Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suara hujan masih menggema nyaring di atas atap kendaraan, menciptakan irama yang tak terputus, seolah alam sengaja menciptakan tirai pelindung agar tak ada satu pun pandangan atau gangguan yang bisa masuk ke ruang sempit dan hangat itu. Di dalamnya, waktu seolah berjalan jauh lebih lambat, atau bahkan berhenti sama sekali — hanya ada kedekatan yang perlahan makin erat, dan detak jantung yang saling menyapa lebih cepat dari biasanya.
Dengan gerakan sangat hati‑hati dan lembut, seolah sedang mengangkat sesuatu yang paling rapuh sekaligus paling berharga di dunia, Elio melingkarkan kedua lengannya ke bawah tubuh Alena, lalu mengangkatnya perlahan hingga gadis itu duduk tepat di atas pangkuannya, bersandar rapat ke dada yang kokoh namun hangat. Posisi itu membuat jarak di antara mereka hilang sepenuhnya; tak ada lagi celah yang terpisah, hanya kebersamaan yang menyatu dalam satu ruang kecil yang terlindungi dari dinginnya udara luar.
Jari‑jemari Elio bergerak perlahan ke arah wajah Alena, menyisir helaian‑helaian rambut yang masih sedikit basah dan menempel di pipi serta dahi, lalu menyingkirkannya ke belakang telinga satu per satu — dengan sangat lembut, seolah takut gerakan sekecil apa pun akan mengganggu ketenangan yang baru saja terbentuk. Ujung jarinya sempat menyapu halus garis rahang dan tulang pipi yang terasa hangat di bawah sentuhan itu, membuat Alena tanpa sadar memejamkan mata lebih erat, menikmati setiap sentuhan yang begitu penuh perhatian.
“Kamu terlihat makin cantik saat duduk di sini… di dekatku,” bisik Elio sangat pelan, suaranya rendah dan bergetar halus, hampir menyatu dengan gemuruh hujan di luar. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali mendekatkan wajahnya, hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan lembut, lalu perlahan bibirnya kembali menyentuh bibir Alena — kali ini dengan kelembutan yang sama seperti sebelumnya, namun jauh lebih lama dan lebih dalam.
Awalnya ciuman itu masih ringan, seolah mengulang momen yang baru saja terputus sebentar. Namun seiring berjalannya waktu, kedekatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dan penuh kerinduan yang tak terucapkan. Bibir Elio bergerak selaras, lembut namun semakin mendalam, seolah ingin menyerap setiap detik dan setiap rasa yang mengalir di antara mereka. Alena pun membalasnya dengan halus, tangannya yang semula tergeletak pasif kini perlahan naik dan beristirahat di bahu telanjang Elio, jari‑jemari menyentuh kulit yang hangat dan sedikit lembap karena udara lembap di dalam mobil.
Saat ciuman itu perlahan melambat namun tak sepenuhnya berakhir, bibir Elio mulai bergerak turun — menyusuri garis rahang yang halus, lalu berhenti sebentar di pangkal leher yang lembut dan hangat. Di sana ia mencium perlahan, berkali‑kali dengan lembut namun cukup berbekas, hingga akhirnya muncul bercak kemerahan samar di kulit yang pucat — tanda kecil namun jelas bahwa sentuhan itu nyata dan penuh makna.
Alena mengerang sangat pelan, suara yang hampir tak terdengar namun cukup jelas bagi Elio yang berada begitu dekat, kepalanya sedikit miring ke samping memberi ruang lebih luas. Namun ia tak mau hanya menerima saja — perlahan, ia pun mengangkat wajah kembali sedikit, lalu menempelkan bibirnya sendiri ke sisi leher Elio yang terbuka, mencium dan menekan sedikit hingga muncul bercak merah serupa di sana pula, persis seperti yang diterimanya.
Elio tersenyum tipis di antara sentuhan itu, mengeratkan pelukannya sedikit lebih rapat seolah puas mengetahui bahwa kini tanda kasih sayang itu ada di kedua sisi, tak satu pun yang tertinggal.
“Kamu juga tahu cara membalas dengan baik ya…” bisiknya di samping telinga gadis itu, napasnya hangat dan membuat bulu kuduk Alena meremang halus namun menyenangkan.
Di luar, hujan belum menunjukkan tanda‑tanda akan mereda; justru semakin deras, membuat suhu udara di sekitar kendaraan makin dingin dan lembap. Namun di dalam, kehangatan tubuh yang saling bersentuhan berfungsi sebagai selimut alami yang jauh lebih ampuh daripada kain apa pun. Elio melingkarkan kedua lengannya lebih erat di pinggang dan punggung Alena, menariknya semakin rapat ke dadanya seolah ingin menyampaikan: selama kita berdekatan, dingin takkan pernah menyentuhmu.
