NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 . Obsesif

Beberapa jam berlalu dengan lambat. Waktu terasa berjalan begitu pelan di antara keheningan, hanya diisi suara langkah kaki pengawal yang sesekali bergerak di depan pintu, atau suara pelayan yang datang membawa makanan dan minuman dengan sikap sangat hati-hati namun tak pernah berani berbicara lebih dari dua kalimat. Alesha mencoba membaca buku yang ditinggalkan Aiden, namun matanya menatap baris demi baris tanpa benar-benar memahami isinya. Pikirannya sering melayang—ingat saat ia masih bisa berjalan ke mana saja, berbicara dengan siapa saja, tanpa harus merasa seperti burung yang dikurung di sangkar emas yang indah namun tak ada jalan keluarnya.

Tepat pukul dua siang, telepon di meja samping tempat tidur berdering. Alesha meraihnya perlahan. Suara Aiden terdengar dari seberang sana—tetap tenang, namun penuh perhatian yang tak bisa dielakkan.

“Sayang, sudah makan siang hmm?” tanyanya langsung.

“Sudah,” jawab Alesha pelan.

“Bagus. Kakinya bagaimana? Tidak ada rasa sakit saat bergerak kan ?”

“Tidak.”

Ada jeda sejenak sebelum suara Aiden kembali terdengar, kali ini lebih lembut namun penuh tekanan halus.

“Aku senang kau mendengarkan ucapanku, Alesha. Semakin kau menurut, semakin cepat kau pulih. Dan saat kakimu sembuh nanti… aku akan membawamu berkeliling taman, melihat bunga mawar yang aku tanam khusus untukmu. Tapi ingat, saat itu pun kau harus tetap di sisiku. Tidak boleh berjalan sendirian, tidak boleh pergi ke tempat yang tidak aku ketahui. Aku tidak ingin ada apa-apa yang menimpamu.”

“Alesha ingat kok, "

“Baiklah. Aku akan pulang dalam satu jam lagi. Istirahatlah sayang hmm, "

Panggilan terputus. Alesha meletakkan telepon kembali ke tempatnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin lemari di seberang tempat tidur. Wajahnya masih sama, namun matanya terlihat berbeda—seolah api yang dulu menyala di sana perlahan padam, digantikan bayang-bayang kepasrahan yang tak berujung.

Ia tahu, Aiden benar-benar menjaganya. Memberinya makanan enak, tempat tidur empuk, semua hal yang ia butuhkan. Tapi di balik semua itu, perlindungan itu justru menjadi rantai yang tak terlihat—rantai yang mengikatnya erat pada pria yang mencintainya dengan cara yang memakan habis kebebasan dan dirinya sendiri. Dan yang paling menakutkan… ia mulai tak lagi tahu bahwa

......................

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Langkah kaki Aiden terdengar pelan di lorong panjang rumah mewah itu. Rapat mendadak yang berlangsung berjam-jam di kantor membuatnya pulang terlambat, dan sepanjang perjalanan pulang, hatinya terus gelisah, karena takut gadis kecil nya kesepian, ia juga takut satu jam saja ia tidak mengawasinya, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pintu kamar terbuka perlahan, tanpa bunyi sedikit pun. Aiden melangkah masuk, matanya langsung mengunci pandangan pada sosok di atas tempat tidur.

Alesha sudah tertidur pulas. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menyinari wajahnya yang tampak lelah. Ia mengenakan piyama lembut berwarna putih dengan motif panda-panda kecil yang bulat dan imut. Kedua tangannya memeluk erat boneka beruang cokelat, seolah itulah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Rambut panjangnya terurai berantakan di atas bantal, napasnya terdengar berat dan tidak tenang.

Aiden mendekat perlahan, Ia duduk di tepi kasur, menatap wajah Alesha lekat-lekat. Jemarinya terulur, mengusap rambut Alesha pelan, namun tatapannya tajam dan dalam seolah sedang memastikan benda berharganya masih utuh di tempatnya.

"Sudah tidur gadis manis ku ini " bisiknya pelan, suaranya rendah dan berat. "Kau tahu gak sayang, seharian di kantor pikiranku tak pernah lepas darimu. Aku hampir saja membatalkan rapat itu berkali-kali, karena aku tidak suka berada jauh darimu. Satu jam saja aku pergi, rasanya seperti ada yang menarik jantungku keluar."

