Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran sosok yang dinanti
Bel pulang akhirnya berbunyi nyaring. Suara resleting tas ditarik dan obrolan para siswa langsung memenuhi ruang kelas.
"Akhirnyaa!"
"Jangan lupa tugasnya ya, Guys!"
"Eh, tungguin gue di parkiran!"
Andito menutup buku tulisnya. Memasukkannya ke dalam tas, lalu mengenakan jaket varsity hitam yang sedari tadi tersampir di sandaran kursi.
Resletingnya ia tarik hingga dada.
Namun saat hendak beranjak dari bangkunya, tatapannya tanpa sengaja melirik ke samping.
Yuna masih duduk di bangkunya. Dirinya nampak sedang merapikan buku-buku yang selalu tersusun nyaris tegak lurus. Seolah ingin tetap memastikan setiap sudutnya sejajar sebelum dimasukkan ke dalam tas.
Seperti biasa.
Terlalu rapi.
Bibir Andito sedikit terbuka.
Yun... nanti jam empat jadi kan?
Kalimat itu sudah hampir keluar.
Atau mungkin...
Jangan lupa ya.
Namun entah mengapa, semua kata itu berhenti di tenggorokan.
"Ah... nanti juga kalau dia jadi datang pasti ketemu."
Ia mengembuskan napas pelan.
"...Yaudah."
Andito memanggul tasnya.
"Gue cabut duluan ya."
Yuna hanya mengangguk kecil tanpa jawaban.
....
Sekitar setengah jam kemudian, lapangan basket sekolah mulai ramai.
Seragam Pramuka telah berganti menjadi jersey latihan berwarna biru tua dengan lis putih, lengkap dengan celana pendek yang lebih longgar.
Andito mengikat tali sepatunya. Lalu mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya.
"Dit! Satu tim sama gue!" teriak Rio dari tengah lapangan.
"Yoi!"
Pak Firman berdiri di pinggir lapangan sambil membawa peluit.
"Yang baru datang, pemanasan dulu! Keliling lapangan dua putaran!"
"Iya, Pak!"
Seluruh anggota ekstrakurikuler mulai bergerak.
Ada yang melakukan stretching. Ada yang latihan lay-up. Beberapa kakak kelas bahkan sudah saling adu dribble sambil bercanda.
Suasana sore itu jauh lebih hidup dibanding pelajaran olahraga pagi tadi. Dan inilah dunianya Andito.
Begitu sesi latihan dimulai, bola berpindah cepat dari tangan ke tangan.
"Oper!"
"Back! Back!"
"Jangan diem!"
Andito menerima umpan.
Satu dribble.
Dua dribble.
Namun...
Alih-alih mengamati pergerakan lawan, pandangannya justru melirik ke arah koridor sekolah. Koridor yang menghubungkan gedung kelas menuju lapangan.
"Belum datang ya..."
Operan berikutnya datang lagi.
Andito menangkapnya.
Lalu...
Sekilas lagi.
Matanya mencari sosok berkacamata dengan rambut pendek yang sejak siang tadi memenuhi pikirannya.
Namun koridor itu...
Kosong.
Apa dia lupa?
Atau...
Memang nggak jadi?
"Woi!"
Suara keras memecah lamunannya.
"Fokus!"
"Oh iya!"
Andito tersentak. Bola yang hampir direbut lawan buru-buru ia tarik kembali.
"Sorry, sorry!"
Ia kembali berlari mengejar permainan. Tetapi setiap kali permainan berhenti...
Entah saat bola keluar lapangan.
Entah saat pergantian pemain.
Entah ketika Pak Firman meniup peluit...
Tatapannya selalu kembali ke tempat yang sama.
Ke arah koridor.
Menunggu...
Seseorang yang bahkan belum tentu datang.
Ia pun menggelengkan kepalanya kasar. Mencoba menepis kemungkinan yang mungkin cukup sulit untuk terjadi.
....
Beberapa menit permainan dimulai, ia berlari kecil ke pinggir lapangan dengan napas yang masih memburu. Keringat menetes dari pelipisnya, membasahi garis rahang hingga ujung dagu.
