Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penentuan di Lorong Sempit dan Pukulan Telak Sang Miliader
Matahari perlahan-lahan tergelincir ke ufuk barat.
Meninggalkan bias warna jingga kemerahan yang memantul di atas genangan air sisa hujan sore tadi di sepanjang lorong sempit perkampungan kumuh.
Suasana malam di kawasan itu biasanya diwarnai oleh hiruk-pikuk suara anak kecil yang berlarian.
Suara teriakan para ibu rumah tangga memanggil anaknya pulang.
Atau suara deburan ember plastik dari warung-warung tetangga.
Namun, malam ini, udara terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Ada keheningan yang ganjil dan mencurigakan merayap di balik remang-remang lampu jalan yang berkedip-kedip redup.
Seolah-olah alam semesta sedang menarik napas panjang.
Bersiap menyambut sebuah badai besar yang siap menghantam tanpa ampun.
Di dalam warung kecilnya, Kirana tampak sibuk membereskan sisa-sisa piring kotor bekas pelanggan terakhir yang datang maghrib tadi.
Tangannya bergerak lincah.
Namun sesekali berhenti ketika ia mendengar suara derap langkah kaki asing melintas di depan gang.
Wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
Tidak bisa disembunyikan meskipun ia berusaha tetap tenang di hadapan Andra.
Sejak kejadian pagi tadi di mana Doni mempermalukan diri dan diusir setelah tangannya dipelintir.
Kirana tahu bahwa mantan suaminya itu tidak akan pernah tinggal diam.
Doni adalah tipe pria pendendam yang harga dirinya terluka parah di hadapan orang banyak.
Dan ancaman untuk membawa preman terminal dalam skala besar bukanlah gertakan kosong belaka.
Andra berdiri di dekat pintu masuk warung.
Mengenakan jaket kain usang yang sama seperti hari sebelumnya.
Kedua tangannya terlipat di dada.
Sementara tatapan matanya yang tajam menembus kegelapan malam ke arah ujung gang utama.
Meskipun penampilannya tampak seperti seorang pria melarat tanpa masa depan.
Postur tubuh dan ketenangan mutlak yang dipancarkannya sama sekali tidak mencerminkan orang biasa.
Ia bisa merasakan getaran langkah kaki yang terkoordinasi dari kejauhan.
Sebuah pola kedatangan sekelompok orang dalam jumlah banyak yang bergerak mendekati wilayah ini dengan tujuan destruktif.
"Kir," panggil Andra dengan suara berat yang tenang.
Memecah kesunyian di dalam warung.
Kirana menoleh sekumpulan piring di tangannya diletakkan perlahan ke dalam bak cuci.
"Iya, Mas?" sahut Kirana dengan suara sedikit bergetar.
"Masuklah ke dalam bilik di belakang."
"Kunci pintunya dari dalam, dan jangan keluar apapun yang terjadi di luar sini."
Perintah Andra tanpa mengalihkan pandangannya dari ujung gang.
Jantung Kirana langsung berdegup kencang mendengar instruksi itu.
Kecurigaannya terbukti nyata.
"Tapi, Mas... bagaimana denganmu?"
"Mereka pasti datang membawa banyak orang!"
"Kita harus lari, lapor ketua RT, atau bersembunyi!"
Seru Kirana panik, melangkah mendekati Andra dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak sanggup membayangkan pria yang telah menolong dan menemaninya ini harus babak belur dihajar preman bayaran demi melindungi warung miliknya.
Andra menoleh perlahan.
Ia menatap Kirana dengan pandangan yang begitu teduh.
Kontras dengan situasi berbahaya yang sedang mendekat.
Tangan kasarnya terulur pelan, menepuk pundak Kirana pelan untuk menyalurkan ketenangan mutlak.
"Percaya padaku."
Ucap Andra singkat namun mengandung kekuatan magis yang membuat Kirana terpaku seketika.
"Masuklah ke dalam."
"Aku akan menjaga tempat ini, dan aku akan menjagamu."
Belum sempat Kirana membalas perkataan itu.
Suara bising knalpot sepeda motor yang digeber secara bersamaan mendadak memecah kesunyian malam.
Suara itu menderu liar, semakin lama semakin dekat.
Hingga akhirnya berhenti tepat di depan pelataran warung kecil tersebut.
Bum! Bum! Brak!
Suara hantaman benda tumpul dan tendangan keras langsung menghantam meja-meja plastik di depan warung hingga berserakan ke jalan.
Sekelompok pria berbadan kekar turun dari motor mereka dengan beringas.
