NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Mili bersiap-siap menunggu para guru datang dan bermain dengan Dora, kucing kesayangannya.

Ia duduk di ruang santai sambil mengelus bulu halus Dora yang sibuk menggesekkan kepalanya ke pangkuan Mili, membuat suasana pagi itu terasa begitu tenang dan hangat.

Sementara itu, di tempat terpisah, Andrew baru saja sampai di rumahnya.

Langkah kakinya yang berat dan limbung menyusuri lorong depan.

Mendengar deru mobil dan pintu yang terbuka, Gea segera berlari menghampiri suaminya dengan wajah merah padam menahan marah.

Mas, kamu dari mana saja?!" cecar Gea, suaranya bergetar menahan kekecewaan mendalam.

"Tiap malam kamu selalu pergi dan tidak pulang. Apa kamu sama sekali tidak menganggap aku sebagai istrimu?!"

Andrew mengabaikan jeritan itu. Dengan wajah dingin dan sisa aroma alkohol yang menyengat, ia terus melangkah masuk ke kamar tanpa sudi menatap wajah istrinya.

"Bukankah aku sudah mengatakannya, jangan bertanya ke mana aku pergi," potong Andrew dingin dan tajam.

"Aku selalu memberikan kamu uang. Apalagi yang kamu keluhkan?"

"Mas!" jerit Gea terperanjat, matanya berkaca-kaca menatap punggung suaminya yang begitu asing dan kejam.

Tanpa memedulikan teriakan Gea yang menggema di dalam kamar, Andrew melangkah santai masuk ke kamar mandi, mengunci pintu dari dalam, lalu menghidupkan shower.

Kucuran air dingin langsung mengguyur tubuh dan pakaiannya, namun rasa panas di kepalanya sama sekali tak menguap.

Begitu memejamkan mata, pikirannya justru melayang kembali pada bayangan tadi pagi—pada rambut Mili yang basah, leher mulusnya, dan aura memikat yang terpancar dari wanita itu.

"Ahhh sial!!" umpat Andrew kasar sambil memukul dinding keramik kamar mandi.

"Kenapa wanita itu terus mengganggu pikiranku?!"

Rasa penyesalan yang membakar mendadak memenuhi dadanya.

"Seharusnya dia dulu yang menikah denganku... Andai saja Gea tidak bertukar jodoh hari itu, Mili pasti sudah menjadi istriku sekarang!" gertak Andrew dengan napas memburu, kepalan tangannya kian erat saat membayangkan Mili kini sepenuhnya berada dalam pelukan David, pria yang paling ia benci di dunia ini.

Andrew keluar dari kamar mandi dengan handuk terikat di pinggangnya, lalu meraih pakaian bersih dari dalam lemari.

Pikirannya masih dipenuhi bayangan Mili, namun ia harus segera fokus pada hal lain.

Resepsi pernikahan megah antara dirinya dan Gea tinggal beberapa hari lagi.

Bagaimanapun juga, ia tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri di depan publik.

Andrew menegaskan kepada seluruh staf dan event organizer agar semua persiapan berjalan sempurna tanpa cela.

Namun, di balik topeng profesionalismenya, sebuah niat terselubung mulai berputar di kepalanya.

Dengan senyum miring yang penuh intrik, Andrew meraih ponselnya di atas meja nakas.

Ia mengabaikan Gea yang masih terisak di sudut ranjang, lalu menelepon sebuah toko bunga langganan kelas atas.

"Kirimkan satu buket bunga red roses paling segar dan mahal hari ini juga," perintah Andrew dengan suara berat penuh penekanan.

"Baik, Tuan. Atas nama siapa dan dikirimkan ke alamat mana?" tanya petugas toko bunga dari seberang telepon.

"Kirimkan ke kediaman David. Ditujukan khusus untuk... Nyonya Mili," bisik Andrew sinis.

"Tulis di kartu ucapannya: 'Untuk wanita tercantik, semoga harimu selalu indah.' Tanpa nama pengirim."

Andrew mematikan sambungan telepon secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas kasur. Kilat obsesi dan provokasi tampak jelas di matanya.

Ia sangat ingin melihat bagaimana reaksi David saat mendapati ada pria lain yang mengirimkan bunga romantis untuk istrinya—sebuah keretakan kecil yang sengaja ia ciptakan sebelum malam resepsi dimulai.

Di kediaman David, para guru privat sudah datang dan kembali telaten mengajari Mili berbagai hal, mulai dari etika, bahasa, hingga wawasan umum.

Mili belajar dengan sungguh-sungguh, membuktikan janjinya pada David untuk terus berkembang.

Di tengah-tengah sesi pelajaran, seorang pelayan masuk ke ruang belajar sambil membawa sebuah buket bunga mawar merah yang begitu indah dan segar.

"Nyonya, ada paket bunga untuk Nyonya," ucap pelayan itu sopan seraya menyerahkan buket bunga yang tampak begitu mewah.

Mili tersenyum berseri-seri. Dalam pikirannya, tidak ada orang lain yang akan bersikap manis seperti ini selain suaminya sendiri.

Dengan perasaan membuncah penuh bahagia, Mili mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor David.

"David! Terima kasih bunganya," ucap Mili ceria begitu sambungan telepon terhubung.

