katakan dengan jelas apa yang mau kau katakan! Apa kau berpikir bahwa Mommy ku dibunuh? Mau sejauh apa kau bicara omong kosong ini Akila?! Kau tampak seperti penipu." Ucap William membuat Akila dengan kuat mendorong dada William.
Cengkraman itu terlepas, rahang Akila perih.
Emosi Akila semakin muncul.
"Kalau menurutmu aku adalah penipu, untuk apa kau menikahiku? Untuk apa kau menjeratku? Bunuh saja aku sialan! Bunuh agar kau puas! Kau pikir menyiksaku akan membuat yang telah terjadi bisa baik-baik saja? Tidak! Jangan konyol, ini hidup. Balas dendam bukan hal yang bisa diobati untuk menyembuhkan luka!" Ucap Akila dengan nafas yang memburu.
Air mata Akila jatuh sekalipun ia tak mau menangis.
Akila mundur, ia mengambil vas bunga yang ada di meja lalu ia pecahkan. Satu beling Akila raih bahkan ia letakan di pergelangan tangannya.
"Kau pikir aku takut mati? Disakiti olehmu membuatku kebal dengan namanya luka! Aku bahkan..."
"Jauhkan beling itu." Ucap William dengan raut wajah datar.
Akila tersenyum kecut.
"Kenapa? Kau membenciku kan? Maka lebih baik tertawalah saat aku meminta kematian!" Ucap Akila.
William melangkah cepat saat Akila hendak menggores pergelangan tangannya. Beling itu William cengkram usai ia rebut dari Akila.
Darah akhirnya menetes, itu berasal dari tangan William.
Akila terkejut melihat hal itu.
"Bodoh! Sedang apa kau?!" Sentak Akila menarik tangan William tapi pria itu seakan betah menggenggam beling itu.
"William lepaskan!" Ucap Akila lagi.
Akila panik sendiri, apa yang sedang ia pikirkan? Apa ia cemas? Entah kenapa melihat William membuat Akila terus teringat wajah Atheos.
"William, hei William! Jangan bodoh, tanganmu berdarah!" Sentak Akila hingga akhirnya William jatuhkan beling itu.
Hanum menyaksikan segalanya.
Tatapan William yang tadinya dingin kini mulai menghangat, sejak kapan William peduli jika orang lain mau bunuh diri dihadapannya? Ini sosok lain yang Hanum lihat dari Cucunya itu.
Akila yang cemas segera meraih banyak tisu untuk membalut tangan William.
"Apa kau akan melukai dirimu sendiri lagi nantinya?" Tanya William membuat Akila menggeleng dengan cepat.
"Bagus. Jangan melukai dirimu sendiri lagi. Hanya aku yang boleh melukaimu." Ucap William pelan namun Akila tak peduli pada ucapan itu.
Akila cemas, ia kacau. Pikirannya terlalu buntu sampai ia mengira bahwa William adalah bagiannya. Kenapa Tuhan ciptakan wajah Putranya sangat mirip dengan William?
"Jangan gila lagi William." Ucap Akila dengan nada kecil.
Air mata Akila makin berjatuhan, William masih menatap Akila.
Tak lama setelahnya William berucap.
"Luka kecil ini tak akan..."
"Ayo ke rumah sakit." Ucap Akila.
Hanum makin bingung, ada apa dengan dua orang ini?
Akila mengangkat wajahnya membuat William bisa melihat air mata itu.
"Ayo ke rumah sakit William." Ucap Akila lagi.
William menarik tangannya dari Akila, ia duduk di sofa seraya mengambil kotak obat yang ada di bawah meja.
"Ini luka kecil, untuk apa kau menangis? Bukankah harusnya kau senang? Aku mati maka kau bebas." Ucap William seraya membalut luka di tangannya.
Bagi William luka itu benar-benar tak berarti sama sekali, tapi kenapa Akila harus menangis seperti itu? Sungguh tangis Akila terlalu mengusik William.
Hanum tak bisa berkata-kata, tangannya mengulurkan sapu tangan pada Akila yang masih sesegukan.
"Aku baik-baik saja." Ucap Akila mengambil sapu tangan itu lalu menutup wajahnya, Akila malah semakin menangis.
Jujurnya ia rindu pada Anak-anaknya. Melihat wajah William membuat Akila semakin merindukan dua Anak kembarnya.
William dan Hanum dibuat bingung pada tangis Akila.
Melihat tangis itu tak kunjung reda, segeralah William menggendong Akila.
"Pulanglah Grandma, jangan ikut campur dengan apapun yang aku lakukan." Ucap William.
Hanum tak bisa berkata apapun selain diam menatap kepergian cucunya yang membawa Akila pergi.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .