Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan pada Cermin Diri
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tidak sedikit pun menghangatkan tubuh Melanie yang masih gemetar. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan mata. Kamar mewahnya yang biasa terasa seperti istana kini menjelma menjadi ruang sidang yang sunyi, tempat kebenaran masa lalu yang baru saja dibongkar oleh ayahnya terus berputar-putar di dalam kepala.
Melanie menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam yang kentara di bawah kelopak mata. Informasi bahwa Hermawan, ayah Diandra adalah dalang sesungguhnya di balik kebangkrutan keluarga Glen, terasa seperti hantaman ombak yang menjungkirbalikkan seluruh dunianya.
"Bagaimana bisa aku menceritakan ini pada Glen?" bisik Melanie lirih pada bayangannya sendiri. "Dia sudah terlanjur mengunci hatinya dengan dendam kepatuhan pada ayahnya. Jika aku mengatakannya sekarang, dia pasti akan mengira ini hanya taktik busuk keluargaku untuk cuci tangan."
Dengan tekad yang dipaksakan, Melanie menyambar kunci mobilnya. Ia harus menemui seseorang yang bisa berpikir jernih di tengah situasi gila ini. Seseorang itu adalah Thone.
Sementara itu, di selasar luar bangsal perawatan Rumah Sakit Jiwa Pakem, Glen duduk bersandar pada dinding semen yang dingin. Bau obat-obatan yang tajam seolah telah menyatu dengan pakaiannya. Pagi ini, ia terpaksa melewatkan jam kuliah pertama karena harus menunggu jadwal kunjungan dokter spesialis untuk ayahnya.
Dari kejauhan, langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian lorong. Glen mendongak dan mendapati Thone berjalan mendekat dengan wajah yang dipenuhi kecemasan.
"Aku sudah mencarimu ke kost, dan menelepon Bik Sisi," ujar Thone sembari mengatur napasnya yang agak memburu. Ia mengambil tempat duduk di samping Glen, menatap sahabatnya yang tampak begitu kurus dan berantakan di balik jaket denim mewahnya yang mulai kusam. "Bagaimana kondisi ayahmu?"
"Masih sama. Dokter bilang kecemasannya meningkat lagi semalam," jawab Glen datar, suaranya parau menahan lelah yang teramat sangat. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar dasbor NovelToon tempat draf bab tiga puluh satu novel Thornless Red Rose masih setengah tertulis. "Aku harus segera menyelesaikan bab ini, Thone. Setidaknya, jika novel ini bisa menghasilkan uang dari pembaca, aku bisa membayar biaya rawat inap ayah bulan depan tanpa harus menjual motor ini."
Thone menghela napas panjang, tatapannya beralih pada layar ponsel Glen yang menampilkan karakter utama pria yang kian kejam menyiksa sang mawar.
"Glen, berhentilah menulis dengan kemarahan," tegur Thone lirih namun penuh penekanan. "Kamu menggunakan kemewahan fisikmu di kampus sebagai tameng, tapi di sini... di koridor rumah sakit ini, kamu hanyalah seorang anak yang ketakutan. Kamu menyiksa karakter Melanie di dalam novelmu demi memuaskan rasa sakitmu sendiri, padahal gadis nyata di luar sana tidak tahu apa-apa tentang transaksi dua belas tahun lalu."
Glen mengepalkan tangannya, rahangnya menegang hebat hingga urat-urat di lehernya tercetak jelas. "Kamu tidak mengerti, Thone! Setiap kali aku melihat nota kerja sama yang dibawa ayah, namaku, nama keluargaku, semuanya habis dibakar oleh keserakahan bapaknya Melanie! Aku tidak punya pilihan selain membencinya!"
"Bagaimana jika kamu salah, Glen?"
Sebuah suara akrab yang bergetar menahan tangis tiba-tiba memotong perdebatan mereka. Glen dan Thone sontak menoleh ke arah ujung lorong bangsal.
Melanie berdiri di sana.
Gaunnya yang anggun tampak kontras dengan suasana dingin rumah sakit jiwa. Air mata Melanie perlahan luruh, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Glen yang seketika berubah menajam karena keterkejutan yang luar biasa. Pangeran sastra itu terpaku, tak mengira bahwa sang mawar yang ia usir dengan kejam di Tamansari kini justru berdiri di tempat paling rapuh dalam hidupnya, membawa sebuah kebenaran yang siap meretakkan seluruh cermin diri yang selama ini Glen agungkan.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...