Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Pengkhianatan yang Terkubur
"Larasati benar."
Suara Bu Ratih pecah di tenggorokan. Bukan lagi tangisan, melainkan pengakuan yang sudah dua puluh delapan tahun ia kubur hidup-hidup.
Dila menatap perempuan itu tanpa berkedip. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa mendengarnya sendiri.
Di belakang Dila, Jatmiko berdiri dengan wajah yang penuh luka batin. Azam mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Fadil segera melangkah maju, berdiri di samping istrinya, tangannya mengunci bahu Dila.
"Dila, jangan hadapi sendirian," bisik Fadil.
Dila tidak menjawab. Tatapannya tidak lepas dari Bu Ratih.
"Jadi..." Suara Dila hampir tidak terdengar, tipis dan gemetar. "Ibu memang mengkhianati ibu saya? Sahabat Ibu sendiri?"
Bu Ratih menundukkan kepala begitu dalam, seolah ingin menghilang ke dalam lantai.
"Ya."
Satu kata itu jatuh seperti palu godam.
Dila mundur selangkah. Kakinya terasa lemas.
"Dila..." Fadil segera menahan bahunya agar tidak jatuh.
"Jangan," Dila mengangkat tangan, menahan Fadil. Air matanya sudah menggenang, tapi ia menolak untuk tumpah dulu. "Aku ingin mendengarnya sendiri. Dari mulutnya sendiri."
Bu Ratih terisak. "Saya memang yang memberi tahu mereka... bahwa Larasati menemukan dokumen rahasia itu. Saya yang membocorkannya."
"Kenapa?" Dila bertanya, suaranya kini lebih tajam, menahan perih.
"Saya takut, Dila..."
"Takut pada siapa?"
Bu Ratih mengusap air matanya dengan kasar. "Kepada keluarga Wiratama. Kepada kekuasaan mereka. Saya takut mereka akan menghancurkan Azam kalau saya diam."
Jatmiko tertawa pahit. Tawa yang tidak ada bahagianya sama sekali.
"Kamu masih saja berusaha menyembunyikannya, Ratih. Sampai detik ini."
Bu Ratih menatap Jatmiko dengan mata sembab. "Saya tidak menyembunyikan apa pun lagi, Mas Jatmiko. Saya sudah lelah."
"Lalu katakan siapa yang menyuruhmu! Siapa yang membuatmu menjual sahabatmu sendiri!"
Bu Ratih diam. Bibirnya bergetar.
Dila mendekat satu langkah. "Bu... kalau memang Ibu tidak membunuh ibu saya, saya mohon... katakan siapa yang melakukannya. Saya berhak tahu siapa yang membuat saya yatim piatu."
Bu Ratih menangis semakin keras. "Saya tidak tahu siapa yang mengemudikan mobil itu malam itu. Sumpah."
"Mobil?" Dila terkejut. "Jadi kecelakaan itu... memang bukan kecelakaan?"
Bu Ratih menggeleng pelan, sangat pelan. "Bukan."
Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya terdengar isak tangis Bu Ratih dan napas berat Jatmiko.
Fadil menggenggam tangan Dila erat, memberi kekuatan. "Lanjutkan, Bu. Tolong lanjutkan."
Bu Ratih menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kepingan keberanian yang tersisa.
"Malam itu... malam Larasati meninggal... seharusnya Larasati pergi meninggalkan kota bersama kamu, Dila. Kamu masih bayi, baru beberapa bulan. Dia sudah menyiapkan tas."
Jatmiko menatapnya dengan kaget. "Aku tidak tahu itu. Larasati tidak pernah bilang akan pergi malam itu."
"Karena dia tidak ingin kamu tahu," jawab Bu Ratih lirih. "Dia takut kamu akan menjadi sasaran juga kalau ikut. Dia ingin menyelamatkanmu dulu."
Jatmiko terdiam, terpukul.
Bu Ratih melanjutkan, "Larasati sudah merasa ada orang yang mengawasi kalian berdua selama berminggu-minggu. Mengikuti setiap gerakannya."
"Siapa?" tanya Dila.
"Dia hanya menyebut satu nama padaku sore itu. Sebelum dia pergi."
"Siapa?" desak Dila.
Bu Ratih mengucapkan nama itu dengan sangat pelan, seolah nama itu sendiri adalah racun.
"Suryanto."
