NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam semakin larut dan awan pekat menjadi saksi dimana Marco kehilangan kesadaran penuh akan dirinya.
Mata yang semulanya terpejam. Kini terbuka membelalak. Ya Marco terbangun lagi. Tapi yang berada dalam bayangan benaknya bukan Rhea. Melainkan Liora. Ia ingin mencari Liora dan ingin menjelaskan kepada gadis itu. Bahwasanya semuanya yang ia lihat tidak seperti yang ia bayangkan.
"Ya, Liora. Aku harus mencarinya." ucap pria itu sembari menyambar keluar kamar dan mencoba menerobos masuk ke kamar sang gadis melalui pintu kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
Hasilnya Zonk, Liora mengunci pintu itu. Marco tidak kehilangan akal. Pria itu mengingat jika di kamar mereka terdapat pintu penghubung.
Marco akhirnya memilih melewati pintu itu. Dan benar, jika pintu. Itu tidak di kunci. Saat pria itu berhasil melewati pintu penghubung. Hening menyelimuti ruangan kamar sang gadis.
Matanya mengedar mencari keberadaan Liora. Ya jelas saja ia melihat sang gadis yang sudah terbaring di atas ranjang kingsize dengan memakai jubah handuk dan rambut yang masih basah.
Marco menelan ludah susah payah. Matanya tidak berkedip menatap betis jenjang yang begitu indah di hadapannya. Pria itu berjalan mendekat. Tanpa menimbulkan suara.
"Liora?" panggilnya. Namun, tidak ada jawaban.
Sesampainya pria itu di sebelah ranjang sang gadis. Matanya menangkap sesuatu, ya Liora memakai headset yang menutupi telinganya. Itu membuat Liora tak bisa mendengar apa yang di ucapkan Marco.
Tangan besar Marco meraih salah satu benda itu. Tatapannya sangat sulit di artikan. Seketika Liora tersentak, saat menatap Marco berdiri menjulang di hadapannya dengan kemeja terbuka.
"Kau? Apa kau sudah gila?"
Mata Marco membulat. Mendengar penuturan Liora.
"M—maafkan aku aku tidak bermaksud Liora—"
Liora sontak terbangun dan ia mendorong dada Marco. "Apa yang kau lakukan, dengan tidak sopan memasuki kamarku?"
"Hei kau biasanya juga memasuki kamarku. Aku juga tidak pernah marah kepadamu."
"Kali ini berbeda Marco, aku membencimu."
Kalimat itu meluncur begitu saja di hadapan Marco. Liora menggigit bibir bawahnya, saat netranya menatap dada bidang yang seperti roti sobek itu.
Seketika gadis itu memejamkan mata. Menahan gejolak di dadanya yang sedang merasakan kecemburuan karena ia jujur saja tidak senang melihat Rhea dan Marco.
Marco menahan tangan Liora. Tatapannya menyipit tajam. "Aku yakin kau sedang marah padaku?"
Bau alkohol menyeruak kedalam indra penciuman Liora. Wanita itu memejamkan mata sejenak agar tidak kehilangan kendali saat Marco berusaha meruntuhkan benteng pertahanannya.
"Tidak! Aku tidak marah padamu!" ucapnya tegas. Jangan sok percaya diri kau Marco!"
Marco tersenyum kecut dengan perkataan Liora. "Apa kau tahu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Aku sedang tidak ingin di ganggu, " sahutnya.
Dengan sisa kekuatan tenaga yang dimiliki. Liora menarik napas dalam-dalam. Dan wanita itu mendorong tubuh Marco agar keluar dari kamarnya.
"Keluar kau, keluar kau Marco!" ujarnya. "Kau, kau sudah bersama Rhea. Aku ingin, —tidak, tidak kalian kekasih kan?"
Liora memukul dada bidang Marco. Amarahnya nyaris meledak. Handuk dikepalanya merosot dan menampilkan rambut basah yang menurut Marco terlihat seksi.
Liora masih mendorong dan memukul. Sedangkan saat mencapai pintu penghubung. Jelas Marco sudah kehilangan kendali. Pria dewasa itu menyentak tubuh Liora ke dinding. Si gadis terpekik saat dingin menjalar menyentuh kulitnya yang seputih susu itu.
Marco menatap lekat Liora, dengan tatapan yang sulit di artikan. Seketika Liora menegang, ia menelan ludah susah payah.