Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Sangkar Emas
Rasa dingin yang merayap di sepanjang lorong lantai dua mansion 'Septem Foundation' malam itu terasa berbeda. Itu bukan sekadar dingin yang dibawa oleh angin malam bulan Juni yang menembus sela-sela jendela kaca patri gotik, melainkan hawa pekat yang lahir dari benturan ego dan obsesi. Althea berdiri mematung di balik pilar batu besar, merapatkan jas beludru hitam milik Jimin yang masih memeluk bahunya.
Aroma 'amber' dan vanila yang manis dari kain itu kini bercampur dengan bau keringat dinginnya sendiri.
Pernyataan Rm di ruang arsip beberapa jam lalu telah menghancurkan seluruh fondasi waras di dalam kepala Althea. *Proyek Septem: Manifestasi Trauma 2010.*
Foto tua itu. Anak perempuan bergaun putih itu adalah dirinya. Kenyataan bahwa dialah alasan mengapa ketujuh pria berbahaya ini membangun sebuah imperium gelap bernama Septem Foundation membuat dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya sengaja dikuras habis. Mereka tidak menemukannya secara kebetulan. Mereka telah memburunya.
“Kau melangkah terlalu jauh, Rm Hyung!”
Sebuah bentakan bariton yang sarat akan amarah memecah keheningan malam. Suara itu milik Jungkook. Althea tersentak kecil, menekan punggungnya lebih erat ke dinding dingin saat mendengar derap langkah kaki yang gelisah dari balik pintu ganda ruang kerja Rm yang sedikit terbuka.
Cahaya kuning keemasan dari lampu ruang kerja memancar membentuk garis panjang di atas karpet merah koridor, bergoyang seiring dengan bayangan-bayangan tubuh tinggi yang bergerak di dalam sana.
"Kita sudah membuat kesepakatan sejak awal saat mendirikan yayasan ini," suara Jungkook kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih rendah namun bergetar hebat karena emosi yang tertahan.
"Kita akan membawanya pulang, menjaganya bersama, dan membaginya dengan adil. Tapi apa yang kau lakukan semalam? Kau mengurungnya sendirian di ruang arsip bawah tanah, mengintimidasi pikirannya yang bahkan belum pulih! Kau mencoba memonopolinya, *Hyung*!"
Althea memberanikan diri untuk mengintip melalui celah pintu yang terbuka sekitar beberapa inci. Di dalam ruangan luas yang dikelilingi rak buku setinggi langit-langit itu, ketujuh pria penguasa Septem sedang berkumpul.
Di ujung meja mahoni besar, Rm duduk dengan tenang di kursi kebesarannya, menumpu dagu di atas kedua tangan yang saling bertautan. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan cahaya lampu meja, menyembunyikan emosi di balik matanya.
Di depan meja, Jungkook berdiri dengan kepalan tangan yang mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Seragam taktis hitamnya membuat penampilannya malam itu terlihat seperti seorang prajurit yang siap mengangkat senjata melawan pemimpinnya sendiri.
"Tenangkan dirimu, Kelinci Kecil. Suaramu bisa terdengar sampai ke lantai tiga," sebuah suara malas, serak, namun memiliki ketajaman yang konstan menyela dari sudut ruangan. Suga sedang bersandar pada salah satu pilar rak buku, dengan tangan terbenam di saku 'hoodie' hitamnya.
Mata sipitnya melirik Jungkook dengan pandangan meremehkan. "Jika kita bicara tentang siapa yang paling lancang dan melanggar batas di sini, maka Rm bukanlah orang pertama di dalam daftar."
Suga menegakkan tubuhnya, melangkah pelan di atas lantai kayu yang mengilat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia berjalan mendekati meja tengah, lalu melemparkan sebuah piringan hitam kecil ke atas meja dengan bunyi 'klik' yang nyaring.
"J-Hope dan Jimin. Kalian berdua adalah kekacauan yang sebenarnya," lanjut Suga, matanya kini beralih menatap dua pria yang berdiri di dekat jendela.
"Yang satu menggunakan ratusan kamera pengawasnya untuk mengintip setiap helaan napas gadis itu seperti penguntit gila, dan yang satu lagi...
sengaja menciptakan drama murahan di tengah Gala Dinner hanya untuk menyentuh kulitnya dan memamerkan dominasi di depan umum. Menjijikkan."
