azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga
Azalea menatap rumah itu dengan sorot sendu, rumah ini adalah rumah Naima, peninggalan kakaknya itu.
Sudut matanya basah, koper mungilnya tergeletak begitu saja di sisinya. Azalea terduduk di sofa dengan mata yang mengitari ruangan, matanya menatap potret di dinding di ruang tamu. Foto pernikahan Naima dan Kiano yang tersenyum manis.
"Mbak.." panggilnya lirih, "Bisakah aku menjadi ibu yang baik untuk Rara?"
"Za.."
Azalea menoleh, Kiano berdiri di depan pintu kamar menggendong Raina yang tertidur.
"Ayo aku tunjukkan kamarmu"
Azalea mengangguk, bangkit dan melangkah mendekati Kiano. Menyeret koper mungilnya ke arah kamar yang pintunya terbuka.
"Kamu tidur di sini, aku di sebelah"
Azalea tidak menjawab, ia hanya mengikuti langkah Kiano. Pria itu meletakkan Rania di ranjang ukuran queen yang terletak di tengah kamar itu.
"Rara tidur denganku di sini kan Mas?"
Kiano menatap Azalea lekat, "Kamu nggak keberatan?".
Azalea mengernyitkan keningnya heran, keberatan?kenapa juga dia keberatan. Kalau dia keberatan mengurus Rania, tentu usul gila orangtuanya ini tidak akan terjadi.
"Kita harus bicara, Za" ujar pria itu menyentakkan Azalea dari lamunannya.
"Tentang kesepakatan di antara kita"
Azalea menatap Kiano lekat, tanpa menjawab, ia mengikuti langkah pria itu. Sebelum menutup pintu, Azalea menatap bayi mungil yang tertidur nyenyak.
"Duduk Za!"
Azalea duduk dengan patuh, menatap Kiano yang duduk bersandar di sandaran sofa.
Kiano terlihat tampan, kaos biru itu di tubuhnya sangat sesuai dengan kulit putihnya.
"Aku akan menggajimu Za.."
Azalea memicing heran, alisnya naik sebelah.
"Kamu sampai berhenti bekerja karena menikah denganku, aku akan tetap mengeluarkan gaji sebesar gajimu selama ini"
"Mas Kian.."
"Tolong jangan tolak Za" sambar Kiano cepat," Kamu sudah mengorbankan hidupmu untuk mengurus Rania"
"Tapi aku ikhlas Mas, Rara kan anak mbakku"
"Aku tahu" angguk Kiano setuju," Kamu hanya perlu mengurus keperluan Rara dan hidupmu, anggap kita partner kerja saat ini.."
"Mas Kian" panggil Azalea menyela ucapan Kiano.
"Apakah di depan bapak dan ibu atau juga kenalanmu kita tidak perlu berpura-pura?"
Kiano menatap Azalea lekat, pria itu terdiam sesaat, terlihat sorot matanya menimbang.
"Kamu tidak keberatan?"
Azalea menggeleng,"Walau kita menikah karena Rara, tapi secara agama dan hukum aku ini istri sahmu, Mas"
"Aku tahu Za" sahut Kiano," Tapi pernikahan ini bukanlah pernikahan yang sebenarnya..."
Kiano terdiam sesaat, matanya menatap Azalea. "Tapi kalau kamu tidak keberatan, aku berterima kasih"
"Baiklah Mas Kian" seru Azalea seraya berdiri, "Bagaimana kalau hal pertama yang kita lakukan sekarang belanja semua keperluan Rara dan keperluan dapur"
Kiano ikut berdiri, kepalanya mengangguk setuju."Kamu istirahat dulu, setelahnya kita belanja bulanan"
Azalea melangkah meninggalkan Kiano setelah mengangguk, sebenarnya ia juga merasa penat. 4 jam perjalanan, Jakarta Brebes cukup menguras energinya.
^^^^^^^^^^
Azalea mendorong troli belanjaannya, sementara Kiano menggendong Rara. Mereka berada di depan rak perlengkapan bayi, dari pampers, susu formula dan lainnya.
"Mas Kian ?"
Azalea dan Kiano menoleh bersamaan, seorang wanita berparas ayu menatap Kiano dan Azalea bergantian.
"Sarah" seru Kiano tersenyum tipis. "Belanja yah?"
Wanita itu menggeleng, menunjukkan botol mineralnya. "Cuman beli air mineral,Mas. Mas Kian belanja?"
Kiano mengangguk, tangannya hendak mendorong troli, namun wanita itu sepertinya masih penasaran.
"Ini Rania kan, Mas?" wanita itu hendak menjenguk gendongan Kiano, namun tangan Azalea dengan cepat mencegah.
"Maaf mbak, Rara sedang tidur"
Wanita bernama Sarah itu mengurungkan niatnya, mata besarnya menatap Azalea penasaran.
"Mbak ini siapa?"
"Kenalin adik iparku, Azalea" Kiano menjawab cepat, sebelum Azalea sempat membuka mulutnya.
Azalea mengernyitkan alisnya heran, matanya memicing menatap Kiano penuh tanya.
"Oohhh" wanita itu tersenyum, wajahnya yang tadi terlihat curiga berubah lebih ramah.
"Kenalin saya Sarah, sekretaris Mas Kiano" ujar wanita itu mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.