Namun baru saja hendak mengambil botol minum, suara Pak Firman memanggilnya.
"Andito."
Andito refleks menurunkan botolnya.
"Iya, Pak?"
Pak Firman mendekat. Peluit masih menggantung di lehernya.
"Kamu kenapa, Dit?"
Andito mengernyit.
"Kenapa apanya, Pak?"
"Dari tadi mainmu nggak seperti biasanya?" Sering telat nutup ruang. Operannya juga beberapa kali salah."
Pak Firman menatapnya beberapa detik.
"Ada masalah apa?"
Andito refleks menggeleng cepat.
"Enggak ada sih, Pak."
Ia tertawa kecil.
"Mungkin cuma agak pening gara-gara kebanyakan tugas hahaha..."
Tawanya terdengar begitu hambar, bahkan bagi dirinya sendiri.
Pak Firman pun mengangguk pelan mencoba mengerti.
"Kalau begitu... istirahat dulu. Nggak usah dipaksa."
Pak Firman menoleh ke tribun beton. Lalu meniup peluit dua kali sembari mengayunkan tangannya ke udara sekali. Isyarat yang langsung dipahami pertanda pergantian pemain.
Andito menyerahkan rompi latihannya kepada Rio yang sudah melompat-lompat kecil untuk mempersiapkan staminanya.
"Masuk, Yo."
"Yoi!"
Rio menepuk bahunya sekilas sebelum berlari memasuki lapangan. Sementara Andito berjalan menuju bawah pohon ketapang yang tumbuh di sisi lapangan basket.
Bayangannya mulai memanjang mengikuti matahari sore. Di sana sudah ada beberapa anak dari kelas sebelah yang sama-sama sedang beristirahat.
Ada yang rebahan di atas lapangan
Ada yang menuang air ke kepala.
Ada pula yang sibuk mengipas-ngipas kausnya agar cepat kering.
Andito ikut duduk. Kedua kakinya diselonjorkan lurus. Punggungnya bersandar pada batang pohon terasa kasar, namun juga sejuk.
Ia kembali membuka tutup botol untuk meredakan rasa dahaganya.
Gluk!
Gluk!
Sprutt!!
"Haaah..."
Tubuhnya memang lelah. Tetapi pikirannya justru lebih ramai dari kelihatannya.
"Pritttt!"
Peluit panjang akhirnya terdengar. Pertandingan latihan pun dihentikan.
Seluruh anggota ekstrakurikuler yang sedang duduk di bawah pohon Ketapang dan yang masih berada di tengah lapangan, mulai berkumpul membentuk setengah lingkaran di depan Pak Firman.
"Permainan yang bagus, Tim! Tapi masih banyak yang harus diperbaiki."
Pak Firman berjalan perlahan di depan mereka.
"Passing masih sering asal. Komunikasi kurang. Jangan semuanya mau jadi pencetak angka."
Ia mengepalkan tangan kanannya. Lalu menepuk telapak tangan kirinya seolah sedang menyalurkan semangat ke lubuk hati anak-anak muridnya.
"Basket itu permainan tim."
Beberapa siswa mengangguk.
"Terus..."
Tatapan Pak Firman menyapu satu per satu wajah muridnya.
"Kalau lagi di lapangan..."
"...jangan melamun."
Andito refleks mengusap tengkuknya sendiri. Meski beberapa temannya belum sadar bahwa yang disindir Pak Firman adalah dirinya.
"Perhatiin posisi teman. Perhatiin lawan."
"Chemistry itu dibangun dari saling percaya. Bukan main sendiri-sendiri."
"Siap, Pak!"
Jawaban mereka terdengar hampir bersamaan.
"Oke! Semangat, semangat!"
Pak Firman meniup peluit sekali sebagai tanda latihan benar-benar selesai. Suasana pun kembali santai.
Ada yang langsung mengambil tas.
Ada yang masih lanjut menembak bola ke ring.
Ada yang bercanda sambil saling dorong.