Jimin, yang malam itu mengenakan kemeja sutra hitam yang sedikit terbuka di bagian dada, mendengus pelan. Senyuman manis yang biasa ia tunjukkan di depan para tamu yayasan lenyap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan mata yang gelap dan dingin yang sanggup membekukan darah siapa pun.
"Aku hanya melindunginya dari tatapan mata pria-pria kotor di pesta itu, Suga 'Hyung'," balas Jimin dengan nada beralun namun sarat akan provokasi.
Dia berjalan mendekati Suga, mengikis jarak hingga kedua pria itu saling berhadapan dengan dada yang hampir bersentuhan. "Aku tidak bisa membiarkan aset berharga kita dinilai oleh orang luar.
Lagipula, apa yang kau lakukan di ruang rekaman mu tidak jauh lebih baik. Apakah lagu sialan yang kau gubah dari suara langkah kakinya itu bisa membuatnya tersenyum? Tidak, kan? Dia justru menangis ketakutan karena mencium bau rokok dan kopimu yang pekat."
"Jaga bicaramu, Park Jimin," desis Suga, rahangnya mengencang. Atmosfer di dalam ruangan seketika merosot drastis hingga ke titik beku.
"Sudah! Cukuplah bertingkah seperti binatang yang berebut makanan!"
Sebuah gebrakan keras menghantam permukaan meja mahoni. Jin, yang sejak tadi berdiri diam di dekat perapian, melangkah maju ke tengah ruangan dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Sebagai yang tertua, karismanya mampu menekan ego yang lain untuk sejenak. Wajah tampannya yang biasa dihiasi senyuman ramah kini datar, dengan sorot mata yang begitu tajam dan menusuk.
"Kalian semua lupa siapa yang pertama kali menyambutnya di rumah ini? Siapa yang memastikan racikan tehnya benar, apa yang dia makan setiap pagi, dan gaun apa yang pantas melekat di tubuh indahnya?" Jin menatap adik-adiknya satu per satu dengan pandangan mendominasi yang absolut. "Althea adalah boneka porselen yang rapuh.
Dia adalah mahakarya yang harus dirawat dengan ketelitian tinggi, bukan ditarik ke sana kemari seperti mainan kain.
Jika salah satu dari kalian siapa pun itu berani merusak kulit mulusnya, membuatnya terluka, atau mencoba menyembunyikannya dari pandanganku... aku tidak akan segan-segan memasukkan sesuatu yang sangat menarik ke dalam gelas minuman kalian berikutnya. Kalian tahu betul aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
Ancaman racun dari Jin membuat ruangan itu hening selama beberapa detik. Mereka semua tahu bahwa di balik keahlian memasak dan perhatian medis yang diberikan Jin, pria itu memiliki pengetahuan mendalam tentang zat kimia mematikan yang bisa menghentikan detak jantung tanpa meninggalkan jejak.
Di balik pilar, Althea menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air matanya mulai mengalir tanpa suara.
Mereka tidak menganggapnya sebagai manusia. Bagi Jin, dia adalah boneka porselen; bagi Suga, dia adalah sumber audio; bagi Jimin, dia adalah objek kepemilikan; dan bagi Jungkook, dia adalah buruan yang sayapnya harus dipatahkan jika mencoba terbang.
"Kalian sudah selesai bernyanyi?"
Suara Rm yang berat dan berwibawa akhirnya memecah keheningan. Dia perlahan berdiri dari kursi kerjanya, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat tenang.
Namun, ketenangan Rm justru adalah hal yang paling menakutkan di mansion ini. Ketika Rm berbicara, seluruh otoritas Septem Foundation berada di bawah telunjuk jarinya.
Rm melangkah mengitari meja, mendekati keenam saudaranya yang kini terdiam menatapnya. "Aku adalah kepala dari yayasan ini. Segala keputusan tentang Althea berada di bawah kendaliku.
Aku menempatkannya di ruang arsip bukan untuk menyiksanya, melainkan untuk memaksanya mengingat siapa dirinya yang sebenarnya. Ingatannya yang hilang adalah kunci dari legitimasi kita atas dirinya. Kita tidak bisa memilikinya secara utuh jika jiwanya masih mengembara di masa lalu yang salah."
