membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
...15: BERTEMU TEMAN BARU...
...****************...
Kenzie berjalan maju dengan langkah santai, berjarak beberapa meter dari tempat dua orang pendekar yang kondisi tubuhnya sudah mulai membaik secara drastis setelah meminum pil darinya.
Di depan sana, di sebuah kliring yang dikelilingi pepohonan tumbang, Kenzie melihat tiga ekor Banteng Bertanduk Baja yang dikatakan oleh kedua orang tadi. Detik itu juga, sudut bibir Kenzie kembali berkedut dan ia mulai mengiler membayangkan kelembutan daging berlemak dari ketiga hewan tersebut.
Di sisi lain, ketiga Banteng Bertanduk Baja itu mendadak menghentikan aktivitas mereka. Bulu-bulu di punggung mereka berdiri tegak saat insting bertahan hidup mereka mulai merasakan keberadaan predator puncak yang sedang mengintai. Hawa yang mereka rasakan bukanlah musuh biasa atau target empuk yang bisa mereka seruduk dengan mudah, melainkan sebuah ancaman kematian yang teramat nyata—sesuatu yang sedang mengincar daging mereka untuk dijadikan santapan malam.
Sudut mata Kenzie sedikit berkedut ketika menyadari ketiga monster itu mulai gemetar ketakutan akibat pancaran aura miliknya. Selama delapan tahun tinggal di Gunung Celestara, Kenzie memang terbiasa memancarkan aura binatang buas purba demi menghindari gangguan monster lain yang datang tiba-tiba.
Dulu, Arvendel memiliki perhitungannya sendiri untuk melindungi tempat tinggal mereka. Namun, alih-alih bersusah payah merapal formasi sihir pelindung tingkat tinggi, sang Master yang agak malas itu justru memilih cara praktis: mengajari Kenzie cara memanipulasi dan memancarkan aura monster buas agar para monster tingkat tinggi tidak berani mendekati wilayah mereka.
Arvendel hanya lupa satu hal: ia tidak pernah memberi tahu Kenzie untuk mematikan aura tersebut saat turun gunung. Pada umumnya, para ahli bela diri di dunia luar justru semakin bersemangat jika merasakan hawa keberadaan monster yang kuat. Untungnya, aura Kenzie sedikit berbeda dari monster biasa; hawa itu terasa lebih murni karena ia adalah seorang manusia sejati, bukan bangsa hybrid separuh manusia separuh hewan dan itu hanya efektif terhadap naluri monster hewan saja.
Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Kenzie langsung melesat maju dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya memotong angin, tahu-tahu sudah berada di butir butir udara tepat di atas salah satu banteng. Dengan gerakan menukik yang presisi, ia menghantam bagian belakang kepala monster itu menggunakan pedang barunya yang bahkan masih terbungkus di dalam sarungnya. dan kenzie selalu menggunakan taktik andalannya yang sekali serangan.
*BUMMM—!*
Satu banteng raksasa itu seketika langsung tumbang dan ambruk ke tanah dengan mata memutih. Bagaimana mungkin tidak tumbang? Kenzie telah mengatur bobot pedang baja hitamnya hingga mencapai enam ratus kilogram! Sebuah beban mengerikan yang sanggup meretakan tanah sedalam beberapa senti hanya dengan sekali hentakan statis.
Berkat tetesan esensi darahnya, Kristal Magic Gravitasi di dalam pedang itu kini terikat sempurna dengan batin Kenzie, membuatnya bisa mengatur berat senjata itu sesuka hati secepat kilat.
"Hahaha! Satu telah selesai, sisa dua lagi yang perlu dijinakkan!" Tawa nakal Kenzie menggema puas di tengah hutan, membayangkan betapa lezatnya makan malam mereka nanti.
Dari kejauhan, sepasang mata dari dua pendekar yang menyaksikan hal itu seketika membelalak sebulat telur. Rahang mereka seolah terkunci, tidak percaya dengan apa yang baru saja disuguhkan di depan mata mereka. Ekspresi kekaguman yang masif bercampur rasa kagum yang luar biasa menyatu di raut wajah mereka yang kaku.