Namun Andito masih tetap duduk. Kedua telapak tangannya bertumpu di belakang tubuh.
Angin sore meniup rambutnya yang beberapa helai jatuh ke dahi. Ikut membawa aroma rumput yang baru selesai diinjak puluhan pasang sepatu.
Tanpa sadar, tatapannya kembali menuju koridor sekolah. Koridor yang kini mulai lengang. Hampir tak ada lagi siswa yang berlalu-lalang.
"...Belum datang juga ya."
Ia mengembuskan napas pelan.
"Seharusnya gue beraniin aja tadi buat ngingetin..."
Ia mendecak sekali.
"Tapi ya udah lah."
....
Beberapa menit berlalu, lapangan basket yang sebelumnya riuh perlahan mulai ikut lengang.
"Dit, balik yuk!" seru salah satu kakak kelas sembari menggantungkan tas di bahunya.
Andito menoleh.
"Kagak dulu, Bang. Masih pengen ngadem bentar."
Ia mengipas-ngipaskan kerah kaus basketnya.
"Oh yaudah. Ntar jangan lupa kunci gudang kalo Pak Firman pulang duluan. Abis itu... taruh aja di tempat biasanya."
"Oke, Bang."
Satu per satu mereka pun meninggalkan lapangan. Suara obrolan semakin menjauh. Kini hanya tersisa satu-dua siswa yang masih iseng berlatih menembak bola ke ring.
Di sisi lain lapangan, Pak Firman masih berdiri sambil menelepon seseorang.
"Iya, Pak... Minggu depan bisa sparing."
"...Enggak masalah kalau lapangannya dipakai sore."
"...Anak-anak juga lagi saya siapin performanya."
Andito menyandarkan kepalanya ke batang pohon ketapang. Matanya kembali melirik koridor untuk terakhir kalinya.
Masih kosong.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Keknya beneran ada urusan dia."
Namun—
"Ini..."
Suara itu.
Suara yang sejak tadi tanpa sadar ia tunggu.
Andito spontan menoleh.
Lalu mendapati seorang gadis berkacamata berdiri beberapa langkah di belakangnya. Di tangannya tergenggam satu botol minuman dingin.
"Aku kesulitan mencari minuman yang kamu rekomendasikan..."
Yuna mengangkat sedikit botol itu.
"Kantin juga sudah kosong. Makanya aku ke minimarket untuk mencarinya."
Belum sempat Yuna menyelesaikan kalimatnya—
"Ya! Makasih, Yun!"
Andito langsung bangkit. Seolah rasa lelah tiga puluh menit latihan tadi menguap begitu saja. Dengan senyum yang bahkan sulit ia sembunyikan, ia menerima botol itu.
"Makasih! Beneran makasih!"
Cklek!
Tutup botol langsung terbuka.
Gluk.
Gluk.
Gluk.
Ia meminumnya seperti orang yang baru menemukan oase di tengah padang pasir. Dalam hitungan detik, isi botol sudah berkurang hampir separuh.
"Haaah..."
"Seger banget."
"Untung kamu dateng."
Yuna berkedip pelan. Lalu pandangannya turun ke samping kaki Andito.
Di sana, masih berdiri sebuah botol minuman lain. Isinya bahkan masih tersisa hampir setengah.
Yuna kembali menatap Andito.
"Tapi..."
"Kamu sudah..."
Andito ikut melihat ke bawah.
"..."
"..."
Seketika wajahnya membeku.
Dug!
Kakinya menyenggol botol itu hingga berguling menjauh ke balik bangku beton.
"Itu..."
"Itu udah gak dingin."
Yuna memiringkan kepala.
"Gak dingin?"
"Iya!" sahutnya cepat.
"Kadang tubuh gue nggak toleran sama air yang udah anget."
Jawaban itu keluar terlalu cepat. Bahkan Andito sendiri sadar alasan itu terdengar mengada-ada.
Yuna menatapnya beberapa detik.
Lalu...
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Ada-ada saja."
sebelumnya lebar lapangan