Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33 kemarahan anna
Anna datang dengan tergesa-gesa ke rumah Vania setelah menerima telepon dari Nadia. Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil yang dibungkus kain tebal. Sejak keluar dari rumah keluarga Mahendra, kotak itu tidak pernah ia lepaskan dari pelukannya, seolah benda di dalamnya jauh lebih berharga daripada apa pun.
Begitu bertemu Nadia di lobi rumah sakit, Anna membuka kotak tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya tersimpan cangkir keramik bergambar wajah ayahnya.
Cangkir yang beberapa hari lalu ditemukan dengan sisa cairan yang mengandung kafein.
"Aku membawanya."
ucap Anna lirih.
"Aku sudah mencucinya... eh, tidak."
Anna segera menggeleng.
"Maksudku, aku sengaja tidak menyentuh bagian dalamnya lagi. Aku hanya membungkusnya supaya tidak rusak."
Nadia menghela napas lega.
"Itu keputusan yang benar."
ucapnya sambil memeriksa kondisi cangkir.
"Kalau memang nanti perlu diperiksa lebih lanjut, jangan ada lagi yang menyentuh bagian dalamnya."
Anna mengangguk pelan.
"Kalau cangkir ini memang menyimpan jawaban..."
bisiknya.
"...aku ingin semuanya terungkap."
Setelah menyelesaikan beberapa administrasi di rumah sakit, keduanya memutuskan beristirahat sejenak di sebuah restoran kecil yang berada tidak jauh dari gedung laboratorium.
Suasana restoran cukup tenang. Hanya terdengar alunan musik lembut dan beberapa pengunjung yang berbincang pelan.
Namun di meja dekat jendela, tidak ada satu pun senyum yang menghiasi wajah Nadia maupun Anna.
Segelas teh hangat di depan Anna bahkan sudah mulai dingin tanpa sempat disentuh.
Anna terus memandangi kotak kecil yang kini berada di samping kursinya.
"Aku masih tidak percaya Ayah sudah tidak ada."
ucapnya pelan.
"Rasanya baru kemarin beliau masih memarahiku karena pulang terlalu malam."
Senyum tipis muncul di wajah Nadia, tetapi hanya sesaat sebelum kembali menghilang.
"Beliau memang selalu mengkhawatirkanmu."
jawabnya lembut.
Anna menundukkan kepala.
"Lalu sekarang..."
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana Ayah benar-benar pergi."
Air matanya kembali jatuh.
"Aku tidak ingin hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab."
Nadia meraih tangan Anna dan menggenggamnya erat.
"Kalau memang ada sesuatu yang belum terungkap..."
ucap Nadia tenang.
"...kita akan berusaha mencarinya."
"Tapi kita akan melakukannya dengan cara yang benar."
Anna mengangguk.
"Aku tidak akan berhenti."
"Ayah pantas mendapatkan kebenaran."
Nadia memandang adik yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan membantumu."
ucapnya mantap.
"Selama prosesnya dilakukan sesuai hukum dan berdasarkan bukti."
"Bukan karena amarah atau dugaan."
Anna mengusap air matanya.
"Terima kasih, Kak."
"Kalau Kak Nadia tidak ada, mungkin aku sudah kehilangan arah."
Nadia tersenyum tipis.
"Kita hadapi ini bersama."
Tatapannya kemudian beralih pada kotak berisi cangkir di samping Anna.
Benda sederhana itu kini bukan sekadar kenang-kenangan milik almarhum.
Jika masih menyimpan jejak yang dapat diperiksa, mungkin cangkir tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi sebelum ayah Anna meninggal. Namun Nadia juga menyadari, satu barang bukti saja tidak akan cukup. Mereka masih membutuhkan rangkaian fakta lain agar kebenaran, apa pun hasilnya nanti, dapat berdiri di atas bukti yang kuat.
Beberapa hari kemudian, Nadia dan Anna kembali duduk di ruang konsultasi laboratorium. Di atas meja telah tergeletak laporan hasil analisis lanjutan yang mereka tunggu dengan penuh kecemasan. Tidak seorang pun berani membuka pembicaraan. Jantung keduanya berdetak semakin cepat ketika dokter mengambil map hasil pemeriksaan.
