NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

Pelajaran dari Teman Laki-laki

Matahari mulai condong ke barat, menyisakan warna jingga yang lembut di langit lokasi perkemahan. Suasana sore itu terasa lebih tenang, sebagian besar siswa sudah beristirahat sejenak di bawah tenda setelah selesai mengikuti kegiatan baris-berbaris dan pelajaran tentang alam.

Di bawah pohon beringin besar yang rindang, Dimas sedang duduk bersandar santai sambil membersihkan debu di sepatunya. Tak lama kemudian Arga dan Bima berjalan mendekat dengan wajah yang tampak lelah sekaligus bingung. Mereka langsung duduk melingkar di sebelah Dimas sambil menghela napas panjang berkali-kali.

Arga menyandarkan punggungnya ke batang pohon, lalu menatap langit dengan tatapan tak percaya. "Gila ya Dim... gue baru sadar satu hal yang bener-bener bikin pusing kepala. Ternyata susah banget ya kalau ngobrol sama cewek. Pasti ada aja alasan mereka, pasti ada hal yang bikin mereka tersinggung, atau malah ngomongnya berputar-putar nggak langsung ke intinya. Capek deh gue," keluhnya panjang lebar.

Bima mengangguk kuat-kuat menyetujui keluhan sahabatnya. "Bener banget kata Arga. Tadi gue cuma nanya ke teman sekelompok kita, 'mau bantu masak apa bantu bersihin tenda?', eh malah dijawabnya 'lo ngapain nanya gitu? Lo ngerasa gue nggak becus ya kalau bersihin tenda?'. Padahal gue cuma nanya biasa aja, nggak bermaksud ngejelekin sama sekali. Kenapa ya harus ribet gitu?"

Dimas berhenti mengelap sepatunya, lalu menatap kedua sahabatnya itu sambil tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepala pelan seolah sudah paham betul apa yang dirasakan teman-temannya.

"Memang betul kok," jawab Dimas tenang. "Ngomong sama cewek itu emang agak susah dan butuh kesabaran ekstra. Mereka sering kali ngerasain hal yang nggak kita kira, atau nangkep omongan kita beda dari maksud aslinya. Kadang kita kira udah ngomong baik-baik, eh ternyata di hati mereka malah jadi kesal atau sedih."

Arga menyeringai geli sambil menepuk pundak Dimas. "Berarti lo juga sering ngalamin ya Dim? Padahal lo jago banget ngadepin Rara sama Laras lho. Lo tetep kelihatan tenang aja, nggak panik kayak kita."

Dimas tertawa kecil, lalu menatap ke arah tenda di mana Rara, Laras, dan Aisyah sedang berbicara pelan di kejauhan. "Kuncinya cuma satu aja deh kayaknya. Banyak-banyak mengalah aja deh. Ikutin apa yang mereka mau selama itu masih masuk akal dan masih bisa ditoleransi. Nggak perlu dibantah terus kalau hal sepele, nanti malah jadi ribut nggak kelar-kelar."

"Gitu ya caranya?" tanya Bima penasaran. "Jadi kalau mereka lagi ngomel atau minta hal aneh, kita iyain aja dulu?"

"Iya kurang lebih begitu," jelas Dimas sabar. "Cewek itu hatinya lebih lembut dan sensitif. Kalau kita mau menang argumen tapi malah bikin mereka sedih atau marah besar, percuma juga kan? Lebih baik kita kalah sedikit soal kata-kata, tapi suasananya tetap damai. Lagian juga mereka nggak selalu salah kok, kadang kita yang kurang peka sama perasaan mereka."

Arga mengangguk pelan seolah mulai paham. "Oke deh kalau gitu. Mulai besok gue coba buat lebih sabar, nggak gampang terpancing emosi, dan lebih banyak mengalah. Soalnya capek juga kalau setiap ngobrol pasti berujung salah paham."

"Makasih ya sarannya Dim," tambah Bima sambil tersenyum. "Ternyata jadi cowok yang pengertian itu nggak gampang juga ya. Harus pinter ngontrol omongan dan perasaan sendiri dulu baru bisa ngertiin orang lain."

Dimas mengangkat kedua bahunya santai. "Sama-sama. Namanya juga belajar bergaul sama manusia. Nggak ada yang instan kok. Pelan-pelan aja, yang penting kita niatnya baik dan nggak bermaksud nyakitin hati mereka."

Mereka pun tertawa bersama, beban di hati Arga dan Bima perlahan hilang berganti semangat baru. Sore itu mereka belajar satu hal berharga bahwa menghadapi perbedaan bukan dengan cara melawan, melainkan dengan cara melunakkan hati dan memperbanyak rasa saling mengerti.

Cerita Sore di Bawah Pohon

Obrolan mereka masih berlanjut santai di bawah pohon beringin. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana makin asyik buat ngobrol panjang lebar. Tiba-tiba Bima menyenggol lengan Dimas pelan, matanya berbinar penasaran.

"Eh bentar deh, ngomong-ngomong soal cewek tadi," potong Bima tiba-tiba. "Trus tipe kalian kayak gimana sih sebenernya? Jangan-jangan kita punya selera yang beda jauh banget?"

