Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata CEO" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.
Di waktu yang sama
Sultan sedang menghabiskan waktu bersama Tuan Bahtiar di sebuah pemancingan umum. Keduanya duduk berdampingan di tepi kolam, berbaur dengan warga yang datang untuk memancing. Di sana, mereka menikmati suasana tanpa jarak, bercengkerama seperlunya dengan orang-orang di sekitar sambil memegang joran dan sesekali memperhatikan permukaan air.
“Bagaimana perkembangan kasus Anton?” tanya Tuan Bahtiar setelah beberapa saat. Tatapannya tetap tertuju pada kail yang baru dilemparkan.
Sultan menghela napas pelan. “Penyidik masih terus mendalami kasusnya. Tapi dari bukti yang sudah ditemukan, semakin kuat dugaan kalau dia memang tidak bekerja sendirian.”
Tuan Bahtiar mengangguk perlahan. “Kalau begitu, biarkan pihak kepolisian menjalankan tugasnya. Yang penting, semua bukti keterlibatan orang-orang di belakangnya harus ditemukan.”
“Iya, Pa. Justru sejak kasus Pak Anton terungkap, aku jadi makin terdorong untuk menggali siapa saja yang terlibat di baliknya. Terutama dari kalangan petinggi perusahaan yang mungkin selama ini ikut bermain,” jawab Sultan.
Pembicaraan mereka terus berlanjut membahas perkembangan kasus tersebut. Namun, setelah cukup lama duduk tanpa satu pun ikan menyambar umpan, Sultan mulai merasa bosan.
Dia meletakkan jorannya sejenak, kemudian meraih ponsel dari sampingnya. Begitu layar ponsel menyala, Sultan langsung membuka sebuah aplikasi khusus yang terhubung dengan perangkat keamanan yang terpasang pada beberapa aksesoris seperti jam tangan, cincin, dan bros yang selama ini istrinya kenakan. Dia melakukannya semata-mata untuk memastikan Kahiyang baik-baik saja.
Sultan lantas memeriksa rekaman yang tersimpan di aplikasi tersebut. Awalnya dia hanya ingin memastikan aktivitas Kahiyang hari itu berjalan baik. Namun, sebuah rekaman terbaru membuat perhatiannya seketika berubah serius tertuju pada layar. Kening Sultan berkerut tajam. Dia segera memperbesar rekaman tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Terlihat jelas dalam rekaman, bagaimana Bu Retno dan Cantika merendahkan Kahiyang dan Nyonya Kirana di sebuah salon kecantikan hingga akhirnya sang ibu membela istrinya.
Tangannya mengepal kuat. “Mereka lagi...!” gumamnya penuh amarah.
Tuan Bahtiar yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. “Ada apa? Kenapa kamu kelihatan begitu marah?”
Sultan tidak menjawab. Dia lantas menyerahkan ponselnya kepada Tuan Bahtiar dan membiarkan sang ayah menyaksikan sendiri rekaman tersebut.
Beberapa saat kemudian, Tuan Bahtiar mengembalikan ponsel itu. “Tenang saja. Mamamu pasti bisa mengatasi mereka,” ujarnya tenang.
Sultan menarik napas panjang. Dia memang tahu ibunya tidak akan tinggal diam jika menyangkut Kahiyang. “Tapi aku tetap nggak suka melihat Ayang-ku diperlakukan seperti itu, Pa. Mereka itu sudah keterlaluan,” ucapnya dengan rahang mengeras.
“Wajar kalau kamu marah. Tapi jangan gegabah. Lebuh baik cari tahu dulu apa sebenarnya tujuan mereka,” pesan Tuan Bahtiar.
Sultan terdiam, ucapan sang ayah membuat pikirannya langsung bergerak. Pria itu kembali melihat layar ponselnya, lalu membuka kontak Ardan. Tanpa banyak berpikir, dia segera mengirim pesan.
“Dan, maaf mengganggu waktu istirahatmu. Tapi aku butuh bantuan.”
Tak lama kemudian, balasan Ardan masuk. “Siap, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?”
Sultan langsung mengetik perintahnya. “Tolong, kamu selidiki latar belakang Bu Retno dan Cantika. Aku mau informasi tentang keluarga mereka, pekerjaan, bisnis, hubungan keluarga, hingga kondisi finansial. Cari tahu juga apakah ada masalah atau sesuatu yang terjadi pada mereka.”
Sejenak dia berhenti, lalu menambahkan pesan terakhir. “Jangan ada yang terlewatkan. Aku ingin laporan lengkap secepatnya.”
Ardan membalas beberapa detik kemudian. “Baik, Tuan. Saya akan segera laksanakan.”
"Terima kasih." Sultan mematikan layar ponselnya. Tatapannya kembali mengarah ke kolam, tetapi pikirannya sudah tidak lagi tertuju pada kegiatannya memancing.