Dokter mengembuskan napas pelan sebelum mulai menjelaskan.
"Ibu Nadia, Nona Anna, kami telah menyelesaikan analisis terhadap residu yang terdapat pada cangkir tersebut. Pemeriksaan menunjukkan memang terdapat sisa teh dan kandungan kafein."
Anna mengangguk pelan. Hasil itu masih sesuai dengan dugaan mereka sebelumnya.
Namun ekspresi dokter berubah semakin serius.
"Akan tetapi..."
beliau berhenti sejenak.
"Kami juga menemukan adanya senyawa lain yang tidak semestinya terdapat di dalam minuman tersebut."
Nadia spontan menegakkan tubuhnya.
"Senyawa apa, Dok?"
Dokter mendorong hasil pemeriksaan ke arah mereka.
"Berdasarkan analisis laboratorium, terdapat zat yang dalam jumlah tertentu dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Paparan zat seperti ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kebingungan, gangguan koordinasi tubuh, serta hilangnya kemampuan seseorang untuk menjaga keseimbangan."
Ruangan mendadak sunyi.
Anna membelalak.
"Jadi..."
suaranya bergetar.
"Kalau Ayah meminum teh itu..."
Dokter mengangguk pelan.
"Apabila seseorang mengalami efek tersebut, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang beraktivitas seperti berjalan di tangga, risiko terjatuh memang dapat meningkat."
Nadia merasakan tenggorokannya tercekat.
"Dan bagaimana dengan kandungan kafeinnya?"
tanyanya perlahan.
Dokter membuka halaman berikutnya.
"Kafein memang terdeteksi. Pada orang dengan riwayat penyakit jantung, kafein dapat memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular. Namun dari hasil laboratorium ini saja kami tidak dapat menyimpulkan bahwa kafein menjadi penyebab utama kematian."
Beliau menatap keduanya dengan serius.
"Yang dapat kami sampaikan adalah bahwa kombinasi kandungan yang ditemukan berpotensi memengaruhi kondisi fisik dan kesadaran seseorang. Namun hubungan langsung dengan penyebab kematian tetap memerlukan penyelidikan forensik dan bukti pendukung lainnya."
Air mata Anna langsung mengalir deras.
Tangannya menutupi mulut, sementara napasnya mulai tersengal.
"Berarti..."
"Ayah benar-benar tidak jatuh karena kehilangan keseimbangan begitu saja..."
bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Kalau memang ada seseorang yang memberikan minuman itu..."
Tangisnya pecah.
"Berarti Ayah..."
Anna sudah tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Nadia segera berpindah kursi dan memeluk Anna erat.
Ia sendiri merasakan dadanya sesak.
Selama ini ia terus berusaha meyakinkan Anna agar tidak terburu-buru mencurigai siapa pun. Kini, hasil pemeriksaan memang menunjukkan adanya temuan yang patut diselidiki lebih lanjut, tetapi belum menunjukkan bagaimana zat itu bisa masuk ke dalam minuman atau siapa yang bertanggung jawab.
Nadia mengusap punggung Anna perlahan.
"Dengar aku."
ucapnya lembut meski suaranya ikut bergetar.
"Ini belum menunjukkan siapa pelakunya."
"Tapi ini menunjukkan bahwa kita memang harus mencari kebenaran."
Anna mengangguk sambil terus menangis.
"Aku ingin Ayah mendapatkan keadilan."
Dokter kemudian menambahkan dengan tenang,
"Saya menyarankan hasil pemeriksaan ini diserahkan kepada penyidik yang berwenang. Laboratorium hanya dapat menjelaskan temuan ilmiah. Penentuan apakah telah terjadi tindak pidana memerlukan penyelidikan menyeluruh, termasuk pemeriksaan saksi, barang bukti lain, dan seluruh rangkaian peristiwa."
Nadia menatap laporan di tangannya.
Kini mereka memiliki sebuah petunjuk penting, tetapi bukan jawaban akhir. Jalan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada hari terakhir ayah Anna masih panjang, dan setiap langkah berikutnya harus dibangun di atas bukti, bukan prasangka.
