NovelToon NovelToon
Selamat Datang, Halal!

Selamat Datang, Halal!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:97.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mawarmay

Bercerita tentang sebuah perpisahan yang disebabkan oleh sebuah ketakutan yang menyelimuti. Hingga dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda dan jalan yang sama.

Jodoh tidak tertukar, begitulah banyak orang berkata. Dan memang benar adanya, meskipun mencoba berkelit dengan segudang alasan namun asa tetap terikat pada keduanya sehingga mampu menghela mereka menuju satu ikatan pernikahan.

wanita adalah tulang rusuk lelaki. maka tak ada istilah tulang rusuk yang tertukar selama ini.


Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita"

(HR al-Bukhari dan Muslim).

®Mawarmay®

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Problem

"Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari suatu rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah"

(HR. Muslim no. 780).

---

Amira tergugu, dia hanya diam menatap sang suami dan Fatih bergantian. Sejak awal Amira memang sudah menebak bahwa di balik kemudi mobil merah itu adalah Fatih, namun dengan berjalannya waktu dia menepis segala argumentasi itu dengan banyak alibi yang dia bisa. Dan sekarang, saat dia mengetahui secara pasti dan langsung kenyataannya dia menjadi merasa terkejut dan tertekan.

Ingatan Amira pada hari kedua dia bertemu dengan Fatih, di mana dia diberi tawaran untuk diantar dan saat itu Fatih menunjuk mobil berwarna merah dan dengan pasti Amira menolak. Dan ingatannya kembali saat dia selalu merasa bahwa mobil itu terparkir di dekat halte dia menunggu bus. Amira menghela napas, dia sungguh merasa kesal dan juga bingung bersamaan.

"Kamu bisa masuk lebih dulu," kata Dinan menyentuh tangan Amira sehingga tatapan Amira hanya terfokus kepada dirinya.

"Tapi, aku masih ingin bertanya," jawab Amira membuat Dinan menggelangkan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Amira tidak terima, karena ini adalah masalahnya selama ini dia yang diikuti jadi dia harus berbicara dengan lelaki itu untuk meluruskan semuanya.

"Kamu ingin bicara dengan dia sendiri?" tanya Dinan datar, dia melepas tangan dari tangan Amira.

"Iya," jawab Amira mengangguk.

"Baiklah." Dinan membalik badan menatap Fatih kemudian dia berjalan meninggalkan Amira tanpa kata. Hal itu jelas menohok ketenangan Amira, dia merasa bersalah terhadap Dinan.

"Mas," panggil Amira saat Dinan sudah hampir di dekat mobil. Amira melangkah mendekati Dinan.

"Maaf," kata Amira menunduk. Dinan hanya menoleh kemudian hendak membuka pintu.

"Mas," panggil Amira lagi.

"Sudahlah, bicara seperlunya kemudian kamu segera masuk." Dinan mengatakan itu kemudian dia menepuk bahu Amira dan hendak membuka pintu.

"Miray percaya sama Mas. Miray masuk dulu ke sekolah nanti tanyakan detailnya dan Miray harap ini tak akan terjadi lagi. Dua tahun ini sudah cukup mengganggu kenyamanan hidupku." Dinan menoleh ke arah Amira, dia tidak menduga bahwa Amira akan dengan mudah berubah pikiran. Sebab dia pikir akan membutuhkan waktu lama untuk mengingatkan Amira tentang posisinya saat ini, tapi pemikiran itu harus segera ditepis oleh Dinan. Karena Amira berbeda dan dia harus banyak bersyukur atas apa yang ada.

"Baiklah. Ayo Mas antar ke dalam sebelum Mas bicara dengan dia." Amira tersenyum tipis kemudian mengangguk.

"Aku antar Amira ke dalam dulu." Dinan mengatakan itu dengan wajah menatap ke arah Fatih dari balik tubuh Amira. Dinan memastikan Fatih untuk tetap menunggu dirinya.

"Mas tidak marah, bukan?" tanya Amira dengan nada pelan saat keduanya mengangkat buku menuju ruang ketrampilan. Karena mobil Dinan tidak bisa masuk hingga depan ruangan terhalang lapangan basket.

"Saya tidak marah." Amira menoleh ke arah Dinan, Amira menyadari pergantian kata saya dan aku yang dilakukan oleh Dinan.

"Mas," panggil Amira.

"Tidak ada, sudah jangan khawatir. Fokuslah terhadap aktivitas kamu hari ini," kata Dinan memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Amira. Kemudian dia mengusap lembut puncak kepala Amira.