Tangan kanannya perlahan mulai bergerak kembali, mengelus lembut punggung yang tertutup rapat oleh jaket tebal pemberiannya, naik‑turun dengan irama yang menenangkan, lalu meluncur perlahan ke sisi samping tubuh dan turun ke arah paha yang sedikit terbuka karena potongan seragam yang agak pendek. Sentuhan itu sangat halus, tak terburu‑buru, hanya bergerak maju‑mundur perlahan di atas kulit yang terasa sejuk namun mulai berangsur hangat di bawah telapak tangannya — benar‑benar bertujuan agar dinginnya udara tak sampai membuatnya menggigil.
“Supaya tidak kedinginan…” ujarnya hampir berbisik saat menyadari Alena sedikit menahan napas namun tak bergerak menjauh.
Perlahan namun pasti, gerakan tangan itu melanjutkan perjalanannya, naik sedikit lagi dengan lembut namun tetap penuh perhatian, menelusuri garis halus tubuh di balik kain yang kini agak longgar karena jaket yang dililitkan. Sentuhan itu begitu perlahan, seolah setiap inci yang disentuhnya ingin diingat selamanya, hingga akhirnya jari‑jemari menyentuh bagian yang lebih lembut dan peka di sisi tubuhnya — membuat Alena tak kuasa menahan erangan halus yang lolos dari bibirnya, samar namun jelas terdengar di ruang yang hening itu.
Mendengar suara itu, Elio berhenti sejenak namun tak menjauhkan sentuhannya sepenuhnya; ia hanya mengelus lebih pelan lagi, seolah ingin memastikan setiap gerakan tetap nyaman dan aman baginya. Wajahnya masih menempel dekat di samping leher dan bahu Alena, napasnya hangat dan berirama selaras dengan detak jantung gadis itu yang kini berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
“Tenanglah… aku takkan pernah melakukan apa pun yang membuatmu tak nyaman,” bisiknya meyakinkan, jari‑jemari tetap bergerak lembut namun kini lebih terarah hanya untuk memberi kehangatan dan kenyamanan. “Hanya ingin memelukmu dan memilikimu sedekat ini saja… sampai hujan berhenti.”
Alena mengangguk perlahan di samping pipinya, tangannya yang semula berada di bahu kini melingkar ke belakang leher Elio dan menariknya sedikit lebih dekat lagi — jika masih ada jarak yang bisa diperpendek. Kepalanya bersandar nyaman di ceruk bahu yang kokoh itu, telinganya tepat di atas dada tempat ia bisa mendengar detak jantung yang kuat dan teratur namun sedikit terpacu — sama seperti miliknya sendiri.
Suara hujan masih terus berdentang di luar, kabut halus mulai menempel di kaca‑kaca jendela sehingga pemandangan luar menjadi kabur dan samar, seolah dunia luar perlahan menghilang dan hanya menyisakan ruang kecil ini milik mereka berdua saja. Angin yang berhembus kencang menciptakan deru di antara dahan pohon, namun tak satu pun dari itu yang mampu menembus perlindungan hangat yang terjalin di antara kedua tubuh yang saling memeluk erat.
Di dalam kedekatan itu, waktu terus berlalu namun tak terasa berat maupun lambat — justru terasa sempurna. Setiap sentuhan lembut di lengan, punggung, pinggang, hingga paha dan sisi tubuhnya, setiap ciuman singkat di leher atau pipi, setiap hembusan napas yang saling bersentuhan — semuanya menyusun satu kesatuan kehangatan yang membuat dinginnya sore hari tak lagi berarti.
Kadang‑kadang Elio kembali mencium bibirnya — tak secepat maupun sekuat sebelumnya, namun tetap lembut, mendalam, dan penuh pesan kasih sayang yang tak perlu diucapkan dengan kata‑kata. Dan setiap kali itu terjadi, Alena selalu membalasnya dengan halus namun penuh kesediaan, seolah ingin mengatakan bahwa ia pun merasa sama: bahwa di sini, di dalam pelukan ini, adalah tempat paling aman dan paling bahagia di seluruh dunia.
Saat ia beristirahat sejenak di samping bahu Elio, mata Alena perlahan menutup, menikmati kedamaian yang jarang dirasakan sebelumnya. Di dalam benaknya terbayang kembali perjalanan mereka yang bermula dari perselisihan, menjadi perjanjian, lalu tumbuh perlahan menjadi rasa yang begitu dalam hingga kini tak terpisahkan lagi — bahkan tak terpisahkan oleh dinding kendaraan maupun tirai hujan yang lebat sekalipun.
Elio menyadari perubahan halus itu, bagaimana tubuh gadis itu perlahan makin santai dan berat bersandar, seolah merasa benar‑benar terlindungi. Ia pun tersenyum lembut, lalu mencium sekali lagi bagian atas kepalanya dengan sangat halus. Tangannya tetap bergerak pelan dan teratur di punggung serta pinggangnya, menjaga agar kehangatan tetap terjaga dan rasa dingin takkan pernah berani mendekat.
“Tidurlah sedikit jika ingin… aku akan tetap di sini, takkan ke mana‑mana,” bisiknya sangat pelan, hampir hanya untuk telinga gadis itu saja. “Aku akan memelukmu sampai hujan berhenti, sampai langit cerah kembali… dan jauh lebih lama dari itu.”