Dengan tato memenuhi lengan dan wajah penuh luka bekas perkelahian.
Jumlah mereka tidak tanggung-tanggung.
Hampir belasan orang.
Dipimpin langsung oleh seorang pria bertubuh gempal menyeramkan bernama Badrun.
Didampingi oleh Doni yang berjalan di belakang sambil memegang pergelangan tangannya yang masih di balut perban.
Wajah Doni menyeringai penuh kemenangan melihat kedatangan pasukan bayaran tersebut.
Ia merasa di atas angin.
Yakin bahwa hari ini adalah hari pembalasan di mana ia bisa menghancurkan warung Kirana sekaligus menghabisi pria berjaket usang yang sudah mempermalukannya tadi pagi.
"Keluar kamu, gelandangan keparat!"
Teriak Doni dengan suara lantang.
Sengaja memancing perhatian warga sekitar yang langsung mengunci pintu rumah mereka masing-masing karena ketakutan.
"Mana jagoan yang tadi pagi berlagak hebat mematahkan tangan saya, hah?!"
"Keluar sekarang kalau nyali kalian tidak ciut!"
Badrun, sang pemimpin preman, melangkah maju dengan angkuh.
Ia meludah ke tanah.
Lalu menatap tajam ke arah warung kumuh itu sebelum pandangannya jatuh pada sosok Andra yang berdiri tenang di ambang pintu.
"Jadi, anak baru ini yang bernama pahlawan kesiangan?"
Cibir Badrun dengan suara serak berat.
Memecahkan jari-jari tangannya hingga berbunyi nyaring.
"Hebat juga nyali kamu, berani cari masalah dengan anak buahku di wilayah kekuasaan ini."
"Mau diselesaikan baik-baik dengan merangkak mencium sepatu Doni, atau kami ratakan warung ini beserta tulang-tulang mu malam ini?!"
Di dalam bilik belakang, Kirana menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan untuk meredam tangisannya yang hampir pecah.
Tubuhnya gemetar hebat mendengarkan ancaman mengerikan dari luar.
Ia merasa sangat bersalah karena Andra harus menanggung akibat dari masalah hidupnya yang rumit.
Namun di luar sana, di bawah temaram lampu neon warung yang berkedip redup.
Andra sama sekali tidak menunjukkan rasa takut barang sedikit pun.
Pria miliarder itu justru menarik napas panjang, merenggangkan sedikit otot lehernya.
Lalu melangkah keluar melewati reruntuhan meja plastik yang ditendang tadi.
Tatapan matanya menyapu seluruh gerombolan preman bayaran itu dengan pandangan dingin.
Seolah mereka hanyalah sekumpulan debu jalanan yang tidak penting.
"Kalian terlalu berisik untuk ukuran sampah malam hari."
Jawab Andra dengan nada suara datar yang dingin.
Membuat tawa gerombolan preman itu langsung meledak keras.
Badrun tersenyum meremehkan, matanya menyipit penuh amarah.
"Wah, sepertinya pria miskin ini benar-benar sudah bosan hidup dan ingin segera dikirim ke liang kubur!"
Teriak Badrun sambil memberi gestur kepada anak buahnya untuk maju mengepung Andra.
"Habisi dia!"
"Hancurkan sampai tidak bisa bangun lagi!"
Tanpa aba-aba lagi.
Belasan preman beringas itu langsung berlari menyerbu ke arah Andra secara bersamaan dari segala penjuru.
Siap melayangkan pukulan maut dan hantaman balok kayu yang mereka bawa.
Namun, di detik-detik menegangkan saat kepalan tangan preman terdepan hampir menghantam wajahnya.
Andra hanya menyunggingkan senyuman tipis misterius.
Sebuah senyuman penuh percaya diri yang menandakan bahwa malam ini adalah awal kehancuran total bagi mereka.
Dan gerbang menuju babak baru penyamaran agungnya yang semakin mendebarkan.
Serangan belasan preman beringas itu datang bergelombang.
Mereka mengandalkan berat badan dan senjata tumpul untuk meremukkan Andra dalam hitungan detik.
Namun, alih-alih mundur atau menghindar dengan panik, Andra justru melangkah maju dengan gerakan yang begitu tenang, terukur, dan mematikan.
Pria berjaket usang itu menunduk sejenak untuk menghindari hantaman balok kayu yang melayang tepat di atas kepalanya.
Dalam sepersekian detik, kakinya bergerak menyapu lantai dengan kecepatan luar biasa.
Bugh!
