NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Isekai
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.

Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.

Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.

Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuil tanpa penjaga, Red Diamond

Suasana malam kian mencekam di depan kuil megah yang berdiri kokoh dengan enam pilar batu hitam legam menjulang tinggi menembus kegelapan langit. Guratan-guratan magis berwarna merah menyala berpendar redup di sepanjang dinding bangunan, memancarkan aura kuno yang mengintimidasi.

Di bawah bayangan pilar terluar, Grim berlutut. Ia mengambil sebuah ranting dan mulai mencoret-coret tanah, berpura-pura sangat sibuk menyusun strategi matang bersama kelompoknya untuk menembus pertahanan kuil.

Melihat pemandangan di depannya, ego kompetitif Leo langsung meronta. Ia menolak mentah-mentah jika harus berbagi panggung atau terikat dalam rencana Grim.

Dengan gerakan mengendap-endap yang luar biasa gesit, Leo segera memisahkan diri. Sepasang matanya berputar liar mencari celah tersembunyi, berniat menemukan pintu masuk alternatif agar bisa menyelinap tanpa ketahuan oleh kelompok saingannya.

Namun, seringai licik langsung merekah di wajah Grim. Tepat saat ia menyadari bayangan Leo sudah bergerak menjauh menyusuri dinding batu hitam, Grim langsung menjatuhkan ranting di tangannya dan menyudahi sandiwara mencoret tanah tersebut.

"Lihat! Dia lolos begitu saja dari sensor pilar. Jika aku yang masuk, pasti sistem pertahanan kuil sudah aktif sejak langkah kaki pertama," ucap Grim dengan nada penuh kelicikan yang tertahan.

Ia menatap punggung Leo yang perlahan menghilang di balik celah pintu samping. "Dia memang memiliki fisik yang sempurna untuk tugas ini."

Grim kemudian memberi kode tangan kepada Snap, Rocky, dan Mona untuk membetulkan posisi pengintaian mereka, bersiap menutup jalur keluar dan menunggu umpan mereka menyelesaikan tugas.

Sementara itu, beberapa puluh meter di belakang mereka, rantai pengintaian terakhir masih terjaga rapat di balik rimbunnya semak hutan.

Cheeta, Rheno, dan Ely mengawasi setiap gerak-gerik kelompok Grim dengan tingkat kewaspadaan maksimal. Insting mereka sangat yakin bahwa Grim memiliki maksud terselubung yang berbahaya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Rheno yang berwajah lempeng sudah mengambil satu langkah tegas maju, berniat langsung menerobos ke depan untuk menyusul ketuanya. Namun, sebuah tangan dengan cepat mencengkeram pundak besarnya.

"Tunggu!" bisik Cheeta tegas, menahan pergerakan pemuda berotot itu.

Rheno menoleh patah-patah, menatap Cheeta dengan pandangan bertanya yang datar.

"Lebih baik kita jangan keluar dulu," lanjut Cheeta dengan suara yang teramat pelan, nyaris tenggelam dalam desau angin malam.

Sebagai otak paling rasional di dalam tim, Cheeta merasa sangat ragu untuk melangkah maju dalam kondisi buta informasi seperti ini. Menghadapi kelompok misterius yang memegang buah magis tipe senjata di depan sebuah kuil kuno yang berbahaya adalah tindakan bunuh diri jika dilakukan tanpa rencana.

Setelah bertukar tatapan serius dengan Ely yang juga mengangguk setuju, Cheeta memutuskan untuk tetap bertahan di area luar, mengawasi dinamika jebakan kelompok Grim dari kejauhan untuk sementara waktu.

Di sisi lain, Leo sudah berhasil menyelinap masuk melewati batas pilar batu hitam. Sepasang matanya berputar liar, menganalisis setiap sudut ruangan yang remang-remang. Namun, setelah beberapa saat mengamati keadaan di dalam, ia justru terkejut dengan apa yang ada di sana.

"Apa ini?! Benarkah Red Diamond itu benda penting?" ucap Leo heran dengan nada berbisik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak ada penjaga sama sekali di sini."

Berpikir positif bahwa tempat ini mungkin masih bagian terluar sehingga belum ada penjagaan, Leo memutuskan untuk melangkah lebih jauh dan masuk lebih dalam ke jantung kuil.

Sementara itu, kembali ke area luar kuil. Kelompok Grim masih tertahan di posisi pengintaian mereka dengan mata yang terus tertuju pada pintu samping.

