"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Seperti Ada Rahasia
Zena kembali ke gedung tua itu, jika sebelumnya Zena masih terbayang dengan kejadian di masa lalu dan maka kali ini hatinya sudah mulai bisa berdamai walau sedikit masih takut, tetapi Zena harus melawan ketakutannya, bagaimanapun dia surat menemukan petunjuk atas pria yang telah melecehkannya.
Zena berdiri tepat di lantai di mana dia tergeletak, tidak bisa bohong, hatinya masih terluka dengan mata berkaca-kaca. Kejadian 5 tahun lalu tidak akan pernah bisa dilupakan Zena, bagaimana ketika selesai merayakan kelulusannya dan kehormatannya benar-benar dirampas dengan keji.
Zena memegang dadanya dengan memejamkan mata sebentar.
"Bismillah, aku pasti bisa menemukan orangnya. Hanya ini cara satu-satunya," batin Zena berusaha untuk kuat.
Zena berjongkok dengan memegang lantai seolah-olah dalam bayangannya adalah saat ini Zena sedang memegang tangan wanita yang telah dilecehkan oleh bayangan seorang pria yang tidak diketahui siapapun, tidak ada petunjuk apapun di lantai tersebut, hanya dedaunan yang berterbangan dari atas.
Zena menghela nafas dan ingin meninggalkan tempat tersebut tetapi Zena merasa ada sesuatu yang terinjak oleh sepatunya. Zena mengerutkan dahi dan mengangkat sepatunya dari tumpukan daun tersebut.
Zena kembali berjongkok dengan menyingkirkan dedaunan itu dan Zena menemukan sebuah mainan kalung dengan potongan bintang yang tidak utuh.
Zena kembali teringat pada kejadian di masa lalu yang lalu yang kelam dan ternyata orang yang tidak dikenal itu menggagahi tubuhnya Zena melihat tersebut memang memakai kalung, tetapi mainan kalung itu tampak utuh.
"Apa ini milik penjahat itu?" tebak Zena memastikan.
"Ya Allah, setelah sekian lama dan baru kali ini aku menemukan petunjuk, ini sudah jelas-jelas adalah milik dari penjahat itu, aku mengingatnya waktu itu dia mengenakan kalung," batin Zena kembali memegang dadanya.
Sebenarnya perasaannya masih belum bisa berdamai dengan kejadian di masa lalu, banyak hal yang harus dilewati Zena dan meski harus kembali terluka, tetapi ini adalah tuntutan dari suaminya yang sangat membencinya dan Zena harus melakukannya.
Zena berusaha tenang dan mengambil satu-satunya petunjuk tersebut. Zena kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Zena kembali buru-buru masuk ke dalam mobil, memakai sabuk pengamannya dan ketika ingin melajukan mobilnya tiba-tiba saja dari kejauhan beberapa meter dari mobilnya terparkir tampak berhenti mobil hitam di sana.
"Bukankah itu mobilnya kak Samudra?" ucapnya sangat mengenali mobil suaminya.
Dugaan Zena benar, itu memang tak lain adalah mobil milik Samudra dan sang pengemudi saat ini keluar dari mobil tersebut.
"Untuk apa kak Samudra datang ke tempat ini?"
"Sejak kapan dia ingin ikut campur masalah tempat ini dan bukankah waktu itu dia mengatakan bahwa menyerahkan masalah tempat produksi padaku untuk direnovasi dan tanpa campur tangan darinya, bahkan juga menekankan bahwa dia tidak akan membantu," ucap Zena kebingungan melihat suaminya yang sudah memasuki gedung tua tersebut.
"Aneh sekali, atau jangan-jangan Bunda memaksakan Samudra untuk mengecek gedung tua itu, jika memang iya sudah pasti aku akan disalahkan," ucap Zena menghela nafas.
"Sudahlah Zena, di mata kak Samudra kamu itu terus bersalah, bernafas saja kamu dianggap salah, biarkan saja dia terus beranggapan seperti apapun kepada kamu," ucap Zena menghela nafas tidak ingin memikirkan apapun dan kemudian melajukan mobilnya.
Entah apa tujuan Samudra datang ke gedung tua tersebut, lagi dan lagi dia hanya berdiri pada satu titik dengan kepalanya berkeliling, mungkinkah memang mendapat perintah dari Amelia untuk ikut membantu istrinya memikirkan rancangan renovasi untuk gedung tersebut atau mungkin ada hal lain.
Lagi dan lagi dia hanya datang sebentar dan kemudian pergi, dengan ekspresi datar tidak terbaca dan tanpa ada tujuan.
