NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Posesif

Kenyataannya, sebelum sempat menunggu Miza pulang, Deri sudah pergi. Ia beralasan, mungkin Arinta masih butuh waktu sendiri. Memang benar, Arinta lebih banyak diam dan tidak mengajak ngobrol sama sekali, mungkin Deri merasa tidak nyaman.

"Abis ada yang ke sini?" tanya Miza yang sudah duduk dengan sepiring nasi di hadapannya.

Arinta tak menjawab, ia hanya menunduk menatap makanannya dengan wajah tak berselera.

"Ta?!" panggil Miza.

"Hmm?" Arinta mengangkat wajahnya menatap Miza.

"Abis ada yang ke sini?" ulang Miza.

Arinta menggeleng.

Tidak ada percakapan yang berarti di antara keduanya. Setelah makan siang selesai, Miza tidak bertanya apa-apa lagi.

"Abang udah ketemu sama pacar kamu itu. Abang juga yang ngabarin dia kalau kamu udah pulang," jelas Miza sebelum benar-benar berangkat kembali.

Arinta tentu saja terkejut, tapi ia berusaha menyembunyikan ekspresinya. Entah kenapa, rasa sakit yang Arinta rasakan saat ingatan tentang perdebatan terakhir mereka masih terasa nyeri.

"Kalo kamu bosen, mau keluar boleh, sekitaran sini aja. Sepeda di samping udah ditambel kok bannya," ucap Miza.

Arinta mengangguk mengiakan.

Setelah melepas kepergian Miza dengan mobilnya, tiba-tiba ia terbesit untuk mencari keberadaan orangtuanya. Berbekal cerita yang pernah didengar dari Ghifari, kakaknya.

Arinta tidak mungkin jalan kaki, jadi ia memutuskan menggunakan sepeda yang tadi diberitahu Miza.

"Mulai dari mana kita?" gumam Arinta yang sudah bersiap mengayuh sepedanya.

Ia berkeliling, berharap menemukan seseorang yang bisa dijadikan petunjuk. Niatnya ingin langsung mendatangi rumah kedua orangtuanya, karena katanya, mereka tidak pernah pindah-pindah rumah sejak menikah. Namun masalahnya, semua jalan terasa asing di matanya.

Arinta minggir ke arah warung kopi, karena langit yang semula mendung itu kini mulai menurunkan buliran air.

"Neng, sini duduk dulu. Di situ kena sawer air hujan," titah seorang ibu-ibu.

"Iya, Bu. Makasih," Arinta mengikuti perintah si ibu untuk duduk di tempat yang lebih teduh.

"Pulang dari rumah sakit, neng?" tanya si ibu yang memperhatikan wajah pucat dan bekas infus.

"Iya, tadi pagi pulangnya, Bu."

"Panggil Mak Edah aja, jangan ibu," ucap Mak Edah sambil memberikan segelas teh hangat.

"Eh, ini... Saya nggak bawa uang, Mak," ucap Arinta sebelum benar-benar menerima gelas yang disodorkan.

"Gak apa-apa, minum aja. Eneng pucat banget, kayaknya kedinginan."

Arinta mengangguk sambil menggenggam segelas teh hangat itu. Kehangatannya yang mulai menjalar ke tubuh.

Suasana warung kopi itu lumayan sepi, hanya ada dua hingga tiga bapak-bapak yang sedang merokok dan berbincang.

"Eneng tinggal di mana?" tanya Mak Edah.

"Saya..." Arinta tidak tahu alamat rumahnya, warung kopi ini pun letaknya sudah agak jauh dari rumah, jadi tidak mungkin ia menjawab disekitaran sini.

"Saya tinggal di daerah Jalan Jenderal Sudirman, Mak," jawabnya begitu saja.

"Oh... Lumayan ya, Eneng sepedaan sampai sini."

"Iya," Arinta nyengir canggung.

"Sekolah di mana, neng?" tanya Mak Edah lagi.

"Di SMAN 1."

"IPA ya?"

Arinta mengingat-ingat buku yang tadi ia lihat di meja belajarnya. "IPS, Mak. Keliatannya kayak anak IPA ya?"

"Iya. Kayak anak IPA. Kenapa nggak ngambil IPA aja? Anak Mak juga sekolah di sana, ngambil jurusan IPA."

"Oh, ya? Siapa namanya?"

Arinta teringat, Deri juga jurusan IPA 1. Tunggu, sekarang kan sudah kelas 12. Kemungkinan ada perubahan kelas.

"Andre."

"Mak juga heran, kenapa tuh bocah bisa masuk IPA, sekolah aja jarang."

"Lain kali kalo sakit nggak usah dipaksa sekolah, Ta."

"Tapi kan ada tugas kelompok, nanti dikira aku sengaja ngehindar."

"Maaf ya, coba kalo tadi kamu bilang lagi sakit. Aku nggak bakal nyuruh kamu nungguin aku latihan."

Arinta meringis miris. Masa iya cowok ini tidak bisa melihat wajah pucatnya yang seperti mayat?!

"Iya. Nggak apa-apa."

"Besok istirahat dulu ya? Kalo ada tugas sekolah tinggalin dulu aja, kesehatan kamu lebih penting."

