NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azra Tumbang (Part 2)

Suasana mendadak hening. Kedua gadis yang saling berhadapan dengan tatap mata tajam itu menarik perhatian para tamu undangan.

Kedua tangan Azra mengepal kuat di sisi tubuhnya, hingga buku-buku tangannya memutih. Sementara gadis oriental di hadapannya menatap Azra dengan aura penuh permusuhan.

Baru saja gadis itu hendak membuka mulut, suara MC memenuhi ruangan membuyarkan fokus para tamu undangan yang terhipnotis dengan kejadian di depan mereka.

"Hadirin yang kami hormati, malam ini adalah malam tentang pembuktian cinta Aldo Wiratmaja kepada Karmila Wita Gunawan," suara MC terjeda alunan musik romantis dari wedding band yang berada di sisi kiri panggung pengantin.

"Kehadiran Bapak, Ibu, dan sahabat sekalian di sini adalah sebagai saksi ikatan suci mereka. Mari kita berikan doa restu untuk kedua mempelai."

Berangsur-angsur perhatian tamu undangan kembali ke prosesi pernikahan Wita dan Aldo, setelah sesaat lalu teralihkan insiden gelas pecah.

"Acara selanjutnya adalah pemotongan kue oleh Raja dan Ratu kita malam ini. Teriring doa dan harapan dari kita semua, semoga kedua mempelai dianugerahi pernikahan yang abadi, dan dikaruniai anak keturunan yang hebat dan sehat." Begitu MC mengucap kalimat doa, seluruh tamu undangan berseru, 'Amin ...'

Aldo menggandeng tangan Wita menuju tempat pemotongan kue. Kue pernikahan setinggi 1,5 meter terpampang indah di tengah-tengah ballroom.

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan, saat Aldo menyuapkan potongan kue kepada Wita, yang dilanjutkan dengan kecupan lembut di kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.

Suara alunan musik yang syahdu, membawa suasana tegang mencair kembali. Beberapa tamu undangan mengambil momen itu untuk berdansa dengan pasangan, menemani kedua mempelai yang sudah berdansa di tengah aula.

Sementara itu, Azra membawa Linda ke toilet untuk berganti pakaian yang diberikan oleh pelayan hotel.

"Aku tunggu di luar, segera ganti pakaianmu supaya tidak masuk angin."

"Makasih, Kak," rasa haru melingkupi hati Linda. Dia merasa bahagia menemukan teman sekaligus atasan yang begitu tulus dalam memberi perhatian.

Terdengar langkah ketukan high heels mendekat ke toilet, Azra menoleh ke asal suara. Nampak Sekar berjalan tergesa ke arahnya, "Kalian tidak apa-apa?" tanya Sekar dengan nada khawatir.

Azra tersenyum, "Tidak apa-apa," jawabnya sambil menyambut tangan Sekar. Jemari mereka saling menggenggam.

"Syukurlah. Zra, tanganmu kok panas. Kamu demam lagi?" tanya Sekar. Refleks telapak tangannya bergerak menyentuh kening Azra.

Azra menjauhkan kepalanya, berusaha menghindari tangan Sekar.

"Nggak papa, Sekar. Mungkin karena AC, sudah lama nggak kena AC," Azra berkelit dari pertanyaan Sekar. "Eh, tolong tungguin Linda, ya. Aku cari minuman manis dulu ke dalam," pinta Azra.

"Bisa sendiri?"

Azra mengangguk cepat, lalu berjalan kembali menuju aula utama. Langkah Azra sempat tertahan di ambang pintu ballroom. Namun mengingat senyum Wita di pelaminan tadi, ia memaksa dirinya melangkah masuk kembali.

Sementara di lorong toilet, Sekar mengirim pesan singkat kepada ibunya via ponsel. Dia mengabarkan bahwa Azra kembali demam.

Bu Kades yang masih ada di ballroom mengernyit membaca pesan Sekar, lalu netranya menatap pintu masuk dari arah toilet. Pak Kades yang berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandang istrinya.