Azam langsung mengangkat wajah, matanya menyipit. "Suryanto? Sopir kepercayaan keluarga? Orang yang bekerja untuk kakek selama tiga puluh tahun?"
Bu Ratih mengangguk. "Ya."
Dila mengambil foto lama yang tadi diberikan Azam dari atas meja — foto Larasati yang berdiri di samping Suryanto.
"Kalau Suryanto yang terlibat... lalu kenapa di belakang foto ini..." Dila membalik foto itu, menunjukkan tulisan tangan yang sudah dikenalnya, "Kenapa ibu saya menulis 'Jangan percaya Jatmiko'? Tulisan ini tulisan ibu saya, Yah."
Bu Ratih tidak menjawab. Ia hanya menutup wajahnya.
Jatmiko yang menjawab, suaranya serak.
"Karena malam itu, Ayah dan ibumu bertengkar hebat, Dila."
Dila menatap ayahnya dengan tidak percaya. "Ayah bertengkar dengan Ibu? Malam sebelum Ibu meninggal?"
Jatmiko mengangguk, matanya menerawang ke masa lalu yang menyakitkan.
"Dia ingin membawa kamu pergi malam itu juga. Ayah melarang. Bukan karena Ayah tidak mau pergi, tapi..."
Jatmiko memejamkan mata.
"Ayah ingin ikut. Tapi Ayah meminta dia menunggu beberapa jam. Ayah harus kembali ke kantor pusat untuk mengambil sesuatu."
"Apa?" tanya Dila.
"Bukti. Dokumen transaksi asli yang Larasati ceritakan. Ayah pikir kalau kita punya bukti itu, kita bisa melawan mereka secara hukum. Kita tidak perlu lari."
Malam itu, dua puluh delapan tahun lalu...
Larasati berdiri di ruang tamu rumah kontrakan kecil mereka yang sempit. Di kamar sebelah, Dila yang masih balita tertidur pulas dengan napas teratur.
Jatmiko memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas ransel dengan tergesa-gesa.
"Kita harus pergi malam ini juga, Ras. Setelah aku ambil bukti itu, kita langsung ke stasiun."
Larasati menggeleng, wajahnya pucat karena cemas. "Kamu tidak boleh pergi sendirian, Mas. Ini terlalu berbahaya."
"Aku hanya sebentar. Aku tahu di mana Ayah menyimpan brankas keduanya."
Larasati mendekat dan memegang tangan suaminya. "Jatmiko, dengarkan aku. Aku merasa ada seseorang yang membocorkan semua gerakan kita. Setiap kali kita bicara soal pergi, keesokan harinya ada orang asing yang mondar-mandir di depan rumah."
Jatmiko terdiam. "Siapa?"
"Aku belum tahu," Larasati mengambil sebuah foto dari saku dasternya dan memberikannya pada Jatmiko. Foto itu adalah foto Jatmiko yang sedang berbicara akrab dengan Suryanto di depan gerbang perusahaan. "Seseorang menyelipkan foto ini di bawah pintu kita tadi siang."
Jatmiko melihatnya dengan kening berkerut. "Kenapa ada fotoku dengan Suryanto? Aku tidak pernah bekerja sama dengannya untuk urusan ini."
"Aku percaya kamu, Mas," Larasati memegang tangannya erat. "Tapi ada seseorang yang ingin aku tidak percaya padamu. Seseorang yang paling dekat dengan kita. Seseorang yang tahu kita akan lari malam ini."
Kembali ke masa sekarang.
Dila menatap ayahnya dengan napas tertahan. "Lalu apa yang terjadi malam itu, Yah? Setelah Ayah pergi?"
Jatmiko menarik napas yang terdengar berat dan patah.
"Ayah pergi ke kantor. Ayah berhasil masuk. Tapi Ayah tidak pernah sampai kembali ke rumah untuk menjemput kalian."
"Kenapa?"
"Ayah diculik di parkiran basement. Dibekap, dimasukkan ke mobil. Mata ditutup."
Fadil langsung bertanya, "Siapa pelakunya?"
"Ayah tidak melihat wajah mereka," jawab Jatmiko, suaranya penuh amarah yang tertahan. "Mereka menyekap Ayah di sebuah gudang kosong di luar kota."
"Berapa lama, Yah?" bisik Dila.
"Sebelas tahun."
