Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Memang benar kata orang, jika seseorang sudah telanjur tidak suka kepada kita, mau kita berbicara sampai berbusa dan memberikan penjelasan paling logis sedunia pun, mereka tidak akan pernah menyukai kita. Itulah kenyataan pahit yang dialami Rena di tengah keluarga suaminya. Bagi Bu Broto dan Siska, kebenaran tidaklah penting, yang penting adalah ego mereka untuk selalu menempatkan Rena di posisi yang salah. Setiap hari, selain tuduhan tak berdasar dan cacian kasar, tidak pernah sekalipun Renata mendapatkan pujian atau sekadar apresiasi kecil untuk seluruh pekerjaan rumah tangga yang sudah dia lakukan dengan menguras keringat, tenaga dan pikiran.
Keesokan harinya, saat bekerja di rumah Ririn, Rena membawa sebuah rencana baru yang sudah dipikirkannya matang-matang sejak semalam. Sambil merapikan ruang tengah yang sedikit berantakan, Rena memberanikan diri untuk berbicara empat mata dengan majikan barunya itu.
"Mbak Ririn, maaf... kalau boleh, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sebentar," ujar Rena ragu-ragu, menghentikan aktivitasnya sejenak.
Ririn yang sedang menimang bayinya menoleh dengan senyum hangat. "Iya, Mbak Rena. Ada apa? Katakan saja, jangan sungkan."
"Begini, Mbak. Saya ingin meminta izin kepada Mbak Ririn untuk menggunakan ponsel yang Mbak berikan kemarin untuk saya daftarkan m-banking," kata Rena menyampaikan niatnya. "Saya berencana untuk membuka rekening bank baru setelah pulang kerja nanti. Dan kalau boleh, saya ingin meminta Mbak Ririn untuk membayarkan gaji saya nanti lewat transfer saja, bukan tunai. Apa bisa?"
Ririn mengernyitkan kening sedikit, merasa penasaran namun tetap mendengarkan dengan penuh simpati. "Oh, tentu saja boleh, Mbak. Tapi kalau boleh tahu, kenapa Mbak Rena tiba-tiba ingin beralih ke transfer?"
Rena mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum getir. "Saya tidak mau uang gaji hasil kerja keras saya di sini diketahui oleh ibu mertua dan adik ipar saya di rumah, Mbak. Saya ingin mempunyai tabungan sendiri yang tidak bisa disentuh mereka, uang itu nanti akan saya gunakan khusus untuk masa depan saya dan Dio. Kalau gajinya tunai, saya takut mereka akan curiga melihat saya memegang uang."
Mendengar kejujuran Rena, hati Ririn bergetar dilingkupi rasa iba sekaligus kagum akan ketegasan wanita di depannya. Ririn tentu saja mengizinkannya tanpa keraguan sedikit pun.
"Mbak Rena, ponsel itu kan sudah sepenuhnya saya berikan kepada Mbak. Jadi, Mbak Rena berhak dan bebas menggunakan ponsel itu sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Mbak," jawab Ririn dengan nada mendukung yang sangat tulus. "Nanti mulai hari Sabtu, semua upah kerja Mbak akan langsung saya transfer ke rekening baru Mbak. Malah lebih praktis untuk saya."
Rena tersenyum sangat lebar, matanya berkaca-kaca karena haru. "Terima kasih banyak, Mbak Ririn. Kebaikan Mbak tidak akan pernah saya lupakan."
Benar saja, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya di rumah Ririn dengan ekstra cepat dan bersih, Rena tidak langsung pulang ke rumah. Dia mengayuh sepeda ontelnya dengan penuh tekad menuju sebuah kantor cabang bank milik pemerintah yang terletak di pusat kecamatan. Dio duduk diam di boncengan belakang, memeluk erat pinggang ibunya seolah tahu apa yang sedang ibunya lakukan
Di dalam bank yang sejuk oleh pendingin ruangan, Rena duduk mengantri dan saat namanya di sebut, dia duduk di hadapan petugas Customer Service. Dia menyerahkan kartu identitasnya dan membuka rekening pribadi menggunakan sisa uang tunai yang diberikan oleh Ibu Lastri beberapa hari lalu sebagai saldo awal. Prosesnya berjalan dengan sangat lancar. Petugas bank juga dengan cekatan membantu Rena memasang dan mengaktifkan aplikasi m-banking di gawai tua pemberian Ririn.
