Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Roda-roda hitam sedan sport hitam milik Alvan menjerit membelah dinginnya aspal jalanan malam Jakarta. Raungan mesinnya terdengar bagaikan raungan binatang buas yang terluka, menerobos lampu-lampu jalanan yang membias menjadi garis-garis cahaya kabur di balik kaca depan.
Di dalam kabin, udara terasa begitu pekat dan menghimpit. Oksigen seolah menyusut drastis, berganti menjadi hembusan kecemasan yang mencekik tenggorokan.
"Bima!" Alvan berteriak ke arah speaker phone yang terhubung di kemudinya. Tangannya mencengkeram erat lingkar kemudi hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam, memutih di bawah remang cahaya dasbor. "Segera isolasi lantai empat RS Medika Samudra! Tutup semua akses lift VIP dan tangga darurat! Jangan biarkan siapa pun masuk atau keluar dari ruang perawatan Ibu tanpa izin langsung dariku!"
"Baik, Pak Alvan! Tim pengawal pribadi sudah bergerak dari pos utama. Tapi pihak rumah sakit melaporkan bahwasanya Nona Elena sudah meninggalkan koridor ICU sekitar lima belas menit yang lalu !" suara Bima menyahut diiringi deru sirine dan langkah kaki tergesa-gesa di seberang sambungan.
"Sialan!" Alvan menghentak kemudi dengan telapak tangannya. Suara klakson membahana, mengejutkan pengendara di depannya saat Alvan menyalip tajam di sela-sela kemacetan.
Di sampingnya, Andira duduk mematung. Wajah wanita itu pucat pasi, matanya menatap lurus ke jalanan dengan pupil yang bergetar hebat. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, meresapi rasa takut yang menghujam dadanya.
Ia baru saja melepaskan satu beban berat dari masa lalunya ketika Alvan berlutut dan mengakui kebenaran. Ia baru saja menemukan secercah harapan bahwa penderitaannya akan berakhir.
Namun kini, bayangan iblis bernama Elena kembali membentangkan sayap hitamnya, hendak merenggut nyawa satu-satunya orang yang memegang kunci kebenaran atas malam berdarah itu - Ibu Rosa.
"Pak Alvan... Elena tahu," bisik Andira, suaranya nyaris tenggelam di antara raungan mesin mobil.
Alvan menoleh sekilas, menangkap raut ketakutan yang murni di wajah istrinya. "Apa maksudmu, Andira?"
"Elena tahu bahwa kita sedang mendekati kebenaran," kata Andira, menatap Alvan dengan mata yang merebakkan air mata. "Flashdisk Roy, buku harian itu... Elena pasti menyadari bahwa posisinya terancam. Dia tidak hanya ingin menutupi kejahatannya pada Roy!"
Alvan mempererat pijakan kakinya pada pedal gas. Mobil melaju makin liar, membelah kegelapan malam menuju rumah sakit yang kini berubah menjadi medan pertempuran tak kasat mata.
"Ibu tidak akan kenapa-kenapa, Andira. Aku tidak akan membiarkan iblis itu merenggut siapa pun lagi dari hidupku. Tidak Roy, tidak Ibu... dan tidak juga kamu," janji Alvan dengan nada dingin yang sarat akan tekad membunuh.
~
Dua belas menit kemudian, ban mobil Alvan mencengkeram lantai semen area parkir VIP RS Medika Samudra dengan jeritan kenyaring yang memekakkan telinga. Belum sempat mobil berhenti sempurna, Andira sudah melepas sabuk pengamannya dan mendorong pintu hingga terbuka.
"Andira! Tunggu!" teriak Alvan, namun Andira sudah berlari menembus pintu kaca otomatis lobi utama.
Naluri seorang wanita yang pernah dirawat dan diselamatkan oleh kebaikan Ibu Rosa di masa lalu meledak tanpa batas. Langkah kaki Andira bergema di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin dan berbau karbol.
Ia tidak memedulikan rasa perih di telapak kakinya atau sisa luka bakar di punggungnya yang belum sembuh penuh. Yang ada di pikirannya hanyalah satu, Ibu Rosa harus selamat.