Dila membeku. Fadil dan Azam terkejut.
"Sebelas tahun, Dila," ulang Jatmiko dengan mata berkaca-kaca. "Sebelas tahun Ayah dikurung tanpa tahu siang dan malam. Ketika akhirnya Ayah berhasil melarikan diri, Ayah kembali ke kota ini. Ayah cari kalian. Tapi semua orang, termasuk Bu Ratih, mengatakan Larasati sudah meninggal karena kecelakaan tunggal. Dan mereka bilang... mereka bilang kamu juga meninggal, Nak. Demam tinggi setelah ibumu meninggal. Semua akta kematian kalian sudah ada. Semua bukti sengaja dipalsukan."
Dila menggigit bibirnya kuat-kuat hingga hampir berdarah, menahan tangis.
"Jadi selama sebelas tahun Ayah mencari kuburan kami... yang sebenarnya tidak pernah ada."
"Ya."
Tiba-tiba Dila teringat sesuatu. Ia melihat lagi foto lama Suryanto dan Larasati itu.
"Kalau begitu... siapa yang membuat semua akta palsu itu? Siapa yang punya kuasa memalsukan kematian kami?"
Tidak ada yang menjawab. Semua mata tertuju pada satu orang.
Bagaskara akhirnya berdiri perlahan dari kursinya. Tongkatnya berderak di lantai.
"Aku tahu siapa yang punya kuasa itu," katanya.
Semua orang menoleh.
"Orang yang mengendalikan semuanya bukan Suryanto. Suryanto hanya alat. Hanya tangan kanan yang disuruh."
"Lalu siapa yang memberi perintah pada Suryanto?" tanya Dila, suaranya meninggi.
Bagaskara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Bu Ratih dengan tatapan yang penuh arti.
Bu Ratih yang melihat tatapan itu langsung menangis dan mengangguk pelan.
"Ibu tahu siapa dia, Bu?" tanya Dila.
Bu Ratih mengangguk dengan susah payah. "Aku tahu..."
"Siapa?" desak Dila.
Bu Ratih menutup wajahnya. "Saya tidak sanggup mengucapkannya..."
Dila akhirnya tidak tahan lagi. Semua emosi yang ia tahan sejak Bab 1 meledak.
"IBU HARUS SANGGUP!" teriak Dila, air matanya akhirnya tumpah deras. Suaranya pecah. "Semua orang di ruangan ini takut! Semua orang menyimpan rahasia! Tapi hanya saya yang tidak pernah tahu apa-apa! Saya kehilangan ibu saya! Saya kehilangan ayah saya! Saya kehilangan masa kecil saya! Dan sekarang anak saya, Arif, hilang karena kebohongan orang-orang dewasa!"
Ruangan menjadi sunyi senyap. Hanya isak tangis Dila yang terdengar.
Fadil segera mendekat dan memeluk istrinya dari samping, membiarkan Dila menangis di bahunya.
"Mas... aku capek, Mas..."
"Menangislah, Sayang. Keluarkan semua," bisik Fadil sambil mengusap kepala Dila dengan lembut. "Aku tidak akan pergi. Aku di sini."
Beberapa menit kemudian, setelah tangis Dila mereda menjadi isak pelan, Bu Ratih akhirnya mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya.
Ia berdiri dengan lutut gemetar.
"Saya akan mengatakan semuanya. Cukup. Saya sudah terlalu lama menjadi pengecut."
Bagaskara menatapnya tajam. "Ratih, kamu tidak tahu apa akibatnya kalau kamu bicara."
"Cukup, Mas Bagaskara!" potong Bu Ratih dengan suara yang tiba-tiba lantang. "Saya sudah terlalu lama takut pada Anda, takut pada keluarga ini. Lebih baik saya menghadapi akibatnya daripada terus hidup dengan rasa bersalah melihat anak Larasati menderita!"
Dila menatap Bu Ratih dengan mata sembab. "Siapa yang menyuruh Anda, Bu?"
Bu Ratih menarik napas dalam-dalam.
"Bukan Bagaskara yang menyuruh saya membocorkan soal dokumen itu pertama kali."
Semua orang terkejut.
"Lalu siapa?" tanya Azam.
Bu Ratih menjawab dengan suara yang jelas, meski bergetar.
"Suryanto."
Azam mengerutkan kening. "Suryanto? Bukankah dia hanya sopir?"
