Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Girl time, Love time
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Jingga dan Arin tiba di kota tujuan. Keduanya langsung check-in di hotel tempat mereka akan menginap selama proyek berlangsung.
Hari pertama masih terasa santai, belum ada jadwal padat. Jadi mereka memutuskan beristirahat di kamar Hotel.
Tak lama setelah meletakkan kopernya, Jingga langsung menyalakan laptop sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik cepat, menekan tombol video call.
Wajah Levin muncul di layar, membuat hati Jingga langsung menghangat.
“Kamu udah nyampe, sayang?” tanya Levin dengan nada lega.
“Iya, Vin. Baru aja masuk kamar. Tadi sempet makan juga sama Arin,” jawab Jingga sambil tersenyum.
“Syukurlah… aku cemas banget loh dari tadi. Rasanya pengen nyusul sekarang juga,” keluh Levin manja, membuat Jingga terkekeh.
“Jangan lebay deh. Aku kan cuma beberapa hari di sini. Nanti juga ketemu lagi,” ucap Jingga lembut, meski hatinya juga terasa berat meninggalkan Levin.
Levin merajuk lagi.
“Pokoknya kamu jangan sibuk banget sampai lupa kabarin aku ya. Aku bisa gila kalau nggak denger suara kamu.”
Jingga mengangguk kecil. “Iya, calon suami manja. Aku janji kok.”
Sementara itu, Arin sedang rebahan di atas kasur. Tangannya sempat ragu sebelum akhirnya menekan kontak bernama Roy.
Pesan singkat terkirim:
“Roy, aku udah sampai hotel. Perjalanannya lancar.”
Tak lama, ponselnya bergetar. Balasan Roy muncul.
“Syukurlah kalau sudah sampai. Aku lega banget. Istirahat ya, jangan lupa makan. Kalau ada apa-apa kabarin aku.”
Arin tersenyum tanpa sadar, pipinya memanas. Ia menutupi wajah dengan bantal sambil berbisik lirih, “Duh, kenapa dia so sweet banget sih…”
Di seberang sana, Roy yang masih duduk di ruang kerjanya pun menyandarkan tubuh ke kursi. Tanpa bisa ditahan, senyum tipis tersungging di bibirnya. Ada rasa hangat yang berbeda, yang belakangan ini hanya muncul ketika memikirkan Arin.
Setelah cukup beristirahat di kamar hotel, Jingga melirik jam dinding lalu menoleh ke arah Arin.
“Rin, ayo kita keluar sebentar. Sayang banget udah di kota orang tapi cuma di kamar. Kita cari udara segar sama kulineran yuk.”
Arin yang sedang scroll ponsel langsung mengangkat wajahnya, matanya berbinar.
“Wah, ide bagus tuh! Aku juga udah laper lagi, padahal tadi udah makan di pesawat,” katanya sambil terkekeh.
Mereka pun keluar, berjalan menyusuri jalanan kota yang masih ramai. Lampu-lampu kota berkelip indah, menambah suasana malam itu jadi begitu hangat.
“Duh, udah lama banget ya kita nggak jalan bareng kayak gini. Biasanya kerja, meeting, deadline mulu,” ujar Jingga sambil menengok ke Arin.
Arin mengangguk. “Iya. Rasanya kayak nostalgia ke masa dulu. Dulu kan kita sering kabur bareng cuma buat makan kaki lima atau sekadar nyari angin malem.”
Keduanya tertawa bersama sambil melangkah santai. Aroma makanan dari berbagai penjaja kuliner jalanan membuat perut mereka semakin keroncongan.
“Coba itu, Rin! Ada sate khas sini, kayaknya enak banget,” kata Jingga antusias.
Arin langsung mengangguk. “Setuju! Setelah itu cobain juga mie kuah di sana. Aku baca review-nya viral banget.”
Malam itu benar-benar jadi malam quality time mereka berdua. Mereka mencoba sate, mie kuah, minuman segar, sampai camilan manis. Sesekali mereka saling suap makanan sambil tertawa-tawa, persis seperti dua sahabat yang lupa sejenak akan beban kerja.
“Gila, aku kekenyangan. Besok jangan salahin aku kalau baju kerja jadi sempit,” keluh Arin sambil memegangi perutnya.
"Tak masalah Rin, sesekali kita menikmati waktu yang berharga ini." jawab Jingga
Di tengah perjalanan kulineran itu, Arin tiba-tiba menarik lengan Jingga.
