NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam dan Bayangan Sabotase

Sabtu malam tiba dengan keheningan yang tak biasa di kawasan Kemang. Sebuah sedan hitam mewah buatan Eropa sudah terparkir rapi di pelataran depan apartemen Alina sejak pukul sembilan belas tepat. Alina berdiri di depan cermin tinggi di kamar tidurnya, menatap bayangannya sendiri dengan perasaan campur aduk yang sulit diartikan.

Malam ini adalah kali pertama ia akan pergi bersama Devan di luar jam kantor dan urusan rumah sakit. Alina mengenakan gaun terusan lengan panjang berwarna krem lembut yang sederhana namun jatuh dengan anggun di tubuhnya. Rambut hitamnya dibiarkan terurai bergelombang halus di bahu. Di lehernya, tersembunyi hangat liontin cincin emas putih pemberian Devan.

Ketika Alina turun dan melangkah mendekati mobil, sang sopir membukakan pintu belakang dengan sopan. Alina masuk ke dalam kabin yang harum aroma sandalwood hangat. Devan sudah duduk di sana. Pria itu mengenakan kemeja rajut berkualitas tinggi berwarna abu-abu gelap dengan celana santai yang memancarkan aura ketampanan alami dan kemewahan yang tidak mencolok.

"Kamu terlihat cantik," ucap Devan pendek saat mobil mulai melaju. Pandangan matanya menyapu penampilan Alina selama beberapa detik sebelum kembali menatap jendela.

Pujian singkat yang diucapkan dengan nada datar itu sukses membuat pipi Alina merona merah. "Terima kasih, Pak Devan. Anda juga ... terlihat berbeda tanpa setelan jas formal."

"Di luar kantor, panggil aku Devan," ujar pria itu tegas, menoleh menatap Alina. "Kita tidak sedang berada di depan papan presentasi."

"Tapi ...rasanya nggak sopan kalau aku cuma panggil nama saja."

"Ya .sudah kalau begitu panggil aku Mas Devan."

Alina menelan ludah, mencoba membiasakan lidahnya. "Baik ... Mas Devan."

Mobil membawa mereka ke sebuah restoran privat yang terletak di kawasan perbukitan selatan Jakarta. Tempat itu sangat eksklusif, berada di dalam sebuah bangunan bergaya kolonial yang dikelilingi taman rimbun dengan penerangan lampu gantung yang syahdu. Tidak ada tamu lain di ruangan utama; Devan telah menyewa seluruh area tersebut untuk memastikan kerahasiaan dan kenyamanan mereka.

Alina duduk berhadapan dengan Devan di meja kayu jati tebal yang dihiasi lilin aromaterapi. Pelayan menyajikan hidangan steak daging wagyu dan sup jamur terbaik secara bertahap, lalu membungkuk hormat dan meninggalkan mereka dalam keheningan yang intim.

"Ibumu akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa besok pagi, bukan?" Devan membuka percakapan sambil memotong daging di piringnya dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi.

"Iya," jawab Alina sambil tersenyum lembut.

"Dokter Hendra bilang grafik pemulihannya sangat memuaskan. Saya sungguh tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih padamu, Mas . . Kalau bukan karena bantuanmu ..."

"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria yang memegang komitmen," potong Devan tenang, menatap lurus ke dalam manik mata Alina. "Kamu adalah istriku. Kesejahteraanmu dan keluargamu adalah tanggung jawabku, terlepas dari bagaimana pernikahan ini dimulai."

Dada Alina berdesir hangat mendengar kata istriku terucap dari bibir pria tegas itu. Ada kenyamanan luar biasa yang merayap di hatinya, membuat tembok canggung di antara mereka perlahan-lahan mencair.

Selama satu jam berikutnya, percakapan mereka mengalir lebih hangat dari biasanya. Devan mendengarkan kisah-kisah kecil tentang masa kecil Alina bersama almarhum ayahnya, sementara Alina mendapati bahwa di balik sosok CEO yang ditakuti banyak orang, Devan adalah pria yang memiliki wawasan sangat luas, penyayang terhadap ibunya yang sedang berada di luar negeri untuk terapi kesehatan, dan memiliki selera humor yang sangat tipis namun cerdas.

Namun, kedamaian malam itu mendadak terusik ketika ponsel di atas meja milik Devan bergetar keras. Layar ponsel menampilkan nama yang membuat garis wajah Devan seketika mengeras: (Paman Hendra.)

