Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya.
Yang lemah diinjak. Yang gagal dibuang.
Ardan memahami itu sejak hari pertama ia terlempar ke dunia asing bersama satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya—Revan.
Tidak memiliki bakat langit.
Tidak memiliki garis darah legendaris.
Bahkan tidak memiliki sekte untuk berlindung.
Namun Ardan memiliki sesuatu yang lebih berbahaya.
Cara berpikir seorang pemimpin.
Saat para kultivator mengejar kekuatan pribadi, Ardan mulai membangun sesuatu yang lebih besar—kekuasaan.
Ia mengumpulkan para buangan.
Orang-orang gagal.
Mereka yang dihancurkan dunia kultivasi.
Dan dari tangan orang-orang yang dianggap sampah itulah, sebuah kekuatan perlahan lahir.
Sebuah organisasi yang akan mengguncang sekte, kerajaan, bahkan seluruh dunia kultivasi.
Karena terkadang…
monster paling menakutkan bukanlah petarung terkuat.
Melainkan seseorang yang mampu membuat dunia bergerak sesuai keinginannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhir pertarungan
han li yang melihat ayahnya terluka.
ia maju, han li menggigit ujung jarinya.
dalam sekejap kelinci muncul di dekatnya.
mereka menyerang langsung ke arah revan.
tapi, dengan kekuatan yang ia miliki, han li bisa di jatuhkan dengan mudah hanya dengan sekali serang.
begitu juga dengan kelinci miliknya.
"van, kau kenapa" tanya ardan.
mendengar ini, revan menoleh ke arah ardan.
ia tersenyum, sembari menjilat bibirnya.
"qi kental" ucapnya.
ardan sama sekali tidak mengerti apa yang di katakan revan, bahkan dia bingung dengan suara revan yang berubah.
dalam sekejap, revan menghilang dari pasangannya.
"nak ardan, lari" teriak han luo.
detik berikutnya, ardan merasa ada pukulan kuat yang menghantam punggungnya.
ardan terpental beberapa meter.
baru saja ardan akan berdiri.
ada angin yang berhembus di dekatnya.
belum sempat ardan menoleh, hantaman itu kembali terjadi.
kali ini tepat di bagian lengan kiri, ini membuat ardan berguling sampai menabrak pohon.
setelah menabrak pohon, ardan menatap tempatnya tadi.
di sana ada revan yang tengah tersenyum ke arahnya.
bahkan, kali ini revan kembali menghilang.
ia muncul tepat di depan ardan.
ia berjongkok mensejajarkan diri.
"seperti kebangunanku tidak sia sia" ucapnya sembari menjilat bibir.
dengan susah payah, ardan menatap wajah revan yang sudah penuh tato aneh dengan mata merah.
"sadar van, ini aku" ungkap ardan.
revan sama sekali tidak peduli, ia mengangkat tangannya sendiri.
dan mengarahkannya tepat ke dada ardan.
darah langsung menyembur dari sana, tapi saat ini revan berhenti sebelum benar benar mengenai organ dalam ardan.
satu mata revan yang awalnya merah perlahan normal.
dengan perlahan, tangan yang menusuk dada ardan mulai di taring dengan bergetar.
"bocah sialan, jangan ikut campur urusanku" suara berat revan.
"dasar bodoh, aku sekarang sedang membantumu bertambah kuat" suara itu kembali terdengar.
"aku tidak butuh, sekarang pergilah dari tubuhku"ucap revan.
kali ini suaranya yang keluar dari mulut revan berubah.
tak lama revan terjatuh, tapi aura di tubuhnya tidak berhenti keluar.
perlahan tato aneh di tubuhnya juga mulai berkurang.
lalu bertambah.
bahkan dalam pingsannya ini, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya.
melihat ini, ardan ingin mendekat.
tapi tubuhnya tidak bisa di gerakkan.
"jangan terlalu memaksakan diri" suara perempuan tiba tiba terdengar di sampingnya.
saat ardan menoleh, ia melihat wei rey ada di sampingnya.
"wei rey"
"jangan banyak bergerak, sekarang coba kau fokuskan penyembuhan dengan qi kental milikmu. kau perlu tau qi kental unggul dalam hal ini, lagi pula kau bisa menggunakan milikmu agar tidak menumpuk dan meledakkan dirimu" ucap wei rey.
ardan tidak menjawab, ia hanya fokus menatap revan.
tato di tubuh revan terus muncul dan menghilang.
