Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bonus
Beberapa pekan berlalu sejak kasus pembunuhan dan pencucian uang itu terbongkar.
Informasi mengenai keberhasilan kantor polisi Distrik 1 terlanjur bocor ke media massa dan markas pusat tidak bisa menutupinya.
Berita tersebut menjadi topik utama di televisi dan surat kabar kota.
Masyarakat memberikan apresiasi tinggi kepada Kantor polisi Distrik 1 yang dinilai berani menindak tegas pejabat kaya tanpa pandang bulu.
Kondisi ini membuat Markas Pusat tersudut. Untuk menjaga citra publik dan berpura-pura bahwa mereka mendukung transparansi hukum, para petinggi pusat terpaksa menggelar upacara penganugerahan penghargaan secara terbuka di hadapan puluhan wartawan dan kamera TV.
Di lapangan utama Markas Pusat Kota, puluhan anggota polisi berbaris tegap.
Panggung utama dihiasi spanduk besar bertuliskan Penganugerahan Apresiasi Penegakan Hukum.
Jenderal tinggi yang beberapa pekan lalu mengancam Martin di telepon kini berdiri di atas panggung.
Ia mengenakan seragam dinas upacara penuh bintang, memasang senyum ramah buatan di depan sorotan kamera pers.
"Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para personel berprestasi dari cabang Distrik 1 atas keberanian dan ketepatan mereka dalam membongkar kasus kejahatan besar," ucap sang Jenderal melalui mikrofon dengan nada mantap yang dibuat-buat.
Satu per satu personel Distrik 1 dipanggil ke depan panggung.
Komisaris Martin melangkah naik, disikuti oleh Nathan, Reno, dan Niko.
Di barisan penonton, Gavin berdiri bersama timnya.
Wajah Gavin tampak kaku dan tidak nyaman. Gengsinya terluka karena tim yang dipimpinnya justru tidak mendapat sorotan utama.
Sang Jenderal menyalami Martin, menyematkan pin penghargaan di dada kemejanya, lalu menyerahkan piagam serta plakat apresiasi.
"Kerja yang sangat bagus, Komisaris Martin," panggil Jenderal itu dengan suara pelan yang hanya bisa didengar mereka berdua, sementara matanya tetap tersenyum ke arah kamera. "Kamu benar-benar tahu cara bermain di media."
Martin menunduk sopan dengan wajah datar tanpa beban. "Terima kasih, Jenderal. Kami hanya menjalankan tugas sesuai prosedur."
Saat giliran Nathan maju, sang Jenderal menatap polisi junior itu cukup lama.
Ia menyematkan pin penghargaan di dada Nathan dan menyerahkan amplop bonus apresiasi senilai puluhan juta dari dinas.
"Nathan, kan?" bisik sang Jenderal dingin saat menjabat tangan Nathan. "Aksi nekatmu di jalan tol tempo hari sangat berbahaya. Jangan kembangkan kebiasaan bertindak tanpa perintah atasan pusat."
Nathan membalas jabat tangan itu dengan genggaman mantap.
Matanya menatap lurus tanpa ada rasa gentar sedikit pun. "Siap, Jenderal. Saya hanya memastikan pelaku kejahatan tidak meloloskan diri dari hukum."
Sang Jenderal menahan napas sejenak melihat ketenangan anak muda di hadapannya, sebelum akhirnya melepaskan jabat tangan dan beralih menyerahkan penghargaan kepada Reno dan Niko.
Niko menerima amplop bonus dan piagamnya dengan tangan gemetar gembira.
Bagi Niko, bonus uang tunai ini sangat berarti untuk kehidupan keluarganya.
Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama di hadapan puluhan wartawan.
Sorot lampu kilat kamera menyambar berulang kali, mengabadikan momen tersebut ke seluruh pelosok kota.
Setelah rangkaian upacara formal dan liputan media selesai, kehidupan kembali bergerak seperti biasa.
Hype berita di media perlahan memudar digantikan oleh isu-isu baru.
Di kantor polisi Distrik 1, Martin memanfaatkan bonus anggaran operasional dari pusat untuk memperbaiki fasilitas kantor.
Kursi-kursi tua yang rusak diganti, beberapa unit komputer baru dibeli untuk mempercepat proses pengetikan BAP, dan mobil patroli tua akhirnya masuk ke bengkel untuk servis total.
Niko menggunakan sebagian uang bonusnya untuk membelikan perlengkapan sekolah anaknya dan merayakan makan malam kecil bersama istrinya.
Sementara Reno memilih menyimpannya untuk tabungan masa depan.
Bagi Nathan, kembalinya rutinitas normal adalah hal yang ia tunggu-tunggu. Ia tidak tertarik pada ketenaran atau pujian publik.
Beberapa hari kemudian, Nathan memanfaatkan hari liburnya untuk menyelesaikan janji-janjinya yang sempat tertunda.
Tujuan pertamanya adalah pemukiman kumuh di Distrik 1, mengunjungi rumah Delia dan ibunya.