**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Cantik Nggak?
Ponsel Naila kembali bergetar di bawah selimut.
Panggilan video dari Radhika.
Ia mengusap mata cepat-cepat sebelum menjawab. Latar di belakang Radhika adalah rak buku lantai tiga. Eyang dan Damar sudah pulang, sementara Larasati serta Wirya masuk kamar untuk menyiapkan perjalanan pagi.
"Kenapa nggak jawab pesan?" tanya Radhika.
"Ngantuk."
"Matamu merah."
"Kena debu."
Radhika menatapnya beberapa detik. Naila tersenyum, kebiasaan lama yang selalu dipakai agar orang lain berhenti bertanya.
"Mas tadi menyuruhku naik, tapi aturan pertama melarang aku ke lantai tiga," katanya untuk mengalihkan topik.
"Aturan pertama tetap ada."
"Berarti aku nggak naik."
"Kalau Mas panggil, boleh."
"Aturan aneh."
Radhika menyerah. "Baik. Aturan pertama tetap untuk kamar pribadi kalau Mas nggak ada. Dua aturan lain batal. Kamu boleh naik kalau mau, boleh cari Mas kapan saja. Puas?"
Naila menahan senyum. "Lumayan."
Ia mematikan video dan keluar kamar. Radhika sudah menunggu di koridor lantai tiga. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam pergelangan Naila dan membawanya melewati ruang duduk menuju balkon terbuka.
Empat pohon lemon berdiri di bawah lampu lantai. Malam membuat buah kuningnya terlihat seperti lentera kecil. Di sudut balkon ada ayunan kayu yang belum pernah Naila perhatikan.
Ada rak berisi gunting tanaman, sarung tangan, pupuk organik, dan buku catatan tahan air. Naila membukanya. Setiap pohon diberi nomor, lengkap dengan tanggal pemangkasan, perubahan tanah, serta jumlah buah yang dipanen.
"Mas mencatat semuanya?"
"Kalau nggak dicatat, perawatannya mudah salah."
"Pohon satu sampai empat nggak punya nama?"
"Pohon nggak perlu nama."
"Mulai sekarang namanya Lemi, Lemo, Lema, sama Lumi."
Radhika memandangnya datar. "Mas tarik kembali hak milikmu."
"Nggak bisa. Sudah diberikan di depan saksi."
"Saksinya cuma angin."
"Angin berpihak kepadaku."
"Katanya suka lemon," ujar Radhika. "Semua ini punya kamu. Kalau mau, naik dan petik sendiri."
Naila mendekati pohon pertama. "Benar ini yang Mas janjikan waktu aku pindah dari Dago?"
"Iya."
"Mas ingat selama itu?"
"Ada bekas gigitan sebagai pengingat."
"Berarti karena aku gigit, bukan karena sayang."
"Dua-duanya."
Jawaban itu membuat Naila diam. Radhika segera menambahkan, "Mulai sekarang kamu juga yang menyiram, memupuk, memangkas, dan membersihkan daun."
"Waktu aku pergi, Mas benar-benar mau kirim semua buahnya?"
"Mau."
"Terus kenapa nggak sampai?"
"Paket pertama dikembalikan. Setelah itu orang dewasa bilang kamu belum siap. Mas masih kecil, jadi Mas nurut."
Naila menyentuh satu daun. "Aku berharap Mas nggak nurut."
"Mas juga."
Mereka sama-sama diam sebentar, memberi ruang bagi penyesalan lama sebelum kembali bercanda.
"Nggak mau. Pohonnya milikku, kerjaannya punya Mas."
"Muka pas-pasan, maunya banyak."
Naila berbalik cepat. "Muka pas-pasan? Aku nggak cantik?"
"Nggak."
"Lihat dulu yang benar."
Radhika memandangnya di bawah cahaya balkon. Bulu mata Naila membentuk bayangan halus. Titik cokelat muda di bawah mata kanan tampak jelas, sama seperti yang ia minta pengrajin ukir pada penari kotak musik.
"Tetap nggak," katanya sengaja.
Naila menghentakkan kaki. "Mas nggak punya selera."
Ia duduk di ayunan dengan kesal. Setelah beberapa saat, ia bertanya seolah tidak terlalu peduli, "Anindya itu siapa, sih?"
Radhika yang sedang memeriksa daun berhenti sesaat.
"Anak keluarga Wirakusuma. Teman dari kecil."
"Dekat?"
"Biasa saja."
"Dia pernah kasih pulpen biru. Mas simpan baik-baik."
"Kamu ingat itu?"