Arga langsung ikut mencondongkan tubuh, antusias banget. "Iya bener! Gue juga penasaran nih. Sini cerita satu-satu, jangan ada yang ditutup-tutupi!"

Dimas terkekeh pelan, lalu menyandarkan punggungnya lebih nyaman. Ia menatap langit sebentar sebelum menjawab. "Kalau gue sih udah jelas banget kan kalian liat kelakuannya. Gue sukanya yang kalem, tenang, dan nggak berisik. Gue orangnya kadang capek kalau harus ngadepin suasana yang heboh terus. Jadi kalau ada cewek yang bisa ngertiin gue, nggak gampang emosi, dan bisa bikin suasana jadi adem... nah itu gue suka banget. Lebih tenanglah gue rasanya kalau deket sama orang kayak gitu."

"Oalah, makanya lo sering deket sama Aisyah ya?" celetuk Arga sambil mengedipkan mata jahil. "Pantesan dari kemarin perhatian terus."

Dimas cuma senyum tipis tanpa membantah. Giliran Arga yang maju, ia membetulkan posisi duduknya dengan bangga.

"Kalau gue mah beda lagi," ucap Arga mantap. "Gue sukanya yang tipikal orang produktif atau pintar. Gue suka cewek yang pinter, punya cita-cita jelas, nggak cuma sibuk mikirin gaya doang. Asik aja gitu kalau ngobrol sama dia, bisa banyak hal yang dibahas, saling nambah ilmu. Bisa diajak kerja sama juga kalau ada tugas atau kegiatan sekolah."

Bima langsung bertepuk tangan pelan. "Wah kalau gue nih, beda lagi deh. Kalau gue sukanya yang ekspresif dan sedikit centil. Yang ceria gitu, kalau ngomong mukanya bergerak terus, nggak kaku kayak patung. Sedikit manja atau iseng-iseng gitu juga oke, yang penting seru diajak ketawa. Nggak bikin bosen pokoknya!"

Mereka pun tertawa bareng mendengar perbedaan itu.

"Wih lengkap banget selera kita," kata Dimas sambil menggeleng-geleng kepala. "Ada yang cari ketenangan, ada yang cari kecerdasan, ada yang cari keceriaan. Beda-beda tapi tetap temenan kan?"

"Pasti dong!" jawab mereka serempak.

Arga langsung menunjuk-nunjuk sambil tertawa. "Wah, pantesan kita nggak pernah rebutan cewek ya! Ternyata selera kita beda jauh banget. Kalau gue cari yang pinter, Dim cari yang tenang, Bima cari yang seru. Pas banget nggak ada bentrokan!"

Bima menyenggol bahu Dimas pelan. "Tapi serius deh Dim, lo nggak bosen ya kalau sama yang kalem gitu? Nggak sepi rasanya? Gue kalau sama yang diam terus malah bingung mau ngomong apa."

Dimas menggeleng santai sambil memetik sehelai rumput di dekat kakinya. "Justru itu yang gue suka. Sepi itu nggak selalu jelek kan? Kadang gue capek sama tugas, sama keributan di kelas, terus kalau deket sama orang yang tenang gitu... rasanya adem banget di dada. Nggak perlu banyak omong buat ngerti satu sama lain. Itu yang bikin gue nyaman."

"Terus lo Arga?" tanya Bima berbalik. "Lo nggak takut nggak bisa ngikutin jalan pikirannya kalau ceweknya pinter banget?"

Arga menyeringai bangga. "Justru tantangan dong! Gue suka kalau dia bisa ngasih pandangan baru yang nggak kepikiran sama gue. Kalau dia produktif, otomatis gue juga jadi ikut semangat ngerjain hal-hal positif. Nggak ada waktu buat hal-hal yang nggak penting. Itu lebih asik menurut gue."

"Nah kalau gue," potong Bima sambil nyengir lebar, "gue paling nggak suka yang kaku. Kalau dia ekspresif, ketawanya lepas, suka iseng, sedikit centil gitu... bikin suasana hidup terus. Gue nggak suka yang kalau ngobrol kaku banget kayak lagi ujian sekolah. Harus ada candaan, harus ada warna-warni!"

Mereka bertiga tertawa bareng, suara tawanya memecah keheningan sore itu.

"Tapi satu hal yang pasti," kata Dimas pelan, menatap sahabatnya satu per satu. "Apapun tipenya, yang paling penting itu harus jujur dan baik hati kan? Cantik atau ganteng doang nggak bakal cukup kalau hatinya nggak pas."

Arga dan Bima mengangguk setuju mantap.

"Bener banget!" seru Arga. "Selera boleh beda, tapi syarat utamanya sama: harus tulus."

"Yoi," timpal Bima sambil berdiri dan menepuk-nepuk debu di celananya. "Udah ah ngobrolin cewek terus, nanti kesambet lho! Yuk kita bantu-bantu yang lain masak, nanti keburu laper!"

Mereka pun bangkit berdiri beriringan, langkah kaki mereka ringan menuju area memasak. Obrolan sore itu menambah kedekatan di antara mereka, menyadarkan bahwa setiap orang punya keinginan yang berbeda, dan itu hal yang wajar—selama tujuannya tetap satu: mencari kebahagiaan yang tulus.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!