Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Menuju Greywood
Ness menuang isi kantong kulit kecil ke meja: sisa uang muka kontrak Hollowreach, dipakai untuk menyewa dua ekor kuda beban tambahan. Ia menghitung koin dengan cepat, bibirnya bergerak tanpa suara, lalu mendorong sisa uang itu ke sudut meja. "Kalau kalian nekat pergi ke Greywood tanpa perbekalan cukup, jangan berharap aku menangis di pemakaman."
"Kita tidak akan menemui Draymoor dulu," kata Arden, memeriksa tali kekang kudanya, menariknya dua kali untuk memastikan kencang. "Kalau kita datang tanpa bukti, dia akan tersenyum, minta maaf soal salah paham, dan urusan selesai tanpa jawaban apa pun. Kita butuh sesuatu yang tidak bisa dibantahnya."
"Kamp ekspedisi lama," gumam Corym, memeriksa perlengkapan di pelana kudanya sendiri. "Kalau masih ada yang tersisa di sana."
"Sepuluh bulan cukup lama untuk hujan dan binatang menghapus jejak," kata Ness. "Kalian mungkin cuma menemukan tanah kosong."
"Mungkin," jawab Arden. "Tapi surat itu tidak menyuruh kami menyerah kalau susah."
Petra sudah berdiri di ambang pintu, ransel tersampir rapi di bahu, tali pengikatnya diperiksa dua kali sebelum Arden sempat menegurnya soal itu. Sejak Hollowreach ia belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun secara langsung: persiapan yang buru-buru adalah cara tercepat membuat orang lain menanggung akibatnya.
"Rutenya lewat jalur dagang lama, lalu masuk ke wilayah tak berpeta," kata Tomas, membentangkan gulungan peta lusuh di meja, ujungnya menggulung kembali begitu dilepaskan hingga ia harus menahannya dengan tumpukan koin Ness. Jarinya berhenti di area kosong tanpa nama, hanya tulisan kecil di sudut: di luar batas pemetaan resmi. "Setelah titik ini, kita mengandalkan mataku dan mata Ashe. Tidak ada jaminan."
Doran bersiul pelan; Ashe menyahut dari luar jendela, mengepakkan sayap kulitnya sekali sebelum diam lagi, cakarnya mencengkeram erat kusen jendela kayu.
Mereka berangkat sebelum tengah hari: Arden, Corym, Petra, Tomas, dan Doran dengan Ashe terbang rendah di atas mereka. Lima orang untuk medan yang menurut catatan lama Draymoor sendiri sudah cukup untuk menghabisi separuh rombongan berjumlah dua belas.
Jalur dagang berakhir lebih cepat dari perkiraan siapa pun. Tanah yang tadinya rata dan berdebu berubah jadi akar-akar pohon yang menonjol seperti tulang di bawah kulit, memaksa kuda melangkah pelan-pelan, kadang berhenti mendadak saat kaki mereka tersangkut. Udara berubah lembap, berat, membawa bau tanah basah bercampur sesuatu yang lebih tajam, seperti besi berkarat lama. Suara langkah kuda meredam sendiri di atas lapisan daun busuk setebal telapak tangan.
"Kau merasakannya juga?" tanya Corym.
"Bau logam," jawab Arden. "Bukan darah segar. Terlalu lama untuk itu."
Tomas turun dari kuda, berjongkok memeriksa tanah, ujung jarinya menekan lembut permukaan lumpur kering. "Roda gerobak. Tua, tapi arahnya jelas. Mereka lewat sini."
Petra memperhatikan gerakan Tomas dari dekat tanpa menyela, mencatat dalam diam cara ia membaca tanah seolah tanah itu punya bahasa sendiri. Beberapa bulan lalu ia akan mendesak maju sendirian, ingin membuktikan diri bisa menemukan jejak lebih cepat. Sekarang ia hanya menunggu, tangan di gagang pedang, mata memindai bayangan pepohonan di sekitar mereka.
"Bagus," kata Arden pelan, cukup pelan agar hanya Petra yang mendengar.
Petra tidak menjawab, tapi bahunya sedikit turun, tegang yang biasa menghiasi wajahnya mereda sesaat.
