NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 chat pertama

Tiga hari berlalu sejak Wulan mengantarkan berkas ke kantor Saka, Rutinitas di Ibusya Flower Studio kembali berjalan seperti biasa.

Aroma bunga segar memenuhi ruangan sejak pagi. Mawar, lily, hydrangea, hingga baby's breath tersusun rapi di rak pendingin, sementara alunan musik akustik mengiringi aktivitas para karyawan yang sudah mulai sibuk.

Di meja kerjanya, Wulan tengah merangkai beberapa buket pesanan yang harus selesai sebelum siang. Jemarinya bergerak lincah memotong batang bunga, menyusun komposisi warna, lalu mengikatnya dengan pita satin berwarna krem.

Hari itu toko cukup ramai.

Beberapa pelanggan datang silih berganti, kurir juga beberapa kali keluar masuk untuk mengambil pesanan yang sudah selesai.

Tak jauh dari sana, Sarah sedang berbincang dengan seorang klien mengenai konsep dekorasi untuk acara akhir pekan. Sesekali ia mengecek tablet di tangannya sambil mencatat beberapa revisi yang diminta.

Semuanya kembali berjalan seperti biasanya.

Meski begitu, Sesekali pikiran Wulan masih melayang ke satu tempat.

Ke sebuah gedung perkantoran dengan dinding kaca yang menjulang tinggi.

Ke ruang kerja yang dipenuhi tanaman hias dan tumpukan layout acara.

Ke seseorang yang dengan tenang menyuruhnya duduk, memberinya roti karena belum sempat sarapan, lalu mengantarnya sampai depan lift.

Dan, Kalimat sederhana itu. "Hati-hati di jalan, Wulan."

Tanpa sadar, sudut bibir Wulan terangkat membentuk senyum tipis. "Ih..."

Ia buru-buru menggeleng pelan. "Kenapa masih keinget, sih"

Pagi itu, suasana di kantor Saka juga tak kalah sibuk.

Beberapa karyawan tampak keluar masuk ruang rapat sambil membawa laptop dan map berisi dokumen. Di sisi lain ruangan, tim desain sedang mendiskusikan layout terbaru untuk sebuah acara perusahaan.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Saka baru saja menyelesaikan meeting pertamanya hari itu.

Ia menyandarkan punggung sejenak di kursi, lalu meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja.

Layar menyala, Beberapa notifikasi pekerjaan langsung memenuhi bagian atas.

Saka membukanya satu per satu Hingga tanpa sengaja, pandangannya berhenti pada sebuah nama di daftar kontak.

Wulan.

Jarinya diam beberapa detik di atas layar, Namun tak lama kemudian, ponsel itu kembali dikunci dan diletakkan di samping laptop, Belum ada alasan untuk menghubunginya.

Tok.

Tok.

"ka" Nara membuka pintu tanpa menunggu jawaban. "Meeting jam sepuluh diundur setengah jam."

Saka mengangguk singkat. "Oke."

Nara berjalan mendekat sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja.

Tatapannya kemudian jatuh pada ponsel Saka yang masih menyala Ia sempat melihat sekilas nama kontak yang baru saja dibuka.

Sudut bibirnya langsung terangkat. "Wah..."

Saka menoleh. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa." Nara menahan senyum "Cuma kasihan aja."

Saka mengernyit. "Kasihan?"

"Iya, Nomornya udah disimpan Eh, yang diajak ngobrol malah belum."

Saka menghela napas pelan. "Nar."

"Iya?"

"Kamu banyak waktu luang?"

Nara terkekeh. "Kalau buat ngeledekin kamu mah, selalu ada."

Saka hanya menggeleng kecil Belum sempat Nara kembali berbicara, seseorang mengetuk pintu.

"Permisi, Pak."

"Masuk."

Rio masuk sambil membawa tablet. "Klien untuk acara launching minggu depan minta alternatif bunga putih. Mereka ingin lihat beberapa pilihan sebelum final."