Bu Ratih menggeleng keras. "Dia bukan sekadar sopir, Azam. Dia bukan sekadar orang kepercayaan. Selama ayahmu dan ayah Jatmiko sakit-sakitan, Suryanto-lah yang mengatur sebagian besar bisnis gelap keluarga Wiratama. Semua dokumen kotor itu lewat tangannya. Bagaskara memang mengancam saya, tapi dia mengancam saya atas perintah Suryanto."
Dila bingung. "Lalu Bagaskara?"
Bu Ratih menatap lelaki tua itu. "Bagaskara memang bersalah karena ikut menutupi. Tapi dia bukan orang yang membunuh ibumu, Dila."
"Lalu siapa?" Dila mulai putus asa.
Bu Ratih menundukkan kepala dalam-dalam.
"Saya tidak tahu siapa yang menabrak mobil ibumu malam itu. Tapi saya tahu siapa yang memberikan perintahnya."
"Siapa, Bu?" bisik Dila.
Bu Ratih menatap Dila, lalu menatap Jatmiko dengan rasa bersalah yang tak terhingga.
Kemudian ia mengucapkan nama yang membuat darah Jatmiko surut.
"Orang itu... adalah ayah kandung Jatmiko. Kakekmu, Dila. Ayahanda Wiratama yang pertama."
Dila terdiam. Azam tampak seperti disambar petir.
"Kakek... Grandfather?" gumam Azam.
Bu Ratih mengangguk sambil menangis. "Ya. Beliau yang memerintahkan Suryanto untuk menghentikan Larasati dengan cara apa pun. Karena Larasati menolak menyerahkan buku catatan aslinya. Beliau bilang, lebih baik satu orang hilang daripada nama Wiratama hancur."
Jatmiko mundur beberapa langkah, punggungnya membentur dinding. "Tidak... Ayah tidak mungkin... Ayah tidak mungkin melakukan itu..."
"Ayahmu sangat mencintai nama keluarga, Mas Jatmiko," isak Bu Ratih. "Terlalu mencintainya."
Dila menutup mulutnya dengan tangan. Kakinya lemas. Jadi kakek kandungnya sendiri... yang memerintahkan pembunuhan ibu kandungnya.
Ayah kandungnya telah lama meninggal, tapi dosa masa lalunya masih hidup dan terus menghancurkan anak dan cucunya sampai hari ini.
Tiba-tiba ponsel Azam berdering lagi. Layarnya menampilkan nomor tidak dikenal.
Azam mengangkatnya dengan waspada. "Siapa?"
Tidak ada jawaban selama dua detik. Lalu terdengar suara seorang pria tua yang serak dan tenang.
"Azam Wiratama. Akhirnya."
Azam membeku. "Siapa kamu?"
"Orang yang selama ini kamu cari dengan kontrak-kontrakmu itu."
Dila langsung merebut ponsel dari tangan Azam. "Kamu Suryanto? Kamu yang membunuh ibuku?"
Terdengar tawa kecil di seberang.
"Tidak, Nak. Aku hanya menjalankan perintah. Sama seperti ibumu dulu yang hanya menjalankan hati nuraninya."
Dila menggigil hebat. Fadil memegang bahunya.
"Perintah siapa? Kakekku?"
"Orang yang sudah tidak bisa kamu tanyai lagi," jawab Suryanto enteng. "Tapi ada satu benda yang belum ditemukan sampai sekarang. Dan itu yang membuatku masih harus mengawasimu."
"Apa?"
"Buku catatan Larasati. Buku yang asli. Bukan fotokopi yang kau lihat itu."
Dila terdiam. "Buku itu tidak ada pada kami. Kami sudah cari."
"Aku tahu tidak ada pada kalian sekarang," jawab Suryanto. "Tapi buku itu ada padamu, Dila. Sejak awal, ibumu menitipkannya padamu."
Dila mengerutkan kening. "Tidak! Tidak ada!"
"Pikirkan baik-baik, Nak. Pikirkan di mana ibumu menyembunyikan sesuatu yang tidak akan pernah dicari oleh orang serakah."
Sambungan terputus. Tut... tut... tut...
Dila menatap layar ponsel yang mati.
"Dia bilang buku catatan Ibu ada padaku," bisiknya pada Fadil.