Ketika elevator VIP terasa terlalu lambat untuk turun, Andira tanpa ragu menerobos pintu tangga darurat. Ia memanjat anak tangga satu per satu dengan napas memburu, jantungnya berdegup begitu kencang hingga berdentang di dalam gendang telinganya.
BIP! BIP! BIP! BIP!
Saat Andira menerobos pintu tangga darurat lantai empat, suara nyaring dari alat pemantau tanda vital (ECG monitor) langsung menyambutnya. Dua orang perawat dan Dokter Sandi sedang berkumpul di sekitar ranjang Ibu Rosa dalam posisi panik luar biasa.
"Tekanan darahnya anjlok drastis! 50 per 30! Detak jantung merosot ke 35 bpm!" teriak Dokter Sandi dengan pelipis berpeluh. "Siapkan epinefrin! Lakukan RJP sekarang!"
"Tunggu!" teriak Andira seraya menyeruak masuk ke dalam ruangan ICU yang pengap oleh hawa keputusasaan.
Dokter Sandi menoleh kaget. "Nona Andira? Anda tidak boleh masuk, ruangan ini sedang..."
Tanpa memedulikan ucapan sang dokter, mata tajam Andira menyapu seluruh peralatan medis yang terhubung ke tubuh lemah Ibu Rosa. Pengalamannya merawat sang ibu yang sakit sebelum mendekam di penjara membunyikan alarm bahaya di dalam kepalanya.
Mata Andira tertuju pada tiang infus di samping ranjang.
Ada dua kantong cairan yang tergantung di sana. Satu kantong garam fisiologis standar, dan satu lagi kantong obat cair berukuran kecil. Namun, yang menarik perhatian Andira bukanlah kantongnya, melainkan selang tambahan (three-way stopcock) yang terpasang dekat dengan kateter vena di lengan Ibu Rosa.
Di permukaan kateter plastik bening itu, terdapat sisa cairan berwarna agak kekuningan yang mengendap, sangat berbeda dengan warna bening transparan dari cairan infus utama. Dan yang lebih mencurigakan, katup pengatur aliran pada selang racun itu terbuka penuh!
"Jangan suntikkan epinefrin dulu! Lihat infusnya!" jerit Andira seraya melompat ke sisi ranjang.
Dengan gerakan cepat dan sigap yang tidak terduga, jemari Andira memutar katup three-way stopcock itu hingga terkunci rapat, menghentikan aliran cairan asing yang sedang mendorong masuk ke dalam pembuluh darah Ibu Rosa. Tanpa buang waktu, Andira mencabut selang kecil itu dari sambungannya dan membuangnya ke lantai.
"Apa yang Anda lakukan?!" bentak salah satu perawat.
"Cairan itu! Cairan itu bukan obat dari rumah sakit!" seru Andira dengan napas tersengal-sengal, menunjuk sisa endapan di kateter. "Lihat warna dan kekentalannya! Seseorang baru saja menyuntikkan zat asing langsung ke jalur infus utama!"
Dokter Sandi membeku. Pria paruh baya itu segera mendekati selang yang dicabut Andira, membaui ujungnya, dan meneliti endapan cairan yang dimaksud. Matanya membelalak lebar dalam seketika.
"Ini... ini zat penekan simetris neuromuscular! Dosis tinggi dari Digitalis atau sejenisnya!" bisik Dokter Sandi dengan wajah pucat bagai mayat. "Zat ini menyebabkan kelumpuhan otot jantung secara mendadak... Jika cairan ini masuk sepuluh mililiter lagi saja, jantung Ibu Rosa akan berhenti permanen dalam hitungan detik!"
BIIIIP... BIIIIP... BIIIP...
Seketika, grafik pada layar ECG monitor yang tadinya hampir datar perlahan-lahan mulai menaik kembali. Angka detak jantung yang tadinya berada di angka krusial 35, perlahan merambat naik. 38... 42... 50... 65. Tekanan darah Ibu Rosa berangsur-angsur merayap stabil.