"Sekarang aku ingat banyak hal." Naila menggerakkan ayunan pelan. "Kalian masih sering bicara?"
"Nggak. Sudah lama nggak bertemu."
"Tapi Eyang ingin Mas menjenguk dia."
Radhika menoleh cepat. "Kamu dengar?"
Naila memaksakan nada ringan. "Sedikit, waktu lewat ruang kerja."
Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi bukan dusta sepenuhnya. Radhika tampak ingin menjelaskan sesuatu. Pada akhirnya ia hanya berkata, "Eyang dekat dengan keluarganya."
"Oh."
Satu suku kata itu menyimpan lebih banyak kecewa daripada yang Naila inginkan.
Radhika kembali memeriksa daun, jelas tidak ingin meneruskan. Naila menangkap penghindaran itu. Rasa asam dari percakapan balkon bawah kembali muncul, tetapi ia menelannya.
"Mas pernah dapat surat cinta?"
"Pernah."
"Berapa?"
"Nggak hitung."
"Pernah pacaran waktu sekolah?"
"Nggak."
"Pernah suka diam-diam sama seseorang?"
"Nggak."
"Warna favorit?"
"Hitam."
"Makanan favorit?"
"Apa saja yang nggak terlalu manis."
"Film romantis terakhir yang ditonton?"
"Nggak ingat."
"Pernah cium orang?"
Radhika mengangkat alis. "Pertanyaan anak kecil sekarang sejauh itu?"
"Aku delapan belas."
"Makanya harus tahu batas."
"Berarti belum?"
"Belum. Ganti pertanyaan."
Naila berusaha menyembunyikan rasa lega yang muncul terlalu cepat.
Naila bertanya tentang nilai sekolah, makanan favorit, warna yang disukai, sampai film yang terakhir ditonton. Radhika menjawab semuanya. Hanya kata perjodohan yang tidak pernah muncul.
Udara semakin dingin. Embun tipis menempel di pagar. Radhika melepas jaket dan menutupkannya di atas paha Naila.
"Sudah lewat jam sebelas. Habis ini tidur."
"Pertanyaan terakhir."
Naila bangkit, berjalan mendekat, lalu menaruh kedua telapak tangan di dada Radhika. Ia mengangkat wajah sampai jarak mereka tinggal beberapa sentimeter.
"Coba lihat baik-baik," katanya. "Aku cantik nggak?"
Radhika mundur satu langkah. Punggungnya mengenai batang pohon dalam wadah besar. Tidak ada ruang lagi untuk menjauh.
Napas Naila menyentuh dagunya. Di balik telapak kecil itu, jantung Radhika berdetak terlalu keras. Tatapannya jatuh ke tahi lalat di bawah mata Naila, lalu ke bibirnya. Angin basah malam seolah masuk langsung ke dada.
"Mas?"
Radhika menelan ludah. Ia memegang kedua bahu Naila dan mendorongnya lembut hingga berjarak.
Ia seharusnya cukup menjawab seperti sebelumnya. Namun, wajah Naila memenuhi pandangan, dan telapak di dadanya seakan bisa membaca setiap detak yang ingin disembunyikan. Nama Anindya, suara Eyang, dan keputusan menjaga batas berputar di kepala. Semua itu kalah oleh satu pertanyaan kekanak-kanakan tentang kecantikan.
"Cantik," katanya. "Kamu paling cantik sedunia. Puas?"
Naila tersenyum lebar. "Puas."
Ia mengembalikan jaket dan berjalan ke pohon terdekat. Dengan berdiri di tepi wadah rendah, ia berhasil memetik lima buah lemon matang yang dapat dijangkau. Radhika memegangi lengannya agar tidak jatuh.
Naila memasukkan semuanya ke keranjang kecil.
"Lima cukup?" tanya Radhika.
"Kalau terlalu banyak, nanti teman-teman minta."
"Bukannya kamu suka berbagi?"
"Aku sudah belajar. Nggak semua orang yang minta harus diberi."
Radhika memahami siapa yang dimaksud tanpa perlu menyebut Vania. "Bagus."
"Besok ajarin aku bikin lemon madu, ya. Mau kubawa ke kampus."
Radhika menyalakan rokok di balkon terbuka dan menarik napas panjang untuk menenangkan detak yang belum juga normal.
Naila tidak melihat cara jari lelaki itu sedikit gemetar saat memegang rokok. Ia sudah sibuk menghitung lima lemon dalam keranjang dan membayangkan minuman hangat yang akan dibawanya ke kampus pada hari Senin.
"Iya," jawabnya. "Besok Mas ajari."