Jatmiko terlihat bingung. "Tidak mungkin, Nak. Ayah sudah bongkar seluruh rumah lama kita."
Dila memejamkan mata, mencoba mengingat. Kalung, foto, surat...
Lalu ia teringat sebuah benda yang sudah bertahun-tahun ia simpan di lemari, pemberian dari orang tua angkat yang membesarkannya. Sebuah kotak kayu kecil yang tidak pernah ia buka karena kuncinya hilang.
"Ada satu tempat," bisiknya.
"Di mana?" tanya Fadil cepat.
"Rumah lama orang yang membesarkanku. Di kampung. Ada kotak peninggalan Ibu angkatku. Mungkin... mungkin ada sesuatu di sana yang selama ini tidak pernah aku buka."
Azam langsung mengambil jaketnya. "Kita pergi besok pagi-pagi sekali."
Dila menggeleng keras. "Tidak. Aku ingin pergi sekarang. Arif masih di tangan mereka. Aku tidak bisa menunggu sampai pagi."
Fadil langsung berdiri. "Aku ikut."
Dila menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yakin, Mas?"
Fadil tersenyum, senyum yang sama seperti saat ia menahan pukulan untuk Dila. "Bukankah aku sudah bilang? Aku tidak akan pergi semudah itu."
Jatmiko juga berdiri, mengambil tongkatnya. "Ayah ikut, Nak."
Azam mengangguk. "Aku juga. Kita pergi bersama."
Untuk pertama kalinya malam itu, Dila tidak merasa sendirian menghadapi badai besar keluarganya.
Namun ketika mereka hendak melangkah keluar dari ruang tamu, terdengar suara benda berat jatuh dari kamar belakang.
BRAK!
Semua orang terdiam dan menoleh.
Laras berlari cepat memeriksa ke sumber suara.
"Pak Azam!"
"Apa?" Azam waspada.
Laras keluar dari kamar belakang dengan napas terengah, membawa sebuah amplop cokelat yang berdebu tebal.
"Ini ditemukan di bawah kolong tempat tidur kayu, tertempel dengan lakban. Sudah lama sekali di sana."
Dila menerima amplop itu. Debunya tebal. Di bagian depan, tertulis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas, bukan tulisan Larasati:
UNTUK DILA — JANGAN DIBUKA SEBELUM AYAHMU KEMBALI.
Dila menatap Jatmiko dengan jantung berdebar. "Ayah? Tulisan siapa ini?"
Jatmiko mengambil alih amplop itu, membaliknya. Di bagian belakang, ada stempel lilin merah dengan lambang kecil yang sangat familiar baginya — lambang singa bermahkota, lambang rahasia keluarga Wiratama.
Wajah Jatmiko langsung pucat pasi.
"Ayah kenal lambang ini?" tanya Dila cemas.
Jatmiko mengangguk dengan bibir gemetar. "Ini... ini lambang yang hanya digunakan untuk satu hal di keluarga kami."
"Untuk apa, Yah?"
Jatmiko menatap putrinya dengan mata yang penuh ketakutan dan rasa bersalah.
"Digunakan hanya untuk menandai... seseorang sebagai pewaris sah yang sesungguhnya. Pewaris yang tidak boleh diketahui siapa pun."
Dila menatap amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Ia perlahan membuka segel lilinnya yang sudah retak.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas tipis yang sudah menguning.
Tulisan di sana membuat seluruh tubuh Dila membeku, darahnya berhenti mengalir.
Dila, jika kamu sudah menemukan surat ini, berarti aku, Larasati, gagal melindungimu sampai akhir.
Jangan percaya kepada siapa pun di keluarga Wiratama.
Bahkan ayahmu, Jatmiko.
Karena rahasia terbesar tentang kelahiranmu... belum pernah mereka ceritakan padamu. Kamu bukan hanya anak Jatmiko.
Dila mengangkat wajah perlahan, menatap Jatmiko dengan air mata yang mengalir tanpa suara.
"Yah..."
Jatmiko tidak mampu membalas tatapan itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Jatmiko menundukkan kepala dalam-dalam, tidak mampu menatap mata putrinya sendiri.
"Apa... apa yang belum Ayah ceritakan tentang kelahiranku?" bisik Dila.
Dan malam itu, keheningan Jatmiko adalah jawaban yang paling menakutkan dari semua pengakuan.
Bersambung...