Dokter Sandi terduduk lemas di kursi samping ranjang, sementara para perawat mendesah lega.
"Dia... tindakan Anda mematikan aliran infus itu... Anda baru saja menyelamatkan nyawanya, Nona Andira," kata Dokter Sandi, menatap Andira dengan ketakjuban dan rasa bersalah yang amat sangat atas prasangka buruknya tadi.
Andira bertumpu pada tepi ranjang besi, dadanya naik turun mengendalikan napasnya yang hampir habis. Ia menatap wajah Ibu Rosa yang pucat di atas bantal. Tangan ringkih wanita tua itu terasa dingin, namun detak nadinya di pergelangan tangan kini kembali berdenyut—pelan, namun pasti.
Andira menghembuskan napas panjang, air matanya menetes jatuh ke atas sprei putih rumah sakit. Ibu selamat... Tuhan, terima kasih...
DUMM!
Pintu kaca ICU terdorong kasar dari luar. Alvan masuk bersama empat orang pengawal pribadi berseragam hitam, disusul oleh Bima yang membawa berkas pengamanan.
"Ibu!" panggil Alvan dengan suara bergetar. Langkah kakinya yang lebar membawanya langsung ke sisi ranjang. Matanya menyapu layar monitor yang kini menunjukkan grafik stabil, lalu beralih menatap Andira yang berdiri gemetar di samping ranjang dengan selang infus racun di tangannya.
Dokter Sandi dengan cepat menghampiri Alvan. "Pak Alvan, ada upaya pembunuhan. Seseorang menyuntikkan dosis racun penekan jantung ke selang infus Ibu Rosa. Beruntung Nona Andira datang tepat pada waktunya dan mematikan jalur infus tersebut sebelum racunnya melumpuhkan jantung beliau sepenuhnya."
Rahang Alvan mengetat keras. Kilatan membunuh yang sangat pekat memancar dari matanya. Pria itu menatap Andira, wanita yang selama ini dituduhnya sebagai pembunuh, kini justru menjadi penyelamat bagi ibu kandungnya sendiri.
"Simpan selang racun itu sebagai barang bukti hukum," perintah Alvan dengan suara rendah yang amat berbahaya kepada Bima. "Dan Ambil sampel darah Ibu sekarang juga untuk uji toksikologi resmi."
"Baik, Pak!" Bima segera bergerak cepat bersama tim medis.
Belum sempat Alvan menyentuh tangan Andira untuk menenangkannya, suara langkah kaki berhak tinggi bergema tergesa-gesa dari luar koridor.
"Alvan! Ya Tuhan, Alvan!"
Sesosok wanita dengan gaun malam berwarna krem dan mantel bulu mahal menerobos masuk ke dalam area ICU. Wajahnya yang dipoles riasan tebal tampak panik, matanya berkaca-kaca dengan ekspresi ketakutan yang begitu sempurna hingga mampu menipu siapa pun yang melihatnya.
Elena.
"Alvan! Aku baru saja mendengar kabar dari satpam depan bahwa kondisi Ibu kritis lagi!" Elena berlari mendekati ranjang, suaranya melengking penuh kecemasan buatan. "Bagaimana keadaan Ibu? Kenapa ini bisa terjadi lagi?! Padahal tadi saat aku membesuknya, Ibu baik-baik saja!"
Elena mencoba meraih lengan Alvan, namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kain jas Alvan, pria itu berbalik perlahan.
Aura dingin yang dipancarkan Alvan begitu pekat hingga membuat langkah Elena terhenti seketika di tengah ruangan.
Tatapan Alvan bukan lagi tatapan seorang pria yang bisa dibodohi oleh air mata palsu. Matanya tajam bagaikan sembilu, menembus langsung ke dalam dada Elena, menguliti setiap kebohongan yang tersembunyi di balik riasannya.
"Al-Alvan...? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Elena, suaranya sedikit mencicit saat menyadari perubahan drastis pada pria di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Elena?" tanya Alvan, suaranya datar, namun mengandung tekanan intimidasi yang luar biasa berat.