Sosok itu muncul dari pintu masuk yang mengarah ke toilet. Azra memasuki ballroom dengan wajah sedikit pucat.

Kembali ke ruang perhelatan, Azra menuju dessert table mencari sesuatu yang manis untuk mengganjal perutnya. Saat tangannya hendak menyentuh cupcake cokelat, tangan wanita menepisnya cepat.

Plak!

Azra terkejut. Refleks menarik tangannya, lalu menoleh ke samping dengan cepat. Gadis berwajah oriental itu tersenyum remeh padanya sambil bersedekap dada.

"Tangan gembel sepertimu, tidak layak menyentuh makanan yang ada di sini," ujarnya sinis.

Azra merunduk diam menatap tangan yang baru saja ditepis keras; masih terasa jelas, panas bekas tepisan gadis di depannya. Dia menghela napas berat, perlahan mengangkat kepala dan menatap gadis itu tajam.

"Apa?! Mau melawan? Ingat, posisimu adalah di kakiku. Kamu bisa bertahan hidup, hanya dari belas kasih keluargaku. Atas hak apa kamu hadir di acara semewah ini," gadis itu melanjutkan ucapan sarkasnya kepada Azra sambil mendorong keras bahunya.

Tubuh Azra sedikit terdorong ke belakang. Dia menanggapinya dengan tenang. Menatap gadis itu lama, lalu tersenyum tipis, "Setelah sepuluh tahun lamanya, ternyata mulutmu masih tetap seperti dulu. Berbau sampah," jawab Azra dengan intonasi yang ditekan.

Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan gadis arogan itu, tanpa peduli pada tatapan emosi yang ditujukan kepadanya.

Gadis oriental itu kesal dan meluapkan amarahnya. Tanpa pikir panjang, diinjaknya gaun belakang Azra saat melangkah, menyebabkan tubuh gadis bergaun burgundy itu tertarik ke belakang. Tidak berhenti di situ, gadis itu mendorong punggung Azra hingga terhuyung ke depan.

Nyaris jatuh, beruntung sebuah tangan kekar laki-laki menyambarnya cepat, mencegah kejadian yang lebih mengerikan bila Azra sampai terjatuh membentur meja dengan tumpukan gelas minuman di atasnya.

"Mas Devan! Kenapa kamu menolong gadis sialan ini?!" teriak gadis itu penuh emosi.

Lelaki yang dipanggil Devan itu hanya meliriknya dingin.

Azra berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan pria yang menolongnya. Matanya menatap ke arah sang pria dari jarak yang begitu dekat. Kala tatap mata mereka bertemu, Azra tersentak. Didorongnya pria itu menjauh.

Berusaha berdiri kembali, mendadak kepala Azra berputar, tubuhnya sempoyongan ke samping.

Sebuah tangan kembali menangkap lengan gadis bermata hazelnut itu, mencengkeramnya erat agar tidak jatuh.

"Papa!" Gadis oriental itu kembali berteriak kesal ke arah pria yang baru saja menolong Azra.

"Vera, jaga sikapmu! Jangan membuat onar di pernikahan kakakmu. Nak Devan, maaf, tolong bawa Vera pergi dulu" ucap pria yang dipanggil papa oleh gadis oriental yang bernama Vera.

Dengan sedikit kasar, Papa Vera menarik lengan Azra menjauhi kerumunan. Melewati pelaminan, langkah Azra sedikit terseret dibawa ke taman yang terletak di belakang ballroom.

Dari sudut ballroom, Pak Kades yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu perlahan berdiri dari kursinya. Bu Kades dengan wajah cemas menghampiri suaminya dan menggenggam lengannya erat. Kejadian Azra dibawa keluar menuju taman belakang juga terlihat olehnya.

Sementara itu, dari atas pelaminan, mata Wita menangkap pria paruh baya itu membawa sahabatnya pergi keluar dari aula. Alisnya bertaut, timbul tanda tanya di hatinya. 'Ada apa?'

