Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Di Bawah Langit Malam Restoran Atap
"Jika kau terus menatapku seolah ingin menelanku hidup-hidup seperti itu, Dallas, aku mungkin akan benar-benar menciummu di sini sebelum makanan pembukanya datang."
Dallas Enrique langsung tersedak air putih yang baru saja diteguknya. Pria itu buru-buru meletakkan gelas kristal ke atas meja, lalu mengambil serbet kain dengan gerakan kaku untuk menyeka bibirnya. Wajahnya yang biasanya sedingin es kini tampak terusik, menatap gadis di hadapannya dengan alis bertaut rapat.
"Bellamy Guinevere, bisakah kau menjaga bicaramu?" desis Dallas, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melirik ke sekeliling restoran atap mewah yang sepi karena seluruh tempat ini telah disewa penuh oleh Bellamy. "Kita di sini untuk membahas bisnis distrik barat, bukan untuk membicarakan omong kosong seperti itu."
"Bisnis?" Bellamy menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Dallas dengan binar mata yang sangat intens. Gaun beludru hitamnya berkilau indah di bawah temaram cahaya lilin. "Tanah seratus lima puluh miliar itu sudah resmi jadi milikmu, Dallas. Aku sudah menandatangani dokumen pengalihannya di lift tadi. Jadi, separuh waktu malam ini murni milikku untuk merayumu."
"Kau benar-benar sudah tidak waras," ucap Dallas, membuang muka ke arah pemandangan lampu kota dari ketinggian lantai lima puluh. "Ke mana perginya Bellamy yang selalu menangis di depan rumah Javier setiap minggu? Taktik apa lagi yang sedang kau mainkan bersama James?"
"Papa tidak ada hubungannya dengan ini," jawab Bellamy santai, memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi—bukan gerakan seorang gadis manja yang ceroboh. "Aku hanya sadar bahwa mengejar seekor anjing yang tidak tahu diuntung seperti Javier adalah buang-buang waktu. Lebih baik aku mengejar serigala tampan yang terbukti tulus, bukan?"
Kata 'tulus' itu menghantam dada Dallas dengan telak. Ingatan masa lalunya tentang plester luka bergambar Melody kembali berputar di otaknya. Dallas mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya yang mulai runtuh.
"Tulus? Jangan bercanda. Kau bahkan tidak pernah menoleh padaku selama delapan tahun ini," kata Dallas, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan parau. "Jangan menggunakanku hanya untuk membuat Javier cemburu, Bellamy. Aku bukan mainanmu."
"Mainan?" Bellamy mendadak menghentikan gerakannya. Ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Dallas dengan pandangan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dalam, tajam, dan penuh wibawa—tatapan khas Livana Minerva saat sedang bernegosiasi hidup dan mati di dunia bawah. "Dallas Enrique, lihat mataku. Apakah kau melihat ada bayangan Javier di sini?"
Dallas refleks menatap sepasang manik mata hitam milik Bellamy. Di sana, ia tidak menemukan kepanikan, kepalsuan, atau obsesi kekanak-kanakan yang biasa ia lihat dulu. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak dan... ketertarikan yang sangat kuat yang tertuju lurus padanya.
"Aku tahu segalanya tentangmu, Dallas," bisik Bellamy, suaranya merendah, mengirimkan getaran aneh ke sepanjang saraf Dallas. "Aku tahu bagaimana ayah tirimu, Fernando, memanfaatkan otak jeniusmu demi perusahaan Enrique. Aku tahu bagaimana Javier dan dua temannya merundungmu dulu. Dan aku tahu... semalam kau mengkhawatirkanku karena skandal hotel itu, bukan?"
Dallas tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Dari mana kau... tahu semua itu?"
"Seorang wanita punya caranya sendiri untuk mencari tahu tentang pria yang dia inginkan," bohong Bellamy dengan lihai, menyembunyikan fakta bahwa ia memiliki jaringan intelijen warisan naluri mafianya. "Jadi, berhentilah bersikap kaku seperti patung semen, Tuan Muda. Aku memilihmu karena kau pantas didapatkan, bukan karena aku ingin membalas dendam pada siapa pun."
Suasana di meja makan itu mendadak menjadi hening dan lambat. Alunan musik biola yang lembut dari sudut restoran seolah mempertegas ketegangan romantis di antara mereka berdua. Dallas menatap potongan steak di piringnya, hatinya bergejolak hebat antara rasa tidak percaya dan keinginan besar untuk mempercayai kata-kata gadis ini.
"Kenapa harus aku, Bellamy?" tanya Dallas akhirnya, menyuarakan keraguan terbesar yang selama belasan tahun ini ia pendam sendiri. "Aku hanya anak dari seorang wanita desa. Di mata lingkaran sosialmu, aku tidak lebih dari seorang buruh korporasi berkulit Enrique."
Bellamy tersenyum manis—senyuman yang kali ini terasa sangat tulus dan hangat, persis seperti senyuman anak perempuan berusia sembilan tahun yang menempelkan plester di lututnya dulu.
"Karena bagi seisi kota ini, kau mungkin hanya bayangan yang bekerja di balik layar," ucap Bellamy, memajukan tubuhnya dan dengan berani menggenggam tangan kanan Dallas yang berada di atas meja. Jemarinya yang halus mengusap punggung tangan Dallas yang kokoh. "Tapi bagiku, Dallas... kau adalah satu-satunya pria yang memiliki mahkota sejati di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini."
Sentuhan hangat di kulit tangannya membuat jantung Dallas berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan terdengar oleh Bellamy. Telinganya kini sudah memerah sempurna, mengkhianati wajah kakunya yang berusaha tetap tenang.
"Kau..." Dallas menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kegugupannya yang sudah berada di ambang batas. "Kau benar-benar berbahaya, Bellamy Guinevere."
"Terima kasih atas pujiannya, Sayang," goda Bellamy, sengaja menambahkan panggilan manis itu hingga membuat Dallas refleks menarik tangannya kembali dengan salah tingkah, pura-pura batuk kecil untuk mengalihkan pandangan.
"Hans," panggil Dallas dengan volume sedikit dinaikkan.
Hans yang sejak tadi berdiri berjaga di dekat pintu masuk restoran langsung melangkah mendekat dengan cepat. "Ya, Tuan Muda Dallas?"
"Siapkan... siapkan setelan jas hitam terbaik untukku minggu depan," ucap Dallas, matanya melirik Bellamy dengan kilat ketertarikan yang kini tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Pastikan warnanya senada dengan gaun yang akan dipakai oleh Nona Guinevere ke pesta gala."
Hans sempat terperangah sejenak melihat telinga tuannya yang memerah, sebelum akhirnya membungkuk hormat dengan senyuman lega. "Baik, Tuan Muda. Segera saya urus."
Bellamy yang mendengar keputusan itu langsung menyandarkan punggungnya dengan seringai kemenangan yang sangat lebar di wajah cantiknya. 'Satu langkah lagi, Dallas. Sistem novel ini tidak akan pernah tahu apa yang akan menimpa alur ceritanya minggu depan,' batinnya bersorak puas.
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