Hutan makin rapat seiring mereka masuk lebih dalam. Cahaya matahari tersaring lewat kanopi jadi bercak-bercak kecil yang bergerak di tanah, dan suara burung yang tadi ramai perlahan menghilang sama sekali, digantikan derik serangga yang terasa terlalu keras di tengah keheningan. Sesekali dahan patah sendiri tanpa sebab jelas, membuat Petra menoleh cepat sebelum sadar itu hanya berat embun pada ranting tua. Ashe terbang berputar dua kali di atas mereka sebelum menukik turun mendekati Doran, mengeluarkan suara pendek yang membuat Doran mengangkat tangan memberi tanda berhenti.
"Ada sesuatu di depan," kata Doran. "Ashe tidak mau terbang lebih jauh dari ini tanpa alasan jelas."
Doran menenangkan Ashe dengan tepukan pelan di leher, meski tangannya sendiri tidak sepenuhnya berhenti gemetar. Familiar itu biasanya tenang bahkan di tengah pertempuran; keengganannya kali ini terasa lebih berat dari sekadar naluri liar.
Mereka berhenti di tepi jurang kecil berselimut kabut tipis, tempat sungai kering membelah tanah seperti bekas luka lama.
Saat itulah Corym menarik kekang kudanya mendekat ke Arden, menjaga jarak dari yang lain, suaranya turun jadi nada yang biasa dipakainya saat ingin bicara tanpa didengar seluruh rombongan.
"Aku ingin bicara sesuatu."
"Aku tahu nada itu," kata Arden. "Katakan saja."
Corym menatap lurus ke jurang di depan mereka, bukan ke Arden. "Sejak Hollowreach, aku terus memikirkan apa yang Petra katakan. Bukan caranya, caranya salah. Tapi isinya." Ia berhenti sebentar, rahangnya mengeras. "Kita tidak bisa terus jadi kelompok kecil yang menghindar dari sorotan, Arden. Bukan lagi. Dunia sudah tahu nama kita sekarang, suka atau tidak."
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, kenapa kita masih bertindak seolah bisa kembali jadi seperti dulu?"
Arden diam. Kuda di bawahnya melangkah gelisah, merasakan sesuatu dalam tubuh penunggangnya yang tidak terucap lewat kata. "Karena aku belum tahu jadi apa selain itu."
Corym menoleh, menatapnya lama. "Itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar darimu soal ini."
"Jangan terbiasa. Aku tidak janji akan sesering itu."
Sudut bibir Corym bergerak sedikit, hampir jadi senyum, sebelum kembali serius. "Aku tidak minta kau berubah jadi orang lain. Aku cuma minta kau berhenti berpura-pura pilihan ini masih ada."
Arden tidak menjawab segera. Ia mengencangkan sarung tangannya satu per satu, gerakan kecil yang tidak perlu, hanya cara tangannya sibuk sementara pikirannya mencari jalan keluar yang tidak ada.
"Tujuh tahun lalu, waktu kau mulai memimpin," lanjut Corym, "kau bilang kau cuma ingin tempat di mana orang-orang bisa pulang malam ini juga. Bukan jadi legenda. Bukan jadi nama yang disebut di setiap balai Guild."
"Aku masih ingin itu."
"Aku tahu. Masalahnya bukan soal kau berubah keinginan. Masalahnya dunia di luar sana tidak peduli apa yang kau inginkan lagi." Corym menghela napas, suaranya melunak. "Aku bukan Petra. Aku tidak mendorongmu untuk jadi terkenal. Aku cuma tidak mau kau menghadapi apa pun yang datang berikutnya sambil masih berpura-pura bisa menghindar."
Arden menatap jurang di depan mereka, kabut tipis yang bergerak pelan di dasarnya, dan untuk pertama kalinya sejak keberangkatan, tidak segera mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan memikirkannya," katanya akhirnya.
"Itu saja yang kuminta." Corym menepuk bahu Arden sekali, singkat, lalu menarik kekang kudanya kembali ke posisi semula di depan rombongan, seolah percakapan itu tidak pernah terjadi.