Arinta yang pandangannya mulai memburam hanya bisa berjalan pelan, sampai akhirnya tangan Deri memapahnya.

"Kamu tunggu sini dulu ya? Aku pinjem motor omnya Rido."

"Nggak. Aku bisa."

Deri terlihat gusar. Baru saja ia berjongkok untuk membawa Arinta dipunggungnya, suara berkelahi seseorang menginterupsi.

"Tunggu sini ya?" Deri beranjak sebentar untuk melihat siapa yang sedang adu jotos dibalik gang itu.

"Andre! Rido!" teriak Deri.

Yang dipanggil dua orang, tapi yang menoleh lima orang. Yaps, Andre bawa pasukan untuk mengeroyok Rido, teman dekat Deri.

"Kalian apa-apaan?!" Deri mendekat kearah Rido yang sudah babak belur.

"Gua nggak sengaja numpahin oli ke baju Andre-"

"Br3ngsek ya lu! Masih bisa boong?! Kalo nggak sengaja nggak mungkin sebanyak ini j4ncok!" cerca Depa.

Tanpa mereka sadari, Arinta sudah berdiri tak jauh dari mereka.

"Temen lu tuh ajarin adab! Sekolah kok otaknya minim!" tambah Rehan.

"Ya biasalah, namanya juga sampah masyarakat," Ipan tambah memprovokasi.

Deri sudah berdiri menghadap keempat orang yang sudah menjelek-jelekan temannya.

"Kalian lebih sampah ya!! Orang miskin kayak kalian tuh nggak ada apa-apanya!"

Pukulan keras mendarat tepat di wajah Deri, tentu saja pelakunya adalah Andre. Ternyata satu pukulan belum membuatnya puas. Dua pukulan, tiga pukulan, entah akan sampai berapa.

Rido tidak diam saja, dia ikut memukul Andre ketika Deri mulai lungai.

Tak henti sampai disitu, Depa, Rehan dan Ipan ikut adu jotos mengeroyok keduanya.

Arinta yang sudah bergetar berusaha mendekat ketika ia melihat Andre ingin melayangkan tikaman dari pecahan kaca kearah Deri yang membelakanginya.

Sisa tenaga yang Arinta punya langsung terkuras habis saat pecahan kaca itu justru menikamnya. Deri reflek berbalik badan, mendapati Arinta yang sudah mengeluarkan cairan kental dari dada bagian kirinya. Sementara itu, Andre terduduk lemas dengan raut wajah merasa bersalah.

....

Napas Arinta terengah-engah dengan keringat dingin di sekujur tubuh. Ia tersadar berbarengan dengan sosok laki-laki yang menerobos hujan.

Arinta semakin melemas ketika mendongak dan melihat siapa yang baru saja datang dengan seragam putih-abu yang kuyup.

"Arinta?" ucapnya.

"Andre?!" pekik Arinta seperti melihat hantu.

Tubuhnya semakin bergetar saat sosok itu bukannya segera berganti baju, malah duduk di hadapannya.

"Andre!? Kebiasaan! Pulang telat, ujan-ujanan! Cepet ganti bajunya!" omel Mak Edah sambil melempar handuk ke arah anaknya.

"Bentar, Mak!"

Arinta hanya bisa menunduk, menatap teh yang sudah mulai mendingin.

"Der-"

"Enggak tahu! Aku nggak tahu!" potong Arinta tanpa sadar.

Andre hanya mengangguk keheranan dan langsung masuk ke dalam rumah—yang juga merangkap warung kopi—untuk berganti pakaian.

Di tengah gemuruh hujan yang masih tak henti, Arinta bertekad untuk segera pulang daripada harus bertemu lagi dengan cowok itu.

Baru saja Arinta berdiri, suara seseorang menginterupsi.

"Mau ke mana, Neng? Masih hujan!" Arinta menoleh, melihat seorang bapak-bapak yang sedari tadi duduk merokok tak jauh darinya.

"S-saya..."

"Lu ke sini pake sepeda, Ta?"

Suara itu lagi. Arinta hanya bisa mengangguk tanpa berani menatap kedua mata yang bertanya. Ingatan barusan terasa sangat nyata, rasa sesaknya benar-benar bisa ia rasakan.

"Di sini dulu aja. Nanti sakit lagi kalau ujan-ujanan," ucapnya lagi.

Oke. Mungkin kali ini tidak apa-apa. Arinta menurut saja. Ia kembali duduk, tapi masih tak mengangkat kepalanya.

"Mak? Jaket Andre yang kemarin dicuci taruh di mana?"

Teriakan didalam rumah itu terdengar jelas di telinga Arinta. Jangan-jangan...

Andre keluar dengan jaket berwarna hitam polos di tangannya.

"Pake!"

Benar saja.

Arinta hanya menatap jaket itu sekilas.

"Lu cuma pakai kaos, pasti dingin. Atau kalau nggak mau pakai, masuk aja ke dalam darip-"

Arinta langsung merebut jaket itu begitu saja. Jujur saja, ia memang mulai merasa kedinginan. Ia berniat segera mengembalikannya, agar tak perlu lagi berurusan dengan makhluk menyeramkan ini. Walaupun niat awalnya bukan menyakitinya, tapi tetap saja tikaman itu berasal dari sosok itu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!