NovelToon NovelToon
Ayah Miliarderku Kembali

Ayah Miliarderku Kembali

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Quell

Ardan Wira selalu hidup sebagai anak miskin dari Kawasan Utara. Di Akademi Ashford, ia dihina, beasiswanya dicabut, dan keluarganya nyaris tenggelam oleh tagihan yang tidak pernah selesai. Baginya, bertahan hidup sudah cukup sulit.
Lalu sebuah Maybach hitam berhenti di depan apartemennya.
Pria yang turun dari mobil itu adalah Raka Mahendra, miliarder yang namanya menguasai dunia bisnis, dan ia datang membawa satu pengakuan yang mengubah segalanya: Ardan adalah putranya.
Dalam semalam, anak yang dulu diinjak-injak mendapat akses pada uang, kekuasaan, dan nama keluarga yang bisa membuat seluruh Ashford berlutut. Tetapi dunia orang kaya tidak pernah gratis. Di balik kemewahan, ada musuh lama, pengkhianatan bisnis, perang hukum, dan orang-orang yang siap menghancurkan Ardan sebelum ia benar-benar belajar memegang takdirnya sendiri.
Kini Ardan harus memilih: menjadi sekadar pewaris yang menikmati kekayaan ayahnya, atau membangun kekuatannya sendiri dan membalas semua orang yang pernah menganggapnya bukan siapa-siapa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Ardan tidak tidur. Ia berbaring di kasur, menatap noda air di langit-langit, mendengarkan napas Marta dari balik dinding tipis. Intan tertidur dengan ponsel di tangan, artikel Forbes masih menyala di layar.

Kartu hitam itu ada di dapur. Ia belum menyentuhnya sejak Rebeka meletakkannya di meja. Kartu itu tergeletak di antara obat tekanan darah Marta dan stoples kopi instan, tetapi entah bagaimana benda itulah yang paling berisik di apartemen.

Pukul enam pagi, Ardan bangun, memakai sepatu, dan mengambil kartu itu.

ATM terdekat berjarak tiga blok, tertanam di sisi sebuah pom bensin di Jalan Whitfield. Sudut layarnya retak dan seseorang menggoreskan inisial di papan tombol. Ardan memasukkan kartu.

Ia mengetik PIN yang ditulis Rebeka di belakang kartu namanya, empat angka, tidak istimewa.

Layar memuat. Ia menekan CEK SALDO.

Angka itu muncul.

Ardan memandangnya. Ia menekan batal. Mengambil kartu. Memasukkannya lagi. Mengetik PIN lagi. Menekan CEK SALDO lagi.

Angka yang sama. Dua belas digit. Simbol Rp. Nol-nol berjajar seperti tidak masuk akal.

Rp300.000.000.000

Ia berdiri di sana cukup lama sampai mesin kehabisan waktu dan berbunyi padanya. Pom bensin berdengung di belakangnya, kompresor, lampu neon, gemerisik samar radio dari dalam bilik kasir. Semuanya mustahil terasa normal. Seorang perempuan dengan stroller meliriknya, dan Ardan menyingkir, berjalan ke tepi trotoar dengan kaki yang terasa tidak terhubung ke tubuhnya.

Tiga ratus miliar rupiah. Di rekening giro. Terhubung dengan kartu yang ada di saku belakangnya, tepat di samping surat penolakan bantuan biaya sekolah.

Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon nomor di kartu nama Rebeka.

Perempuan itu menjawab pada dering kedua. "Selamat pagi, Ardan."

"Ada tiga ratus miliar rupiah di kartu ini."

"Ya. Pak Raka sebelumnya menyiapkan dana itu untuk investasi bisnis di Ashford. Beliau mengalihkannya kepadamu."

"Tiga ratus miliar."

"Ada masalah?"

Ardan duduk di tepi trotoar. Sebuah bus kota bergemuruh lewat, cukup dekat hingga asap knalpotnya mendorong rambut Ardan ke belakang. "Aku butuh Rp3.000.000. Untuk dokter mata ibuku."

Ada jeda. "Ardan, kamu punya tiga ratus miliar rupiah."

"Aku tahu. Aku hanya..." Ia memejamkan mata. "Aku tadi mau menarik Rp3.000.000 dari ATM. Itu yang kubutuhkan."

Suara Rebeka berubah, masih profesional, tetapi ada kehangatan di bawahnya. "Katakan dengan tepat apa yang kamu butuhkan. Semuanya."