Melihat kawan mereka tumbang dalam sekali pukul, dua Banteng Bertanduk Baja yang tersisa tampak mulai mengamuk liar. Sembari mendengus berang, mereka menerobos semak-semak dan menyerang bersamaan ke arah Kenzie yang masih asyik tertawa.
"Tampaknya pemuda itu telah mulai kerepotan karena kedua banteng itu mengamuk secara bersamaan!" ucap pendekar pria itu dengan cemas saat melihat kepulan debu tanah akibat amukan monster.
"Sepertinya begitu. Kalau saja dia tidak memprovokasi banteng lainnya dengan tertawa sekeras itu, mungkin dia tidak akan mendapatkan masalah besar," ujar sang wanita, tangannya meremas pakaiannya sendiri dengan tegang.
Namun, sangat berbanding terbalik dari sudut pandang kedua pendekar itu, Kenzie justru merasa sangat bahagia. Ia bersyukur karena kedua banteng tersisa tidak memilih untuk melarikan diri, melainkan justru mengantarkan diri ke arahnya.
"Hahaha! Bagus, kalian berdua memang cukup pintar karena berinisiatif menyerahkan diri tanpa membuatku repot mengejar!"
Satu detik kemudian, Kenzie menarik napas dalam-dalam. Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah; satu langkah kakinya dimajukan ke depan, sementara badannya dicondongkan ke depan dengan struktur yang teramat kokoh. Bibirnya bergumam lirih, "Jurus Langkah Pengguncang Langit... Teknik Pertama: Langkah Hening Kabut!"
*Sshooss!*
Kenzie meluncur maju bagaikan gumpalan kabut tipis yang ditiup angin, menghilang secara mutlak dari pandangan dan sapuan tanduk kedua banteng itu. Sebelum monster-monster itu menyadari apa yang terjadi, Kenzie tahu-tahu sudah muncul mengepakkan angin di atas punggung salah satu banteng.
*PLAK!*
Hantaman keras dari sarung pedang beratnya kembali mendarat telak di leher atas banteng kedua, membuatnya roboh seketika ke atas tanah. Tanpa membuang momentum, Kenzie menggunakan daya pantul tubuhnya untuk melompat kembali menuju arah banteng terakhir yang tersisa.
*DUMMM!*
Hantaman pedang Kenzie mendarat sempurna tepat di titik vital bagian dahi banteng ketiga. Tekanan gravitasi enam ratus kilogram itu menghentikan momentum lari sang monster secara instan, membuatnya tersungkur tak berdaya di samping kedua kawannya.
Lagi-lagi, dari kejauhan, sepasang mata kedua pendekar itu terkejut bukan main. Mereka seolah kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Melumpuhkan tiga ekor Banteng Bertanduk Baja yang setingkat Master ahli hanya dalam hitungan detik dan menggunakan pedang yang masih tersarung? Itu bukanlah kekuatan yang masuk akal bagi seorang pembela diri usia muda!
"Ini... Bagaimana mungkin hal absurd seperti ini bisa terjadi?!" ucap pria itu dengan raut wajah linglung.
"Aku juga... masih sangat sulit mempercayai apa yang baru saja kita lihat dengan mata kepala kita sendiri!" ujar wanita itu sembari memegangi kepalanya yang pening akibat syok budaya batin.
...----------------...
Beberapa menit kemudian, Kenzie berjalan kembali ke arah mereka dengan santai sembari menyeret ketiga tubuh banteng raksasa itu sekaligus dengan satu tangan, seolah-olah ia hanya sedang menarik ranting kayu yang kering dan ringan.
"Nah, sesuai janjiku, sekarang saatnya pesta!" Kenzie tersenyum lebar, menjatuhkan ketiga monster itu hingga menimbulkan dentuman keras di tanah. Ia kemudian melirik kedua pendekar itu dengan mengedipkan sebelah matanya. "Kondisi kalian sudah membaik, kan? Berhubung aku yang berburu, bisakah kalian membantuku untuk menguliti dan membersihkan bagian daging terbaiknya?"