Di seberang telepon, David yang sedang memeriksa berkas di kantornya mengerutkan kening. Suaranya terdengar heran.

"Bunga? Bunga apa, Sayang?"

Senyum di bibir Mili seketika menyusut. Rasa bingung dan cemas mendadak menyergap dadanya.

"B-bukan kamu yang mengirimkannya?" tanya Mili terbata-bata, menatap buket mawar merah di tangannya dengan tatapan yang kini berubah ragu dan takut.

Keheningan mencekat sejenak di seberang telepon.

Di ruang kerjanya yang luas, cengkeraman David pada pulpennya mengeras hingga jemarinya memutih. Aura dingin dan berbahaya seketika memancar dari tubuhnya.

"Bukan aku, Sayang," jawab David dengan suara yang mendadak berubah berat dan dalam, mencoba sekuat tenaga menahan gejolak amarah yang mulai membakar dadanya.

"Apakah ada kartu ucapan di buket bunga itu?"

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Mili meraih kartu kecil bersampul elegan yang terselip di antara kelopak mawar merah tersebut.

Ia membukanya dan membaca kalimat yang tertera di sana.

"'Untuk wanita tercantik, semoga harimu selalu indah...'" Mili membacanya pelan dengan suara bergetar.

"T-tidak ada nama pengirimnya, David."

"Jonas!" panggil David tegas tanpa mematikan sambungan teleponnya, membuat asisten pribadinya yang berdiri di dekat pintu langsung mendekat.

"Periksa CCTV rumah sekarang. Cari tahu siapa yang mengantarkan paket bunga untuk Mili hari ini. Lacak sampai ke toko bunganya."

"Baik, Tuan," jawab Jonas sigap dan segera melangkah cepat keluar ruangan.

Mili yang mendengar instruksi itu makin mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"David... aku takut. Bunga ini... apa aku buang saja?"

"Jangan takut, Sayang. Ada aku," bisik David lembut, berupaya menenangkan ketakutan istrinya meskipun matanya kini menyala penuh kilat ancaman.

"Minta pelayan untuk membuang bunga itu ke tempat sampah sekarang juga. Dan jangan sentuh apa pun yang datang dari luar tanpa sepengetahuanku."

"Iya, David..."

"Tunggu aku di rumah. Aku akan pulang sekarang juga," ucap David mantap sebelum mematikan telepon.

Ia menyambar jas mewahnya di sandaran kursi dengan gerak cepat.

Di dalam kepalanya, David sudah bisa menebak siapa dalang di balik permainan murahan ini.

Hanya ada satu orang yang cukup gila dan lancang untuk mencoba memprovokasi dirinya dan mengganggu istrinya—Andrew.

Mobil spor hitam milik David membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, meninggalkan raung mesin yang beringas di sepanjang jalan.

Wajah David mengeras, rahangnya menegang rapat.

Setiap detik terasa menyiksa saat membayangkan ketakutan di wajah Mili.

Tak butuh waktu lama, kendaraan mewah itu berhenti tepat di depan teras utama kediamannya.

David melangkah lebar masuk ke dalam rumah. Aura intimidatif yang terpancar dari tubuhnya membuat para pelayan yang berpapasan langsung menundukkan kepala rapat-rapat.

"David!"

Mili yang menunggu di ruang tengah langsung berdiri dari sofa dan berlari kecil menghampiri suaminya.

Tanpa ragu, David merengkuh tubuh ramping istrinya ke dalam pelukan hangat, mengusap punggung Mili untuk menenangkan napasnya yang masih sedikit memburu.

"Aku di sini, Sayang. Kamu aman," bisik David lembut, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang tajam bak sembilu menatap ke arah tempat sampah di pojok ruangan tempat mawar merah itu dihempaskan.

Tak lama kemudian, Jonas melangkah mendekat dengan tablet digital di tangannya.

Wajah asisten kepercayaan itu tampak sangat serius.

"Tuan David," panggil Jonas penuh hormat.

"Saya sudah melacak pengirim bunga tersebut. Kurir membawanya langsung dari Toko Bunga Floral Grace di pusat kota. Dan berdasarkan catatan pesanan serta transaksi pembayaran..."

Jonas menggantung kalimatnya sejenak, menatap ke arah Mili sebelum melanjutkan dengan suara berat. "...pesanan itu dibuat atas nama Tuan Andrew."

Mili membelalakkan matanya terkejut. "Mas Andrew?"

David tidak tampak terkejut sedikit pun. Bibirnya justru menyunggingkan senyum miring yang begitu dingin dan mematikan—sebuah senyuman yang menandakan bahwa batas kesabarannya telah benar-benar dilampaui.

"Ternyata dia benar-benar bosan hidup," gumam David parau.

Ia melepaskan pelukannya dari Mili perlahan, lalu menatap mata istrinya dengan penuh rasa hangat.

"Mili, masuklah ke kamar dan lanjutkan pelajaranmu bersama para guru. Ada sedikit 'urusan bisnis' yang harus aku selesaikan dengan kakakku."

"David... kamu tidak akan melakukan hal berbahaya, kan?" tanya Mili cemas, menggenggam erat lengan jas David.

David merapikan rambut Mili yang terurai, lalu mengecup keningnya lama.

"Tidak, Sayang. Aku hanya akan memberinya hadiah balasan untuk acara resepsi pernikahannya nanti."

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!