"Kalau sudah waktu pulang SMS atau telepon. Mas berangkat dulu, assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh."

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, hati-hati." Dinan tersenyum kemudian dia mengangguk. Amira tetap mengamati Dinan hingga punggung Dinan menjauh bahkan dia masih tetap di tempatnya ditinggal oleh Dinan, saat Dinan dengan akrab berbincang dengan satpam gerbang belakang yang tak diketahui namanya oleh Amira. Dia jadi merasa tak enak hati, Dinan bisa akrab dengan satpam itu dan nampak saling mengenal padahal Dinan sudah tidak mengajar di sini, tapi dirinya yang jelas mengajar di sini malah tidak tahu nama satpam yang bisa dibilang rekan kerjanya di sekolah ini.

---

Amira tidak bisa fokus dengan angka-angka yang ada di depannya. Dia masih kepikiran dengan keadaan Dinan dan Fatih. Entah, ini disebabkan karena dia yang terlalu parno atau memang otaknya sudah terkontaminasi dengan sinetron. Tapi yang pasti dia selalu berpikir negatif dalam beberapa hal.

"Bu Mira sudah makan siang?" Amira menoleh ke arah Rina.

"Belum Bu." Amira merasa canggung, dia takut saat diajak bicara Rina dia tidak konsentrasi.

"Mau makan siang bareng?" tawar Rina membuat Amira mengangguk tanda setuju. Dia akan berbicara banyak hal kepada Rina termasuk rencananya yang sudah mendapatkan izin dari Dinan.

"Pesan apa Bu?"

"Saya es teh sama nasi rames." Amira mengatakan itu kepada ibu penjaga kantin.

"Bu Rina, saya sama saja. Tapi nasi rames pakai telur saja lauknya." Amira mengajak Rina untuk duduk. Ruang kantin nampak senggang karena saat ini masih masuk ke jam pelajaran pagi.

"Bu Mira dulu mengapa mengambil jurusan boga?" Amira menaruh ponselnya yang baru dia ambil dari kantong. Dia takut jika Dinan menghubungi namun dia tidak menyadari.

"Saya suka makan, Bu. Jadi berharap bisa memasak makanan yang lezat dan sama seperti yang pernah saya makan." Rina mengangguk.

"Kamu Bu Rina?"

"Dulu saya ingin jadi chef di perhotelan. Tapi sama ayah saya dilarang dan jadilah saya guru." Amira tersenyum tipis, dia ingat perkataan sang ayah.

"Kelak, kamu harus menentukan minat dan bakat yang kamu miliki sendiri. Ayah tak akan pernah menghalangi apapun cita-citamu karena ayah tahu bahwa kamu pasti bisa mengenali diri kamu sendiri. Ingat, setiap manusia memiliki jati diri saat mereka diciptakan."

"Baru-baru ini sepupu saya baru keluar dari pekerjaan lamanya, dia katanya mau pindah haluan." Amira menatap Rina penuh minat.

"Dia dulu bekerja di restoran dengan menu kontinental gitu. Tapi setelah mempelajari agama tentang beberapa yang halal dan haramnya membuat dia gamang dan dia mengundurkan diri. Jadi menjadi juru masak itu sangat menakutkan kalau kita menyadarinya." Amira mengangguk dia baru menyadarinya karena selama ini dia tidak pernah sedikitpun berpikir untuk masuk dan mengambil langsung pekerjaan sebagai juru masak karena dia merasa tidak cocok dengan dapur setiap hari dan setiap waktu. Dia adalah sosok yang mudah bosan, jadi harus memilih pekerjaan yang tidak monoton. Contohlah seperti guru, dia bisa menghadapi banyak hal yang tidak monoton dan cenderung menantang.

"Terus sekarang jadi pengangguran?" tanya Amira.

"Iya, dia menganggur. Kemarin sempat tanya juga soal lowongan tapi kan di tempat kita udah diisi chef Ardi." Amira mengangguk.

"Yang dicari job seperti chef Ardi. Kalau job seperti kita gak mau?" tanya Amira sambil menaruh makanan yang diantar oleh ibu kantin di depan Rina.

"Emang ada lowongan?" tanya Rina bingung.

"Sebenarnya saya sudah memasukkan surat pengunduran diri ke komite hari ini. Jadi kalau sepupu Bu Rina berminat bisa masukin CV mulai hari ini." Rina tersedak karena saat ini dia sedang meminum es jeruk yang ada di depannya.