“Eh, kita foto dulu yuk! Sayang banget kalo momen gini nggak diabadikan.”
Jingga mengangguk cepat. Mereka pun berhenti di depan lampu jalan yang temaram namun indah, lalu berselfie dengan wajah sumringah sambil memperlihatkan aneka makanan di tangan masing-masing.
“Cekrek!”
Arin langsung tertawa saat melihat hasilnya.
“Lucu banget! Kita keliatan kayak dua turis kelaparan.”
Jingga ikut terkikik.
“Iya, tapi seru. Nih, aku kirim ke Levin biar dia nggak cemburu karena aku jalan berdua sama kamu.”
Dengan cepat Jingga mengirim foto itu ke Levin disertai pesan singkat:
‘Halo sayang, lagi kulineran bareng Arin. Jangan kangen-kangen banget ya ’
Sementara itu, Arin sibuk dengan ponselnya sendiri. Ia mengetik pelan, ragu-ragu, tapi akhirnya senyum merekah setelah menekan tombol kirim.
Foto itu ia kirim ke Roy dengan caption sederhana:
‘Lagi kulineran bareng Jingga. Ternyata kota ini asik juga ya ’
Tak lama, balasan masuk.
Dari Levin: ‘Aduh, kalian bikin aku makin kangen. Besok pulang aja gih!’ disertai emoticon cemburu bercampur manja.
Dari Roy: ‘Kamu keliatan seneng banget, Rin. Hati-hati jangan sampe kemaleman.’
Arin langsung menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Jingga curiga.
“Ah, nggak… nggak apa-apa!” Arin buru-buru menjawab sambil menahan tawa kecil.
Jingga hanya mengangkat alis dan tersenyum penuh arti. “Hmm… kayaknya aku harus interogasi kamu nanti di kamar.”
"Appansii Ji. Aku tersenyum Karena melihat foto kita tadi " arin mengelak .
Setelah puas menjelajahi kuliner kota, Arin dan Jingga akhirnya memutuskan untuk pulang. Jam di pergelangan tangan Jingga sudah menunjukan pukul 10 malam.
Ponselnya sejak tadi terus bergetar, menampilkan notifikasi chat dari Levin.
"Sayang, jangan terlalu malam di luar, ya. Aku khawatir. Pulang sekarang, please…"
Senyum tipis terukir di wajah Jingga membaca pesan itu.
“Aduh, Levin nggak berhenti ngoceh dari tadi. Katanya nggak aman kalau kita keluyuran sampai larut,” ucap Jingga sambil menunjukkan layar ponselnya ke Arin.
Arin tergelak, menepuk bahu sahabatnya. “Wajar sih, Vin itu kan tipe cowok protektif. Beruntung banget kamu, ada yang khawatirin terus.”
“Kadang lucu sih, dia kayak alarm jalan. Tapi yaa… rasanya hangat juga punya seseorang yang sepeduli itu.” Jingga tersenyum kecil sambil mengetik balasan singkat:
“Iya sayang, aku sama Arin lagi otw balik hotel. Nanti aku kabarin kalau sudah sampai. Jangan khawatir ya ”
Arin melirik sekilas ke arah Jingga, lalu ikut membuka ponselnya. Jemarinya sibuk mengetik pesan untuk Roy:
“Aku dan Jingga udah balik hotel, jangan khawatir ya.”
Balasan Roy datang cepat:
“Bagus. Hati-hati di jalan. Jangan lupa istirahat. Good night, Rin.”
Arin menatap layar ponselnya lama, senyum tak bisa ia sembunyikan. Pipinya merona.
Malam itu menjadi hari yang penuh warna bagi Jingga dan Arin. Perut kenyang, hati bahagia, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajah mereka. Sesampainya di hotel, keduanya langsung beristirahat setelah memastikan pesan singkat telah terkirim pada pria-pria yang diam-diam begitu berarti dalam hidup mereka.
Levin tersenyum lega menerima kabar dari Jingga, sementara Roy juga merasa tenang setelah mengetahui Arin sudah aman di kamar. Dua hati pria itu, meski dari kejauhan, sama-sama dipenuhi rasa rindu yang tak sabar menanti pertemuan kembali.
Di kamar hotel, lampu kamar perlahan dipadamkan. Jingga dan Arin tertidur dengan pikiran masing-masing yang dipenuhi bayangan orang yang mereka rindukan. Malam itu, rasa cinta, rindu, dan harapan mengalir lembut, menjadi pengantar tidur yang manis.
Dan esok, cerita baru pun siap dimulai.