Azalea menyambut tangan itu setengah hati, matanya masih mengamati Kiano yang gelisah. Dengan mendorong trolinya Azalea berusaha mengajak Kiano berjalan.
"Mas Kian yang sabar yah, semoga Rania nggak rewel"
Kiano yang sudah memutar tubuhnya hendak berjalan, menoleh lagi. Ia mengangguk tipis, seraya melirik ke arah Azalea yang berdiri menunggunya dengan sorot tak sabar.
"Ayo Sar, kami duluan!"
"Iya Mas" jawab wanita itu mengangguk, "Hati-hati"
Azalea duduk memangku Rania yang masih tertidur, sementara Kiano sibuk menyusun belanjaan di belakang.
Tidak ada pembicaraan apapun, Azalea juga tetap diam memangku Rania, sampai mobil mereka memasuki halaman rumah, Azalea masih tak ingin berkomentar tentang wanita tadi.
Sebenarnya Azalea sedikit curiga, apalagi sepertinya Kiano menutupi pernikahan mereka dari wanita tadi. Entah apa maksud Kiano, namun Azalea merasa curiga.
Ia memang penasaran, tetapi tak ingin juga menanyakannya. Azalea tak ingin Kiano menganggapnya terlalu ikut campur.
"Zaa.." panggil Kiano saat Azalea hendak masuk ke kamarnya.
Gadis itu menoleh, kernyitan di keningnya menebal. Tangannya yang berada di handle pintu urung membuka.
"Maaf tadi di sana aku mengenalkanmu sebagai adik iparku"
Azalea mengedikkan bahunya, "Nggak apa-apa Mas, mungkin menurut Mas Kian aku nggak layak untuk di kenalkan sebagai istri"
"Bukan begitu Za" geleng Kiano cepat,"Aku hanya merasa terlalu cepat mengenalkanmu sebagai istri, Naima baru saja meninggal, baru 3 minggu.."
Azalea membuka pintu kamar, namun sebelum masuk ia hanya tersenyum lembut.
"Sudahlah Mas Kian, aku antar Rara ke kamar dulu. Mas Kian tolong letakkan belanjaan di dapur, bentar lagi aku beresin"
Kiano mengangguk, kedua tangannya penuh dengan barang belanjaan mereka tadi. Ia melangkah meninggalkan Azalea yang membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar.
Kiano masih menyusun belanja kering ke dalam lemari, ketika Azalea menghampirinya. Matanya membola sesaat, tercekat melihat azalea yang telah berganti pakaian rumah.
Gadis itu mengenakan celana pendek dengan kaos oblong oversizenya, walau penampilannya terkesan asal, namun Azalea terlihat cantik.
Azalea menyibak rambutnya yang pendek, tanpa menyadari tatapan Kiano, ia membuka lemari es dan merapikan belanjaan mereka tadi.
"Mas Kian mau makan apa?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari lemari pendingin.
"Aku mau masak malam"
"Emang kamu bisa masak?"
Azalea menoleh kaget, mata indahnya memicing tak terima.
"Aku nggak pernah lihat kamu masak Za" sahut kiano cepat, wajahnya tersenyum tipis melihat tatapan protes gadis itu.
"Mas Kian nyepelein aku nih?"
"Nggak" geleng Kiano cepat,"Aku hanya nggak pernah lihat kamu masak"
"Di rumah, aku masak loh mas, ibu dan ayah mengakui masakanku"
Kiano tergelak, lucu melihat ekspresi gadis itu yang masih tak terima, namun ia tetap membantu Azalea yang sibuk mengeluarkan bahan yang akan dimasaknya.
"Mas dan Mbak Naima jarang pulang sih, jadi nggak tahu kalau aku bisa masak"
Tangan Kiano berhenti sesaat, tatapan matanya berubah sendu. Pria itu berdiri membeku di depan chiller yang terbuka.
Azalea yang menyadari perubahan Kiano, menelan salivanya. Merasa bersalah karena menyebut nama kakaknya, membuat pria itu membeku.
"Mas Kian" panggil Azalea hati-hati, jemarinya menyentuh pundak pria itu yang tersentak.
Kiano memutar tubuhnya, menatap Azalea dengan matanya yang berkaca-kaca sendu. Azalea terkejut, sungguh tak menyangka Kiano menangis.
"Mas.."
Tiba-tiba Kiano menjatuhkan kepalanya di pundak Azalea yang terkejut, tanpa sadar Azalea memeluk tubuh besar itu yang terisak pilu.
"Aku merindukan Naima, Za. Aku tak siap kehilangan dia, aku tak bisa melupakannya"
Azalea mengusap punggung Kiano lembut, menenangkan pria itu yang masih terisak.
"Tidak ada yang meminta kamu melupakan mbak Naima Mas, tapi jangan tangisi dia seperti ini"
Terasa anggukan kepala pria itu di bahunya, "Aku tahu Za, tangisan ini hanya akan memberatinya, tapi aku lelah Za, lelah"
Azalea tak mampu menjawab, hanya tangannya tak henti mengusap lembut pundak pria itu yang perlahan mengurai pelukannya.
"Maaf" pinta pria itu tiba-tiba, membelakangi Azalea yang menatap kebingungan.
Bersambung..
.