NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Matanya yang biasa dingin menatap lembut kearahku

Dia membangun tembok yang kokoh dan tinggi itu untuk apa... Sederhananya aku hanya ingin tau kebenaran, tak usah menjelaskan atas semua pertanyaan pertanyaanku.

Aku meringis menahan sakit "Nggak apa apa, aman aman"

Kak Aldrian mengeluarkan botol kecil air mineral dari sakunya, memberikan kepada kak Firuly lalu berjalan melewatiku tanpa permisi.

Kak Firuly mengulurkan tangannya, memberikan botol kecil air mineral dari kak Aldrian "Nih minum dulu, duduk aja, kalau nggak mau ke UKS istirahat disini bentar!"

"Makasih banyak kak, udah aman nggak apa apa kok, kakak kakak pergi duluan aja kak" Aku sambil berusaha berdiri, tersenyum menatap kakak kakak yang baik hati.

Triinggggggg...... Triinggggggg......

Bel masuk berbunyi

"Ay.. Aku anterin ke kelas ya Ay...?" Pinta Arya

"Nggak usah!!!" Jawabku dengan pandangan mata tertuju lurus pada Arya, kulebarkan bola mataku tanpa berkedip.

Putri menggandeng tangan kananku "Tenang kak, ada kita kok aman"

Tamiya sambil tersenyum "hehe.. aman kak"

"Oke kalau gitu sana jalan duluan didepan, hati hati ya" kak Firuly tersenyum menepuk pundakku.

"Udah Ar!!! Ayanya nggak mau dianterin kamu, balik balik.." kak Yudha sambil merangkul bahu Arya.

Aku, Putri dan Tamiya berjalan pelan menyusuri balkon kelas 10 menuju kelas.

Aku duduk dibangkuku disebelah jendela "Tadi pada liat nggak botol air mineral dari kak Firuly asalnya dari mana?"

"Aku liat tadi kak Aldrian ngambil dari saku celananya" Jawab Tamiya yang udah duduk di bangkunya.

Putri duduk disebelahku "Iya aku juga liat tadi, dalam hatiku ya... Kenapa harus dikasihkan kak Firuly dulu? Trus aku juga liat waktu kak Aldrian pergi tadi, kak Arya ngeliatin kak Aldrian. Keliatan banget mata kak Arya ngeliatnya kayak curiga gitu"

"Tapi kak Aldrian panik tadi kelihatan kawatir wajahnya, ngeliatin Aya dari atas sampai bawah" sahut Tamiya

Aku memegang botol air mineral yang isinya sudah tak tersisa, memperhatikan dengan seksama "Aneh nggak sih"

"Aneh sih, tapi ya nggak usah sebegitunya sama botol yang udah nggak ada isinya, tar pikiranya malah keman mana hehe" Putri sambil tertawa meledek.

"Ya iyalah udah nggak ada isinya, orang sekecil ini, seteguk langsung habis" Aku melemparkan botol kosong ke tempat sampah yang ada di depan mejaku.

Tamiya "Kok dibuang sih?!"

Aku dengan pandangan mata yang membulat "Trus mau diapain, disimpen di museum gitu!!!"

"Udah Tam biarin aja, entar kalau sepi juga diambil lagi tuh botol dimasukin tas, hahaha" Putri bicara sambil tertawa terbahak bahak.

Kami mulai diam saat bu Dewi masuk ke dalam kelas, Bu Dewi mulai memberikan materi tentang bilangan berpangkat, sifat-sifatnya, bentuk akar, merasionalkan bentuk akar, serta konsep dasar logaritma dan sifatnya.

Kalau pelajaran matematik situasi kelas mendadak seperti horor, tenang tanpa suara.

Semua diam mencermati, mencoba memahami materi yang sedang dijelaskan.

Triinggggggg...... Triinggggggg......

Bel istirahat kedua berbunyi.

Bu Dewi keluar dari kelas. Kali ini agak senyap tidak seperti istirahat pertama tadi yang ramai berhamburan keluar. Dikelas masih ramai, masih ada beberapa yang berdiskusi tentang pelajaran tadi.

Tamiya berjalan kedepan lalu duduk disebelah Putri "Gimana Ya? Masih sakit? Perlu ke UKS?"

Putri memegang megang bahuku, kepalaku "Sepertinya nggak perlu ke UKS deh, masih aman kan Ya?"

Aku memiringkan dudukku agak menyerong menghadap ke Putri dan Tamiya "Ga apa apa, tenang aja. Tapi perutku laper banget, pengen makan nasi"

"Yaudah ayo kita turun beli soto, atau ayam geprek?" Tamiya berdiri dari duduknya

"Perlu dibantu nggak?" tanya Putri sambil berdiri.

"Biasa aja kali, aku masih bisa berdiri bahkan masih bisa jalan sendiri, nih liat... Aku tuh ngak kenapa napa" jawabku sengan nada yang agak tinggi, lalu berdiri jalan keluar bareng Putri dan Tamiya.