*****
Zena hari ini mengikuti makan malam bersama Amelia dan Faisal. Samudra juga ikut makan malam, mereka makan malam di luar di salah satu Restaurant di pusat kota.
"Bagaimana Zena, makanan di tempat ini enak bukan?" tanya Amelia.
"Enak Bunda, Zena sudah lama tidak menikmati makanan di luar," jawab Zena.
"Kalau begitu kamu pesan yang banyak," sahut Amelia membuat Zena menganggukkan kepala.
"Samudra kamu jadi bertugas?" tanya Faisal
"Jadi. Pah, aku akan berangkat minggu depan," jawab Samudra.
"Apa tidak bisa ditunda dulu Samudra, Mama dan Papa sudah membelikan tiket bulan madu untuk kalian berdua, kalian bisa berbulan mandi di Itali hotel dan lain sebagainya sudah disiapkan," ucap Amelia.
"Untuk apa berbulan madu, bulan madu itu untuk suprise pagi pasangan suami istri dan sementara untuk kami tidak digunakan," sahut Samudra secara tidak langsung menyindir istrinya yang sudah tidak perawan lagi membuat Zena seketika berhenti makan.
"Kamu ini bicara apa sih, kalau Mama sudah menyiapkan sesuatu saja untuk kamu dan pasti kamu banyak protes," sahut Amelia Untung saja tidak memperpanjang perkataan Samudra yang memiliki arti.
"Lagian Mama sudah tahu jika Samudra akan bertugas dan cuti tidak bisa diambil begitu saja," sahut Samudra.
"Tetapi kamu juga harus memiliki waktu untuk istri kamu sendiri," sahut Amelia.
"Bunda, sudahlah, lagi pula Zena juga belakangan ini sibuk dengan produksi perhiasan yang baru dan lagi pula harus merancang untuk renovasi gedung, Zena dan kak Samudra sama-sama tidak memiliki waktu untuk bulan madu," sahut Zena.
Amelia menghela nafas "beruntung kamu Samudra memiliki istri seperti Zena yang tidak banyak menuntut," sahut Amelia.
Samudra mendengus kasar, jika ibunya sudah mengatakan bahwa dirinya sangat beruntung dan sudah pasti dia hanya ingin tertawa terbahak-bahak.
"Kita sebaiknya lanjutkan saja makannya, jika memang kalian berdua belum memiliki waktu dan Insyallah, pasti nanti waktunya ada," sahut Faisal.
"Iya. Ayah," sahut Zena.
********
Hubungan Zena dan suaminya tetap saja hambar, justru semakin parah, tetapi keduanya sudah jarang bertengkar karena jika Samudra membuat ulah dan merasa ada yang salah terhadap Zena dan Zena kembali untuk diam dan tidak menye-menye lagi.
Saat ini Zena hanya fokus pada karirnya dan mencari orang yang telah melecehkannya Samudra juga bertugas, jadi otomatis mereka tidak bertemu.
"Zena lihat ini....." Anggi sahabatnya tiba-tiba saja menghampiri Zena dan menunjukkan ponselnya terhadap Zena.
Zena melihat layar ponsel tersebut ternyata akun sosial media milik Ariana.
"Bukankah ini Samudra?" Anggi menunjuk bahwa Ariana sedang berfoto di pinggir kapal dengan background lautan dan tertangkap ada Samudra di sana.
"Lalu?" sahut Zena.
"Kamu diam saja dan sudah pasti mereka saat ini berduaan, berselingkuh," ucap Anggi justru geram.
"Biarkan saja, mereka sudah sama-sama dewasa, tahu dosa dan tidak," sahut Zena dengan santai.
"Aku tahu Zena, kamu tidak peduli dengan hal ini, tetapi ini itu namanya mereka sengaja melakukannya untuk menginjak-injak harga diri kamu, Ariana semakin berani memposting foto dan bahkan terlihat Samudra di sana yang jelas-jelas dia mengetahui bahwa Samudra sudah menikah," ucap Anggi.
"Anggi, sebentar lagi aku akan terbebas dari pernikahan kami dan jika memang mereka berdua sengaja ingin merendahkanku, maka biarlah Allah yang membalasnya," sahut Zena benar-benar sudah mati rasa pada Samudra.
"Kanapa sih, Tuhan itu benar-benar tidak adil," ucap Anggi.
"Hey kenapa kamu mengatakan seperti itu?" tanya Zena melihat kemarahan di wajah cantik sahabatnya itu.
"Kamu tidak bersalah dan kamu terus dihukum seperti ini," jawab Anggi.
Bersambung ...
cepet terungkaplah kasusnya..
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..