Anna menggenggam map berisi hasil pemeriksaan itu begitu erat hingga ujung-ujung kertasnya mulai kusut. Dadanya naik turun menahan amarah yang selama ini ia pendam. Seluruh kesedihan atas kepergian ayahnya kini bercampur dengan tekad untuk menemukan siapa pun yang bertanggung jawab. Di sepanjang perjalanan pulang, pikirannya hanya dipenuhi satu nama yang terus muncul tanpa henti.
Bianca.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah keluarga Mahendra, Anna bahkan tidak menunggu Nadia turun lebih dulu. Ia membuka pintu dengan tergesa-gesa lalu berlari memasuki rumah.
"Bianca!"
teriaknya lantang.
Suara itu membuat seluruh penghuni rumah terkejut. Adrian yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Bianca langsung berdiri. Bianca menoleh dengan wajah bingung, belum sempat memahami apa yang terjadi.
Anna berjalan cepat menghampiri mereka. Matanya memerah, napasnya memburu, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
"Kamu..."
ucapnya dengan suara bergetar.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada Ayah?"
Bianca membelalak.
"Anna, kamu bicara apa?"
Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya, Anna mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Bianca hingga tubuh wanita itu terhuyung ke samping.
Ruangan mendadak hening.
Bianca memegangi pipinya yang mulai memerah dengan mata penuh keterkejutan.
"Anna!"
teriak Adrian sambil segera berdiri di depan Bianca.
"Kamu sudah gila?"
"Aku justru baru sadar!"
balas Anna sambil menangis.
"Ayah tidak mungkin meninggal karena kecelakaan biasa!"
"Kalian semua terus mengatakan Ayah jatuh sendiri!"
"Tapi ada sesuatu di minuman Ayah!"
Suara Anna semakin meninggi hingga terdengar ke seluruh penjuru rumah.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun lolos kalau memang ada yang mencelakai Ayah!"
Bianca menggeleng kuat.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Aku tidak melakukan apa pun."
Air matanya ikut mengalir karena syok.
Adrian memegang bahu Bianca, lalu menatap Anna dengan wajah penuh kemarahan.
"Cukup!"
bentaknya.
"Kamu tidak bisa menuduh orang tanpa bukti!"
Saat suasana semakin memanas, Nadia yang baru saja masuk ke dalam rumah segera berlari menghampiri mereka.
"Anna!"
panggilnya tegas.
Anna masih berusaha maju ke arah Bianca, tetapi Nadia segera memegang kedua lengannya.
"Lepaskan aku, Kak!"
teriak Anna.
"Aku ingin dia mengaku!"
"Lepaskan!"
Nadia tetap menahan Anna meski gadis itu terus meronta.
"Anna!"
suara Nadia terdengar lebih tegas dari biasanya.
"Lihat aku."
Anna akhirnya menoleh dengan napas yang tidak beraturan.
"Kita memang menemukan sesuatu yang perlu diselidiki."
ucap Nadia pelan namun penuh penekanan.
"Tapi itu bukan bukti bahwa Bianca yang melakukannya."
"Kita belum tahu bagaimana zat itu bisa ada di dalam cangkir."
"Kita juga belum tahu siapa yang bertanggung jawab."
Anna masih menangis.
"Tapi..."
"Tidak."
potong Nadia lembut.
"Kalau kamu bertindak karena amarah, kamu justru bisa menghancurkan kesempatan untuk menemukan kebenaran."
"Kita cari keadilan dengan bukti, bukan dengan emosi."
Anna menundukkan kepalanya. Tangisnya semakin keras hingga tubuhnya bergetar di dalam pelukan Nadia.
Sementara itu, Bianca masih memegangi pipinya dengan wajah pucat, sedangkan Adrian berdiri di sampingnya dengan tatapan tajam ke arah Nadia dan Anna.
Di tengah ruang keluarga yang dipenuhi ketegangan itu, Nadia menyadari satu hal.
Kini, bukan hanya duka yang menyelimuti keluarga Mahendra.
Melainkan juga kecurigaan yang perlahan menggerogoti kepercayaan di antara mereka, sementara kebenaran tentang kematian ayah mereka masih belum sepenuhnya terungkap.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah