NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN...

​Pagi itu, langit di atas sekolah favorit tampak bersih, menyisakan semburat jingga keemasan yang perlahan memudar digantikan birunya cakrawala. Langkah kaki Naya terasa jauh lebih ringan saat melewati gerbang sekolah, seolah-olah beban berat yang sempat merantai kedua pergelangan kakinya selama beberapa bulan terakhir menguap begitu saja disapu angin pagi.

Ia berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai oleh riuh rendah suara siswa, melangkah menuju ruang guru dengan seulas senyum tipis yang tak mampu ia sembunyikan. Ada binar pelangi yang tertata rapi di sepasang matanya, sebuah binar penuh semangat dan harapan baru yang sudah lama mati suri di dalam dadanya.

Ya. ​Hari ini adalah lembaran pertama ia mengawali semester kedua. Momen yang sudah berbulan-bulan ia nantikan, di mana seluruh siswa kelas dua belas akhirnya menyelesaikan masa praktek kerja apangan mereka di berbagai perusahaan dan instansi. Kini, koridor dan ruang-ruang kelas tidak lagi terasa sepi, karena mereka semua diwajibkan kembali belajar di dalam lingkungan sekolah untuk mempersiapkan ujian akhir.

​Namun, bagi Naya, kembalinya anak-anak kelas dua belas dari dunia industri memiliki arti yang jauh lebih dalam, jauh lebih personal, dan teramat rahasia. Itu artinya, takdir akan kembali membawanya masuk ke dalam ruang kelas yang sama dengan Zaki. Ia akan kembali melihat pemuda itu duduk tenang di antara deretan bangku kayu, mendengarkan suaranya yang berat saat menyapa atau menjawab pertanyaan, dan berinteraksi seperti biasa, layaknya seorang guru dan murid pada umumnya. Setidaknya, itulah sandiwara aman yang harus mereka mainkan dengan rapi di depan publik.

​Cinta yang tumbuh di antara mereka memang ibarat memelihara api di dalam sekam. Sunyi, bersembunyi, namun sanggup menghangatkan sekaligus menghancurkan jika terendus oleh angin dunia luar. Setelah percakapan panjang yang menguras emosi dan air mata di taman dekat pemakaman waktu itu, serta untaian pesan singkat lewat riwayat chat yang intens, pertemuan fisik di antara mereka memang sempat terputus total. Jarak, waktu, dan kesibukan tugas luar sekolah seolah memaksa keduanya untuk kembali pada poros masing-masing, mematuhi hukum alam yang memisahkan status mereka. Dan, selama masa-masa itu, Naya hanya bisa memeluk getar rindu yang tersimpan rapat di balik gawai, membaca ulang baris demi baris teks digital yang menjadi satu-satunya jembatan penghubung jiwa yang kesepian.

​Namun, ada satu hal yang pasti telah mengubah segalanya secara nyata, kata "kamu" dan pergantian gaya bahasa yang Zaki lontarkan dalam chat terakhir mereka. Panggilan informal yang meluncur begitu tulus dari Zaki seakan menjadi palu godam yang meruntuhkan benteng formalitas, mengikis sekat guru dan murid yang selama ini mereka pelihara demi kepatutan sosial.

Kata sederhana itu meninggalkan sebentuk rindu yang teramat egois di hati Naya, sekaligus menumbuhkan benih harapan yang diam-diam berakar kuat, mencengkeram relung jiwanya yang paling dalam. Zaki bukan lagi sekadar murid yang harus ia bimbing, namun pemuda itu telah menjelma menjadi tempat bernaung bagi hatinya yang sempat hancur lebur dihantam masa lalu.

​"Assalamu'alaikum."

​Riak kebahagiaan dan letup-letup asmara yang tengah menari indah di hati Naya mendadak terbentur keras oleh realitas, tepat begitu ucapan sal disambut sunyi.

​Begitu ia melangkah masuk, atmosfer di dalam ruangan luas yang oleh tawa renyah itu langsung berubah drastis, bergeser menjadi sesuatu yang dingin dan bungkam. Sekelompok guru perempuan yang tadinya berkumpul rapat di dekat meja sambil berbisik heboh dengan gestur tubuh yang mencurigakan, tiba-tiba membisu seketika.

Sunyi mendadak tumpah ruah. Mereka saling melempar tatapan canggung, berdeham kikuk, lalu perlahan-lahan memisahkan diri, membaur kembali ke meja masing-masing dengan gerak-gerik yang teramat dipaksakan. Sunyi yang mengintimidasi itu mengiringi setiap ketukan derap langkah sepatu Naya yang bergerak anggun menuju kubikal mejanya sendiri di sudut ruangan.

​Naya menarik kursi kayu miliknya, menimbulkan decitan halus yang terasa memekakkan telinga di tengah keheningan yang janggal itu. Ia duduk, mencoba mengabaikan hawa dingin pengabaian yang menguar kuat dari rekan-rekan sejawatnya.

Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan tas, namun ia segera mengembuskan napas pendek untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Perlakuan pengabaian, tatapan sinis yang disembunyikan di balik senyum palsu, serta bisik-bisik di belakang punggung seperti ini sebenarnya bukan hal baru baginya. Sebagai seorang pendidik di sekolah impian banyak orang, Naya kerap kali terjebak dalam labirin overthinking yang melelahkan.

​Lingkungan kerja di tempat ini terkadang terasa begitu toksik dan menguras energi mental dengan kejam. Begitu dinamis dalam artian yang buruk. Sering kali, Naya merasa baru saja menemukan teman mengobrol yang hangat, seorang rekan yang tampak tulus berbagi keluh kesah di jam istirahat. Namun, tanpa tahu apa sebabnya, keesokan harinya sikap orang tersebut bisa berubah total seratus delapan puluh derajat menjadi sedingin es, menjaga jarak, bahkan memalingkan muka seolah-olah Naya adalah seonggok wabah yang harus dihindari.

​Naya memejamkan mata sejenak, lalu menggelengkan kepala dengan pelan namun tegas. Ia mengusir jauh-jauh kabut pikiran negatif yang mulai mencoba merayap dan merusak suasana hatinya yang sudah ditata rapi sejak subuh tadi.

​Ah, sudahlah, batin Naya, menyemangati jiwanya sendiri yang mulai goyah. Yang penting, aku punya dua sahabat terbaik di dunia, Hana dan Reno.

​Ia kemudian membuka laci, merapikan buku absen kelas, memegang spidol, dan bersiap untuk berdiri. Baginya, semua ketidaknyamanan, drama politik ruang guru, dan lingkungan toksik yang dipenuhi manusia-manusia bermuka dua ini tidak lagi memiliki kekuatan untuk menghancurkannya. Semua itu tidak lagi penting sekarang.

​Sebab, beberapa menit lagi, ia akan melangkah masuk ke ruang kelas dua belas. Ia akan berada di ruangan yang sama dengan Zaki. Mengetahui bahwa ia akan melihat rona wajah pemuda itu lagi, menangkap senyum tipis yang sarat akan arti rahasia di antara mereka, dan menyadari fakta bahwa mereka berada di bawah atap yang sama setelah berbulan-bulan terpisah jarak, sudah lebih dari cukup. Kehadiran pemuda itu telah menjelma menjadi obat penawar paling mujarab, sekotak penyemangat mutlak yang Naya miliki untuk tetap berdiri kokoh.

Drrrrt...

Keheningan di ruang guru itu mendadak pecah bukan oleh suara manusia, melainkan oleh sebuah getaran serempak yang berbunyi nyaring di atas deretan meja kayu. Beberapa ponsel lain bahkan menyusul dengan dering khas bernada tinggi, saling bersahutan membelah udara pagi. Tak terkecuali milik Naya. Benda tipis yang ia letakkan di samping buku absen itu bergetar hebat, menampilkan kilasan notifikasi yang berkedip-kedip.

Dipicu oleh rasa penasaran, Naya meraih gawai miliknya, menyapukan ibu jari untuk membuka kunci layar, dan mendapati sebuah pesan baru dari grup resmi sekolah telah masuk. ​Matanya bergerak cepat menelusuri baris demi baris kalimat formal yang dikirimkan oleh pihak kurikulum. Namun, begitu pandangannya jatuh pada satu nama yang tertera di sana, pasokan udara di paru-paru Naya seolah tersedot habis.

Diinformasikan kepada Bapak/Ibu guru pengajar kelas XII, bahwasanya siswa atas nama Zaki Pradipta telah resmi diangkat menjadi karyawan magang oleh pihak perusahaan tempatnya melaksanakan PKL kemarin, terhitung mulai hari ini. Keputusan ini diambil oleh pihak industri sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dan kinerja luar biasa yang bersangkutan selama masa praktek.

​Maka dari itu, untuk semester kedua ini, siswa tersebut dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar tatap muka di kelas dan seluruh nilainya akan digantikan oleh tugas proyek khusus dari perusahaan terkait. Mohon Bapak/Ibu guru mata pelajaran dapat menyesuaikan pemberian tugas secara daring. Terima kasih.

​Deg.

​Dunia di sekitar Naya mendadak melambat. Jemarinya yang memegang pinggiran ponsel seketika terasa dingin dan kaku. Kalimat demi kalimat di layar itu terasa seperti hantaman tak kasat mata yang meruntuhkan seluruh kastil harapan yang baru saja ia bangun dengan susah payah sejak fajar menyingsing.

​Obat penawar itu, oasis yang ia bayangkan akan menyambutnya di ruang kelas beberapa menit lagi, kini menguap menjadi fatamorgana. Zaki tidak akan ada di sana. Kursi di barisan itu akan tetap kosong. Semester ini, pemuda itu tidak akan kembali ke sekolah karena langkahnya telah melompat lebih jauh menuju dunia luar.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!