Tangannya turun perlahan menyentuh kening Alesha. Saat telapak tangannya menempel di dahi gadis itu, gerakannya tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit, lalu ia meletakkan tangannya lebih lama, memastikan apa yang ia rasakan bukan salah. Panas. Sangat panas.

Wajah Aiden langsung berubah tegang, napasnya menjadi berat. Bukan sekadar cemas , tapi marah. Marah pada siapa pun yang membiarkan hal ini terjadi, dan terutama marah pada dirinya sendiri karena meninggalkannya.

"Demam." gumamnya pelan, nada bicaranya rendah namun penuh tekanan. "Siapa yang berani membiarkan gadisku sakit begini? Aku sudah berpesan agar dijaga sepenuhnya, dan ternyata mereka membiarkanmu menderita sendirian."

Ia menatap wajah Alesha yang memerah, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya, napasnya pendek dan cepat. Rasa iba menyelinap di hatinya, namun lebih kuat dari itu adalah rasa memiliki yang mendesak — rasa bahwa tubuh ini, napas ini, semuanya adalah miliknya, dan tidak boleh ada satu pun hal yang menyakiti apa yang menjadi haknya.

"Kau pasti kesakitan sekali ya," bisiknya, jemarinya mengusap pipi Alesha dengan lembut yang kontras dengan tatapan matanya yang tajam dan tak ingin melepaskan

Dengan hati-hati agar tidak membangunkannya, Aiden melepaskan pelukan boneka itu dari tangan Alesha yang masih mengepal erat, meletakkannya di samping Alesha pelan . sebenar nya Ia tidak suka ada benda lain yang dipeluk Alesha lebih erat daripadanya, tapi apa boleh buat benda itu seakan harta paling indah bagi Alesha, Alesha sayang banget sama boneka itu kama iya pergi selalu inya peluk kecuali ketika mandi ,membuat Aiden sedikit kesal melihat boneka itu ingin sekali inya merobek nya .

"Tidur saja gadis kecil ku ini,kau tidak butuh benda jelek itu . Yang kau butuhkan hanya aku ,Aku bisa memeluk mu lebih erat dari dia," bisiknya dingin.

Ia segera beranjak mengambil air hangat, obat penurun panas, dan kain kompres. Kembali ke tepi kasur, tangannya bergerak cepat dan teratur ,meletakkan kompres dingin di dahi Alesha, mengusap pelipisnya, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya rapat, seolah takut ada celah yang bisa membuatnya hilang.

"Aku akan menjagamu. Sepanjang malam. Aku tidak akan memejamkan mata sedikit pun," ucapnya lirih, matanya tak berkedip menatap wajah Alesha. "Karena kalau aku lengah sedetik saja... kau bisa pergi. Dan kau tahu kan? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan pernah."

Ia terus mengusap lembut rambut Alesha sesekali mencium lembut kening dan kedua pipi bulat Alesha ,Aiden sangat menyukai kedua pipi bulat Alesha yang terbaring lemah di bawah selimut, Aiden terus mengelus rambut Alesha, dan tatap nya tidak pernah tertuju pada yang lain melainkan terus tertuju pada wajah manis gadis kecil kesayangan itu, seakan Aiden akan memberitahu kan bahwa hidup Alesha sekarang dalam kendali nya

 Aiden tidak beranjak sedikit pun. Ia terus duduk di sana, di tepi kasur, jam demi jam. Setiap sepuluh menit ia mengganti kompresnya, setiap kali memeriksa suhu di dahi Alesha, dan setiap kali ia berbisik kalimat yang sama , lembut namun menakutkan, penuh kasih sayang yang bercampur obsesi yang tak kenal batas.

"Kau aman di sini. Aman karena aku yang menjagamu. Dan kau tidak akan pernah pergi ke mana pun. Karena selamanya, kau terikat padaku."

Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, Alesha tetap terlelap, tidak sadar bahwa di sampingnya, pria yang mengaku mencintainya sedang menjaganya bukan hanya karena sayang , tapi karena ia menganggapnya miliknya, harta yang tak boleh lepas, dan ia akan melakukan apa saja agar gadis itu tetap di sisinya,

Bersambung.

Thank you yang sudah baca cerita oyen ☺

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!