"Uang semester. Rp210.000.000 untuk semester ini. Dan tagihan medis Marta, ada janji temu dokter spesialis hari Kamis, tapi ada juga tunggakan dari tahun lalu. Lalu sewa. Kami menunggak dua bulan."

"Beri saya satu jam."

Rebeka menelepon kembali empat puluh tiga menit kemudian.

"Biaya sekolah sudah dilunasi untuk sisa semester ini plus tahun berikutnya. Saya menghubungi dokter mata ibumu dan menyelesaikan seluruh tunggakan, janji temu hari Kamis sudah dikonfirmasi tanpa biaya tambahan. Saya juga bicara dengan pemilik apartemenmu. Sewa sudah aman sampai Desember, dibayar enam bulan di muka."

Ardan duduk di anak tangga depan gedung. Matahari pagi hangat di wajahnya. Seorang pria tua dari lantai tiga berjalan terseok sambil membawa kantong belanja, lalu mengangguk kepadanya. Pagi biasa. Kawasan Utara biasa. Maybach sudah tidak ada. Sopir Raka mengambilnya entah kapan pada malam hari, dan jalan itu tampak sama seperti biasanya. Aspal retak, mobil-mobil tua terparkir, seekor kucing liar di tangga darurat seberang jalan.

"Berapa semua itu?" tanyanya.

"Sekitar Rp630.000.000. Kamu mau rincian kuitansinya?"

"Tidak. Aku..." Ibu jarinya menekan tepi kartu hitam di saku. "Tidak. Terima kasih."

"Pak Raka ingin saya menyampaikan bahwa ini bukan pinjaman. Tidak ada syarat. Kartu itu milikmu."

"Kamu bilang dia pria terkaya di provinsi ini."

"Benar."

"Dan tiga ratus miliar itu apa, uang receh?"

Rebeka berhenti cukup lama agar jawabannya jatuh dengan berat. "Itu titik awal."

Ardan kembali ke atas. Marta ada di dapur, meraba sepanjang meja, mencari stoples kopinya. Ardan mengarahkan stoples itu ke tangan ibunya tanpa berkata apa pun, lalu duduk di meja.

"Dokter mata sudah dibayar," katanya. "Sewa juga."

Tangan Marta berhenti bergerak. "Ardan. Apa yang kamu lakukan?"

"Tidak ada yang ilegal. Aku janji."

Marta meletakkan stoples dan meraba jalan menuju kursi di seberangnya. Matanya keruh, tidak fokus, tetapi ia punya cara memandang Ardan yang membuatnya merasa seolah perempuan itu melihat segalanya.

"Pria itu," kata Marta. "Raka. Dia darah dagingmu."

"Aku tahu."

"Dia bukan orang jahat. Dia takut. Waktu itu dia begitu muda, dan orang-orang itu..."

"Aku tahu, Bu."

Marta mengulurkan tangan melewati meja. Ardan menggenggamnya. Jari-jari ibunya tipis dan dingin.

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Marta.

Ardan menunduk ke kartu di atas meja. Hitam matte. Tanpa nama. Benda paling biasa di ruangan itu sekaligus yang paling berkuasa.

"Aku belum tahu."

Marta meremas tangannya. "Jangan biarkan itu mengubah siapa dirimu."

Ardan tidak menjawab. Ia tidak yakin itu janji yang bisa ia tepati.

Intan menemukannya di kamar mandi dua puluh menit kemudian, sedang menatap cermin. Wajah yang sama. Potongan rambut murahan yang sama. Anak kurus yang sama dari Kawasan Utara, dengan memar yang mulai pudar di bahu tempat Bima Halim mendorongnya ke loker.

"Kakak baik-baik saja?" tanya Intan dari ambang pintu.

"Ya."

"Kakak tidak kelihatan baik-baik saja."

Ardan memutar kartu itu di antara jari-jarinya. Ia menangkap pantulannya sendiri di balik kartu, pipi cekung, lingkaran gelap, rahang yang masih terlalu tajam karena terlalu sering kurang makan.

Bima Halim mengambil beasiswanya hanya dengan satu panggilan telepon. Ayahnya duduk di dewan, menekan orang yang tepat, lalu menghapus masa depan Ardan dalam satu sore. Mudah sekali. Tidak merugikan Bima apa pun.

Ardan memasukkan kartu itu ke saku.

Ia menatap dirinya di cermin, dan ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Bukan lebih bahagia. Bukan lebih lembut. Hanya... terjaga.

"Bima Halim mengambil beasiswaku dengan satu panggilan telepon," katanya pelan. "Aku penasaran apa yang bisa kuambil darinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!