Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Tenang Hanya Saat Kau Ada
“Ada orang yang menjadi rumah karena dicintai. Ada orang yang dipaksa menjadi rumah karena keadaan.”
--
Pagi datang lebih cepat dari pada yang mereka harapkan. Langit di luar rumah sakit masih diselimuti abu-abu ketika sinar matahari pertama menyelinap melalui celah tirai kamar rawat Keira. Cahaya itu bersinar tipis di lantai, memantulkan warna pucat yang membuat ruangan tampak lebih sunyi dibanding biasanya.
Alina terbangun dengan leher yang pegal, entah sejak kapan ia tertidur di sofa ruang tunggu. Selimut tipis berwarna biru muda menutupi tubuhnya hingga sebatas bahu, ia mengenali selimut tersebut, itu milik Birendra.
Alina menoleh, pria itu duduk di kursi plastik dekat jendela dengan kepala sedikit tertunduk. Kedua lengannya terlipat di dada, sementara matanya terpejam dalam posisi yang jelas tidak nyaman. Pria itu tertidur, dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Alina benar-benar memperhatikan wajah Birendra yang kelelahan.
Lingkar hitam mulai muncul di bawah matanya, rambutnya sedikit berantakan, kemeja yang semalam baru sempat diganti masih kusut di bagian lengan. Pria yang biasanya selalu tampak rapi itu kini terlihat sama rapuhnya dengan dirinya.
Tanpa sadar, Alina bangkit perlahan. Ia mengambil selimut yang menutupi tubuhnya lalu berjalan mendekat, pelan-pelan ia menyampirkan selimut itu ke bahu Birendra, dan sentuhan itu membuat Birendra membuka kedua matanya.
“Alin,” serunya dengan suara yang parau akibat baru bangun. “Kamu kenapa nggak bangunin aku?” Tanyanya yang membuat Alina tersenyum tipis.
"Harusnya aku yang nanya." Protes Alina dan membuat Birendra mengusap wajahnya sejenak.
“Kamu baru tidur sebentar.”
“Kamu juga sama.”
Untuk sesaat mereka saling menatap meski sejenak, dan untuk pertama kalinya juga sejak beberapa hari terakhir, keduanya tampak tertawa kecil, namun dibalik tawanya itu terlihat rasa lelah, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa mereka masih memiliki satu sama lain.
Pukul tujuh pagi, Hendra datang membawa sarapan dari rumah. Pria paruh baya itu membawa nasi uduk dengan telur balado serta semur tahu, masakan rumahan yang biasanya terasa biasa saja kini justru menjadi penghibur kecil di tengah hari-hari yang melelahkan.
“Makan dulu.” Hendra menyerahkan kantong makanan kepada keduanya, namun Alina menggeleng cepat.
“Nanti aja, Yah.”
“Jangan nanti.” Suara Hendra terdengar lebih tegas. "Kalian berdua sama-sama belum makan." Birendra langsung mengambil dua kotak makanan.
“Sini.” Ia membuka salah satunya lalu menyerahkannya kepada Alina. “Minimal lima suap.” Ucapan itu membuat Alina menghela napas.
"Kamu kayak Ayah."
"Kalau Ayah marah, aku yang kena." Kalimat itu berhasil membuat Hendra tersenyum kecil.
Usai sarapan, dokter Arman datang melakukan pemeriksaan rutin. Keira terlihat jauh lebih sadar dibanding kemarin. Ia mulai mengenali ruangan, mengingat nama perawat, sudah mulai mengeluh bosan, namun satu hal yang tidak berubah, setiap kali pandangannya mencari seseorang, ia selalu mencari Birendra.
“Mas.” Panggilan itu kembali terdengar dan membuat Birendra menoleh secara spontan. Keira mengulurkan tangannya. "Tolong ambilin air." Birendra lekas berdiri untuk mengambil gelas tersebut dan kembali menyerahkannya setelah mengisi air tersebut.
Semua gerakan yang dilakukan oleh Birendra terlihat begitu sederhana, namun Alina memperhatikannya dalam diam, bukan karena cemburu atau mungkin belum, ia hanya sedang belajar menerima bahwa mulai hari itu, ada kebiasaan-kebiasaan yang tak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Siang harinya, perawat meminta Keira mencoba berjalan beberapa langkah. Ia mengajak Keira untuk pergi ke taman rumah sakit agar membuat Keira juga bisa menghirup udara segar dan tidak terus-terus berada di kamarnya.