Dia tidak tahu apa yang akan Ardan temukan nanti. Namun, satu hal yang pasti, Sultan tidak akan membiarkan siapa pun terus merendahkan istrinya.
.
.
.
Sementara itu, rasa penasaran Cantika rupanya tidak berhenti setelah mereka meninggalkan salon. Sepanjang perjalanan pulang, perkataan ibunya terus terngiang di benaknya. Ia semakin yakin bahwa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh keluarga Rafa.
Sesampainya di rumah, Cantika tidak ingin membuang waktu. Ia segera mencari tahu tentang Rafa dan keluarganya. Ia memanfaatkan berbagai cara yang terpikir olehnya, mulai dari mencari nama Rafa di internet hingga menelusuri informasi di berbagai media sosial.
Namun, beberapa kali mengetikkan nama di kolom pencarian tetap saja sama, hasilnya nihil. Tidak ada informasi berarti yang bisa ia temukan. Nama Rafa memang muncul dalam beberapa informasi tetapi justru orang yang berbeda baik wajahnya maupun pekerjaannya. tidak ada satu pun mengarah pada nama Rafa yang ia maksudkan.
Rasa penasaran Cantika semakin menjadi-jadi. "Siapa sebenarnya suami Kahiyang itu? Kenapa susah banget mencari informasi tentang keluarganya? Bahkan identitas orang tua maupun kehidupan pribadi pria itu seolah tidak pernah tersentuh oleh pemberitaan,” gerutunya kesal sambil terus menatap layar ponselnya.
Ia kemudian mencoba mencari nama keluarga Rafsanjani. Kali ini, berbagai artikel tentang bisnis dan perusahaan besar milik keluarga tersebut langsung bermunculan. Wajah Tuan Bahtiar bahkan terpampang di berbagai majalah bisnis sebagai salah satu pengusaha ternama.
Cantika membukanya satu per satu dengan penuh harap. Namun, harapannya pupus, lagi-lagi ia tidak menemukan apa yang dicari.
Semua artikel hanya membahas perjalanan bisnis, perusahaan, investasi, dan pencapaian Tuan Bahtiar. Tidak ada satu pun yang membahas kehidupan keluarganya secara mendalam. Bahkan foto bersama istri dan anak-anaknya pun nyaris tidak pernah muncul.
Cantika mulai mengerutkan kening. “Kenapa nggak ada?” gumamnya nyaris putus asa.
Ia mencoba mencari lebih banyak lagi. Berbagai kata kunci dimasukkannya, tetapi hasilnya tetap sama. Semakin lama, kesabarannya semakin menipis.
“Rasanya mustahil, kalau memang keluarga mereka ini kaya raya. Kenapa sampai nggak ada informasi pribadi sama sekali,” keluhnya sambil mengusap wajah.
Karena memang begitulah keluarga Rafsanjani. Kehidupan pribadi mereka sangat dijaga ketat dan tidak sembarangan dipublikasikan kepada masyarakat. Tuan Bahtiar memang dikenal sebagai sosok penting di dunia bisnis, tetapi untuk urusan keluarga, beliau sangat menjaga privasinya rapat-rapat. Bahkan keberadaan Sultan sebagai putranya tidak pernah menjadi konsumsi publik hingga akhirnya diperkenalkan sebagai CEO pengganti dirinya.
Cantika akhirnya melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan wajah kesal. “Aaahh... bikin frustrasi saja!” gerutunya.
Bu Retno yang sudah berganti pakaian, datang menghampiri kamar putrinya sambil membawakan segelas jus semangka. Setelah meletakkannya di atas meja, ia pun duduk di tepi ranjang dan menatap wajah Cantika dengan serius.
"Bagaimana... Apa kamu sudah menemukan informasi tentang keluarga suami Kahiyang?" tanyanya penasaran.
Cantika menggeleng pelan dengan wajah ditekuk. "Aku nggak menemukannya apa-apa, Bu."
Senyum sinis seketika terbit di bibir Bu Retno. “Itu artinya mereka memang bukan siapa-siapa. Kalau benar-benar orang kaya, pasti ada informasi tentang keluarga mereka di internet.”
Ia berhenti sesaat, lalu menatap putrinya dengan tatapan curiga. “Atau jangan-jangan Rafa itu sebenarnya anak haram, makanya identitasnya sengaja disembunyikan. Bisa saja, kan?”
Mata Cantika seketika melebar. Bukan karena terkejut, tetapi ucapan sang ibu justru menghadirkan pemikiran baru. Dari rasa penasaran kini berubah menjadi obsesi dan bertekad membongkar kehidupan keluarga Rafsanjani.
Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya. “Kalau begitu, aku harus mencari tahu lebih dalam, apapun alasannya aku harus menemukan jawabannya,” gumamnya penuh tekad.
yang baru yang baru ditunggu
ayo gas lonching baru /Determined//Determined//Determined/