Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Bertemu
Asido juga sudah pulang dengan rasa kecewa yang sulit terjelaskan. Sesampainya di kontrakannya seperti biasa selalu disambut dengan candaan teman temannya.
"Bagaimana, Lae?" tanya seorang dari mereka.
Asido hanya menoleh dengan wajah datar.
"Berhasil, kah? Atau....."
Mereka tertawa bersama. Tapi Asido sama sekali tak mengubah ekspresinya. Ia membuka sepatunya dan masuk melewati mereka.
"Dokter itu sepertinya lagi patah hati....." bisik seseorang.
"Sepertinya..... beda dari Lae ini, pulang tadi langsung berbinar." orang itu menepuk temannya, Fian.
Fian tersenyum, dia juga pergi ibadah tadi pagi di gereja yang berbeda dengan Asido. Fian sebenarnya sangat jarang ke gereja. Tapi pagi tadi, dia pergi ibadah sendiri.
Sementara Asido sempat berhenti mendengar percakapan itu. Tapi dia tak peduli dan melanjutkan langkahnya ke kamarnya.
"Disengaja, sudah direncanakan gini tapi tak sesuai......" ucap Asido pelan sambil membuka kemejanya dan melemparkannya begitu saja.
"Padahal tadi pagi......" gumamnya mengingat persiapannya mulai pagi.
Pagi itu, di kontrakannya Asido sudah terbangun jauh lebih pagi dari biasanya. Bahkan matahari belum sepenuhnya tinggi ketika ia sudah selesai mandi dan berdiri di depan lemarinya.
Berbeda dengan Minggu minggu sebelumnya yang cenderung santai, pagi itu ia terlihat begitu bersemangat.
Pintu lemari terbuka lebar. Beberapa kemeja tergantung rapi di dalamnya. Asido memperhatikan satu per satu sebelum akhirnya mengambil sebuah kemeja berwarna cerah yang jarang ia pakai.
"Kemeja ini saja......" ucapnya pelan.
Ia mengangkatnya lalu mencocokkannya di depannya untuk memastikan pilihannya.
Ia mulai bersiap dengan lebih teliti dari biasanya. Rambutnya dirapikan di depan cermin. Kerah kemejanya dibenarkan berkali-kali. Bahkan jam tangan yang hendak dikenakannya sempat diganti karna menurutnya kurang cocok.
"Yang ini lebih pas."
Asido tersenyum kecil melihat dirinya sendiri di depan cermin itu. Penampilannya pagi itu ditata sedemikian rupa hingga terlihat terlihat lebih rapi. Tidak berlebihan, tapi cukup membuatnya tampak berbeda dari hari hari biasanya.
Saat keluar kamar, salah seorang penghuni kontrakan yang sedang menyeduh kopi langsung mengangkat alis.
"Wih...."
Asido menoleh.
"Mau ibadah apa mau lamaran, Lae?"
Asido langsung mendecak sambil mengambil sepatunya.
"Banyak kali katamu."
Temannya tertawa keras.
"Serius. Rapi kali kau hari ini, Lae."
Asido hanya menggeleng sambil menahan senyum. Suasana hatinya terasa begitu ringan sejak bangun.
"Pergi dulu ya, Lae." ucap Asido ingin melangkah keluar.
"Yo. Jangan langsung bawa boru ni raja itu ya, Lae." godanya.
"Ibadah aja lah dulu kau, Lae. BERTOBAT." balas Asido.
Asido berdiri bersiap untuk berangkat ke gereja di depan motornya.
"Semoga bertemu lagi dengannya." ucapnya sendiri penuh harap. Gereja hari ini adalah salah satu alasannya juga untuk cepat cepat bisa pulang dari kampungnya.
Saat di perjalanan, HP Asido bergetar. Ada sebuah notifikasi yang masuk. Asido menyadarinya tapi baginya tak ada yang lebih penting dari ibadah pagi itu. Semuanya bisa diurus setelah pulang gereja.
"Kenapa tak dibaca?"
Nowela langsung mengambil HPnya yang terletak di samping kasurnya setelah bangun. Pagi itu yang langsung dicarinya adalah Asido.
Nowela : Kamu dimana, Bang?
Tak ada balasan yang didapatkan Nowela. Dia meletakkan HP nya begitu saja di atas kasurnya. Lalu perlahan melangkah ke arah mejanya.
"Ini apa.....?" tanya Nowela pelan.
Ia mengambil kertas yang diselipkan di bawah.
