NovelToon NovelToon
Gagal Miskin Karena Sistem

Gagal Miskin Karena Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.

Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.

Namun, takdir berkata lain.

Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]



Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....

#kehidupandidesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Pahlawan Logistik Daerah Terluar

Setelah kembali dari cabang yang ada di pelosok kabupaten asalnya, Budiman merasa begitu lelah lahir batin. Bukan karena perjalanan yang jauh, tetapi harapannya benar-benar berbanding terbalik dengan kenyataan.

Utang yang ia harap akan menghancurkannya secara perlahan, malah tak berguna sama sekali karena dalam waktu singkat, utang itu akan lunas dengan sendirinya. Apalagi notifikasi perbankan tak pernah berhenti memberi tahu uangnya yang masuk di setiap waktu.

"Sepertinya, aku harus segera kabur. Suara itu membuatku semakin pusing," gumamnya merebahkan diri di atas kasur.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, Budiman turun dari kapal kayu antar-pulau dengan wajah pucat pasi, sisa-sisa mabuk laut semalaman masih membekas jelas di kantung matanya. Dia sengaja berlibur ke salah satu cabang di daerah terpencil yang ia pilih untuk mendirikan cabang waktu ekspansi kemarin. Saat ini dia telah berada di wilayah pedalaman Siberut, Kepulauan Mentawai, yang menjadi cabang kesembilan belas.

Pikirannya sederhana, bahkan cenderung bodoh: 'Akses ke sana harus menyeberang samudra, lalu sambung naik perahu kayu berjam-jam. Biaya kirim barangnya mahal, sinyal handphone tidak ada, penduduknya jarang. Ditambah semua harga barang awak naikkan sepuluh kali lipat ... kedai ini pasti akan menjadi kuburan finansial dan tempat paling enak buat lari dari dunia digital! Hahaha!'

Namun, begitu kakinya menginjak daratan dermaga darurat di pinggir sungai pedalaman Siberut, Budiman langsung disambut oleh pemandangan yang membuat jiwanya terguncang.

Di depan ruko kayu sederhana berlogo Budiman Mart, ratusan warga lokal, bahkan beberapa di antaranya adalah tetua adat yang masih mengenakan pakaian tradisional, sudah berkumpul dengan rapi.

Mereka bukan ingin berdemo sambil membawa senjata, tetapi sedang bergotong-royong membantu anak buah kapal menurunkan peti-peti peralatan, pakaian, dan makanan dari atas perahu pompong, yang sekaligus dibawa oleh Budiman.

"Uda Budiman!" Anto berteriak girang dari atas dermaga, melambaikan tangan dengan wajah gosong terbakar matahari laut. Tentu saja Anto dan istrinya ikut kemana pun sang CEO pergi. Termasuk menengok ke seberang lautan ini.

"Uda lihat sendiri, kan? Ternyata warga di sini rela mendayung perahu dari hulu sungai sejak subuh begitu tahu kapal logistik kita sudah masuk!" ucap Anto terharu, disambut anggukan cepat Imar.

Budiman berjalan mendekat dengan lutut lemas. "Kenapa di sini juga sama? Kenapa mereka masih saja datang? Padahal sudah tau harga mi instan di sini itu tiga puluh ribu dan kuali seharga lima ratus ribu. Harusnya mereka mengamuk atau mungkin tak usah beramai-ramai ke tempat ini. Ambo sengaja ingin lari ke sini, biar bisa ist—"

"Mengamuk bagaimana, Pak Budiman?!" potong salah seorang pemuda lokal yang sedang memanggul sekardus sabun cuci.

"Pak Budiman, sebelum toko Anda buka di sini, kalau kami mau beli minyak goreng atau panci harus patungan dulu untuk menyewa perahu pompong seharga lima ratus ribu rupiah untuk ke kota kabupaten!" terangnya.

"Itu pun kalau ombak laut sedang tenang. Kalau badai, kami terisolasi berbulan-bulan kelaparan. Kami hanya makan seadanya, menggunakan sagu!" tambahnya.

Seorang emak-emak lokal dengan logat khasnya ikut menimpali sambil memeluk erat sebuah kuali aluminium baru.

"Benar, Pak! Biar harga barang di toko Pak Budiman mahal sepuluh kali lipat, bagi kami ini berkah luar biasa! Kami tidak perlu lagi bertaruh nyawa menembus ombak lautan hanya demi memenuhi kebutuhan dapur. Pak Budiman ini bukan sekadar pedagang ... Anda adalah pahlawan logistik bagi kami masyarakat Mentawai!"

