Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukun yang Keliru
Angkot yang membawa Manda kabur dari Layung Koneng berhenti di terminal kota terdekat. Wajahnya yang masih menyisakan bekas kemerahan bercampur luka bakar samar, ia tutupi rapat-rapat dengan masker dan syal, menahan tatapan penasaran para penumpang lain yang sesekali melirik curiga.
Sesampainya di kamar kos, Manda langsung menelepon Abah Jiwo dengan suara yang masih bergetar hebat menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk.
"Bah! Aku gagal! Wajahku kebakar lagi di depan seluruh warga desa!" jerit Manda begitu sambungan telepon tersambung.
"Astaga, Neng. Abah sudah bilang, itu. sangat berbahaya!" jawab Abah Jiwo, suaranya terdengar begitu prihatin, "sekarang gimana kondisi Neng?"
"Sakit banget, Bah. Dan yang lebih parah, sekarang semua warga desa itu udah tau kalau aku yang ngirim gangguan ke Raya." keluh Manda frustrasi, air matanya kembali menetes membasahi pipinya yang masih terasa perih.
Abah Jiwo terdiam sejenak di ujung telepon, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang begitu berat sebelum akhirnya bicara dengan nada yang jauh lebih serius dari biasanya.
"Neng," ucap Abah Jiwo pelan " Abah rasa sudah waktunya Neng menentukan pilihan. Energi Neng sudah terlalu banyak terpakai buat menyerang Raya, sementara ikatan pelet Neng sama Jaka sudah melemah drastis. Kalau Neng terus maksain menyerang Raya, saya khawatir ikatan itu bakal putus total, dan Jaka bakal sadar sepenuhnya."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Manda begitu keras. Ia teringat kembali sikap Jack yang belakangan semakin dingin dan jauh berbeda dari kemesraan yang biasa ia rasakan, sebuah tanda yang selama ini ia coba abaikan namun kini tak lagi bisa ia sangkal.
"Maksud Abah, saya harus pilih salah satu?" tanya Manda, suaranya mulai tenang meski masih menyisakan kegetiran.
"Betul, Neng. Kalau Neng mau fokus balikin Jaka sepenuhnya ke pelukan Neng, Abah bisa bantu kuatkan lagi ikatan peletnya. Tapi itu artinya, Neng harus berhenti dulu ngincar Raya buat sementara waktu, biar energinya nggak kebagi-bagi." jelas Abah Jiwo, "Tapi kalau Neng tetap keukeuh mau balas dendam ke Raya duluan, Abah nggak bisa jamin Jaka bakal tetap jadi milik Neng."
Manda terdiam lama, pikirannya berkecamuk hebat mempertimbangkan dua pilihan yang sama-sama begitu penting baginya. Di satu sisi, dendamnya pada Raya sudah begitu membara. Namun di sisi lain, Jack adalah alasan utama dari semua perbuatan jahat yang selama ini ia lakukan.
Kalau gue sampai kehilangan Jaka gara-gara terlalu fokus balas dendam sama perempuan itu, semua usaha gue selama ini bakal sia-sia, batinnya mempertimbangkan.
"Aku pilih Jaka dulu, Bah." ucap Manda, suaranya sudah lebih mantap, " Kuatkan lagi ikatan pelet itu. Soal Raya, biar nanti aku cari cara lain buat balas dendam, dengan atau tanpa bantuan Abah."
Abah Jiwo menghela napas lega mendengar keputusan itu, meski ada sedikit kekhawatiran yang tersirat dari nada bicaranya selanjutnya.
"Baik Neng, Abah akan siapkan ritual penguatan ikatannya, tapi ini butuh waktu dan bahan-bahan khusus. Kasih Abah waktu tiga hari. "jelas Abah Jiwo, "Sementara itu, Neng coba obati dulu luka di wajah, biar Jaka tidak curiga saat bertemu nanti. "
" Iya Bah. "
🌾🌾🌾🌾
Tiga hari kemudian, Jack akhirnya pulang dari perjalanan dinasnya yang panjang. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi kegelisahan aneh tentang sosok Raya yang terus menghantui benaknya, sebuah kerinduan yang asing namun begitu kuat.
Saat ia membuka pintu kamar kos, Jaka mendapati Manda sedang menunggunya dengan balutan gaun tidur tipis berwarna merah muda. Wajahnya yang masih menyisakan sedikit bekas kemerahan disamarkan dengan riasan tebal. Lalu semua kegelisahan itu seketika lenyap begitu saja, digantikan oleh gelombang perasaan yang begitu meluap tak terkendali.
"Sayang, kamu udah pulang. " sapa Manda lembut, suaranya begitu manja.
Jaka mulai oleng dan melupakan kegelisahan tentang sosok Raya. Berganti dengan nafsv menggebu-gebu karena sudah lama tak bercocok tanam sama Manda. Tentu ini adalah hasil dari ritual penguatan ikatan yang baru saja selesai Abah Jiwo lakukan beberapa jam sebelumnya.
Jack menatap Manda dengan mata yang begitu berbinar, seolah sosok di hadapannya itu adalah wanita paling sempurna yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Segala keraguan dan kebingungan yang sempat menghantuinya selama perjalanan dinas, kini terhapus begitu saja seperti tak pernah ada.
"Manda sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Jack, suaranya begitu penuh gairah.
Lelaki yang 4 tahun lebih muda dari Manda itu langsung melangkah cepat dan memeluk tubuh pacarnyaerat-erat, seolah tak sanggup lagi menahan rasa rindu yang begitu meluap.
"Aku juga kangen, Sayang," balas Manda, tersenyum penuh kemenangan di balik pelukan itu, matanya berkilat puas menyaksikan betapa efektifnya ritual yang baru saja Abah Jiwo lakukan.
Jack mengecup kening Manda dengan lembut, tak sedikit pun menaruh curiga pada bekas kemerahan samar yang masih tersisa di wajah kekasihnya itu.
"Muka kamu kenapa, kok agak merah gini?" tanya Jack, meski nada suaranya lebih terdengar khawatir dibanding curiga.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kemarin aku kena alergi produk skincare baru, sekarang udah mendingan kok. " jawab Manda cepat, alasan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya.
Jack mengangguk percaya begitu saja, tangannya mengusap lembut pipi Manda yang masih terasa sedikit kasar akibat bekas luka bakar itu.
"Kamu tetap cantik kok, meski lagi alergi gini," puji Jack tulus, membuat Manda semakin yakin bahwa ikatan sihir yang baru saja diperkuat itu bekerja jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Malam itu, Jack begitu tergila-gila pada Manda, memperlakukannya dengan kemesraan yang bahkan lebih intens dari yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. Segala kesadaran yang sempat mulai kembali selama perjalanan dinasnya, kini terkubur begitu dalam oleh kekuatan sihir yang begitu memabukkan, membuat Jack sepenuhnya terjebak dalam ilusi cinta yang sesungguhnya begitu palsu dan menyesatkan.
Manda tersenyum puas menyaksikan hasil kerjanya malam itu, sebuah kelegaan besar menyelimuti hatinya karena berhasil mengamankan posisinya di sisi Jack. Namun di balik kepuasan itu, dendamnya pada Raya masih terus membara, menunggu waktu yang tepat untuk kembali dilampiaskan.
Seperti rutinitas saiton, mereka merayakan malam pertemuan itu dengan bertukar peluh di kamar kost nomor 5. Entah itu penyatuan manusia dengan setan, atau keduanya memang setan? # Ekhhhh
🌾🌾🌾🌾
Beberapa hari kemudian.
Ketika Jack sedang sibuk bekerja di dealer, Manda memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari alternatif lain dalam membalas dendam pada Raya. Ia mencari informasi lewat berbagai forum online dan grup media sosial yang membahas hal-hal berbau mistis, mencari dukun lain yang mungkin bisa membantu rencananya tanpa harus melibatkan Abah Jiwo yang kini sudah fokus pada urusan ikatan peletnya dengan Jack.
Setelah beberapa hari mencari, ia akhirnya mendapatkan rekomendasi dari salah satu forum. Seorang dukun bernama Ki Bagas yang katanya sangat ampuh dalam urusan santet dan pelet, dengan reputasi yang begitu tinggi di kalangan tertentu meski tersembunyi dari mata umum.
Manda menghubungi nomor yang tertera, membuat janji temu di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Ia memastikan tak ada seorang pun yang mengenalinya di sana.
Sebuah rumah kayu sederhana dengan halaman yang dipenuhi berbagai tanaman herbal dan beberapa pusaka kuno yang tergantung di dinding. Rumahnya lebih menyeramkan dari rumah Abah Jiwo.
Ki Bagas sendiri adalah lelaki paruh baya berusia sekitar 50 tahun, berperawakan gemuk dengan mata yang begitu tajam dan menyeramkan. Seringai di wajahnya begitu mencurigakan sejak pertama kali menyambut kedatangan Manda.
"Silakan masuk, Neng. Saya sudah tunggu dari tadi " sapa Ki Bagas dengan nada yang terdengar begitu ramah, meski ada sesuatu yang begitu janggal dari cara ia menatap Manda dari ujung kaki hingga kepala.