"tidak usah khawatir, dia bisa menghadapi ini sendiri" ucap wei rey sembari memberikan sebuah pil kepada ardan.
ardan menatap pil itu bingung.
"itu adalah pil penyembuh, dengan pil dan kekuatan qi kental milikmu kau akan bisa sembuh dalam waktu singkat"
setelah mengucapkan itu, wei rey menjauh.
ia mendatangi han luo fan han li.
"han li, tuan han luo. bagaimana keadaan kalian" tanya wei rey.
han luo menggeleng.
"aku hanya luka kecil, walaupun sosok yang merasuki revan kuat. tapi kekuatan yang bisa ia keluarkan hanya sebatas kultivasi revan sendiri, dan itu tidak terlalu berbahaya untukku" ucap han luo.
"tapi, apa tidak apa apa membiarkan nak revan dan nak ardan menghadapi ini sendiri" lanjut han luo.
"tuan han luo tenang saja, mereka itu sepesial" ucap wei rey yang menatap ke arah ardan dan revan.
kini, luka ardan mulai tertutup dengan cepat.
sedangkan napas revan sudah mulai stabil.
tato aneh di tubuhnya juga sudah menghilang.
setelah semuanya benar benar pulih, mereka kembali ke gubuk.
tidak melupakan juga serigala api yang sebelumnya.
di perjalanan, ardan hanya menatap revan yang kini tengah di gendong oleh han luo.
"ada apa, bukankah kalian ujungnya tetap selamat" tanya wei rey dari samping revan.
"jika bukan karena kebodohanku, kami tidak akan sampai seperti ini"jawab ardan tanpa menoleh.
"Dari dulu, orang orang di sekitarku menganggap aku ini pintar. aku tidak pernah gagal dalam setiap rencanaku, aku pikir itu memang karena Kepintaranku. aku merasa bisa menaklukkan apapun dengan otakku, tapi nyatanya itu bukan hanya karena otakku saja. aku bisa menjalankan semuanya dengan lancar karena aku di dukung oleh peralatan yang bagus, banyak orang yang membantuku mewujudkannya dengan mengorbankan nyawa mereka hanya untuk mewujudkan dengan sempurna apa yang ku pikirkan"lanjut ardan.
setelah mengatakan itu, ardan hanya merenung sembari menatap revan yang tengah di gendong han luo.
setelah, sampai ke gubuk.
ardan pergi ke tempat berlatih di belakang gubuk ini.
tempatnya tidak berbeda jauh dengan yang ada di rumah wei rey.
wei rey pun sudah kembali setelah memastikan mereka sampai dengan selamat.
di sana, ardan bersila.
ia memegang satu buku yang di berikan wei rey sebelum dia pergi.
"rencana tanpa kekuatan itu tidak akan pernah bisa berjalan mulu" kata kata wei rey saat memberikan buku ini.
"benar apa yang ia katakan, jika aku hanya mengandalkan otakku aku tidak akan pernah bisa maju. hanya memberi rencana dan membiarkan revan mengeksekusinya sendiri, itu sama saja membunuhnya perlahan" gumam ardan sembari menatap buku itu.
ardan mulai membuka buku, di sana ada petunjuk tentang kultivasi.
bagaimana cara memadatkannya, mengalirkan qi, dan sebagainya.
ardan tidak langsung praktek, ia membaca buku samapi 3 kali.
merenungkannya, lalu membaca lagi.
ardan terus melakukan ini, sampai makan malam tiba.
bahkan setelah makan, ia kembali melakukan hal yang sama.
setelah benar benar mengerti, ardan menaruh buku itu di sampingnya.
ia, mengalirkan qi miliknya perlahan tapi teratur ke setiap meredian.
lalu ia memadatkan kolam qi miliknya.
energi qi mulai berkumpul di pusat meredian menggumpal membentuk piringan besar.
namun baru terbentuk sebentar, puringan itu hancur.
ardan terus-menerus mengulanginya.
entah berapa kali ia mencoba, tapi setelah pukul 3 dinihari ardan baru berhasil membentuknya.
tetapi saat ini ardan masih berada di penempaan tubuh menengah, itupun masih setengah matang.
ia masih harus mengisi piringan itu.
dengan energi qi tambahan, dan untuk membentuk piringan selanjutnya ardan harus mengisi piringan ini sampai penuh dengan qi.
walau mata sudah mengantuk, ardan tidak berhenti, ia memejamkan matanya lagi.
perlahan energi qi di sekitarnya mulai berkumpul.
tersaring lewat meredian, dan menetes seperti air ke dalam piringan itu.