"Bu Rina tidak papa?" tanya Amira tak enak.

"Saya baik-baik saja." Rina menepuk dadanya kemudian dia mendongak menatap Amira dengan intens.

"Bu Mira mau resign?" Amira mendongak kemudian mengangguk.

"Kenapa?" tanya Rina tidak percaya.

"Ini sebagai pembicara kita berdua saja ya, Bu. Saya mau fokus sama rumah tangga, saya mau menjadi istri yang baik jadi yang harus saya lakukan pertama adalah selalu stay di rumah." Amira sudah memikirkan semua ini, pada hakikatnya dia menyadari bahwa wanita itu tidak baik bekerja di luar apalagi jauh dari mahram, mungkin lebih baik jika dia berada di rumah menunggu suami datang. Jugaan apa yang dia cari, materi? Dia sudah cukup mendapatkan nafkah dari suaminya. Dan menurut Amira mungkin jika dia tetap berkarir itu hanya demi memuaskan ego diri sendiri.

"Bu Mira mau nikah?" Amira tersenyum kemudian dia mengangguk. Dalam hati dia membenarkan ucapan Rina bahwa dia sudah menikah bukan mau menikah.

"Terus dari pihak komite bagaimana?"

"Menunggu pengganti dulu, kalau dalam semester belum ada maka diizinkan untuk keluar." Rina mengangguk.

"Nanti saya coba tanya ke sepupu saya. Siapa tahu dia berminat." Amira mengangguk kemudian keduanya kembali menikmati makanan yang ada di depannya.

---

Amira menunggu Dinan di ruangan depan, setelah sholat dia segera duduk dan membuka Al-Qur'an. Bukan tanpa sebab Amira melakukan ini, selain karena dia ingin mendengar cerita Dinan tentang Fatih juga karena dia takut saat sang suami datang dalam keadaan belum sholat harus ke dalam kamar terlebih dahulu.

Cukup lama menunggu hingga dia menyelesaikan satu muka Al-Qur'an namun Dinan belum kunjung menampakkan wajahnya. Mungkin Dinan sholat di masjid yang ada di jalan atau mungkin Dinan masih ada di kampus. Amira menghela napas kemudian dia menutup Al-Qur'an dan menaruhnya di atas meja.

Amira menoleh ke arah pintu kemudian dia beranjak dari duduknya menuju dapur, dia akan membuat minuman untuk berjaga kalau Dinan segera pulang. Amira mengambil cangkir kemudian dia mengambil panci dan mengisi air. Dia rebus di atas kompor kemudian dia mengambil teko dan mengisi gula dan teh. Biasanya keluarga Dinan akan duduk santai di malam hari sambil minum teh hangat. Amira akan membuatnya dengan air mendidih supaya panasnya tetap terjaga hingga setelah isya.

Amira menaruh cangkir kemudian dia mengisi dengan gula dan bubuk coklat. Dia akan membuatkan Dinan coklat panas, karena dia pikir coklat memiliki kandungan banyak antioksidan yang bermanfaat baik untuk tubuh. Amira duduk di dekat meja makan, dia mengamati beberapa panci makanan kemudian dia mendesah. Makan malam, sepertinya akan sulit dilewati oleh Amira karena dia merasa perutnya kenyang.

"Buat apa, Mbak?" tanya Ifa yang membawa botol susuk ke westafel tempat cuci piring.

"Buat teh," jawab Amira pelan. Dia masih melakukan aksi diam dengan Ifa, dia bukan ingin mendiami saudaranya namun dia hanya bersikap biasa dengan tidak banyak bicara tanpa ada topik yang menurutnya bermanfaat.

"Mbak sudah memikirkan apa yang aku ucapkan kemarin?" tanya Ifa membawa botol baru dan mengisi dengan beberapa sendok susu.

"Ucapan apa?" tanya Amira menoleh ke arah sang adik ipar.

"Ucapan tentang Maura."

"Oh," sahut Amira tak semangat entahlah, topik ini sangat sensitif bagi dirinya.

"Bagaimana?" Ifa mengahadapi ke arah Amira.

"Apanya yang bagaimana?"

"Jangan berbelit Mbak." Amira mengangkat bahu.

"Aku tidak berbelit. Mungkin lebih baik kamu tanyakan langsung sama Mas kamu. Toh yang menjalankan Mas Dinan bukan aku." Amira berjalan menuju ke arah kompor kemudian membuka tutup untuk melihat air sudah mendidih atau belum.