Saka menerima tablet itu dan membaca isi revisinya. " White tulip yang kita pilih kemarin stoknya masih dipastikan."

Rio mengangguk. "Betul, Pak."

Nara yang berdiri di samping meja langsung melirik Saka sekilas Dalam hati ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

Saka kembali mengambil ponselnya, Jarinya membuka daftar kontak,Berhenti tepat di satu nama, Wulan.

Ia menarik napas pelan Mulai mengetik.

"Selamat siang, Wulan"

Berhenti, Dihapus, Mengetik lagi.

"Selamat siang, Wulan. Maaf mengganggu." Berhenti lagi.

"..."

Nara yang memperhatikan dari samping sampai harus menggigit bibirnya sendiri agar tidak tertawa, Serius amat cuma mau kirim chat.

Beberapa detik kemudian, akhirnya Saka menyelesaikan pesannya.

...wulan...

^^^Selamat siang, wulan maaf mengganggu^^^

^^^saya mau tanya mengenai stok white tulip distudio apa masih tersedia?^^^

Saka membaca ulang isi chat itu sekali lagi, Memastikan tidak ada yang salah ia menekan tombol kirim, Sebuah centang muncul di layar.

Nara yang sejak tadi menonton akhirnya terkekeh pelan. "Nah "

Saka mengangkat sebelah alis."Apa?"

Nara tersenyum penuh arti. " Enggak, akhirnya kepakai juga nomor yang kemarin."

Saka mematikan layar ponselnya."Ini urusan kerja."

Nara mengangguk serius. " iya deh Kerja."

Dua detik kemudian ia menambahkan pelan,

"Kerjanya sama orang yang namanya Wulan."

Saka menatapnya datar. "Nanti meeting jadi ikut saya."

Senyum Nara langsung menghilang. "Lho? kaa, bercanda doang."

"Siap-siap." Nara menghela napas panjang sambil mengambil kembali tablet milik Rio. "Baik, Pak CEO."

Begitu Nara keluar dari ruangan, Saka kembali melirik ponselnya Belum ada balasan.

Entah kenapa Untuk pertama kalinya, ia menunggu sebuah notifikasi dengan sedikit rasa penasaran.

Waktu yang sama...

Di Ibusya Flower Studio, Wulan masih sibuk merangkai buket pesanan sambil sesekali bercanda dengan salah satu rekan kerjanya.

Suara gunting memotong batang bunga berpadu dengan alunan musik yang mengisi ruangan.

Bzzzt...

Ponsel di dalam saku celemeknya tiba-tiba bergetar, Wulan melirik sekilas. "Chat siapa, ya?"

Ia menyeka tangannya terlebih dahulu dengan kain kecil sebelum mengeluarkan ponselnya.

Satu notifikasi WhatsApp muncul dari nomor yang tidak dikenalnya. "Hm? Nomor baru nih siapa yah?"

Dengan sedikit penasaran, Wulan membuka pesan itu.

...Nomor Tidak Dikenal...

Selamat siang, wulan maaf mengganggu

saya mau tanya mengenai stok white tulip distudio apa masih tersedia?

saya saka

Mata Wulan langsung membulat.

" whatt prank prank ngga sihhh"

Refleks ia melihat kembali dua pesan itu berkali-kali, memastikan dirinya tidak salah baca.

" beneran Kak Saka nggak sihh?"

Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.

" tau ah save aja deh "

Tanpa sadar, senyum kecil terbit di wajahnya Ia segera menekan foto profil nomor tersebut, lalu memilih menu simpan kontak.

Beberapa detik kemudian, nama kontak itu berubah menjadi babang saka.

Wulan menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis "Akhirnya punya nomor babang Saka juga."

Cepat-cepat ia menggeleng kecil. "Astaga, Wulan. Fokus."