Mendapatkan buku rekening baru dan sebuah kartu ATM di dalam genggaman tangannya, Rena merasa hatinya dipenuhi rasa senang dan lega yang luar biasa. Dia menatap benda pipih berwarna biru itu dengan binar mata penuh harapan.
Akhirnya, batin Rena sembari mengeratkan genggamannya. Aku bisa menabung untuk masa depanku dan Dio tanpa ada satu orang pun di rumah itu yang bisa menyentuhnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika pecah begitu Rena kembali ke rumah suaminya saat menjelang sore hari. Begitu kakinya melangkah melewati pintu depan, Rena langsung disambut oleh ocehan ibu mertuanya yang kembali menggema di setiap penjuru rumah dengan volume penuh.
"Oalah, jam segini baru kelihatan batang hidungnya! Kamu itu niat jadi istri atau niat jadi gelandangan, hah?!" pekik Bu Broto dari arah dapur, melangkah cepat menghampiri Rena dengan wajah masam yang sudah menjadi menu harian. "Rumah ditinggal-tinggal terus! Suami pulang kerja butuh ketenangan, ini malah istrinya kelayapan tidak jelas! Mau jadi apa kamu, Rena?!"
Sepertinya wanita tua itu memang tidak bisa diam sebentar saja untuk tidak menyakiti hati Rena dengan lidah pahitnya. Tiada hari tanpa intimidasi, seolah-olah menguras kewarasan menantunya adalah sumber energi bagi hidupnya.
Tapi Rena yang sekarang bukanlah Rena yang dulu. Rena yang sudah kebal akan segala bentuk penindasan verbal kini memilih untuk mengabaikan semua ucapan ibu mertuanya itu secara total. Kalimat-kalimat tajam Bu Broto kini terdengar seperti deru angin malam yang tak berarti bagi telinganya.
Rena sekarang hanya bersikap seperti robot yang tidak berperasaan. Wajahnya datar, matanya lurus menatap ke depan, dan bibirnya terkunci rapat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah atau membela diri, dia menuntun Dio melewati Bu Broto begitu saja, masuk ke dalam kamar untuk menyembunyikan buku tabungan dan kartu ATM barunya di tempat paling aman.
"Eh, dasar anak ini. Menantu tidak tau diri, sekarang tidak mau mendengar ucapan ku. Mau jadi apa kamu, Rena. " pekik Bu Broto saat kembali melihat Rena mengabaikannya.
"Apa yang ibu mau dariku? mendengar semua ucapan ibu yang menyakitiku setiap hari? Maaf aku sudah bosan dan kenyang mendengarnya setiap hari. Kalau ibu mau terus mengomel, silahkan saja." sahut Rena dari dalam kamar, sekarang dia sudah mulai berani membantah mengabaikan ibu mertuanya itu
"Kami sekarang berani membantahku, ya. Awas saja, akan aku adukan kepada Aris. " ucap Bu Broto tak terima.
"Silahkan, palingan anak ibu nanti menyuruhku untuk berhenti kerja dan mendengarkan hinaan dari ibu dan Siska." Jawab Rena menantang.
Benar saja, saat Aris datang dan dirasa sudah tenang, Bu Broto kembali mengadukan tingkah laku Rena yang mulai seenaknya dan membantah ucapannya. Aris menatap Rena yang sedang mengajari anaknya menulis dan mencoba bicara dengannya.
"Rena, bisa nggak kamu nggak usah kerja. Tinggal saja di rumah mengurus Dio dan mengurus rumah. Biar rumah ini kembali tenang."
Ternyata tebakan Rena benar, Aris memintanya berhenti bekerja, demi kenyamanan rumah dan ibunya tidak mengadu tentangnya lagi.
"Heh, " Rena terkekeh, "Apakah kalau aku nggak kerja rumah ini akan tenang? seperti dulu? Seperti dulu yang mana maksudmu, mas?"