Mendengar permintaan Kenzie yang begitu santai, kedua pendekar itu segera tersadar dari lamunan mereka dan mengangguk cepat. Dengan bantuan pisau beladiri mereka, proses pembersihan daging berjalan sangat cepat karena tubuh mereka sudah kembali bertenaga penuh akibat khasiat pil ajaib dari Kenzie sebelumnya.
Sementara mereka bekerja, Kenzie mulai sibuk meracik bumbu darurat dari dedaunan dan rempah-rempah hutan yang biasa ia gunakan di Gunung Celestara. Sesaat kemudian, potongan-potongan daging tebal Banteng Bertanduk Baja sudah berjejer di atas bara api unggun yang menyala besar.
*Tshhh... Sizzz...*
Aroma harum yang teramat gurih dan memikat seketika menguar membelah keheningan malam hutan. Minyak alami dari daging banteng menetes membasahi bara, mengeluarkan kepulan asap beraroma rempah yang sangat menggugah selera.
Saat daging itu matang, Kenzie memberikan potongan terbesar kepada kedua teman barunya. "Ayo makan! Jangan sungkan, daging ini adalah obat terbaik untuk memulihkan stamina."
Ketika gigitan pertama mendarat di lidah kedua pendekar tersebut, sepasang mata mereka langsung melebar. Mereka benar-benar terpukau atas kenikmatan rasa kuliner yang diracik oleh Kenzie. Daging banteng yang biasanya terkenal keras dan alot di dunia luar, entah bagaimana di tangan Kenzie berubah menjadi sangat empuk, *juicy*, dan bumbunya meresap hingga ke serat terdalam.
"Demi Dewa Bela Diri... Ini adalah daging terbaik yang pernah kukecap seumur hidupku!" seru sang pria dengan mulut penuh daging.
Di sela-sela kunyahan mereka yang lahap, atmosfer di sekitar api unggun menjadi sangat hangat. Mereka mulai memperkenalkan diri masing-masing secara resmi.
"Oh ya, perkenalkan, namaku Kenzie," ucap Kenzie ramah, sengaja menyembunyikan nama depannya, "Laurent", sesuai dengan perintah dari Arvendel agar tidak memancing perhatian musuh klan.
Pendekar pria itu menyeka bibirnya dan menjabat tangan Kenzie dengan rasa hormat yang tinggi. "Namaku Rava, dan ini rekan seperjalananku, Liera. Kami berdua adalah murid dari akademi gunung langit dan kami juga sedang dalam misi mengembara dari wilayah perbatasan Kerajaan Elyndor."
Liera, pendekar wanita itu, mengangguk anggun dengan wajah yang merona merah akibat kekenyangan. "Salam kenal, Kenzie. Kami benar-benar berutang nyawa dan perut padamu malam ini."
Namun, di tengah obrolan hangat itu, perasaan Rava dan Liera mendadak berubah menjadi campur aduk. Detik berikutnya, mereka merasakan sebuah aliran energi spiritual murni yang teramat pekat mendadak meledak di dalam perut mereka setelah memakan cukup banyak daging banteng tersebut. Energi murni itu mengalir deras menembus jalur meridian mereka, memperbaiki sisa-sisa luka dalam dan memperkuat fondasi *Ki* mereka secara instan.
Melihat hal itu, Rava dan Liera menatap Kenzie dengan tatapan penuh sanjungan yang mendalam. Mereka baru menyadari satu hal yang sangat penting. Mereka teringat momen beberapa saat lalu ketika Kenzie mendadak mengeluarkan air liur saat mereka menyebut nama "Banteng Bertanduk Baja".
Ternyata, Kenzie bersikap sekonyol itu sebelumnya bukan karena dia gila, melainkan karena dia sudah tahu betul bahwa rasa daging monster ini memang berada di level dewa, teramat nikmat, dan kaya akan kandungan energi murni di dalamnya yang sangat berguna untuk membantu terobosan kultivasi beladiri!
"Kenzie... kamu benar-benar seorang monster sejati," gumam Rava sembari menggelengkan kepala kagum, menatap sisa-sisa tulang banteng yang sudah bersih di tangan Kenzie.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..