Ia kembali membuka ruang obrolan, lalu mulai mengetik balasan.

...babang saka...

^^^selamat siang juga kak^^^

^^^masih tersedia kok, kakak butuh berapa tangkai? atau saya kirim foto stok yang ada sekarang?^^^

Wulan membaca ulang balasannya. "Hmm... udah sopan belum, ya?"

Setelah yakin tidak ada yang salah, ia menekan tombol kirim, Tak sampai beberapa detik Layar ponselnya kembali menyala.

Ponsel di tangan Wulan kembali bergetar.

...mas saka...

Boleh. Terima kasih, Wulan.

Balasannya datang begitu cepat, Wulan sempat terdiam beberapa detik. " loh loh loh apa-apaan nih kok cepet banget balesnya"

Ia segera membuka kamera, lalu berjalan menuju rak pendingin tempat bunga-bunga segar disimpan. "White tulip Nah, ini."

Wulan mengambil beberapa tangkai white tulip yang baru datang pagi tadi. Ia merapikan letaknya terlebih dahulu agar terlihat lebih rapi, lalu memotretnya dari beberapa sudut.

Satu foto.

Dua foto.

Tiga foto.

"Hmm... yang ini paling bagus."

Ia memilih dua foto terbaik, kemudian mengirimkannya kepada Saka.

...babang saka...

^^^Ini, Kak. Stok white tulip yang tersedia hari ini.^^^

^^^Kalau Kakak butuh jumlah pastinya,^^^

^^^nanti saya cek lagi di data stok ya.^^^

Sudah cukup. Terima kasih banyak.

^^^Sama-sama, Kak. Semoga membantu.^^^

Setelah pesan itu terkirim, ia menunggu beberapa detik, Tidak ada balasan lagi, Percakapan selesai.

"Yaahhh" Wulan mengangguk kecil pada dirinya sendiri. "Kan memang urusan kerja."

Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celemek, lalu melanjutkan merangkai bunga yang sempat tertunda.

Namun Baru lima menit bekerja, Tangannya berhenti Refleks ia mengeluarkan lagi ponselnya.

Membuka percakapan dengan Saka, Padahal isinya hanya beberapa baris Wulan membacanya sekali lagi.

Lalu terkekeh pelan. "Ih Kenapa dibaca lagi, sih."

Ia buru-buru mengunci layar ponselnya." Fokus kerja."

Belum sempat kembali merangkai bunga, suara Sarah terdengar dari belakang. "Wulan."

"Iya, Kak?"

"Kamu lagi kosong, kan?"

"Iya." Sarah menyerahkan sebuah map tipis beserta sebuah katalog kecil.

"Besok pagi ada meeting sama tim Mas Saka. Mereka minta contoh beberapa kombinasi bunga buat dekorasi acara launching."

Wulan menerima map itu. "Oh, yang kemarin, ya?"

"Iya." Sarah mengangguk.

"Katanya mereka pengin lihat contoh aslinya, bukan cuma foto."

Wulan membuka sekilas isi map tersebut, Di dalamnya terdapat daftar jenis bunga yang diminta beserta beberapa catatan revisi.

"Berarti kita siapin sampelnya hari ini?"

"Iya. Nanti sore bantu aku pilih bunga-bunganya."

"Siap, Kak."

Sarah tersenyum kecil "Kalau besok sudah selesai, kemungkinan kamu yang anter lagi ke kantor Mas Saka."

Jantung Wulan seolah melewatkan satu detak "A-aku lagi?"

Sarah mengangguk santai. "Lagian kamu udah pernah ke sana Jadi lebih gampang."

Wulan hanya bisa mengangguk pelan.

"Iya juga sih tapii"

Begitu Sarah kembali ke ruang kerjanya, Wulan menatap map di tangannya.

Besok, Berarti ia akan ke kantor Saka lagi

Entah kenapa, Mendadak hari esok terasa sedikit lebih ditunggu daripada biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!