NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"

Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mertua Salah Paham

*

*

*

"Tapi semua nggak sesimple itu Ma ..." Andreas masih menjaga suaranya. "Sebagai suami aku juga harus memahami istriku."

Dewi menurunkan tangannya, menarik nafas panjang. "Terserah kamu saja An, yang jelas Mama nggak suka sama sikap Isana yang seolah terus menerus memojokkan kamu."

Andreas terdiam sejenak, menunduk kemudian membuang pandangannya pada botol air mineral yang tadi ia buang dengan kasar.

"Mama juga nggak suka, sama penolakan Isana tiap kali kamu mau menyentuh dia. Itu seperti penghinaan buat Mama An!" lanjut Dewi, dengan sedikit memiringkan kepalanya.

"Ada apa ini?"

Suara Berat dan berwibawa Beni terdengar dekat. Memecah perdebatan.

Ditangannya, secangkir kopi hitam dengan asap tipis mengepul ke udara. Aromanya seketika menusuk, menggantikan aroma cairan pembersih lantai yang sejak tadi mendominasi suasana.

Andreas menunduk pelan, kemudian menggeleng. "Ngga ada apa-apa, Pa ..."

Beni menaruh cangkir kopinya dimeja, menggeser tubuhnya untuk kemudian ikut duduk di kursi kayu bersama anak sulung dan istrinya.

"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kalian berdebat? Papa dengar, kalian menyebut-nyebut nama Isana. Rumah tanggamu sedang ada masalah An?"

Pertanyaan Beni, justru membuat bibir Andreas terkatup rapat. Ada rasa marah yang menyergap. Marah pada diri sendiri, karna dirinya sendirilah penyebab semua masalah.

"Kalo kamu nggak mau bicara, biar Mama aja yang kasih tahu Papamu!"

Dewi yang sejak tadi geram dengan diamnya Andreas saat di tanya, tak sabar untuk menceritakan apa yang dilihatnya tentang Isana.

Beni meraih cangkir, menyesap kopi perlahan. Gesture yang ia ciptakan untuk mempersilahkan istrinya bicara.

"Isana itu, ngambek." Dewi mulai bicara, tak peduli dengan larangan yang Andreas perlihatkan dari tatapannya.

"Semalam aja, dia biarin Andreas tidur di sofa. Selalu nolak, tiap Andreas mau menyentuh. Cuma itu gara-garanya, Andreas nggak bisa nemenin dia lahiran. Padahal kan, jelas-jelas Andreas itu banyak urusan kerjaan. Susah loh jadi dia, apalagi sekarang sedang masa promosi jabatan."

Beni mendengar kan, namun tatapannya tidak bergeser dari permukaan meja kayu didepannya.

"Sekarang malah, bilang nggak setuju kalau acara syukuran dan aqiqahnya Ghazi kita gelar besok malam." Dewi melanjutkan, dan membuat Beni menaikkan satu alisnya.

"Alasannya, karna orang tuanya nggak bisa hadir kalau acaranya mendadak. Itu kan berarti menunjukkan kalau dia itu, maunya cuma di ngertiin. Kasian Andreas, terus-terusan dituntut."

Andreas yang mendengar penuturan Ibunya, yang justru membela tanpa tahu, bahwa sebenarnya kesalahan itu dimulai dari dirinya, bukan Isana. Ia menggigit bibir, bingung harus menjelaskan seperti apa. Kalimat-kalimat kejujuran, terhenti di tenggorokan.

"Jadi bagaimana? Acara syukuran dan aqiqahnya? Jadi dilaksanakan malam besok?" Beni bertanya, sembari menaruh cangkir di atas tatakannya. Kemudian merebahkan punggung disandaran kursi.

"Ya, jadi lah ...!" Suara Dewi sedikit meninggi, seolah menunjukkan kalau dirinya tidak bisa dibantah. "Kalau memang orang tuanya Isana nggak bisa datang, ya biarin aja. Berarti menurut mereka, Ghazi tidak terlalu penting, padahal dia adalah cucu pertama. Masa nggak mau usaha untuk ngasih yang terbaik."

"Bukan itu maksud Isana, Ma ..." Andreas menyela, karna ucapan Dewi sudah semakin lebar kemana-mana.

Dewi langsung menoleh, "Bukan begitu gimana? wong jelas-jelas kok!"

Beni menatap Andreas sebentar, kemudian mengalihkannya pada Dewi.