Manda melangkah masuk dengan hati-hati, duduk di kursi kayu sederhana yang disediakan sambil mulai menjelaskan maksud kedatangannya.
"Saya butuh bantuan untuk menyingkirkan seseorang yang sudah ganggu hidup saya, Ki. Kalau bisa, sampai dia bener-bener hancur lebur." jelas Manda tegas, meski dalam hati masih menyimpan sedikit kewaspadaan terhadap sosok dukun yang begitu asing baginya itu.
Ki Bagas mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi yang sudah disiapkan, matanya terus menatap Manda dengan tatapan yang begitu tak nyaman untuk dilihat.
"Bisa, Neng. Tapi santet yang Neng minta ini levelnya tinggi, butuh ritual khusus dan bahan-bahan yang nggak murah. " jelas Ki Bagas, " Belum lagi kalau targetnya sudah punya perlindungan kuat kayak yang Neng ceritain tadi, saya perlu waktu dan tenaga ekstra buat menembus pertahanannya itu."
"Berapa pun biayanya, saya sanggup bayar, Ki." jawab Manda mantap, sudah bertekad bulat untuk melakukan apa pun demi menuntaskan dendamnya.
Ki Bagas tersenyum licik, matanya berkilat penuh maksud tersembunyi yang begitu jelas terpancar meski Manda belum sepenuhnya menyadarinya.
"Kalau soal biaya materi, itu gampang, Neng. Tapi buat ritual sekelas ini, saya butuh juga persembahan energi khusus, yang cuma bisa didapat dari kedekatan fisik antara saya dan Neng," ucap Ki Bagas, nada suaranya berubah begitu ambigu, membuat Manda mulai merasakan firasat tak nyaman.
"Maksud Ki apa?" tanya Manda waspada, tubuhnya mulai menegang menyadari arah pembicaraan yang begitu mencurigakan itu.
Ki Bagas tertawa kecil, bergerak mendekat dengan gerakan yang begitu perlahan namun penuh intimidasi.
"Neng pasti udah paham maksud saya. Ilmu tinggi butuh pengorbanan yang setimpal, dan yang saya butuhkan sekarang adalah kehangatan tubuh Neng buat jadi media penyalur energi." jelas Ki Bagas terang-terangan, seringainya semakin lebar melihat ketakutan yang mulai muncul di wajah Manda.
Manda merasakan dadanya sesak, antara jijik dan takut menghadapi permintaan yang begitu tak senonoh itu. Namun bayangan dendamnya pada Raya, ditambah rasa putus asa karena sudah gagal berkali-kali, membuat pertimbangannya mulai goyah.
"Kalau saya keberatan, gimana?" tanya Manda, suaranya bergetar menahan berbagai emosi yang begitu bertumpuk.
"Yasudah, silakan cari dukun lain, Neng. Tapi saya jamin, nggak akan ada yang sanggup nembus perlindungan sekuat itu kecuali saya." jawab Ki Bagas jumawa, meski nada suaranya menyimpan ancaman terselubung yang begitu jelas.
Manda terdiam lama, pikirannya berkecamuk hebat antara harga diri dan dendam yang begitu membara. Ia teringat kembali wajah Raya yang begitu bahagia bersama Razka di acara Panen Raya itu, sebuah pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya, membuat api dendamnya semakin berkobar tak terkendali.
Malam itu di rumah sederhana milik Ki Bagas yang begitu sunyi dari keramaian dunia luar, Manda akhirnya mengambil keputusan yang begitu berat, mengorbankan harga dirinya sendiri demi sebuah dendam yang tak kunjung padam.
" Baiklah, saya bersedia. "
Ki Bagas terkekeh kecil.
" Silahkan masuk ke kamar dan l3paskan seluruh bajumu, saya akan segera menyusul. "
Semalam suntuk Manda melayani Ki Bagas dengan rasa jijik. Ia keluar dari rumah itu keesokan paginya dengan hati yang begitu hampa, matanya kosong menatap jalanan yang mulai ramai oleh aktivitas pagi, membawa serta sebuah jimat kecil berwarna hitam pekat yang diberikan Ki Bagas sebagai media untuk melancarkan rencana balas dendamnya pada Raya.
"Ini belum selesai, Raya! " gumamnya pelan pada diri sendiri,
Air mata yang mengalir di pipinya kini bukan lagi karena rasa sakit fisik, melainkan sebuah kehampaan yang begitu dalam atas semua pengorbanan yang telah ia lakukan demi kebencian yang terus ia pelihara.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target