Elena menelan ludahnya, mencoba tersenyum cemas. "A-aku... aku tentu saja mengkhawatirkan calon ibu mertuaku, Van. Aku tadi sore membesuk beliau untuk memotongkan buah, tapi karena Ibu masih tertidur, aku pulang. Lalu aku mendengar kabar ini dan langsung berlari ke sini..."
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh ruangan ini?" potong Alvan dingin.
Elena berkedip kaget. "Van... aku ini calon tunanganmu. Kenapa kamu bicara seolah-olah aku orang asing?"
Alvan melangkah satu tapak mendekati Elena. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, berdiri menjulang tinggi menutupi keberadaan Andira dan ranjang Ibu Rosa di belakang tubuhnya. Naluri pelindungnya terpasang penuh.
"Mulai detik ini, Elena," kata Alvan, setiap kata ditancapkannya bagai paku ke bumi, "kamu dilarang melangkahkan kaki sejengkal pun ke lantai empat rumah sakit ini. Kamu tidak memiliki hubungan darah dengan Ibu, dan kamu tidak memiliki hak atas perawatan medis beliau."
Wajah Elena berubah agak pucat. Kebingungan dan kejengkelan mulai merayapi matanya. "Alvan! Kamu tega sekali! Aku cuma ingin memastikan keadaan Ibu Rosa! Kenapa kamu malah membela..." Elena melirik tajam ke arah Andira yang berdiri tenang di belakang Alvan. "...wanita pembunuh ini?! Dia yang ada di dalam ruangan ini saat Ibu kritis, Alvan! Harusnya kamu mengusir dia, bukan aku!"
Sebuah senyuman miring yang teramat dingin dan mengerikan terbit di bibir Alvan.
Pria itu tidak menyingkapkan kartu as-nya, ia tidak membocorkan bahwa ia sudah memegang flashdisk Roy, buku harian fisik, maupun fakta mengenai racun infus itu. Alvan memainkan permainan catur taktis untuk menjebak Elena dalam rasa percaya diri yang palsu.
"Andira adalah istri sahku yang terdaftar di mata hukum dan negara," sahut Alvan mantap, membuat Elena tersentak bagai dihantam godam. "Dia memiliki hak penuh atas diriku dan keluargaku. Sedangkan kamu... hanyalah pihak luar."
"Alvan!" jerit Elena tak percaya.
"Bima," panggil Alvan tanpa berpaling sedikit pun dari wajah Elena yang mulai merekah ketakutan. "Kawal Elena keluar dari gedung rumah sakit ini sekarang juga. Jika dia menolak atau mencoba masuk kembali, gunakan kekerasan fisik dan jebloskan dia ke kantor polisi atas tuduhan melanggar hak privasi keluarga Samudra."
Empat orang pengawal pribadi bertubuh tegap langsung melangkah maju, mengurung Elena dari berbagai sisi.
"Nona Elena, mari ikut kami secara baik-baik," tegas Bima dengan ekspresi tanpa ampun.
"Lepaskan aku! Alvan! Kamu sudah gila ya?! Kamu lebih memilih wanita sialan ini daripada aku yang selalu ada untukmu?!" teriak Elena histeris saat dua pengawal mulai menyeretnya mundur keluar dari koridor ICU. "Alvan! Kamu akan menyesal melakukan ini padaku! Kamu dengar?! Kamu akan menyesal!"
Suara teriakan Elena perlahan melenyap di balik pintu kaca tebal yang tertutup rapat, meninggalkan keheningan yang pekat di dalam ruangan ICU.
Genggaman di Luar ICU dan Badai yang Mengintai
Sepeninggal Elena dan tim medis yang merapikan peralatan, koridor luar ICU kembali sunyi. Cahaya lampu neon putih memantul dingin di atas lantai granit.
Andira menyandarkan punggungnya pada dinding lorong, menyelonjorkan kakinya yang gemetar hebat.
Adrenalin yang tadinya memuncak kini surut drastis, menyisakan kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat. Ia memejamkan mata, merasakan kepalanya yang mendadak pusing akibat ketegangan intens beberapa saat lalu.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan mendekatinya.