Putri dan Tamiya masing masing menggandeng satu lenganku, aku menghentikan jalanku "Udah deh, biasa aja!!! Nggak usah gandeng gandengan bertiga! Jalanya ga muat"

Putri tertawa kecil sambil melepaskan gandengannya "Hehe kan kita kawatir juga Aya..."

Tamiya pun melepaskan gandengan tangannya "Nggak usah emosi gitu, Alhamdulillah loh kamu punya temen perhatian, daripada ngarep perhatian orang lain"

Aku langsung menoleh ke arah Tamiya, mataku memandangnya secara dalam "Eits... Maksudnya apa ini... Ngarep perhatian dari siapa?"

Tamiya dan Putri tertawa terbahak bahak bersama.

Kami bertiga keluar dari kelas, berjalan menuju kantin disamping sekolah. Dikantin Cik Min nasi dan berbagai macam lauknya udah disipakan di meja, ditutup dengan plastik wrap satu persatu. Jadi kami tinggal pilih aja mau menu yang apa, kemudian dibawa ke kasir.

Aku melihat lihat menu makanan yang sudah tersaji dimeja "Menurut kalian enak mana nih, ayam geprek apa telur geprek"

Putri mengalihkan pandanganya dari minuman ke makanan "Telur geprek aja, makanya nggak rempong jadi cepet habis ngak perlu banyak waktu"

Tamiya "Sama aja mau ayam mau telur dua duanya di geprek dan makanya butuh waktu soalnya harus dikunyah dulu"

"Gagal deh makan gepreknya, aku mau makan cumi sambel bledek aja sama tahu goreng, mantap nih" aku mengambil menu cumi lalu, es teh untuk dibawa ke kasir.

Putri mengikuti aku dari belakang, memilih telur geprek dan es teh "Dasar plin plan tadi rencananya apa yang dibeli apa"

"Aku nasi uduk aja deh sama air mineral" Pilihan Tamiya lalu antri di kasir.

Kami memilih duduk di meja panjang pojok dekat tembok, ini adalah tempat favorit karena bisa melihat dengan jelas semua orang yang dateng, cocok untuk Putri yang suka kepo.

Aku duduk menghadap tembok, sementara Putri dan Tamiya menghadap ke arahku.

"Napa Put, bengong aja? Tanyaku sambil.membuka bungkus plastik dipiring.

Putri mengangkat pelan dagunya ke arah antrian kasir, lalu matanya melirik tajam kekanan depan selama satu detik penuh sebelum kembali menatap telur gepreknya.

Tamiya langsung paham arti kode wajah Putri "Diem Ya, nggak usah nengok!"

"Sapa sih?? Arya?" mataku bergantian melihat ke Putri lalu ke Tamiya.

"Ada semuanya, udah makan aja! Jangan jangan ntar pada duduk disini soalnya udah pada penuh" jawab Putri sambil makan dengan lahapnya.

"Kayaknya iya Put, liat deh mereka 1 2 3 4, berarti kalau kesini masih kurang 1 kursi" Tamiya menghitung menggunakan penglihatan matanya.

"Pura pura nggak liat aja, udah biarin kita tetep makan aja" Kataku sambil tetap makan.

Nggreeet... suara kursi diduduki.

Deg... ada kak Yudha duduk disebelah Tamiya

Nggreeet... Nggreeet...

Satu persatu kursi kosong disebelahku telah terisi.

Putri dan Tamiya menghentikan makannya, seketika mereka berdua melihat kearahku dengan pandangan mata yang membulat, seperti kaget melihat sesuatu.

"Sorry kita ganggu nih tempatnya, udah nggak ada yang kosong lagi" Sepertinya suara kak Firuly yang terdengar sangat dekat ditelinga kiriku.

Secara refleks, kepalaku menoleh patah-patah ke arah kiri. Jantungku rasanya mau copot. Pandanganku mendapati wajah dingin Aldrian duduk persis disebelahku. Sosok yang paling ingin kuhindari di dunia.

Sendok dan garpu di tanganku terlepas dari genggamanku. Aku langsung memutar balik kepalaku ke samping kanan dengan begitu cepat hingga sendinya berbunyi klik. Aku terbatuk batuk sampai mataku berair.

Terdengar suara Arya menepuk nepuk bahuku terdengar suaranya ditelinga kananku "Ay... Kamu kenapa lagi Ay..."

Kak Aldrian tanpa banyak bicara, mengulurkan secara perlahan botol mineral yang dia bawa. Saat botol itu berpindah tangan, telapak tangan kami saling bersentuhan terasa dingin dan gemetar ada semburat merah di pipinya.

Matanya yang biasa dingin menatap lembut kearahku, menyiratkan rasa khawatir, tanpa mengucapkan kata, ia segera memalingkan wajah dengan canggung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!