NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pria Asing yang Dingin

Belum sempat Nadia—yang kini berada di dalam tubuh Chelsea—melangkah kembali ke ranjangnya, keheningan ruangan VIP itu mendadak pecah. Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka dengan bantingan yang cukup keras, menimbulkan suara dentuman yang menggema di seluruh sudut kamar.

Seorang pria melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegas dan beritme konstan. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi terasa mencekam dan penuh tekanan. Pria itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap, dibalut oleh setelan jas hitam formal buatan penjahit kelas atas yang melekat sempurna pada tubuhnya. Wajahnya luar biasa tampan dengan garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata elang yang hitam pekat. Namun, ketampanan itu sama sekali tidak memancarkan kehangatan. Sorot matanya sedingin es di kutub, dan ekspresi wajahnya datar tanpa emosi.

Dialah Reynald. Berdasarkan memori Chelsea yang tersisa di otaknya, pria ini adalah tunangan sah dari Chelsea Latief. Dia adalah pewaris tunggal sekaligus CEO muda yang memegang kendali penuh atas imperium bisnis terbesar di kota ini. Pria yang sangat berkuasa, namun juga terkenal kejam dan tidak kenal ampun di dunia bisnis.

Reynald berjalan mendekat, lalu menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Nadia. Ia bersedekap dada, menatap Nadia yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa muak dan jengkel yang tidak ditutup-tutupi.

"Baguslah kalau kamu sudah sadar," suara Reynald terdengar berat, dalam, dan bergaung dingin di udara. Tidak ada sedikit pun nada khawatir, kelegaan, atau kasih sayang dari seorang tunangan di dalam untaian kalimatnya.

Reynald menghela napas pendek secara sinis, menatap Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Berhentilah membuat drama murah seperti ini, Chelsea. Mengonsumsi obat penenang hingga overdosis dan mencoba bunuh diri hanya demi menarik perhatianku? Apa kamu tidak punya cara yang lebih cerdas dan elegan dari ini?"

Nadia mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Di dalam ingatan pemilik tubuh asli, Chelsea memang selalu bertingkah kekanak-kanakan dan sangat tergila-gila pada Reynald. Gadis itu bahkan rela membuang harga dirinya, menangis, dan memohon-mohon di kaki Reynald hanya agar pria itu menoleh padanya atau membalas pesan ponselnya. Percobaan bunuh diri kemarin pun sebenarnya dipicu karena Reynald membatalkan janji makan malam mereka demi pekerjaan.

Namun, Reynald tidak tahu bahwa jiwa yang ada di dalam tubuh Chelsea saat ini bukanlah gadis labil yang bisa ia intimidasi dengan mudah. Nadia adalah seorang wanita mandiri yang pernah memimpin perusahaannya sendiri sebelum dikhianati. Harga dirinya terlalu tinggi untuk diinjak-injak oleh pria asing di hadapannya ini.

Bukannya menangis atau ketakutan seperti biasanya, Nadia justru membalas tatapan tajam mata elang Reynald tanpa berkedip sedikit pun. Keberanian yang tiba-tiba terpancar dari sepasang mata bulat itu membuat Reynald sedikit tertegun di posisinya.

Nadia perlahan mengulas sebuah senyuman tipis di bibirnya. Sebuah senyuman sarkastik dan penuh percaya diri yang belum pernah diperlihatkan oleh Chelsea yang asli sepanjang hidupnya.

"Menarik perhatian Anda?" Nadia terkekeh renyah, sebuah tawa meremehkan yang membuat alis tebal Reynald seketika bertaut heran.

Sembari tetap memegangi tiang infusnya, Nadia melangkah maju dengan anggun. Ia memangkas jarak di antara mereka, menantang aura intimidasi yang dipancarkan oleh Reynald. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam pria itu dengan sorot mata yang tak kalah tajam.

"Tuan Reynald yang terhormat, saya rasa Anda terlalu percaya diri dan tinggi hati," ucap Nadia dengan nada suara yang sangat tenang namun bertenaga. "Jika kehadiran saya di dunia ini, atau fakta bahwa saya masih bernapas setelah maut menjemput begitu mengganggu ketenangan hidup Anda yang berharga..."

Nadia sengaja menjeda kalimatnya sejenak. Ia menatap lurus ke dalam mata Reynald yang mulai memancarkan kilat kemarahan, lalu melanjutkan dengan nada yang sangat santai, "...maka bagaimana kalau kita batalkan saja pertunangan sialan ini?"

Kamar rawat VIP itu seketika menjadi hening mencekam. Suara mesin pendeteksi jantung seolah kalah nyaring oleh ketegangan yang mendadak memuncak di antara mereka berdua.

Reynald mematung di tempatnya berdiri. Matanya melebar selama beberapa detik, memancarkan keterkejutan yang luar biasa. Ia mengira telinganya sedang salah dengar. Kata 'batal' baru saja keluar dari mulut seorang Chelsea Latief? Wanita yang biasanya akan histeris ketakutan jika hubungan mereka merenggang?

Reynald mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan, gertakan, atau kepura-puraan di dalam sepasang mata Chelsea. Namun, yang ia temukan di sana hanyalah ketenangan yang sedalam samudra, kemandirian yang mutlak, dan harga diri yang tidak bisa digoyahkan.

"Apa kamu bilang?" desis Reynald, suaranya merendah penuh dengan ancaman yang berbahaya. Rahangnya mengetat menahan amarah yang tiba-tiba tersulut. "Kamu sedang memainkan taktik baru apa lagi untuk memeras perhatianku, Chelsea? Jangan menguji kesabaranku."

"Pikirkan saja sesukamu, Tuan Reynald. Saya tidak peduli apa yang ada di dalam isi kepala Anda," jawab Nadia acuh tak acuh.

Ia membalikkan badannya dengan santai, mengabaikan keberadaan pria berkuasa itu. Dengan gerakan perlahan, ia kembali naik ke atas ranjang rumah sakitnya dan menarik selimut putih hingga sebatas dada, sama sekali tidak memedulikan ego dan harga diri Reynald yang baru saja ia usik hingga ke dasar.

"Pintu keluar ada di sebelah sana," lanjut Nadia sembari menunjuk ke arah pintu dengan lirikan matanya tanpa menoleh. "Silakan angkat kaki dari ruangan saya. Saya baru saja bangun dari koma dan butuh istirahat tanpa gangguan dari orang asing yang tidak penting."

Reynald mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa penasaran bercampur aduk di dalam dadanya. Ada sesuatu yang sangat berbeda dari wanita di hadapannya ini. Chelsea yang ia kenal tidak memiliki sorot mata setajam ini, tidak memiliki artikulasi bicara seberani ini, dan tidak mungkin mengusirnya seperti ini.

Ada yang tidak beres dengan wanita ini. Apa yang sebenarnya terjadi padanya selama koma? batin Reynald penuh selidik.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Reynald membalikkan tubuhnya dengan kasar dan melangkah keluar dari kamar rawat dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Sementara di atas ranjang, Nadia menatap kepergian pria itu dengan senyuman dingin. Permainan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!