Dengan tergesa Wita turun pelaminan mencari Aldo. Suaminya itu tengah berbincang dengan beberapa tamu. Setelah Wita mendekat, ia berbisik ke telinga Aldo. Suaminya mengangguk, sambil tersenyum diusaknya anak rambut Wita.

Mengangkat gaun pengantinnya tinggi-tinggi, Wita berjalan cepat mengikuti arah papanya yang membawa sahabatnya, Azra.

Sampai di taman hotel, jantung Wita berdegup kencang. Nampak papanya di taman bersama Azra. Dia tidak berusaha mendekat, hanya mencuri dengar dengan bersembunyi di balik pohon.

"Lepas ... lepaskan!" Azra berusaha berontak dari cengkeraman tangan Hendra, papa Wita dan Vera.

"Siapa yang menyuruhmu ke sini? Apakah belum cukup uang yang ku berikan padamu? Sudah ku bilang berapa kali, jangan pernah menemui aku lagi! Apakah kau benar-benar sudah tuli? Atau memang kau tidak punya malu lagi?" ujar Hendra sambil mengeratkan cengkeraman tangannya pada lengan Azra. Matanya menatap dengan kilatan marah.

"Lepas, Ayah! Ini sakit!" teriak Azra kuat sambil menyentakkan cengkeraman tangan lelaki yang dipanggilnya ayah.

Wita tercekat di balik pohon. Matanya terbelalak. Seketika kepalanya berdenyut hebat mendengar ucapan Azra barusan. Mencoba untuk tetap sadar, satu tangannya berpegangan pada pohon, sementara tangan lainnya menutup mulutnya kuat.

Mata Azra nanar menatap wajah lelaki paruh baya di hadapannya. Ada genangan air mata di kelopak matanya yang sedang dia tahan.

"Aku ..." Azra tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya menggigil menahan gemuruh di dadanya. Sementara napasnya sesak menekan isak tangis yang hendak keluar, "Aku ... tidak pernah ... mengharapkan apa pun darimu! Apalagi uangmu! Bagiku ... semuanya sudah berakhir."

Suara Azra bergetar di akhir kalimatnya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan ayahnya.

Menatap wajah ayahnya yang mengetatkan rahang, pandang mata Azra mengabur, namun masih bisa tersenyum tipis, "Aku tahu ... di mana aku harus berpijak."

Azra berbalik hendak meninggalkan taman, secepat kilat Hendra kembali mencengkeram lengan Azra kuat, "Kamu harus berjanji padaku ..." perintahnya penuh penekanan. Langkah Azra terhenti.

"Lepaskan tangan Anda darinya!" teriak Wita yang keluar dari balik pohon. Dia sudah tidak tahan melihat sahabatnya di bawah intimidasi orang yang dipanggilnya papa.

"Wita?!" Tersentak, Hendra segera melepaskan lengan Azra.

Azra menahan napas, air matanya mengalir di pipi. Lalu memandang wajah Wita dengan tatapan lelah. Wita menangis tanpa suara, berjalan menghampiri sahabat karibnya itu dengan lengan terbuka, namun Azra menghindar. Dia hanya memberikan senyuman lesung pipinya, "Semoga selalu bahagia." Bisiknya lirih.

Azra berlalu. Dua orang yang sedari awal ada di taman itu, ikut beranjak pergi. Berjalan cepat di belakang Azra.

Baru beberapa langkah, tubuh Azra limbung ke samping. Beruntung dua orang itu sigap menangkapnya.

"Hati-hati. Pelan-pelan saja, Nduk. Kami akan memapahmu ke mobil." Bu Kades memeluk Azra erat dengan mata memerah menahan tangis. Berjalan beriringan dengan Pak Kades yang juga menuntun Azra.

Sementara Wita menghadapi papanya. Tatapannya tajam, seperti pedang yang terhunus.

"Anda punya utang penjelasan kepada saya!" ujar Wita tegas sebelum kemudian berlalu pergi.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!