"Apakah dia sudah sampai ke tengah kuil?" tanya Snap, mulai merasa tidak sabar.

"Jika itu aku, mungkin aku sudah sampai," ucap Grim dengan nada sombong yang tertahan.

Sebenarnya, Grim sudah sejak lama mengintai kuil megah ini. Ia tahu betul rahasia besar di balik kedamaian Castra Metropolis. Seluruh Elf dan Iblis yang tinggal di kota ini bukanlah penduduk biasa, melainkan para pelarian dan korban perang yang sekarat akibat ditinggalkan oleh pasukan mereka saat mundur dari medan laga.

Kuil inilah yang menjadi jangkar dari benteng magis tak terlihat yang menyelimuti seluruh kota. Benteng magis itu berfungsi sebagai pelindung mutlak agar setiap orang, baik Iblis maupun Elf yang pernah menginjakkan kaki di Castra Metropolis, akan langsung kehilangan seluruh ingatan soal kota ini begitu mereka melangkah keluar dari batas wilayahnya.

Bagi faksi licik tempat Grim bekerja, kota anomali ini harus dimusnahkan. Jika keberadaan Castra Metropolis sampai diketahui oleh Raja Iblis, kota surga ini pasti akan langsung dihancurkan total karena dianggap sebagai simbol pemberontakan dan pengkhianatan terbesar terhadap ras.

Grim sangat yakin bahwa satu-satunya kendala untuk menyusup ke pusat kendali benteng ini hanyalah sensor magis kuil yang tersambung langsung dengan kesadaran sang pelindung kota, Lucifer.

Beruntung bagi rencana Grim, Leo memiliki aura magis yang begitu lemah. Tanpa memicu sensor sedikit pun, pemuda ugal-ugalan itu berjalan masuk ke dalam kuil suci layaknya sedang melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri.

"Lalu apa langkah kita selanjutnya?" tanya Rocky, memastikan perannya dalam rencana ini.

"Setelah batu itu terlepas dari tempatnya, sistem keamanan dan benteng magis kota ini akan mati total, begitu pula sensor magis di kuil ini," Grim mengarahkan pandangannya ke puncak kuil yang berpendar merah.

Ia tersenyum licik sebelum melanjutkan instruksinya, "Setelah itu terjadi, kita langsung maju, hancurkan batu itu, lalu kita pergi dari kota ini secepat mungkin. Alarm kota mungkin tidak akan terpicu oleh hancurnya batu itu."

"Namun, begitu menyadari benteng magis kota mati, Lucifer pasti akan langsung datang kemari secara instan."

Di dalam kuil, keheningan yang sunyi justru membuat Leo mulai terbawa oleh kesombongannya yang kumat.

Langkah kakinya yang mengendap-endap kini berubah menjadi sedikit lebih santai karena ia merasa kuil suci ini sama sekali tidak semenakutkan yang dibicarakan mereka.

"Apa ini?! Tidak ada penjaga sama sekali di sini!" ucapnya berbisik dengan nada mengejek.

Ia mendengus pelan, lalu membusungkan dada penuh percaya diri. "Dan si Grim itu gagal mencurinya? Ck, menyedihkan sekali. Sudah kuduga, saat tugas membasmi babi hutan liar kemarin, dia pasti menggunakan cara licik untuk memamerkan kekuatannya di depan kami!"

Leo mulai berjalan santai menuju ke tengah aula utama kuil yang luas. Di sana, dari kejauhan, pendar merah menyala yang teramat pekat dari Red Diamond sudah terpampang jelas di depan matanya.

Batu permata kuno itu tampak terapung anggun di atas sebuah cawan batu hitam, memancarkan aura magis yang kuat namun anehnya terasa sangat bersahabat bagi aura lemah milik Leo.

Sambil melangkah mendekat dan mengulurkan tangan kanannya ke arah batu permata tersebut, seringai narsis Leo merekah semakin lebar. Pikirannya sudah dipenuhi bayangan bagaimana wajah Grim akan memucat karena menahan malu besok pagi.

"Grim! Bersiaplah untuk menanggung malu seumur hidupmu!" ucap Leo dengan tawa kecilnya yang penuh kemenangan.

Tanpa memikirkan risiko atau menyadari bahwa setiap gerakannya di luar sedang diawasi dengan penuh ketegangan, jemari cepat milik sang pencuri ulung itu kini tinggal beberapa sentimeter lagi sebelum menyentuh permukaan Red Diamond.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!