Satu tendangan keras telak menghantam ulu hati preman terdepan.
Membuat tubuh berbadan besar itu terpental mundur dan menubruk rekan-rekannya di belakang hingga terjatuh bergelimpangan.
Badrun, sang pemimpin preman, membelalakkan matanya tidak percaya melihat anak buahnya tumbang hanya dengan satu gerakan sederhana.
Keparat!
Jangan cuma diam, keroyok dia sekaligus!
Bentak Badrun penuh amarah, mencabut sebilah pisau lipat dari balik jaketnya.
Tiga orang preman bertubuh kekar langsung melompat secara bersamaan dari sisi kanan dan kiri.
Mencoba mengunci pergerakan Andra.
Namun, bagi seorang pria yang terbiasa menghadapi intrik tingkat tinggi korporasi global dan latihan bela diri militer kelas atas.
Gerakan para preman jalanan itu terlihat sangat lambat bagaikan gerak lambat di layar kaca.
Andra berputar bagaikan angin puyuh.
Siku tangannya menghantam rahang preman pertama hingga tersungkur pingsan seketika.
Tangannya yang lain dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan preman kedua.
Memelintirnya ke belakang hingga terdengar suara kertakan sendi yang disusul teriakan kesakitan yang memecah malam.
Doni, yang tadinya berdiri di belakang sambil menyeringai puas, mendadak pucat pasi.
Kaki Doni bergetar hebat melihat satu persatu pasukan bayaran sewaan andalannya terkapar di tanah dalam kurun waktu kurang dari dua menit.
Keringat dingin bercucuran membasahi keningnya.
Ia baru sadar bahwa pria miskin yang ditantangnya bukanlah orang sembarangan.
Andra berjalan perlahan melewati sisa-sisa preman yang mengerang kesakitan di atas tanah.
Langkahnya mantap, tanpa ada napas tersengal sedikit pun di dadanya.
Matanya yang dingin menatap tajam lurus ke arah Badrun dan Doni.
Membuat kedua pria itu mundur ketakutan hingga punggung mereka menempel pada dinding warung.
Kalian pikir tempat ini bisa diinjak-injak sesuka hati?
Suara berat Andra menggelegar dingin, menusuk langsung ke jantung siapa saja yang mendengarnya.
Badrun yang merasa harga diri premannya diinjak mencoba nekat menusukkan pisau lipatnya ke depan.
Namun, sebelum pisau itu menyentuh pakaiannya, Andra dengan sigap menangkap pergelangan tangan Badrun.
Memutarnya hingga pisau tersebut lepas dan jatuh berdenting ke atas paving block.
Sebuah hantaman telak di bagian leher membuat Badrun langsung pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.
Melihat bosnya tersungkur tak berdaya, Doni kehilangan seluruh keberaniannya.
Ia berbalik arah, berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu sambil berteriak ketakutan.
Namun, Andra tidak membiarkannya pergi begitu saja.
Ia menyambar sebuah kerikil kecil di tanah, lalu melemparkannya dengan akurasi sempurna ke arah kaki Doni.
Brukk!
Doni tersungkur mencium tanah dengan keras.
Mencakar-cakar aspal sambil menangis histeris memohon ampun.
Jangan bunuh saya!!!!!
Ampun!!!!
Teriak Doni histeris.
Andra berdiri tepat di hadapan Doni yang sedang merangkak ketakutan.
Ia menatap rendah pria benalu itu dengan pandangan penuh jijik.
Pergi dari sini.
Ucap Andra dingin.
Dan jika kau berani menginjakkan kaki di dekat warung ini lagi, tempat ini akan jadi kuburanmu.
Tanpa membuang waktu lagi, Doni bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Berlari terbirit-birit meninggalkan lokasi tanpa memperdulikan anak buahnya yang bergelimpangan.
Suasana di depan warung kembali sunyi senyap.
Menyisakan deru angin malam dan rintihan kesakitan para preman yang mulai merangkak kabur menyelamatkan diri.
Dari balik pintu bilik belakang yang sedikit terbuka, Kirana mengintip dengan mata terbelalak lebar.
Air mata haru menetes deras di pipinya.
Ia menyaksikan semuanya.
Pria miskin penolongnya ternyata adalah sesosok pelindung yang memiliki kekuatan luar biasa besar.
Dan malam itu, di tengah reruntuhan sisa kekacauan.
Benih-benih cinta yang tulus semakin tumbuh kuat di hati Kirana.
Bersiap menyongsong babak baru kehidupan mereka esok hari.