"Tapi sebagai istri Mbak punya andil juga." Amira mengangkat bahu tidak perduli.

"Mbak sudah bilang bukan, kalau semua itu tergantung Mas Dinan. Kalau Mas Dinan mau ya Mbak dan Mas Dinan tinggal mengambil jalan. Kalau mas Dinan diam saja mengapa Mbak harus mengusiknya?"

"Tapi sebagai perempuan Mbak tentu tahu perasaan Maura, bukan?" Amira menoleh ke arah Ifa sebelumya dia memutar kompor untuk mengecilkan api.

"Mbak bukan orang yang baik dan sabar kalau kamu mau tahu, Ifa. Aku orang yang keras dan tidak mudah menyerah. Dan masalah Maura, mengapa kamu tidak tawarkan terlebih dahulu kepada suami kamu? Siapa tahu suami kamu berminat?"

"Mbak!"

"Amira!"

Dua seruan itu berasal dari Dinan dan Ifa yang diucapkan dengan nada dan intonasi yang sama. Amira menoleh ke arah Dinan yang menatapnya tajam. Dia menghela napas panjang, semuanya terasa berat untuk dia hadapi.

---

1
Jepri Sal
oh ya ampun maaf ya thor tadi aku sempat mikir kalaw othor di depanku mau ku benyek tak kucek kucek di baskom habis itu ku jemur dan dikeringkan
dari sekian banyak novel yang ku baca ceritamu yg paling dalam mengadu perasaanku
👑 dari ku untukmu
🏕 di alam terbuka biar othor punya inspirasi lebih banyak lagi,dan bisa membuat pembaca jungkir balik lagi
👌👋👋👋
# geramku
Khanza Altaf
the best
Emak Cunah
bagus ceritanya...karakter ga nekoh"..tp malah jd bagus. ..campur" rasanya de"g ser
Esya Muharmi
kasihan amira , terlalu banyak yang di pikirkan
Esya Muharmi
ending nya aku gx suka sedih
Esya Muharmi
syuka karya2 mu thor, singkat padat n jelas. terkadang bikin syok, sport jantung
Esya Muharmi
legaa thor, ternyata tak seperti dugaan
Esya Muharmi
nyesek, asli nyesek ini
Esya Muharmi
mantap cerita nya thor
Siti Masitoh Kenon
alur ceritanya kok gini ya,aneh ga ngerti trus nama"tokoh nya jg males bacanya
Andriyah Nurhidayati
huh kenapa novel islam sering said ending sih
Andriyah Nurhidayati
Ifa resek coba kowe sing dipiligami rasane piye, cah ra jelas
Andriyah Nurhidayati
kok gak mangilnya mas Dinan aja lebih mesra
Andriyah Nurhidayati
agak bingung bacanya,
we
cerita bagus banyak nasehat ..
Sukeni
ngak ngerti,msh bingung dgn alur ceritax
**✿❀shofyara🐰🐰❀✿**: Semngat up nya thor
IZIN PROMO THOR
,baca chat story aku yuk,
judulnya KEBENCIANKU MENJADI CINTA
Sama novelnya aku
JudulnyA QUIET GIRL IDOL OF MY HEART
,baru mulai ni biar aku semnagat,
Tiap hari aku update terus
dan jangan lupa vote,likecoment+ and rate bintang 5 👍
Jangan lupa mampir juga
Ditunggu kedatangannya....
total 1 replies
Mommy 2
aku jejak
Siti Balkis
saya ko masih bingung ya ceritanyg belum ngrti gitu ....maaf ya thor .boleh nyimak
**✿❀shofyara🐰🐰❀✿**: Semngat up nya thor
IZIN PROMO THOR
,baca chat story aku yuk,
judulnya KEBENCIANKU MENJADI CINTA
Sama novelnya aku
JudulnyA QUIET GIRL IDOL OF MY HEART
,baru mulai ni biar aku semnagat,
Tiap hari aku update terus
dan jangan lupa vote,likecoment+ and rate bintang 5 👍
Jangan lupa mampir juga
Ditunggu kedatangannya....
total 2 replies
Siti Balkis
masih nyimak
Chayra Lailatul R
ngak faham sama alur ceritanya
Naoki Miki: izin promote thor🙏
Haii mampir yuk kekrya q 'Rasa yang tak lagi sama'🤗
tkn prfil q aja yaa jan lupa tinggalkan jejaakk😍
vielen danke😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!