"Keputusannya sudah bulat, acara syukuran dan aqiqah Ghazi kita laksanakan besok malam. Papa juga nggak suka menunda-nunda. Toh, persiapannya juga bukan Isana yang memikirkan."

Dewi menyilangkan tangannya didada, "Betul, Mama setuju! Timbang manut aja kok susah!"

Gazebo yang mereka tempati terasa sejuk, dengan angin semilir yang membawa uap air terjun buatan di taman kecil. Suara gemericik nya menghadirkan sensani tenang. Namun tidak untuk Andreas yang justru semakin memaki-maki dirinya sendiri.

Kesalah pahaman Dewi terhadap Isana, jelas-jelas buah dari kesalahannya. Dan ia semakin membenci dirinya sendiri. Yang cuma hanya diam, saat kesalah pahaman itu terjadi.

Andreas menghela nafas, benda pipih ditangannya ia genggam semakin erat. Sampai deritnya terasa, baru ia merenggangkan.

Notifikasi pesan dari nomor tidak terdaftar. Andreas mengernyit, menatap layar ponsel yang sudah ia buka.

< Aku tahu, kamu cemburu. Aku tunggu, di Moonlight Jam 2. Jangan khawatir, aku udah reservasi tempat privasi. Nggak ada alasan untuk kamu nggak datang>

Andreas dengan kecepatan insting yang tinggi, segera mengetahui siapa dibalik typing pesan itu. Meski tidak ada nama yang tertera disana.

Siapa lagi kalau bukan Risa. Perempuan yang tadi, sengaja membuat bara kecil dihati Andreas menyala lebih besar. Membakar, hingga ia sendiri kehilangan akal untuk mengontrol sikap.

Udara di sekitar Gazebo tidak panas, namun rasa panas menjalar di pipi, kemudian naik ke telinga. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan ponsel ke saku celananya. Bergegas melangkah.

"Mau kemana, An?!"

Pertanyaan Dewi, menghentikan langkahnya.

"Mau nyobain Blacky!" Sahut Andreas, tanpa menoleh. Dan lanjut berjalan menuruni anak tangga kayu yang tak seberapa jumlahnya. "Udah lama nggak motoran. Cari angin."

Mendengar itu, Dewi menghela nafas. Membiarkan Putranya pergi, meski hatinya merasa gusar.

"Lihat itu Pa, Andreas sampe tertekan begitu loh dia ..."

Ucapnya pada Beni, yang tidak bisa berkomentar apa-apa.

***

Andreas menuju kamar miliknya. Kamar yang ia tempati sebelum menikahi Isana.

Aroma maskulin khas dirinya menyambut. Interior kamar yang di dominasi oleh warna hitam doff dan putih, mengingat kan kehidupannya saat berstatus bujangan.

Ia masih ingat sekali, dimana ia menaruh kunci motor yang ia sebut Blacky. Motor ratusan CC, yang selalu ia bawa kemana-mana saat sejak duduk dibangku kuliah.

Motor itu juga yang sering ia gunakan untuk pergi kencan dengan Isana. Bahkan saat melamar Isana pertama kalinya.

Andreas memalingkan wajah, tepat pada laci nakas di sebelah tempat tidur. Ia tarik gagang laci, seketika isinya menyeruak, memperlihatkan sebuah kunci yang ia cari-cari.

"Aku harus mengakhiri ini semua. Aku tidak mau hubunganku hancur dengan Isana. Aku tidak mau, di cap buruk oleh Mama, oleh Papa ... Terlebih Pak Setyo."

Gumamnya, sambil mengeratkan pegangan pada kunci tersebut.

"Aku harus bertemu Risa, dan menegaskan ini semua. Sebelum semuanya semakin runyam!"

Andreas terus, menegaskan diri. Bahwa kedatangannya untuk bertemu Risa, bukan semata-mata ingin kembali merajut hubungan yang salah. Melainkan ingin menghentikan semuanya. Tidak ada tapi, karna baginya sekarang adalah reputasi dihadapan istri, orang tua, dan juga atasannya.

Andreas membuka lemari, meraih jaket kulit hitam miliknya yang sudah lama tidak ia pakai. Ia kenakan untuk membungkus dada bidangnya. Kemudian meraih kaca mata hitam, dan masker wajah. Berharap itu cukup ia jadikan topeng, untuk tidak mudah dikenali orang-orang.