[ Ding! ]

[ Tingkat kepuasan konsumen di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) menyentuh angka 100%! ]

[ Reputasi korporat Budiman Mart naik ke level: 'Soko Guru Peradaban Pedalaman'. ]

[ Bonus Sistem: Karena Anda berhasil menghidupkan ekonomi pulau terisolasi, Sistem memberikan subsidi tol laut pribadi berupa 2 unit kapal kargo ekspres gratis untuk jalur Padang-Mentawai! ]

Budiman langsung ambruk terduduk bersimpuh di atas pasir pantai sambil memegangi kepalanya yang semakin pening luar biasa.

'Tol laut gratis?! Kapal kargo cuma-cuma, malah jadi makin cepat uangnya terkumpul,' Budiman menjerit histeris dalam batinnya, air mata keputusasaannya mulai menyatu dengan tanah daratan di salah satu pulau di Mentawai itu.

'Padahal niat awak mau memeras kalian supaya toko ini sepi dan bangkrut, kenapa kalian malah menyembah awak seperti pahlawan?! Sistem ... Awak udah muak dengan uang ... sekali saja ... Tolong sekali saja kasih awak kesempatan sampai ke titik nol,' pintanya dengan teramat dalam.

.

.

.

Budiman akhirnya memutuskan untuk mempersingkat waktu pelariannya. Berada lebih lama di pedalaman pulau terluar negara ini, bukannya mendamaikan isi kepalanya, tetapi malah mempercepat kematiannya dalam usia muda karena serangan jantung melihat warga yang terus-menerus menggelar syukuran atas namanya.

​Dengan memanfaatkan kapal kargo ekspres gratis pemberian Sistem, yang sialnya berjalan sangat cepat tanpa hambatan ombak, membuat Budiman, Anto, dan Imar langsung bertolak kembali menuju daratan Sumatera Barat.

Begitu kapal bersandar di dermaga Muaro Padang, mereka langsung melesat menggunakan mobil pikap rongsokan yang telah terparkir semalam dua mala. Mereka menempuh jalur lintas darat menuju toko utama mereka yang berada di Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan.

Sepanjang perjalanan, Budiman hanya menatap jalanan dengan pandangan kosong, sekosong masa depannya yang dikutuk menjadi kaya raya.

Namun, begitu pikap tua yang dimodifikasi itu mengerem mendadak tepat di depan toko utama Tarusan, suasana di sana terasa sangat tidak biasa. Tidak ada antrean emak-emak Pesisir Selatan. Tidak ada suara riuh pembeli.

Truk-truk logistik yang biasanya terparkir rapi membongkar barang di samping ruko, kini terparkir dalam kondisi mesin mati dan bak terbuka yang kosong melompong.

​"Uda ... kenapa di sini sepi sekali?" bisik Imar yang baru turun dari mobil dengan dahi berkerut.

[ bersambung ]

1
Safira Aurora
gimana kelanjutannya?
Aku Rajin Membaca
padahal budiman mau menyerahkan diri 😂
MomyWa
weeeh, udah gak bisa disecrol lagi saking asik bacanya
MomyWa
pahlawan kehancuran ya man?
MomyWa
bagus syekali bukannya?
arielskys
lama2 baca cerita ini bikin otakku makin pinter prinsip2 retail 👍
arielskys
pokoknya kalian harus berjodoh lah
Aku Rajin Membaca: kita lihat gimana ide penulis
total 1 replies
arielskys
walaaaahh, ada2 aja idenya 🤭
Aku Rajin Membaca: wkwkwkw..bikin pouyeng
total 1 replies
arielskys
senangnya ngprank ya sistemnya
arielskys
episode ini ngakak bgt loh?
arielskys
ada ambulance 🤭
arielskys
wahahaha🤣
arielskys
nah tuh, akal2anmu budiman, bener2 gak bisa dihubungi jadinya kan
Syahril Maiza
lanjut up dong thor. kok cuma 1 bab
Syahril Maiza
nikahin aja sanah
Syahril Maiza
bukti cinta diam2 ya
MomyWa: gmn nasibnya ya
total 1 replies
Syahril Maiza
harusnya jiwa kaya raya yg ditingkat kan man
Safira Aurora
greget bgt, org senang kalau kaya, ini pengen bgt miskin
Safira Aurora
santui syekali
Safira Aurora
ga ada pembeli = ga ada yang mengusik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!