Devan meraih ponselnya, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya di telinga tanpa mengubah posisi duduknya.

"Ada apa, Paman?" tanya Devan dingin.

Suara dari seberang telepon terdengar cukup keras hingga bisa ditangkap samar-samar oleh Alina di tengah keheningan ruangan. ("Devan! Arimbi sudah mendarat di Jakarta malam ini dari London. Keluarga Rekso mengundang kita untuk makan malam keluarga besar besok malam di Hotel Grand Ballroom. Kamu harus hadir dan tidak ada alasan bisnis kali ini!")

Devan memejamkan matanya sejenak, menahan kejengkelan yang mendalam. "Saya sudah katakan sebelumnya, Paman—"

("Ini bukan permintaan, Devan!") potong Pak Hendra dengan nada mengancam. ("Ini menyangkut persetujuan investasi konsorsium untuk proyek peluncuran mobil listrik Dirgantara. Jika kamu tidak muncul besok malam, Paman akan membekukan wewenang eksekusimu di dewan komisaris!")

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Pak Hendra. Devan perlahan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Aura di sekitar pria itu mendadak merosot dingin, diselimuti bayangan beban yang teramat berat.

Alina menatap Devan dengan tatapan cemas sekaligus sedih. Kata nama Arimbi yang kembali bergema seolah menjadi pengingat kejam akan jurang pemisah di antara dunia mereka.

"Mas Devan ..." bisik Alina pelan. "Apakah kamu ... harus pergi besok malam?"

Devan menatap Alina, memperhatikan raut wajah gadis itu yang mendadak redup. Devan menghela napas panjang, meraih jemari tangan Alina yang tergeletak di atas meja, lalu menggenggamnya erat. Sentuhan kulit mereka mengalirkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya situasi.

"Acara itu hanyalah permainan politik paman saya," ujar Devan dengan suara bass yang mantap. "Kamu tidak perlu cemas. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengatur hidupku atau menggantikan posisi yang seharusnya menjadi milikmu."

Genggaman tangan Devan yang erat dan kata-katanya yang sarat akan janji membuat dada Alina sesak oleh rasa haru. Namun di dasar hatinya, sebuah firasat buruk mulai merayap pelan.

Firasat itu semakin kuat ketika ponsel Devan kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.

Devan membuka pesan tersebut.

“Kalau kau tetap mempertahankan perempuan itu, proyek mobil listrikmu tidak akan pernah sampai ke tahap peluncuran.”

Alis Devan langsung berkerut. Ia membaca pesan itu sekali lagi, kemudian mematikan layar ponselnya.

“Siapa?” tanya Alina pelan.

“Bukan siapa-siapa.”

Jawaban itu justru membuat Alina semakin curiga. Ia mengenal ekspresi Devan. Pria itu sedang menyembunyikan sesuatu.

“Mas Devan, jangan bohong.”

Devan terdiam beberapa detik. Kemudian ia menggeser ponselnya ke hadapan Alina.

Alina membaca pesan tersebut. Wajahnya seketika pucat.

“Mereka mengancam proyekmu?”

“Bukan hanya proyek.” Devan mengambil kembali ponselnya. “Aku yakin ini ada hubungannya dengan makan malam besok.”

“Tapi siapa yang ingin menyabotase perusahaanmu?”

“Aku belum tahu.”

Devan bersandar, pikirannya bergerak cepat. Proyek mobil listrik Dirgantara memang sedang berada pada tahap paling krusial. Jika konsorsium gagal menyetujui investasi, perusahaan akan mengalami kerugian besar. Dan hanya beberapa orang tertentu yang mengetahui detail negosiasi tersebut.

Salah satunya adalah Pak Hendra.

Namun Devan tidak ingin menuduh tanpa bukti.

“Mulai malam ini,” ucap Devan serius, “kamu jangan pergi sendirian ke mana pun.”

Alina menatapnya bingung. “Kenapa?”

“Karena kalau mereka tidak bisa menyerangku secara langsung, mereka akan mencari kelemahanku.”

Tatapan Devan jatuh tepat ke mata Alina.

“Dan sekarang, kamu adalah orang yang paling penting bagiku.”

Jantung Alina berdegup keras.

Sementara itu di luar restoran, sebuah mobil hitam yang sejak tadi terparkir jauh dari gerbang perlahan menyalakan mesin.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!