Setelah cukup, ia menuju garasi. Siap menunggangi Blacky, menuju Moonlight hotel, yang sudah Risa reservasi.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
mawar merah
Masya Allah dilamar sama orang yang disukainya dari dulu 🤭🤭🤭
mawar merah
Jangan mau Sa, biarkan Andreas bersama ulat bulu itu 🤭🤭
neny
ini beneran gendis dilamar kahfi,,yeay,,sahabat jd ipar dong🤩
_Nic: iya kak, Mas Kahfi tipe sat set kalau udah siap😀
total 1 replies
Cheryl🧚‍♀️
Jemput saja si Andreas bila perlu Kurung dia Risa biar nggak Badung nyusulin Isana lagi. Isana Udah nggak butuh laki-laki plin plan begitu nggak punya pendirian mau sana sini.
Cheryl🧚‍♀️: sumpah mau banget
total 2 replies
Cheryl🧚‍♀️
Hadir lah seorang anak yang tidak berdosa dari sebuah hubungan pengkhianatan mereka... nggak tau deh harus ngomong apa? aku cuma kasian sama anak yang dikandung Risa, anak yang nggak tau apa-apa harus menanggung kesalahan orang tuanya kelak🤧
_Nic: Yah begitulah akibatnya bercocok tanam sembarangan🤭
total 1 replies
mawar merah
Ya Allah semoga Bu dewi dapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya
_Nic: Aamiin, semogalah dia cepat sadar. Sadar kalau dpt mantu Risa 😀
total 1 replies
mawar merah
Dih si ulat bulu lagi yang datang
Black Swan
Ayo Risa aku antar kamu ke sana dengan senang hati🤭biar isana nanti sama Althaf🤭🤭🤭🤭
_Nic: Pketin kak, ngga usah dikasih label fragile biar kebanting²🤣
total 1 replies
Black Swan
/Grin//Grin//Grin//Grin//Grin/Yey hamil, biar Isana cerai sama An dan cari suami baruuu🤭🤭🤭
neny
selamat risa,,akhir nya rencana mu berhasil,,dan selamat jg mendapatkan mertua yg ter masyaallah seperti bu dewi🤭🤭
_Nic: Selamat Risa dapat Andreas paket lengkap sama Bu dewi😀
total 1 replies
Black Swan
Kan rezeki aja udah mulai sempit An....An....udah dibilang jangan main sama ulet bulu kan jadi malah kaya gini An🫠🫠😏😏
Black Swan
😏😏😏lama-lama gue juga nih yang jelasin sama mamanya An kalau dia selingkuh sama si Risa, ngomong gitu aja susah banget sih An pake acara muter2 segala
Black Swan
Pengen jambak mamanya An🫠🫠🫠kesel juga sama An ga bisa mgomong terus terang, red flag banget si An pengecut, emang tuh mamanya cocok besanan sama Risa kaya botol ketemu sama tutupnya🫠🫠🫠🫠😏😏😏😏😏
_Nic: kalo Risa yg jadi mantunya bakal gimana ya😀
total 1 replies
neny
pasti itu risa,,
neny: tertuduh terus ya kak🤣🤣
total 2 replies
Cheryl🧚‍♀️
Malangnya nasibmu Andreas, ini belum apa-apa tangis Isana akan terbayar dengan kehancuran kamu.
Cheryl🧚‍♀️
Mungkin Isana harus melewati Cobaa ini dulu sebelum bertemu dengan Althaf. Setelah ini pengen liat yang manis-manis.
Cheryl🧚‍♀️
idih sok-sokan mau rawat Ghazi anaknya aja nggak bener. ogah banget kata baby Ghazi juga mau jadi apa nanti kalau di urus neneknya modelan begitu.
_Nic: Begitulah Dewi🤭
total 1 replies
Cheryl🧚‍♀️
kamu kuat Isana beruntung masih punya keluarga yang support kamu dalam kondisi apapun🥲
Cheryl🧚‍♀️
Gila si Risa boleh juga gayanya. langsung skak mat Andreas kalau dia yang mengizinkan si Risa masuk ke dalam kehidupannya. memang benar sih coba dari awal Andreas nggak mudah tergoda mungkin nggak akan seperti ini.
Cheryl🧚‍♀️
Mampus aja kamu Andreas giliran ke gep bilang Risa itu perempuan iblis giliran di belakang Isana sayang sayangan. laki-laki kampret memang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!