Rm berhenti tepat di tengah ruangan, lalu menoleh ke arah sudut tergelap di dekat rak buku kuno. Di sana, duduk seorang pria yang sejak tadi mengabaikan perdebatan, sibuk menggerakkan jemarinya di atas sebuah buku sketsa kosong dengan kuas kering.
"Taehyung," panggil Rm pelan namun menuntut. "Bagaimana dengan bagianmu?"
Kim Taehyung, atau V, perlahan mendongak. Rambut cokelat gelapnya yang agak panjang menutupi sebagian matanya yang asimetris dan sayu. Sinar lampu ruangan menerpa wajah klasiknya, memberikan kesan magis sekaligus mengerikan. Sebuah senyuman miring yang gila dan penuh teka-teki perlahan terukir di bibirnya yang eksotis.
"Kanvas besarnya sudah siap, *Hyung*," bisik Taehyung, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, bergema di dinding-dinding kayu ruang kerja. Dia bangkit berdiri, menjatuhkan kuas keringnya ke lantai dengan santai.
"Aku sudah memindahkan setiap ketakutan, setiap tetes air mata, dan setiap keanggunan Althea dari jepretan kamera J-Hope ke atas kain rami milikku. Sketsanya sudah sempurna."
Taehyung berjalan meliuk di antara saudara-saudaranya, seolah-olah dia sedang menari di tengah badai.
"Begitu malam bulan purnama tiba dalam tiga hari ke depan... kita akan mendudukkannya di atas singgasana yang dikelilingi oleh mawar hitam.
Kita akan mengunci raganya di dalam galeri seni rahasia milikku, menjadikannya abadi di dalam lukisan terbaik yang pernah diciptakan manusia. Dan pada saat itu terjadi, tidak akan ada satu pun dari kita yang bisa menyembunyikannya sendirian.
Dia akan menjadi milik Septem... selamanya.
Dan tidak akan pernah ada jalan keluar bagi malaikat kecil kita."
Mendengar kata "bulan purnama" dan "tiga hari ke depan", seluruh tubuh Althea lemas seketika. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut ketujuh pria di dalam sana bisa mendengarnya. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang akan mengunci kebebasannya secara permanen dalam tiga hari lagi.
"Bagus," ucap Rm dengan kepuasan yang dingin. "J-Hope, pastikan seluruh perimeter luar diperketat selama tiga hari ini.
Jangan ada satu celah pun yang bisa digunakan olehnya atau orang luar. Gerbang besi tidak boleh terbuka tanpa izin tertulis dariku."
J-Hope, yang sejak tadi hanya tersenyum cerah menatap layar ponsel lipatnya yang menampilkan rekaman CCTV, akhirnya mendongak. Senyum matahari miliknya malam itu terlihat begitu mengerikan karena matanya sama sekali tidak memancarkan kehangatan.
"Tenang saja, Rm *Hyung*. Bahkan jika seekor lalat mencoba keluar dari tanah ini, kameraku akan mengetahuinya. Dan Althea...
aku tahu dia tidak akan pergi ke mana-mana. Dia terlalu manis untuk melangkah ke dunia luar yang kejam."
Althea tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Retakan di antara mereka ternyata tidak membuat mereka melemah; ego mereka justru saling berpacu untuk menjadi siapa yang paling mutlak mencengkeram nasibnya.
Dengan langkah kaki yang diusahakan seringan mungkin di atas karpet beludru, Althea berjalan mundur, berbalik, lalu berlari sekencang mungkin menyusuri koridor gelap menuju kamarnya di lantai tiga.
Begitu sampai di dalam kamar, Althea langsung menutup pintu kayu tebal itu dan menguncinya dari dalam dengan tangan yang gemetar hebat. Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, merosot hingga terduduk di atas lantai dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.
Di atas meja rias, seberkas cahaya bulan menembus jendela, menyinari kalender kecil yang menunjukkan bahwa tiga hari lagi adalah fase bulan purnama sempurna. Waktunya telah habis.
Sangkar emas ini akan segera dikunci untuk selamanya, dan jika Althea tidak berhasil menemukan cara untuk melarikan diri sebelum malam itu tiba, dia akan menjadi boneka abadi yang terperangkap di dalam obsesi gila ketujuh pria tersebut.
Bersambung~