Petra dan Tomas sudah menemukan jalur turun di sisi jurang, jalur sempit berbatu yang tampaknya pernah dilalui manusia, meski sudah lama ditumbuhi lumut tebal. Doran memberi isyarat pada Ashe untuk terbang lebih tinggi, memetakan area dari atas sebelum mereka turun sepenuhnya.
Mereka bergerak pelan menyusuri jalur itu, satu per satu, tangan Petra menyentuh dinding batu untuk keseimbangan, napas Tomas teratur meski jalur makin curam. Kerikil lepas sesekali menggelinding dari bawah kaki mereka, jatuh ke dasar jurang dengan suara berdenting kecil yang terasa terlalu keras di tengah sunyi. Bau logam berkarat makin kuat semakin mereka turun, bercampur bau tanah yang tidak pernah tersentuh matahari langsung.
Di dasar jurang, Corym menunjuk sesuatu yang setengah tertutup akar pohon tua: potongan kain compang-camping, warnanya sudah pudar jadi abu-abu kusam, tapi bentuknya masih bisa dikenali sebagai bagian dari jubah ekspedisi.
"Sepuluh bulan," gumam Tomas, memeriksa kain itu tanpa menyentuhnya langsung, hanya mengamati jahitannya dari jarak dekat. "Dan masih ada sisa di sini. Berarti tidak ada yang pernah datang membersihkan."
Arden berjongkok di sampingnya, menatap kain itu lama sebelum berdiri kembali, mengibaskan tanah dari lututnya. "Terus jalan. Kita cari kampnya."
Dari atas, suara Ashe terdengar berbeda, lebih tajam, berulang-ulang, membuat semua orang di bawah mendongak serentak. Doran mendengarkan sebentar, wajahnya berubah, rahangnya mengencang.
"Ashe menemukan sesuatu," katanya, sudah bergerak menaiki jalur curam menuju titik pandang terbuka di tebing seberang jurang, isyarat tangan meminta yang lain mengikuti.
Butuh waktu untuk mendaki keluar dari jurang dan mencapai posisi Doran di puncak tebing seberang, kaki mereka licin oleh lumut dan tanah lembap. Ketika mereka sampai, matahari sore sudah mulai memerah di ujung cakrawala, melempar cahaya panjang ke lembah di bawah, mewarnai puncak-puncak pohon jadi keemasan pudar.
Doran berdiri diam, menatap ke arah sesuatu yang tidak terlihat dari posisi yang lain, satu tangannya masih terangkat memberi isyarat pada Ashe untuk tetap tinggi di udara.
Arden mendekat, mengikuti arah pandangnya, napasnya sedikit tersengal karena pendakian terakhir.
Di kejauhan, di tengah lembah terbuka yang dikelilingi pepohonan tua, berdiri reruntuhan kamp: tenda-tenda robek yang tinggal kerangka kayunya, perapian yang sudah lama padam dengan abu menghitam masih terlihat dari jarak jauh, dan di sekelilingnya, tersebar terlalu rapi untuk kebetulan, bekas-bekas yang hanya bisa diartikan satu cara.
Corym berdiri di samping Arden, diam sesaat sebelum bersuara, suaranya lebih rendah dari biasa. "Itu bukan bekas badai."
Petra mendekat dari belakang, napasnya masih tersengal karena pendakian. Ia menatap lembah di bawah lama-lama sebelum bicara, suaranya kehilangan nada ringan yang sempat muncul sepanjang perjalanan. "Itu terlalu rapi untuk serangan binatang liar."
"Karena bukan binatang liar," kata Tomas, ikut mendekat, matanya menyipit menatap pola sebaran puing di kejauhan. "Lihat susunan tendanya. Ada yang runtuh ke dalam, bukan keluar. Seperti diserang dari tengah, bukan dari luar."
Doran menurunkan tangannya, memberi isyarat pada Ashe untuk turun mendekati sebuah titik di ujung lembah, lalu naik lagi dengan gerakan gelisah yang tidak biasa dari familiar setenang itu.
"Kita perlu turun ke sana," kata Arden, meski suaranya sendiri terdengar kurang yakin dari biasanya. "Sebelum gelap."
Bukan kamp yang ditinggalkan karena kehabisan perbekalan.
Kamp yang diserang.