“Pelan-pelan ya,” ucap perawat tersebut, dan Keira mengangguk. Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan dan secara refleks ia langsung meraih tangan Birendra yang saat itu berada di dekatnya.
“Mas.” Birendra segera menopangnya, dan Keira tampak menghembuskan napas lega. “Untung ada Mas.” Alina yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka spontan ingin membantu. Namun tangannya berhenti di udara. Perasaan aneh mulai tumbuh di dalam dada Alina, bukan perasaan marah maupun iri, ia hanya merasa ada kekosongan dalam hatinya.
Saat sore menjelang, Celine datang menjenguk ke rumah sakit. Ia membawa beberapa buah, bunga kecil berwarna putih, dan sebuah boneka mungil yang menurutnya terlalu lucu untuk dilewatkan.
“Aku boleh masuk?” Tanyanya dan lekas dibalas anggukkan oleh Alina.
“Boleh.” Begitu melihat Keira, Celine langsung menghampiri dengan senyum hangat.
“Halo.” Ucap Celine dengan nada yang terdengar ramah.
“Halo.” Keira membalas pelan, dan untuk beberapa menit percakapan mereka berjalan cukup baik sampai akhirnya Keira menoleh ke arah Birendra. “Mas.” Mendengar panggilan itu membuat Celine membeku.
Tatapannya perlahan berpindah dari Keira ke Birendra, lalu berhenti di Alina. Ia baru memahami apa yang sempat dijelaskan lewat telepon semalam, dan kenyataan itu ternyata jauh lebih menyakitkan saat dilihat langsung. Ketika mereka keluar sebentar ke koridor, Celine menghentikan langkah Birendra.
“Gimana rasanya?” Pertanyaan itu terdengar pelan, Birendra tidak langsung menjawab, ia memandang lantai untuk sepersekian detik.
“Capek.” Hanya satu kata, tetapi Celine tahu kata itu menyimpan jauh lebih banyak daripada kelelahan fisik.
“Dan Alin?” Birendra menoleh ke arah pintu kamar. Di balik kaca kecil itu, Alina sedang membantu merapikan selimut Keira.
“Dia masih berusaha untuk kuat.” Celine pun mengikuti arah pandangnya.
“Jaga dia.” Birendra mengangguk pelan.
“Selalu.” Ia mengatakannya tanpa ragu, dan justru karena itulah takdir yang menunggu di depan terasa semakin kejam.
Menjelang malam, dokter Arman kembali datang membawa hasil evaluasi hari itu. Alina, Birendra, dan Hendra yang berada disana pun menunggu penjelasan itu menunggu dengan jantung yang sedikit berdebar lebih cepat.
"Kondisi fisiknya terus membaik. Tapi.." Semua menghembuskan napas lega untuk sesaat, namun kalimat terakhir itu tetap membuat ruangan menegang. “.. respon emosional Ibu Keira masih sangat bergantung pada satu stimulus." Hendra mengernyit.
“Stimulus?”
“Pak Birendra.” Dokter melanjutkan dengan tenang. "Setiap kali beliau keluar ruangan terlalu lama, detak jantung pasien meningkat. Pasien menjadi gelisah, sulit makan, bahkan beberapa kali menolak minum obat." Terangnya lagi.
Ruangan kembali sunyi mendengar penjelasan itu, dan dokter menutup map ditangannya perlahan. Ketiganya masih membeku, terutama Birendra. Ia benar-benar tidak bisa melakukan sandiwara terus-menerus, karena ia tidak ingin menyakiti Alina sedikit pun.
“Kami masih melakukan observasi lebih lanjut, dan belum ada keputusan apa pun. Tapi saya ingin keluarga mulai memahami bahwa proses penyembuhan ini mungkin akan membutuhkan penyesuaian yang tidak mudah." Kalimat itu menggantung di udara, tak ada seorang pun yang berani menjawab. Namun semua orang memahami satu hal bahwa hari-hari berikutnya tidak akan menjadi lebih ringan.
Malam itu, sebelum pulang mengambil pakaian ganti, Alina berdiri di depan jendela lorong rumah sakit. Hujan kembali turun, ia memandangi pantulan lampu kota yang pecah di atas genangan air. Tak lama kemudian, Birendra berdiri di sampingnya, tanpa bicara atau pun bertanya, dan Alina perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu seperti yang selalu ia lakukan ketika lelah, dan Birendra menggenggam jemarinya dengan erat.
“Aku masih disini.” Bisikannya hampir tenggelam oleh suara hujan, dan Alina memejamkan kedua matanya.
“Jangan lepas.”
“Nggak akan.”