"Dari abang itu ternyata......" ucap Nowela tersenyum pagi itu. Dia membukanya dan sarapan. Biasanya Nowela jarang sarapan, makanya sebelum ke klinik Asido sering datang kesana untuk memastikannya sarapan.
Nowela sangat menikmati sarapannya setelah dia panaskan sebentar. Tiba-tiba ia berhenti mengunyah, mengingat chatnya yang belum juga dibalas.
"Tapi dimana Abang itu?" gumamnya sambil memandangi makanan di depannya.
Sesampainya di gereja, Asido memasuki area parkir. Mulai dari memasuki gerbang gereja itu, matanya sudah mulai mencari.
"Sepertinya belum datang......" ucapnya sambil membuka helmnya.
Asido memang datang lebih awal. Bahkan hanya beberapa yang datang ke gereja itu. Masih bisa dihitung jari, padahal jemaat ibadah pagi biasanya akan selalu padat.
Asido beranjak dari parkiran menuju halaman depan gedung gereja. Setiap ada yang datang, ia langsung melihatnya. Memastikan tidak ada orang yang terlewat.
"Cape juga......" ucap Asido sendiri, kakinya terasa pegal. Ia berjalan memilih ke arah pintu masuk dimana disana disediakan kursi untuk menunggu.
Jemaat sudah semakin banyak yang berdatangan. Mulai dari jemaat yang datang bersama orangtuanya, keluarga besar, teman, bahkan pasangan. Tapi, seseorang yang ditunggu Asido belum juga terlihat.
"Sudah jam segini......" Asido melirik jam tangannya. Ia berdiri, melihat orang-orang yang masuk ke dalam gereja, belum juga ada orang yang sedang dicarinya.
"Bah, Horas Amang....."
Seorang bapak paruh baya datang menghampirinya dengan senyum ramah. Wajahnya terasa familiar. Salah satu jemaat yang cukup sering ia temui setiap hari Minggu. Asido langsung membalas senyum itu.
"Horas, Amang."
Keduanya saling berjabat tangan singkat.
"Sehat, Amang?"
"Sehat.... Kau sendiri gimana?" balik tanya bapak itu.
"Sehat, Amang."
Bapak itu mengangguk-angguk. Lalu pandangannya turun memperhatikan Asido dari atas sampai bawah. Senyum di wajahnya makin lebar.
"Wah, rapi kali hari ini."
Asido langsung tertawa kecil.
"Biasa aja itu, Amang."
"Biasa dari mana. Dari tadi kulihat dari sana, kau sibuk benarin kerah baju."
Asido reflek menyentuh kerah kemejanya lalu tertawa malu.
"Anak muda biasanya kalau tiba-tiba berubah begini biasanya ada alasannya." nada suara bapak itu sedikit menjengkelkan.
Asido hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Ya sudah, ya sudah......" ia menepuk pelan punggung Asido beberapa kali.
"kita masuk saja," Lanjut ajaknya melangkah duluan.
Asido tak langsung ikut melangkah, ia melihat ke depan, masih berharap orang yang ditunggunya segera datang.
"Masih menunggu seseorang?" tanya bapak itu.
"oh...... tidak, Amang." Asido melangkah cepat.
Keduanya melanjutkan langkahnya segera masuk ke dalam gedung.
Dari awal ibadah sampai selesai, Asido sesekali melirik kanan, kiri, belakang, dan depannya. Ia masih tetap berharap, kejadian kemarin terulang lagi, saling melirik.
"Amin.... Amin.... Amin,"
Ibadah itu ditutup oleh pendeta. Seperti biasa orang akan saling salaman ke kiri dan ke kanan.
"Selamat hari Minggu, Amang." ucap bapak tadi terlebih dulu pada Asido.
"Selamat hari Minggu, Amang....." balas Asido.
Di luar, Asido sengaja berdiri tak jauh dari pintu masuk. Ia sengaja berdiri di sana masih dengan harapan yang sama.
"Di dalam tak ada lagi?" ucap Asido saat jemaat sudah tak ada yang keluar. Ia melangkah ke pintu dan melihat ke dalam, ternyata jemaat sudah semua pulang. Tinggal pengurus gereja di sana, mempersiapkan untuk ibadah sesi berikutnya.
Ekspresi Asido langsung berubah drastis dibanding tadi pagi. Harapannya untuk bertemu Elisya hilang. Tak ada tempat dan kesempatan lain yang mungkin akan mempertemukan mereka lagi selain gereja itu.