Andira membuka mata dan menemukan Alvan sudah berlutut di satu kaki di hadapannya. Pria itu meraih kedua tangan Andira yang dingin dan gemetar, lalu menggenggamnya erat dalam kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.
Alvan menundukkan kepalanya sejenak, membawa jemari Andira ke bibirnya dan menempelkannya lama di sana. Sebuah kecupan tulus, penuh dengan rasa terima kasih, penyesalan, dan perlindungan yang mendalam.
"Terima kasih... Terima kasih, Andira," bisik Alvan parau. Matanya yang biasanya keras kini berkaca-kaca menatap wanita di hadapannya. "Jika bukan karena keberanianmu dan ketelitianmu... aku mungkin sudah kehilangan Ibu malam ini."
Andira menatap Alvan, merasakan getaran emosi yang begitu murni dari pria yang dulu sangat dibencinya. "Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, Pak Alvan. Ibu Rosa orang baik... Beliau tidak pantas menjadi korban dari kekejaman Elena."
"Jangan panggil aku 'Pak Alvan' lagi," pinta Alvan lembut, jemarinya mengusap lembut bekas luka di punggung tangan Andira. "Panggil aku Alvan. Mulai hari ini, aku adalah suamimu yang akan berdiri di depanmu untuk menahan setiap peluru yang diarahkannya padamu."
Andira mengulas senyum tipis yang amat bening. Rasa canggung dan luka masa lalu tidak serta-merta hilang seluruhnya, namun benih-benih rasa percaya yang baru telah menancapkan akarnya begitu dalam di antara mereka berdua di koridor dingin itu.
Namun, kedamaian singkat itu tidak bertahan lama.
TAP! TAP! TAP!
Langkah kaki Bima setengah berlari memecah keheningan koridor. Wajah asisten pribadi Alvan itu tampak sangat tegang, memegang ponsel lipat khusus di tangannya.
"Pak Alvan," panggil Bima dengan suara berbisik yang sarat akan urgensi.
Alvan perlahan berdiri, namun tetap memegang erat tangan Andira, menuntun wanita itu untuk berdiri di sampingnya. "Ada apa, Bima?"
Bima menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan pesan terenkripsi dari tim intelijen internal Samudra Group.
"Penyusup kita di kediaman Elena baru saja melapor," kata Bima cepat. "Elena mendatangi brankas pribadinya di unit apartemen penthouse segera setelah diusir dari rumah sakit. Dia menarik seluruh dana tunai valas, menghancurkan beberapa harddisk komputer, dan orang suruhannya baru saja memesan dua tiket penerbangan rahasia ke Zurich, Swiss, untuk jadwal keberangkatan besok pagi pukul lima subuh!"
Mata Alvan membeku seketika. "Dia tahu."
"Ya, Pak," angguk Bima tegas. "Tindakan Anda mengusirnya dari ICU dan pengetatan keamanan tadi membuat Elena curiga bahwa rahasianya sudah terbongkar. Dia menyadari bahwa penyelidikan ulang kasus pembunuhan Roy sudah berjalan di belakang layarnya. Dia bersiap melarikan diri ke luar negeri sebelum kita sempat menyerahkan berkas flashdisk ke kejaksaan!"
Andira mencengkeram lengan baju Alvan dengan kuat, matanya membelalak panik. "Alvan... kalau Elena sampai lolos ke luar negeri, dia tidak akan pernah bisa diadili! Keadilan untuk Roy akan hilang selamanya!"
Alvan mengepalkan tinjunya hingga terdengar derak persendiannya. Aura pemburu yang mematikan kembali memenuhi tatapannya.
"Dia tidak akan pernah menyentuh pintu pesawat itu," kata Alvan dengan nada dingin yang menebarkan ancaman maut. Pria itu menoleh menatap Andira, menggenggam erat bahu wanita itu. "Bima, hubungi Detektif Hendra dan tim kejaksaan darurat. Kita majukan jadwal penangkapan malam ini juga. Kita akan mencegat iblis itu di sarangnya sebelum fajar menyingsing!"
...----------------...
To Be Continue ....